Sepenggal Kisah Hidup

Sekitar sembilan belas tahun yang lalu, aku keluar dari dalam perut ibuku. Tepatnya pada tanggal 13 September 1993. Aku sendiri tidak ingat perjuanganku saat itu, mungkin ibukulah yang berjasa besar atas kelahiranku. Kurang lebih sembilan bulan lamanya beliau mengandut jasadku dalam perutnya. Dengan penuh kesabaran beliau menyuplai makanan yang bergizi, sehingga aku terlahir dengan keadan normal, seperti bayi pada umumnya.

Menurut cerita kakek, kelahiranku tapat ketika azan asar dikumandangkan. Katanya, kelak aku menjadi orang yang penuh dengan kesungkanan. Aku masih ingat betul cerita kakek, saat itu aku masih duduk di kelas empat Sekolah Dasar (SD). Ia bercerita panjang lebar tentang kehidupanku semasa kecil sampai umurku ketika itu.

Menurutnya, semasa kecilku –umur dua tahunan- sering sakit-sakitan, bahkan ketika ibu membawaku ke pengajian muslimat di desaku, tiba-tiba aku muntah-muntah dan mataku melotot seperti orang yang kerasukan. Akhirnya, keluraga membawaku ke Rumah Sakit Kabupaten, di sana dokter mengaku tidak sanggup menangani penyakitku. Semua keluarga tentunya panik dengan keadaanku. Namun, keluarga tetap berusaha ke sana kemari mencari obat penyembuh penyakit misterius ini.

Karena dokter dari berbagai rumah sakit tidak mendeteksi penyakit apa yang menyerangku, akhirnya Pak Lek –adik kandung pria ibuku—mengundang teman-temannya –yang katnya ahli menerawang—untuk melihat penyakit apa yang ada dalam tubuhku. Menurut teman Pak Lekku, aku tidaklah terserang penyakit, hanya ada sosok makhluk halus yang terus mengikutiku. Tapi aku sendiri tidak ingat, kalau aku melihat sosok yang dikatakan ahli terawang tersebut, kuhajarlah setan bangsat itu.

Kemudian, teman Pak Lek tersebut memberi cekelan –pegangan:azimat– berupa kalung, yang didalamnya terdapat sebuah rajah –ayat Alquran tertentu—dengan fungsi menangkal makhluk halus. Benar saja, setelah kalung itu dipakaikan, penyakit aneh itu tidak pernah kambuh lagi. Aku pun bingung, mengapa hanya seutas kalung saja dapat menyembuhkan penyakit yang dokter saja tidak sanggup mengobatinya, bahkan mendeteksi pun tidak bisa. Sungguh di luar nalar manusia.

Ketika berumur lima tahun, kalung itu belum lepas dari leherku, hanya saat masuk kamar mandi, nenek selalu mengingatkan untuk melepas kalung hitam tersebut. Aku sendiri bingung, apa nilainya kalung kain ini, bahkan tidak lebih bagus dari kalung yang dijual di pasar-pasar. Ibuku saja, yang notabene kalungnya lebih bagus, tidak perlu repot—repot mencopotnya ketika hendak masuk kamar mandi.

Anehnya, saat kalung itu akan dilepas, kakek mengundang tetangga sekitar untuk selametan. Hanya sekadar mencopot kalung saja, harus membuat ambeng[1], uang wajid[2], dan harus ada jenang merahnya. Untuk saat itu, aku pun tidak terlalu memperdulikan yang dilakukan oleh keluargaku. Aku hanya bisa mengikuti apa yang mereka katakan.

***

Di Desa Melatirejo, Bulu, Rembang, Jawa Tengah, aku menghabiskan masa kecilku. Masa di mana aku harus  menuruti semua perintah yang dibuat oleh kedua orang tuaku. Meskipun aku hanya anak satu-satunya, mereka mendidikku dengan penuh kedisiplinan. Pagi aku belajar di SD, kemudian dilanjutkan di madrasah, malamnya –setelah maghrib—mengaji di musholla dekat rumahku, dan setelah itu harus belajar dengan Ibuku. Seperti itu terus roda kehidupan kecilku sehari-hari. Menurutku hanya hari Minggu yang sangat nyaman bagiku. Bisa menonton TV sepuasnya, memancing di hutan, dan berkeliaran ke mana-mana. Namun, ketika waktu sekolah madrasah tiba, aku harus pulang dan pergi ke madrasah. Jika hal itu kulanggar, mungkin akan mendapat kemarahan pecut –cambuk– kesayangan bapakku. Mungkin, kedua orang tuaku sangat mengharapkan kelak anaknya menjadi orang pintar, yang kata-katanya dipercaya orang. Entahlah.

Aku dibesarkan dari dua tipe keluarga yang berbeda, bapakku adalah anak ketiga dari lima bersaudara, semuanya laki-laki. Bapaknya –kakekku dari bapak—adalah orang abangan, begitu juga nenekku. Kakek dari bapak adalah orang warok –preman: cerita bapakku—ketika jamannya. Ia pernah membunuh beberapa lawan bisnisnya. Bahkan, ia mempunyai isteri hingga tiga orang, dan masing-masing mempunyai anak lebih dari dua.

