Ideologi di Balik Rambut Gondrong

“Nak muleh sesok rambutmu durung mbok potong, tak potong sekalian sak gulumu”
Begitulah perkataan bapak ketika mengantarku kembali ke Jakarta selepas liburan lebaran Idul Fitri kemarin. Entah apa gerangan penyebabnya, sehingga bapakku berkata demikian. Bagiku, rambut yang melindungi tengkorak kulit kepalaku ini tak begitu panjang-panjang amat, hanya terlihat berantakan karena pada dasarnya rambutku sedikit ikal semi kribo.
Sebelumnya, semua keluarga besar menghimbau untuk tidak “menggondrongkan” rambut. Mereka beranggapan, rambut gondrong identik dengan orang yang tak beres akhlaknya, suka hura-hura dan pokoknya “anggapan mereka” gondrong itu dekat dengan neraka. “Rambut kok rewo-rewo koyo gendruwo,” begitulah yang dikatakan salah satu dari mereka.
Entahlah,  aku tak begitu memedulikan apa yang dikatakan keluarga besar dan orang-orang yang mengenalku. Aku tak begitu peduli, karena sifat dan watak seseorang tak 100% bisa dinilai dari penampilannya. Kadang, jika aku merasa risih dengan ucapan-ucapan mereka, aku memberanikan diri untuk nyeletuk, “Nak masalah penampilan mboten usah njenengan urusi, tapi nak sak lentune kulo siap njalakkaken dhawuhe panjenengan sami, selama mboten bertentangan kaleh agomo seng kulo yakini.”  Mungkin kata-kata itu sedikit tak sopan dan sedikit juga menjorok ke lubang “durhaka kepada orang tua”.
Sebenarnya kalau mau jujur, aku sedikit takut mendengar ucapan bapak. Pasalnya bapak itu seorang yang mempunyai kepribadian keras, disiplin, tak takut kepada siapapun, dan -mungkin juga- rajin menabung. Lantas, sesampainya di Jakarta, aku mempunyai sedikit niat untuk memangkas rambut nan endah ini dengan maksud menghindari ancaman bapak, tapi entah kenapa sampai tulisan ini kutulis aku belum juga merealisasikan niatan tersebut.
@@@
Sekitar dua minggu kemarin, HPku berdering kencang, pertanda ada panggilan masuk. Kulihat dengan cermat, ternyata bapak menelponku. “Le, Rabu, 25 September awakmu bali yo,” kata bapak dari Rembang.
“Wonten nopo, Pak?”
“Piye leh, wong mbahmu mangkat kaji ngono, kok!”
“Waduh, ketingale mboten saget, Pak. Enten kegitan katah.”
” Pokoke muleh, awas nak rak muleh, mbahmu gelo mengko. Wes pokoke muleh. Wes ndisik ya, bapak arep ngelanjutke ngundoh mbako. Assalamualaikum.”
Begitulah pungkasan kata-kata bapak, belum sempat aku membalas salamnya, telepon sudah terputus dulu. Aku menjadi pikiran gara-gara layang suoro bapak tadi, atau meminjam kata-kata pemuda jaman sekarang “aku sedang galau dibuatnya”. Bagaimana tidak galau, Minggu kemarin aku memang sedikit sibuk di LPM, IKAMARU dan tugas-tugas kuliah yang semakin membuatku sedikit gila. Apalagi ditambah dengan layang bapak tadi, semakin ingin meledakkan kepalaku dan membuatku bingung antara pulang atau tidak.
Di satu sisi aku sedikit tak enak meninggalkan tanggung jawab yang telah kuemban, di sisi lainnya aku juga merasa sangat berdosa jika tidak pulang. Aku bingung dan mencoba mencari solusi dari kawan-kawan terdekatku. Hingga pada akhirnya ada sesepuh di basecamp Ikamaru Jakarta dan Sekitarnya, Muhammad Fahdi berkata, “Mulih o, keluarga kui segolo-golone.”  Mendengar dhawuh sesepuh tersebut, aku memantapkan diri untuk pulang, pulang mengantar nenek ke Asrama Haji Donohudan Solo.
Akhirnya, Rabu bersamaan dengan matahari yang tengah kembali keperaduan, aku balik kampung. Kusalami satu persatu kawan-kawan satu kasur tentunya dengan maksud meminta doa agar selamat sampai tujuan. Namun di tengah ritual pamitan tersebut, ada teman sekasur yang sebenarnya muda namun selalu mengaku sok tua (karena memang mukanya mendukung pengakuannya tersebut) nyeletuk, “Iyo, nadang bali, Le. Eh,,, rambutmu mbok umbarne dawul-dawul ngungu, mengko nak dibabat bapakmu piye?” 
“Glek,,,,” aku kaget mendengar celetukan wong (sok) tua tersebut. Jantungku Dag dig dug der, seperti iklan DAIA jaman kecilku dulu. Aku mrinding, jika benar-benar leherku dibabat oleh bapak. Namun, aku ingat buku Panduan Berumah Tangga Bab 5 Pasal 25 Halaman 35 tentang kesejahteraan anak-anaknya. Dalam pasal tersebut dikatakan, bahwa sesungguhnya bapak itu dikutuk oleh Tuhan apabila terbukti menganiaya anak-anaknya. “Wuih,,,, mantab nih pasal,” Pikirku dalam hati.
