Abuya Syaifullah dan Gus Para Pelacur

Namanya Sunarno. Seorang anak petani jagung di desa terpencil di lereng pegunungan Kendeng, Rembang. Memasuki usia remaja, Sunarno merantau ke Jakarta menjadi kuli bangunan dengan gaji harian kurang dari Rp.50 ribu. Di lingkungan kerjaannya, Sunarno bertemu satu rekan yang menarik perhatiannya. Rekannya itu, di setiap sela-sela istirahan ‘nguli’, selalu saja mengagungkan Habaib (jama’ Habib: keturunan … Lanjutkan membaca Abuya Syaifullah dan Gus Para Pelacur

Guruku Bukan Tuhanku, Muridku Bukan Kerbauku!

Sekolah-sekolah mengukur kesuksesan para guru dalam mengajar jika murid-muridnya mampu mendapatkan nilai tinggi dalam segala bidang ilmu pengetahuan. Akhlak dan rangsangan dari seorang guru untuk menghidupkan nalar 'memanusiakan manusia' terkadang menjadi sesuatu yang tidak lagi penting untuk diajarkan. Fungsi pendidikan hanya terbatas pada bagaimana seorang murid mampu mengerjakan soal-soal pelajaran yang telah diramu dalam kurikulum, … Lanjutkan membaca Guruku Bukan Tuhanku, Muridku Bukan Kerbauku!

Kiai Kufar

Di antara para kiai alim dan wira’i di dusun Karang Jong, sebuah dusun di Blora Selatan, Kiai Kufar lah yang  paling menyita perhatian masyarakat. Bukan karena ia lebih jadug, lebih wira’i, dan punya label kiai  di depan namanya (lha wong memang nama aslinya Kiai Kufar je), tetapi perihal kelakuannya yang menjadi kealim-aliman dan mulutnya yang … Lanjutkan membaca Kiai Kufar

Gugur Gunung

"Orang boleh pandai dan keren setinggi langit, selama ia tak pernah melakukan dan mewariskan ziarah serta gugur gunung kepada anak cucunya, maka ia akan hilang ditelan arus pusaran sejarah."

Tunjukkan!

Kami kira bekerja dan mencintai wanita itu tiada bedanya. Orang tak perlu tahu seberapa banyak keringat yang kami peras dan bagaimana cara berusaha terus bangun meski berkali-kali jatuh, tak diacuhkan dan sering disia-siakan. Yang perlu kami tunjukkan adalah buahnya, kemudian manusia lian menjadi komentatornya. Kami sebagai generasi yang menjadikan Indomie makanan pokok, terus berusaha keluar … Lanjutkan membaca Tunjukkan!

Terimakasih, HTI

“Sebagai makhluk Tuhan yang kebetulan memeluk Islam, saya menyampaikan belasungkawa yang amat begitu mendalam atas dibubarkannya Hizbut Tahrir Indonesia. Sebagai warga negara Endonesa yang kebetulan memeluk Islam, saya prihatin atas sikap pemerintah yang mak jegagik begitu saja membubarkan HTI, dengan alasan mulia demi NKRI. Sebagai wong cilik yang kebetulan memeluk Islam, saya sampaikan terimakasih banyak … Lanjutkan membaca Terimakasih, HTI

Simbolik

Kita, atau barangkali hanya saya, lebih banyak menilai seseorang dari segala sesuatu yang tampak di mata. Dengan berpedoman pada apa-apa yang tampak itu, seringkali kita, atau barangkali hanya saya, melakukan tindakan-tindakan yang buruk: menyepelekan orang lain; menganggap seseorang lebih tinggi atau lebih rendah; melakukan penghakiman-penghakiman dengan standarisasi subjektif dan lebih parahnya, mengabaikan serta merendahkan orang … Lanjutkan membaca Simbolik

Silahkan Gila Drama Korea, Asal Dikau Tetap Endonesa!

Menonton drama Korea adalah suluk untuk belajar rasa. Bagaimana menghidupkan fungsi rasa, yang tidak hanya berada di lidah saja. Belajar ilmu zuhud; tidak bergantung dengan kekayaan dan seluruh hal yang manusia inginkan. Dan yang paling penting, --yang barangkali manusia-manusia sok jijik terhadap drama Korea harus tau— drama Korea adalah guru yang mengajarkan ilmu ukhuwah wathoniyah, … Lanjutkan membaca Silahkan Gila Drama Korea, Asal Dikau Tetap Endonesa!

Marno dan Marijos Bahtsul Masail Jumatan di Jalan

“Salat Jumat di jalan itu sah. Ora popo. Ora bid’ah. Hallaaaaal. Apalagi, selain niat nyembah Gusti Alloh, Jumatan di jalan pada 2 Desember besok juga diniatkan sebagai protes kepada pemerintah yang ora tegas terhadap penista agama dan tentu, untuk membela Alquran yang sudah dilecehkan oleh kapir!” Setelah mempertahankan argumennya sedari pagi tadi, Marno berdiri sambil menduding … Lanjutkan membaca Marno dan Marijos Bahtsul Masail Jumatan di Jalan