Memang, secara kekayaan kakek lebih unggul dibandingkan dengan warga desaku yang lain, beliau mempunyai tanah yang sangat luas dan ternak yang banyak. Hanya saja, ia terkesan orang yang suka sesumbar –sombong–.  Tapi aneh, kakek selalu menjadi rujukan ketika warga desa akan menikahkan anak-anak mereka. Karena memang, kakek dikenal ahli dalam bidang weton –penanggalan–.

Aku sendiri tidak begitu cocok dengan tradisi weton dalam desaku. Kenapa cinta harus dihitung dengan weton, apakah benar hitungan weton calon mempelai pria dan wanita jika tidak cocok akan membawa malapetaka, sehingga pernikahan dibatalakan? Kakek sekan menjadi maestro cinta di desaku, dan aku jelas tidak setuju dengan pendapat seperti itu. Bagaimana seandainya jika keduanya salaing mencintai sehidup semati? Apakah gara-gara weton yang tidak cocok akan menjadi penghalang cinta mereka?

Semua warga desa percaya akan mitos weton yang sudah mendarah daging. Bagaimana tidak, ada tetanggaku yang baru nikah kemudian keduanya tewas mengenaskan di rawa pada saat tujuh hari pernikahannya. Anehnya, orang tuanya mengatakan, kematian anaknya karena salah mereka yang tidak menayakan weton anaknya. Dan hal itu menjadi alasan kuat warga desaku unutuk mempertahankan tradisi yang tidak bisa dinalar oleh otak itu.

Tidak hanya itu, kakekku juga pernah melarang ketika rumahnya dipakai tahlilan oleh anak-anaknya. Ia berkata “Kanggo opo tahlilan, ora marai sugeh,” “Buat apa tahlilan, tidak membauat kaya,” sambil mengusir jama’ah yang hadir pada saat itu.

Memang, kakek mendukung betul ketika anak-anaknya menuntut ilmu di bangku sekolah. Namun, tidak begitu ketika anak-anaknya ingin mengaji. Beliau pasti akan melarang keras kemauan mengaji tersebut. Tapi, hal itu tidak menyurutkan semangat anak-anaknya, setiap hari mereka mencuri waktu untuk mengaji, memanfaatkan kegiatan kakek yang sering tidak pulang ke rumah. Kegiatan tersebut –mencuri waktu untuk ngaji—tercium oleh kakek, dan akhirnya kakek memutuskan untuk tidak lagi menyekolahkan anak-anaknya di bangku sekolah umum maupun pengajian. Beliau kemudian mengarahkan kelima anaknya untuk menjadi pekerja keras.

Bertahun-tahun lamanya kakek meninggalkan kampung halaman, tentunya meninggalkan nenek dan kelima anaknya. Menurut cerita bapakku, kakek bermukim di rumah istri mudanya, di Kabupaten Blora. Semanjak itu, bapakku dan keempat saudarnya menjadi tulang punggung penghasilan keluarga.

Entah dengan alasan apa, ketika kelima anaknya sudah berumah tangga, kakek kembali ke kampung halaman, Melatirejo. Dan menetap hingga kini di rumah di mana ketika melahirkan  pendowo limo[3]nya. Semanjak itu pula, kehidupan kakek berubah drastis, setiap Selasa beliau selalu menghadiri pengajian di Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin Rembang, asuhan almarhum KH. Cholil Bisri[4]. Hingga, sebelum Mbah Cholil wafat, beliau sempat berkata kepada kakek, kalau dirinya akan pergi jauh.[5] Namun, meski kakek telah di jalan Islam, beliau tidak pernah melupakan dan terus memakai ilmu kejawen yang telah beliau kuasai.

Mungkin berlatar belakang hal itu, bapakku berkaca, ia ingin mempunyai anak yang kelak bisa menuntun dan mendoakannya ketika beliau  wafat. Hanya itu yang diinginkan oleh kedua orangtuaku, tidak lebih.

Sedangkan ibuku, ia terlahir dari garis ke-Islam-an yang sangat kuat. Sebenarnya sebelum dipersunting oleh bapak, ibu akan disekolahkan di sebuah pesantren, seperti kakak dan adik laki-lakinya. Namun, karena pikiran orang dahulu sangatlah pendek, kakek –dari ibu—menerima lamaran bapakku, dan akhirnya ibu dan bapak menikah.

Menurut cerita ibuku, semenjak kecil beliau dibebaskan oleh kedua orang tuanya untuk melakukan apapun yang disukai, asalkan tidak keluar dari  yang telah digariskan oleh agama. Dengan begitu, ibuku tumbuh menjdai gadis yang pengetahuannya melebihi anak-anak sepermainannya, hal itu terbukti, meski ibu hanya tamatan SMP, ia rajin membaca buku-buku koleksi kakek, mulai dari agama hingga politik.

Setamat SMP, beliau menjadi sekretaris Muslimat tingkat ranting, kemudian menjadi ketua di tingkat ranting pula. Ibu juga pernah menjuarai lomba jalan santai se Kabupaten Rembang, kemudian menjadai penggagas desa teladan bersama kawan-kawannya. Usahanya membawakan hasil, desaku menjadi juara teladan se Jawa Tengah.