Aku melangkah dengan keyakinan bapakku tak akan merealisasikan ucapannya tempo dulu itu. Bahkan (mungkin) beliau mengajakku ketempat rebondeng (bhs Jawa) untuk meluruskan rambutku. Hehehe  
Sesampainya di rumah, seseorang yang begitu kukenal menyambutku. Orangnya sudah sedikit keriput, berpakaian serba putih, mengenakan kerudung putih kekuning-kuningan. Srepintas wajahnya mirip dengan nenekku. Setelah mengucap salam, aku bersalaman dengan beliau dan mengecup tangannya yang wangi tersebut. Kuberanikan melirik wajahnya yang sepertinya penuh dengan tanda tanya, kemudian ia bertanya kepadaku, “Sampean sinten? sakeng pundi?”
Sentak aku kaget dengan pertanyaan beliau. Belum sempat aku menjawab, orang-orang yang tadinya sibuk memasak untuk acara khataman berhamburan ke luar. “Niku Widodo, Mbah!” Suara ibuku memberi tahu orang tua tersebut.
Mendengar ucapan ibuku, mbah-mbah tersebut malah memeluk erat tubuhku sembari berkata kencang, “Ya Allah, Le Le, aku kok pangkling karo awakmu. Laha piye mbiyen awakmu gede saiki malah kuru gondrong pisan.”Serentak seisi rumah tertawa mendengar ucapan mabah-mbah yang ternyata adik kandung nenekku sendiri.
“Bocah kandanane angel terae kok, wong rambut koyo susoh manuk ngono, dikon potong kok mbegedute rak karuan,”  kata ibuku.
“Lha dak yo ben kono, wong seng nyunggi rambute yo awak e dewe kok, wes gede ndara wes iso ngatur awak e dewe no!” Mabahku kakung menimpali ucapan ibuku. Dalam hati aku sedikit bahagia mendengar ucapan mbah kakung.
Kusalami satu per satu seisi rumah. Aku sedikit merinding saat bersalaman dengan bapakku, pasalnya sejak aku menapakkan kaki di rumah, bapak hanya terdiam sembari melihatku dengan pandangan sinis. Ketika sampai di depan beliau, kutundukkan badanku dan kuraih tangannya. Kemudian beliau mengelus kepalaku sambil mengulur-nguluir rambutku yang sudah seperti peer skok  (b. Jawa) itu. “Yo wes, Le. Rambutmu dawake rak opo-opo, seng penting ojo ngelanggar perintahe pengeran ya. Bapak janji, bapak rak bakal nyeneni awakmu.”
Serasa  menang dalam perang ketika mendengar ucapan bapak tersebut. Dalam kesempatan yang baik itu, aku mengatakan kepada seisi rumah, kenapa aku gondrong. Aku mengatakan ini adalah bagian dari dakwah karena ingin menghapus paradigma berpikir masyarakat yang “sesat”. Yang melulu menilai baik buruk diri seseorang dari penampilannya. Biar gondrong tapi hatinya tak gondrong dan suram seperti rambutnya. Aku sadar, pikiran masyarakat di desaku sangat memprihatinkan. Mereka seringkali mengkritisi hal-hal yang sebenarnya tak dilarang atau bertabrakan dengan norma-norma yang berlaku.
Contoh kecilnya, seringkali aku mendengar geguneman orang-orang petan, “Anakke wak Muchtar kae lho, Yu, solat nang mejed kok nganggo kaos oblong nganggur. Ora koyo anakke wak Ballas kae seng mbilitit nak marak mejed.”  “Iyo, Yu, opo meneh kae anakke Wak Taro, saben ndino penggaweane ngopa-ngopi wae.” seprti itulah contoh kecilnya.  Coba bayangkan, apa yang salah dengan pergi ke masjid dengan mengenakan kaos oblong, mungkin kalau “hanya” mengenakan kaos oblong akan terlihat saru bin wong edan. Lha ini, sudah memenuhi persyaratan salat dan hanya karena mengenakan kaos sebagai ganti “baju muslim” dianggap orang yang tak sopan. Setahu saya pun, Tuhan tak pernah mengeluarkan UUD “wajib mengenakan baju koko” ketika shalat.
Masih banyak lagi yang tidak bisa kuceritakan dalam tulisan ini menganai ” kesesatan “masyarakat desaku, jika Anda penasar mungkin bisa melakukan observasi di desaku. heheheh (Seng nulis  ya sesat, berhati-hatilah!”
Kembali ke alasanku menggondrongkan rambut, sedikit bergurau kepada seisi rumah, aku mengatakan, “Aku gondrong ben mboten ditresnani cewek!”  Sentak seisi rumah tertawa. Aku pun malau sebenarnya mengatkan hal ini, pada dasarnya itulah alasanku kanapa aku masih mempertahankan rambut seksi ini. (Sebenarnya ini sedikit PD dan lebay).
Lantas omku  nyeletuk, “Hahahahaha,,,, rak usah mbok gondrongke, ora gondrong lah yo rak enek seng nyantol,” 
Begitulah, mumpung masih muda, bebaskan hidup Anda selama tak melanggar peraturan Tuhan dan norma-norma yang ada. Pada akhirnya jangan menilai diri orang lain dari tampilan luarnya, perlu Anda ketahui cangkang mutiara itu tak seindah isinya.  Salam
 
Iklan

Bijaklah dalam Berkomentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.