Rajin Pangkal Bodoh

Waktu duduk di bangku Sekolah Dasar (SD) dulu, guruku sering mengajarkan bahwa seseorang yang rajin akan pandai, atau dengan istilah “rajin pangkal pandai”. Bagiku kata itu adalah sebuah mantra yang sangat luar bisa untuk mengusir rasa malasku, siang, malam, hujan, panas, dingin, aku selalu mencoba rajin agar menjadi orang yang pandai (hal ini terpaksa aku lakukan karena orang tua yang selalu memaksa untuk betindak rajin dalam urusan belajar).

Diakui atau tidak, mantra “rajin pangkal pandai” tersebut membawaku selalu menjadi juara kelas dan selalu terpilih menjadi perwakilan SD ku mengikuti perlombaan. Bukannya mau menyombongkan diri, dari semua mata pelajaran yang diajarkan, aku pernah mewakilinya di perlombaan, dari tingkat kecamatan hingga provinsi, kurang lebihnya seperti itu.

Namun naas ketika masa-masa setelah lulus dari SD, aku diasingkan orang tua ke sebuah pesantren di pedalaman kota Blora, tepatnya desa Ngadipurwo yang berdekatan dengan Waduk Tempuran. Di sini mantra yang dahulu sangat ku percaya keampuhannya perlahan memudar, “rajin pangkal pandai” tak lagi menjadi mantra andalanku. Malah aku menemukan sebuah resep baru “rajin pangkal bodoh”, mantra baru itu yang memengaruhi kelakuanku untuk meninggalkan kata “rajin”, karena aku ingin pandai aku harus meninggalkan rajin. Begitulah asumsiku, hingga duduk di perkuliahan saat ini pun, mantra tersebut masih terpatri dalam gerak-gerik kehidupanku.

Kiranya butuh koreksi mengenai mantra baruku tersebut, “rajin pangkal bodoh”. Apakah benar orang rajin akan bermuara dalam kebodohan? Ketika ada yang mencoba mengkritisi penemuan baruku tersebut, aku akan dengan lantang menjawab “iya”. Kenapa? Karena mereka yang dulunya rajin, sekarang menjadi orang yang bodoh. Tak percaya, silahkan menyempatkan waktu untuk menengok mereka yang saat ini duduk di bangku pemerintahan, mereka sebelumnya adalah orang-orang yang rajin, rajin belajar, rajin berorganisasi, rajin berdiskusi, rajin kera “jin” an yang membawa mereka ke kebodohan.

Tapi sudahlah aku tak mau menghujat pemerintah, toh sudah ada Ki Jancok yang senantiasa menggunakan tokoh pewayangannya sebagai alat untuk menggelitiki pemerintah. Aku juga tak mau berbicara panjang lebar di sini. Aku kasih contoh terkait persoalan di atas, “Rajin Pangkal Bodoh”. Ada temanku di Kosan Cenil Ceria, sebut saja namanya “Jaem”. Ia salah satu pengidap penyakit aneh bin ajaib ini. Betapa tidak, dia itu orang yang sangat rajin, tapi dia adalah sosok yang bodoh, (maaf jika perkataan ini terkesan terlalu jujur).

Hampir setiap hari ia rela meluangkan waktunya untuk mengedit foto-foto menggunakan  program PHOTOSHOP. Dari situ aku menggolongkannya sebagai orang yang rajin, orang yang rajin mengotak-atik wajah manusia. Rajin sekali, sampai-sampai ia melupakan semua hal, baik makan, minum, ngopi, rokok, ber-intim dengan teman-temannya, yang paling kronisnya lagi, ia tak lagi mempedulikan mandi. Hahahah

Mungkin selain rajin ia termasuk spesies manusia yang rada aneh. Saking hobinya mengotak-atik muka, ia menjadi bodoh, bodoh karena sifat rajinnya tersebut. Bagaimana tidak bodoh, masak manusia yang –maaf—jelek berubah menjadi ganteng, dan sebaliknya. Bahkan ia bisa merubah kepalasapi menjadi kepala manusia. Wuih,,,,,, bukannya bodoh nih orang gara-gara sifat rajinnya. Semoga Tuhan meluruskan keahliannya.

Diakhir tulisan ini saya meminta maaf, mungkin tulisan ini tidak fokus dan terkesan acak-acakan. Karena memang, saking rajinnya penulis menulis menjadikan diri ini “bodoh”. Hahahahaha. Makanya rajinlah biyar anda juga bisa merasakan menjadi orang yang bodoh. Dan sebenarnya bodoh  adalah sifat orang yang pandai. Dan orang yang pandai itu seharusnya tidak bodoh.mubeng-mubeng rak karuan.

Bijaklah dalam Berkomentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.