Jika dibandingkan dengan bapakku, prestasi ibu pastinya lebih baik. Namun, di rumah ibu tetaplah menjadi isteri yang baik bagi bapak. Ia selalu sopan kepada bapak, mematuhi perintahnya, dan menasehati bapak ketika berbuat salah. Ibu berkepribadian pandiam, dan jarang ikut campur urusan orang lain. Berbeda dengan kedua saudarnya, yang bersikap tegas dan tidak pernah takut dengan siapapun.

Pernah suatu ketika, saat Pak Dee[6] dan Pak Lek[7]ku masih menempuh pendidikan di pesantren. Ada beberapa santri yang menghajar Pak Lekku hingga babak belur, kemudian Pak Lek melapor kepada kakaknya, Pak Dee. Tanpa pikir panjang, kedunya mendatangi santri yang telah menghajar Pak Lekku, tentunya dengan misi balas dendam.

Menurut sejarah, keduanya suka melakukan tirakatan[8], sehingga keduanya mempunyai kekebalan atau kekuatan yang tidak bisa dinalar dengan otak, dan saat ini keduanya telah mempunyai madrasah dan beberapa santri di desanya.

Semenjak kecil aku tidak pernah melihat wajah kakek dari ibu, karena beliau wafat ketika aku masih dalam kandungan. Menurut cerita nenekku, sebelum kakek berangkat ke hutan ia berkata, “Nanti seandainya cucuku laki-laki namakan dia Selamet Widodo,” begitu kata kakekku. Kemudian ia berpamitan kepada nenek untuk mencari bahan membuat luku[9] di hutan. Namun nahas, bukan bahan luku yang didapat kakek, malah pengkroyokan oleh beberapa oknum Polisi Hutan (Polhut). Kakek dibunuh dengan alasan melawan ketika ditangkap. Enatah benar atau salah, yang terpenting Polhut itu sangat kejam di mataku.

Beberapa bulan sepeninggalan kakek, aku lahir di dunia, dan tentunya dengan nama yang diwasiatkan oleh kakekku. Selamet Widodo, sebuah nama yang sangat mengartikan bahwa aku adalah orang Jawa tulen. Aku sedikit banyak berbangga dengan nama yang diberikan oleh kakek, meski kebanyakan orang mengangapnya sebuah nama tersebut tidak lagi relevan di jaman yang super canggih ini. Namun bagiku, nama itu adalah kenang-kenangan terakhir dari kakek tercintaku, kakek yang telah membesarkan pelipur laraku, ibu.

Saat itu, entah kebetulan atau bagaimana, adik laki-laki kakek tidak mempunyai anak, dan ibuku pun diadopsi oleh mereka. Nenekku pun merelakan, dengan pertimbangan rumah adik kakek tepat di samping rumahnya. Di rumah itulah aku lahir dan besar, aku pun baru tahu kalau kakek yang kukenal selama ini adalah adik kakek kandungku. Namun aku sangat berterima kasih kepadanya, dengan kasih sayang dan keabarannya ia mampu mendidikku hingga seperti ini. Di rumah itulah masa kecilku dihabiskan.

****

Besar di keluarga yang berbeda aliran dalam bergama, membuatku bingung. Dari ibu harus paten dengan NU dan dari bapak harus paten dengan kejawennya. Untung saja, dalam pendekatannya, warga NU menggunakan tradisi dan adat Jawa. Jadi aku waktu itu memang ber-Islam secara kebetulan.

Begitu fanatiknya kelurgaku kepada NU (kecuali keluarga dari bapak), hingga dalam pemilu, semua keluargaku diwajibkan oleh Pak Dee untuk memilih partai  Abdur Rahman Wahid, yang notabenenya cucu pendiri NU, KH. Hasyim Asyari. “Pokoke mati urip kudu NU[10],” kata Pak Deeku.

Secara keseluruhan, warga desaku adalah pendukung fanatik NU. Tidak ada satu pun Ormas Islam yang berani masuk. Pernah terjadi, ada beberapa orang yang tiba-tiba menginap di masjid desaku, orang itu berjubah putih dan berjenggot panjang. Pagi harinya, mereka diseret ke kelurahan dan diadili secara sepihak, dengan tuduhan orang-orang asing itu menyebarkan ajaran sesat.

Hal itu sangat muskil bagiku, kenapa tidak, hanya karena memakai jubah dan berjenggot sudah dianggap penyebar aliran sesat. Buktinya pun tidak ada, sudah main serobot. Memang warga desaku seperti itu, mereka hanya melihat dohir seseorang saja. Bahkan keluargaku sendiri sering kudebat. Bagaimana tidak, keluargaku selalu mamaksaku harus berpakaian rapi ketika masuk masjid, namun itu tidak menjadi masalah bagiku. Yang aku permasalahkan, ketika ada seseorang masuk masjid dengan kaus dan celana, keluargaku selalu mengecap hal itu adalah sangat jelek.

Bagaimana seperti itu, hanya berkutat maslah yang tidak penting dan mereka melupakan musuh-musuh sebenarnya, yang berkeliaran di luar sana. Islam akan hancur jika hanya dalam mengarungi kehidupan ini selalu mendebatkan masalah fiqih, yang jelas-jelas adalah persoalan khilafiah.[11] Bagaimana orang yang berkaus di dalam masjid dikatakan orang jelek, mengapa mereka diam ketika melihat pemuda yang terang-terang melanggar hukum Islam. Apakah memang umat Islam tidak mempunyai nyali? Mungkin, jago kandang.

***

Setamat SD, aku bingung harus melanjutkan ke mana. Dari tiga belas temanku, sembilan diantanya melanjutkan ke SMP dekat desaku, tiga lainnya ke pesantren di dalam kabupaten, dan aku masih bingung dengan tawaran Pak Lek dan Pak Dee, keduanya menginginkanku masuk pesantren. Pak Lek menyuruhku masuk pesantren bekas pesantrennya dulu, dan Pak Dee menyuruh masuk pesantern bekas pesantren isterinya, di Kabupaten Blora, sedangkan kedua orang tuaku hanya diam menunggu keputusanku untuk memilih yang mana. Mungkin kedua orang tua ku begitu percaya kepada ku, karena sejak kelas satu SD hingga lulus aku selalu menjadi bintang kelas. Kali ini, mereka tampaknya tidak lagi memaksaku harus melanjutkan ke mana.

Akhirnya aku memilih di Pesantren Al Hikmah, Ngadipurwo, Blora, Jawa Tengah, pesantren yang direkomendasikan Pak Deeku, dengan pertimbangan, di pesantren itu ada sepupuku yang masih nyantri di sana.

Berawal dari peraturan yang begitu ketat di rumah, di pesantren pun aku merasakan hal yang sama, malah lebih parah dari peraturan yang dibuat oleh kedua orang tuaku. Semua hidupku diatur dengan jadwal yang telah ditetapkan oleh pesantren. Jam 04.00 harus sudah bangun, salat berjamaah, hafalan, belajar wajib, sekolah formal, dan kegiatan-kegiatan lain yang memuakkan.

Pada awalnya, aku merasa pesantren bagaikan neraka dunia. Tidak ada kebebasan pun di dalamnya (pendapatku). Namun, pada saat aku mengenal Gus[12] Fatih, putera sulung KH. Najib Suyuthi (pengasuh pondok) . Aku semakin kerasan di pondok. Bagaimana tidak, semua santri tidak ada yang berani dengan Gus Fatih, meskipun ia masih kelas enam SD ketika aku kelas satu Tsanawiyah. Setiap hari, sepulang sekolah Gus Fatih pasti langsung mencariku guna bermain dan mengikuti semua kemauannya. Dengan begitu, mudah saja aku terkenal dikalangan pengurus dan keluarga ndalem.[13] Namun konsekuensinya, aku menjadi sering membolos ngaji yang telah dijadwalkan pesantren. Tapi tidak satu pun pengurus yang berani menghukumku. Enatah bagaimana ceritanya.

Semakin hari, aku semakin menikmati kehidupanku. Apapun yang aku lakukan, tidak ada yang berani mnghukumku,paling besar adalah sebuah teguran ringan. Akupun tidak menyia-nyiakan kesempatan emas itu. Setiap malam aku membohongi pengurus, ijin belajar di ruamah teman, padahal yang aku lakukan adalah bermain PS sepuasnya dan berfoya-foya di alun-alun Blora. Semuanya aman terkendali, tidak pernah mendapat hukuman bahkan teguran.

Setiap hari aku selalu bermain dengan Gus Fatih. Aku pun tidak pernah bermasalah dengan nilai ujianku. Aku sendiri bingung, ketika mengerjakan soal-soal-soal, aku merasa soal yang diujikan terlalu mudah, bahkan aku masih sempat mendapat tiga besar dalam kelasku, dan aku selalu lulus dalam ujian hafalan. Sungguh di luar nalar, mungkin saja itu hasil tabarukan[14] kepada anak kiai.

Aku sempat berpikir, bagaimana pengurus mengakkan nilai keadilan. Apakah gara-gara aku tangan kanan seorang Gus, mereka tidak berani menghukumku? Bagaimana konsep amar ma’ruf nahi munkar yang sering digembor-gemborkan? Apakah luntur dengan kasta? Setahuku Islam tidak pernah mengajarkan yang seperti itu.

Namun bagaimana pun, selama di pesantren Al Hikmah aku lebih banyak bermain daripada belajar. Dan aku lebih banyak berkhianat kepada pengurus dibanding ketaatan, karena aku merindukan hidup “semauku”. Dua tahun lamanya aku hidup seamauku, hingga pada kenaikan kelas dua, ketika kematian Abah[15] merubah pola hidupku yang “semauku”. Aku merasa sangat kehilangan sosok yang karismatik. Begitu pula Gus Fatih, ia berubah drastis, menjadi pendiam dan lebih dewasa. Sedangkan aku sendiri merasa sangat kecewa dengan kehidupanku dua tahun silam. Semenjak itu, aku bersungguh-sungguh dalam proses pencarian ilmu ku. Saat kelas tiga aku tidak perlu pusing menghafal nadham imrithi,[16] hal itu sangatlah wajar, pasalnya ketika di rumah,  Pak Lek selalu menggemblengku menghafalkan imrithi, jadi aku hanya berkonsentrasi dengan pelajaran-pelajaran lainnya.

Sebenarnya, yang merubah pola hidupku tidak hanya wafatnya Abah. Melainkan kejadian seminggu setelah wafatnya Abah, teman karibku Imam Arifin kecelakaan dan meninggal dunia. Sungguh pukulan yang hebat untukku, aku takut jika maut tiba-tiba menghampiriku. Apa yang akanku persembahakan kepada keluargaku, terutama kedua orang tua yang sangat mengharapkanku. Semoga Dia (Imam) tenang di alam sana. Amin

Keluar dari hidup “semauku” aku kembali terjatuh di lubang yang lebih parah. Kelas tiga Tsanawiah, aku mengenal anak-anak desa yang kerjaannya mabok dan bermain judi. Entah bagaimana ceritanya, dengan mudah aku bergaul dengan mereka. Namun perlu dicatata, meskipun aku berkumpul dengan mereka, tak sekali pun aku menenggak minuman yang dicap haram oleh Alquran tersebut. Begitu pula mereka, tidak pernah memaksaku untuk meminum-minuman mereka.

Parahnya, hingga ujian berlangsung aku masih saja berkumpul dengan mereka, dan melupakan belajarku. Mungkin saat itu adalah titik kebodohanku, aku menjadi lupa harapan besar keluargaku. Bagaimana perasaan mereka jika aku tidak bisa lulus dari pesantren, tentunya mereka akan kecewa dan menanggung malu dari caci maki dan gunjingan tetngga. Namun, rejeki senantiasa menyertaiku, aku lulus dengan predikat karya tulis terbaik. Bagaimana bisa? Aku pun tidak tahu.

***

Lulus dari Al Hikmah, aku melanjutkan ke Pesantren Raudlatul Ulum di Desa Guyangan, Pati. Pesantren yang tidak jauh dari kabupatenku. Aku sedikit bangga menjadi salah satu santri di pesantren ini. Soalnya, alumni pesantren ini menyebar di seluruh penjuru dunia, Mesir, Amerika, Sudan, Yaman, dan Universitas terkemuka di Indonesai. Dan yang paling membuatku bangga, aku menjadi nomor 31 dari 2000 siswa yang mendaftar, dan aku masuk di kelas X B setelah menjalani tes tata bahasa Arab dan fikih.

Di pesantren ini sangat berbeda dengan pesantrenku yang dulu, di sini pengajar bahasa asing langsung dari negara masing-masing, misalnya bahsa Arab diajar oleh dosen dari Al-Azhar University, dan bahasa Inggris diajar oleh orang-orang dari kedutaan Amerika. Sungguh mediasi yang sangat bagus untuk memperdalam bahasa.

Selain pengajar yang berbeda, peraturan di pesantren ini lebih kejam dibandingkan pesantrenku sebelumnya. bayangkan saja, untuk naik kelas saja, santri harus dituntut melengkapi tiga persyaratan, nilai rata-rata 7,5, hafalan tepat waktu, dan perilaku baik. Peraturan ini bukan hanya omong kosong.
Sangat berat memang jika dibayangkan, namun ketika dijalani akan terasa ringan. Kebanyakan santri yang tidak naik atau dikeluarkan bermasalah pada perilaku. Itu suatu kemakluman, pasalnya, atribut sekolah kurang satu saja sudah mendapat hukuman pernyataan bermaterai 6000, jika santri sudah membuat 3 pernyataan saja, sudah dipastikan tidak akan naik kelas, dan jika sudah 4 berarti dinyatakan keluar. Orang baik pun bisa saja keluar dari pesantren  ini, jika tidak jeli dan hati-hati.

Bisa dibayangkan bagaimana kehidupanku dan santri yang lain di pesantren ini. Di mana pun berada pasti memegang kitab hafalan di tangannya. Semua takut melanggar peraturan. Namun, serapat apapun batu menumpuk, pasti ada celahnya, aku dan beberapa temanku masih bisa bermain di tengah peraturan yang begitu ketatnya, dan tidak sekalipun aku tertangkap. Misalnya, ketika ijin keluar pesantren untuk makan, malah aku pergunakan untuk main ke rumah teman kelasku yang bermukim tidak jauh dari pondok, untuk sekadar menghisap beberapa batang rokok.

Namun, lagi-lagi ketika aku menginjak kelas XII guru besarku pergi menghadap Sang Pencipta, dan pesantren diambil alih oleh adik kandungnya. Bersamaan itu, aku terpilih menjadi Pengurus Penerangan dan Dakwah pondok. Semenjak itu tugasku bertambah, mengurusi perpustakaan pondok, acara berjanjenan[17], masalah pidato, dan mengawasi hafalan santri tsanawiyah. Mendapat mandat yang begitu besar dan menjadi pengurus adalah impian semua santri.

Bukannya membuatku tobat dari melanggar aturan pondok, aku malah semakin menjadi. Semakin mudah aku membohongi penjaga pintu, dengan alasan operasi santri, aku bisa leluasa merokok dan berkeliaran di luar.

Namun, itu tidaklah berjalan lama, ketika aku mencoba mencicipi tasawuf, aku menjadi suka tirakatan dan wiridan[18] setiap malamnya. Aku menjadi tenang dengan apa yang aku jalani saat itu, aku tidak lagi melanggar peraturan pondok, karena setiap hari aku berpuasa. Semenjak pusa itu aku semakin merasa menjadi santri yang sesungguhnya, lebih banyak membaca biografi ulama nusantara dan berbagai buku tentang khilafiah. Dari buku-buku itu aku menjadi mengerti, bahwa Islam itu sangat luas. Jangan mudah untuk mengkafirkan dan menyalakan orang lain, karena kemungkinan orang tersebut mempnyai argumen kuat atas apa yang dilakukannya.

Hari-hariku penuh dengan membaca, mengerjakan kewajibanku sebagai pengurus pesantren, dan mengawasi santri tsanawiyah dalam proses hafalannya. Aku merasa menjadi yang sebenarnya saat itu. Dan hidupku bisa dibilang sempurna, pernah melanggar dan kebali ke jalan yang lurus.

Aku sangat menyesalkan, kenapa warga NU identik dengan fanatismenya. Seperti pesantrenku ini yang notabenenya pesantren NU tulen. Suatu ketika, ada guru yang sangat pandai dalam masalah kitab kuning dan pengkajiannya dalam masalah baru. Gara-gara anaknya sekolah di Makkah dan di rumah guru pandai tersebut terpampang papan pengurus PKS, guru itu dikucikan di pesantren. Memang aku mengakui, kiaiku tidak serta merta mengucilkannya, pastinya ada argumen yang sangat kuat. Namun, apakah tidak langka sosok seperti guru yang dianggap beraliran wahabi tersebut. Apakah hanya karena papan PKS bisa dikatakan wahabi.

Seharusnya orang seperti itu, yang kepandainnya bisa dikatakan jenius dalam masalah agama, bisa dimanfatkan ilmunya. Kalau masalah kepercayaan itu kan di hati, ketika penataan hati sudah kuat, kenapa harus khawatir dengan melencengnya sbuah pemikiran. Hal yang seperti ini yang seharusnya perlu diperhatikan serius oleh orang Islam. Bukan beda aliran adalah musuh.

***

Lulus dari Raudlatul Ulum, aku memantapkan diri melanjutkan ke Timur Tengah, tepatnya Al-Azhar University. Dari pesantrenku mengirimkan dua puluh santrinya mengikuti tes di kedutaan Mesir, dan aku termasuk dari dua puluh santri tersebut. Untuk lolos tes, aku harus memenuhi beberapa persyaratan, hafal Alquran minimal 3 juz, dan bisa menjawab soal-soal yang dilontarkan oleh penguji.

Ada cerita menarik di sini, ketika aku di tes Alquran oleh salah satu dosen Al-Azhar. Ketika beliau menanyakan, “Kam khafadta?”[19]  Aku pun menjawab dengan tegas “Kulluh!”[20] padahal saat itu aku hanya mempunyai hafalan dua juz dan juz amma. Aku teringat kata sepupuku yang telah berada di Mesir, “Kalau ditanya hafal berapa, jawab hafal semuanya.” Aku mengikuti apa yang dikatakan sepupuku. Ketika dosen tersebut mau membacakan sepenggal ayat, aku sedikit deg-degan. Bagaimana tidak, kalu yang diucapkannya ayat yang tidak ku hafal bagaimana? Namun alhamdulillah, tampaknya Allah mempermudah jalanku, dosen berjubah coklat itu mebaca penggalan ayat pertama juz dua, surat Al-Baqarah. Aku pun meneruskan dengan semangat. Tapi yang kedua kalinya, bukannya aku tidak bisa, aku grogi karena santriwati dari Gontor tiba-tiba masuk, dan duduk di sampingku menunggu gilirannya.

Sungguh mental santriwan ketika berdekatan dengan santriwati. Akhirnya aku dan sembilan belas santri yang lain menyelesaikan tahapan tes yang diujikan. Kemudian kami pulang dengan harapan, kami akan diterima belajar di Al-Azhar tentunya.

***

Sebulan berlalu, aku dan kawan-kawan yang mengikuti tes seleksi dibuat galau. Paslanya, tidak ada kepastian dari pihak Al-Azhar, di internet pun pengumuman belum juga keluar. Semua kawan-kawanku sudah mendaftar ke Perguruan Tinggi (PT) di tanah air. Ada yang di Universitas Al-Azhar Indonesia, Universitas Brawijaya, UIN di seluruh Indonesia, dan PT yang lainnya.

Semantara aku sendiri, menikmati sindiran dari keluargaku, aku dipaksa untuk mendaftar di Indonesia saja. Namun aku tidak mau, karena saat itu keyakinanku akan diterima di Al-Zahar sudah tidak bisa diganggu gugat. Setiap hari aku menelfon sekolahku, tapi hasilnya nihil. Aku sempat berpikir, aku tidak akan mau kuliah kalau tidak di luar negeri, mendingan kembali mondok di pesantren yang lebih gila, daripada kuliah di Indonesia.

Seminggu kemudian, pihak sekolahku menganjurkan kepada kami untuk mendaftar dulu di PT dalam negeri. Ditmabah paksaan dari keluarga untuk medaftar di dalam negeri. Mungkin orang tuaku akan merasa bangga jika anak satu-satunya bisa kuliah dan kelak menajdi sarjana.

Berbekal membanggakan orang tua, aku mendaftar di UIN Jakarta. Alhamdulillah, aku diterima di Jurusan Tafsir Hadis Fakultas Ushuluddin. Orang tuaku senang mendengar itu, padahal sebenarnya hati ini menangis ingin melanjutkan nyantri kembali. Namun aku memaksa, toh ini adalah hal baik, kenapa tidak dicoba.
***

Entah tepatnya pada bulan apa, aku berangkat ke Jakarta bersama teman-teman yang kebetulan juga diterima di UIN Jakarta. Kamai berangkat sendirian, dalam artian tidak didampingi oleh orang tua. Apalagi semenjak lulus dari Pesantren Raudlatul Ulum, orang tuaku membiarkan semua yang aku lakukakan, tidak lagi harus diatur-atur. Bahkan ketika sebulan penantian pengumuman tes Mesir, aku terang-terangan berteman dengan para pemuda yang meresahkan warga desa. Tapi orang tuaku biasa saja, tidak seperti tetangga yang selalu memebenci pemuda tersebut.

Akau sendiri bingung dengan keadaan desaku, pola pikir mereka masih terlalu fanatik pada kebaikan, dan mata mereka seakan tidak bisa melihat realita kehancuran moral yang sangat jelas. Bagimana tidak, pemuda adalah calon penerus bangsa, jika pemudanya dianggap rusak, seharusnya orang yang menganggap rusak tersebut berkewajiban menuntun para pemuda ke jalan yang dianggap benar, bukan malah membenci, mencaci, dan memusuhi mereka. Pemuda desaku sebenarnya hanya butuh untuk diikut sertakan dalam kegiatan di desa. Tapi selama ini, kegitan yang ada dikuasai olah kaum tua, tanpa sedikitpun melibatkan pemuda. Akhirnya dengan keadaan yang demikian, pemuda desaku melakukan berbagai cara, agar diri mereka dilihat dan dikenal oleh masyaratat, meskipun negatif.

Seperti itu sikap orang tuaku semanjak itu, apalagi ketika aku mempunyai keinginan berjalan sampai Madura, keluargaku awalnya sangat melarang, namun akhirnya mereka menerima alsan yang aku lontarkan, yaitu berziarah ke makam guru besar KH. Hasyim Asyari, KH. Kholil Bangkalan. Selain untuk berziarah, aku dan ke delapan temanku mempunyai nadzar[21] untuk berziarah ke makam KH.Kholil Bangkalan dan Wali Lima di Jawa Timur.

Lima hari, aku dan delapan temanku berhasil menziarahi makam KH. Kholil Bangkalan dan beberapa wali di Jawa Timur, aku juga sempat singgah di kediaman kakek Gus Dur, KH. Bisyri Sansuri, Denanyar, Jawa Timur. Dalam perjalanan itu, tentunya banyak halangan, rintangan, dan pelajaran berharga yang selalu menghiasi. Seperti mendapat rejeki yang min khaitsu laa yahtashib.[22]  Namun satu pelajaran yang paling berharga adalah keteguhan hati, hal itu terbukti, ketika di tengah jalan, teman-temanku yang tidak sabar dengan kondisi, memilih berhenti dan kembali ke rumahnya, dan kami hanya tinggal tujuh orang dalam melakukan perjalanan hingga akhir. Tanpa ketabahan, kami tentunya tidak akan bisa menyelesaikan perjalanan itu. Pegang satu atau tidak sama sekali.

Sebenarnya jika diceritkan dan ditulis secara detail (do’akan saja semoga suatu saat saya diberikan kesempatan menulis buku mengenai ini) mengenai perjalanan kami, bisa mencapai beratus-ratus halaman. Namun karena keterbatasan waktu, aku akan menceritakan saja kehidupanku selama di Jakarta.

Pertama kalinya berada di Jakarta aku merasa biasa saja, hanya ketika melihat gadis-gadis yang tidak pernah ku lihat di pesantren, aku mersa ada sesuatu yang sulit untuk diuangkapkan dengan kata-kata. Intinya perasaanku bercampur, antara ideologi pesantren yang masih kental dan perasaan senang karena melihat pemandangan yang bagiku sangat langka.

Setipa hariku hanya diisi dengan kuliah, tahlillan Ikamaru,[23] futsal, tidur, dan kuliah lagi. Hanya sebatas itu perputaran roda kehidupan awalku di Jakarta. Teman-temanku di Ikamaru kebanyakan masuk ke PMII, mungkin karena kentalnya darah NU ditubuh Ikamaru, sampai seniornya melarang jika ada junior yang ingin masuk organisasi ekstra selain PMII. Aku sendiri sangat tidak tertarik dengan organisasi seperti, oraganisasi yang telah tercemar dengan genre fanatik dan merasa agama yang dianutnya paling benar. Daripada ikut organisasi yang tidak jelas ke mana arah tujuannya, mendingan aku diam, pikirku ketika itu. Namun ini hanya pendapatku yang sepihak, tidak menutup kemungkinan organisasai tersebut mempunyai arah yang jelas, karena aku sendiri belum pernah merasakan hidup di dalamnya.

Awal semester dua, aku merasa jenuh dengan kehidupanku yang monoton. Akhirnya aku tertarik masuk dalam Unit Kegitan Mahasiswa (UKM). Ku pertimbankan matang-matang, ke UKM mana akau akan mendaftar. Dengan pertimbangan, sejak di Raudlatul Ulum aku aktif di majalah pondok, aku pun memutuskan untuk masuk di Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) INSTITUT. Apalagi slogan yang dimiliki INSTITUT sangat menakjubkan MENYUARAKAN KEBEBASAN, KEADILAM, DAN KEJUJURAN, sangat menarik perhatian.

Di dalam ini, aku merasa senang dengan senior yang bisa seperti bungklon, bisa berubah setiap saat. Ketika dalam pergaulan bisa seperti sahabat, dan ketika di organisasi harus bersikap tegas. Inilah yang sangat sulit dipraktekkan, mungkin aku sndiri masih harus banyak belajar untuk seperti ini. Kebanyakan senior INSTIUT telah menguasai hal itu.

Diakui atau tidak, selama di INSTITUT aku menjadi termotifasi untuk mengkaji semua ilmu Allah. Sebelum masuk INSTITUT, aku hanya membaca biografi ulama nusantara dan buku-buku tentang Islam. Namun ketika masuk di UKM ini, mataku menjadi terbuka lebar akan pentingnya ilmu sosial, ekonomi dan sains. Memang secara kapasitas aku masih sangat minim pengetahun tentang disiplin ilmu tersebut.

Pertama kalinya masuk INSTITUT, aku sedikit bangga karena bisa mengenal orang-orang hebat disekelilingku. Sekitar delapan puluh mahasaiswa yang mendaftar, namun hari demi hari mereka berkurang sedikit demi sedikit. Menurutku, semua yang berani masuk area INSTITUT adalah orang hebat. Mereka orang hebat yang telah memilih langkah besar menuju kehidupan jangka panjang, –kerena banyak pelajaran tersirat di INSTITUT, tidak hanya sebatas tulis menulis–, namun yang keluar tersebut sangat disayangkan, hanya karena melupakan sautu disiplin ilmu, yaitu ketabahan. Menurutku tanpa ketabahan manusia tidak akan menca[ai apa yang ia cita-citakan. Kita conotoh Nabi Muhammad, begitu tabahnya beliau dalam menyiarkan agama Islam. Padahal beliau selalu mendapat caci-maki, ancaman, dan ejekan dari kaum Qurais dulu. Namun karena ketabahan dan kesabarannya lah, beliau bisa sukses dalam dakwahnya.

Begitu pula untuk INSTITUT sendiri, untuk menjadi besar dan disegani kuncinya harus tabah dan menyusun strategi dalam melangkah. INSTITUT harus tabah dalam menghadapi cobaan yang terus menghadang. Jangan sampai ada rasa pesimis dalam menghadapi keadaan, karena siapa yang bertahan, maka dialah pemenangnya. Selain ketabahan, berani adalah harga mati untuk kesuksesan. Asalakan yang kita beritakan adalah suatu kebenaran, jadi tidak perlu ancaman yang akan datang.

Masih panjang perjalanan INSTITUT untuk kedepannya, strategi dalam melangkah harus pas dan relevan dalam perkembangan kampus. Masih banyak PR INSTITUT dalam mengarungi lautan kehidupan ke depan. Keharmonisan lintas ganerasi tampaknya perlu diperhatikan dengan sungguh-sungguh. jika keharmonisan tersebut bisa berjalan dengan baik, kemungkinan nama INSTITUT  bisa harmonis, dalam artian sejahtera. Seandainya Rektorat memotong uang, tidak perlu dipermasalahkan, karena masih ada alumni yang mungkin bisa diandalkan (jika mereka masih mengingat INSTITUT), jika tidak penggawa INSTITUT masih bisa bergerak, dan dengan gerak pasti akan menghasilkan suatu hal. Menurutku, yang terpenting adalah menjaga hubungan dengan para pendahulunya.

Harapanku masuk INSTITUT sangatlah simpel, bagaimana caranya menyelaraskan pemeberitaan dan tingkah laku pemberitaan, juga bagaimana bisa melaksanakan dan menjaga slogan yang telah dimiliki INSTITUT. Untuk memotong kayu tidak dibutuhkan samurai yang mahal, namun hanya parang berkarat, tinggal bagaimana usaha dan kemauan si pemotong.

__________________________________

[1] Sesajen yang terbuat dari nasi, dibentuk seperti gunung, dengan lauk yang ditaruh di pinggir-pinggirnya.

[2] Uang seribu rupiah untuk sesepuh desa.

[3] Lima kasatria dalam istilah perwayangan.

[4] Putera KH. Bisri Mustofa, seorang penulis kitab dan politikus kondang. KH. Cholil adalah kakak dari KH. Mustofa Bisri (Gus Mus) yang sangat dikenal saat ini.

[5] Cerita kakek.

[6] Kakak laki-laki ibu.

[7] Adik laki-laki ibu.

[8] menahan hawa nafsu (spt berpuasa, berpantang); mengasingkan diri ke tempat yg sunyi (di gunung dsb).

[9] Bajak.

[10] Pokoknya mati hidup harus NU.

[11] Perbedaan.

[12] Sebutan anak kiai.

[13] Keluarga besar pengasuh.

[14] Mengharap berkah.

[15] Sebuatan pengasuh pesantrenku.

[16] Syair ilmu tata bahasa Arab, biasanya dipakai di tingkat ketiga dalam pesantren.

[17] Membaca kitab Al-Barzanji, kitab yang berisi shalawat dan cerita hidup nabi.

[18] Melafalkan ayat-ayat tertentu dengan tujuan tertentu pula.

[19] Hafal berapa?

[20] Semuanya!

[21] Janji kepada Allah.

[22] Rejeki yang tidak terduga.

[23] Ikatan Keluarga Madrsah Raudlatul Ulum.

Iklan

Bijaklah dalam Berkomentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.