Pesona Pilpres

Sebentar lagi Pemilihan Presiden (Pilpres) akan digelar. Masyarakat tentunya mendambakan sosok presiden yang bisa membawa Indonesia selangkah lebih maju dalam hal apapun. Partai-partai berkoalisi dan jungkir balik mencoba merenggut kepercayaan publik akan capres dan cawapres yang mereka usung. Bak lomba teater, para capres dan cawapres berakting sebaik mungkin agar banyak orang yang mengacungkan jempol dan menjadi pemenang.

Setiap hari publik disuguhi pemberitaan yang beragam terkait capres-cawapres. Ada sebagian media  yang memberitakan kebaikan, adapula media yang memberitakan kejelekan para calon kepala negara tersebut. Tak ketinggalan pula di media sosial, rakyat pun ikut serta meramaikan hingar bingar pilpres 2014. Saling hujat dan menjatuhkan capres-cawapres dengan isu-isu yang perlu dipertanyakan kebenarannya sering kita temui di media sosial tersebut.

politik

Hujatan-hujatan yang menyudutkan tersebut tampaknya membuat cawapres yang diusung partai berlambang banteng moncong putih sedikit gerah. Seperti dilansir dari Rakyat Merdeka 28 Mei 2014, cawapres tersebut menantang lomba membaca Alquran untuk membuktikan bahwa hujatan dan tuduhan kepada pasangannya tidaklah benar.

Terlepas dari hujat-menghujat, para capres juga mulai beradu otak untuk menyusun visi-misi. Tampaknya para capres betul-betul memahami kondisi kekinian Indonesia. Tak ayal, seperti data yang dikeluarkan KPU,  jika dua kubu calon pengayom seluruh rakyat tersebut telah menyerahkan visi-misi untuk masa kepimpinannya lima tahun ke depan. Ada yang visi-misinya hanya 9 halaman dan ada juga yang setebal 42 halaman.  Semoga visi-misi itu tak terkubur setelah mereka duduk di kursi kekuasaan.

Jenuh namun seru, mungkin seperti itu yang kini dirasakan rakyat Indonesia. Jenuh mendengarkan janji-janji yang selalu digemborkan para calon sebelum Pemilu digelar, dan seru menonton polah tingkah saling serang satu sama lainnya. Entahlah, kuping rakyat sudah terbiasa mendengar janji-janji yang kadang tak berbuah realisasi itu. Rakyat tak bodoh, mereka tahu siapa yang harus dipilih, mereka tahu mana yang benar dan mana yang selalu mencari pembenaran.

Rakyat sudah lama mendambakan pemimpin yang peduli kaum  bawah. Merindukan sosok pemimpin seperti Sayyidina Umar yang rela sengsara asal rakyat bahagia, bukan malah sebaliknya. Siapapun presidennya nanti, ia harus menjamin pendidikan rakyat, harus mencerdaskan bangsa seperti yang tertera dalam Undang-undang Dasar.

Terjadinya tindak korupsi, kriminalitas, dan kejahatan-kejahatan yang lain disebabkan karena tingkat pendidikan yang rendah dan (mungkin) konsep pendidikan selama ini salah. Maka wajib hukumnya untuk presiden yang terpilih nanti benar-benar memikirkan hal tersebut.   Jelas, orang yang berpendidikan, seperti yang dikatakan Ki Hadjar Dewantara, akan memanusiakan manusia, bukan malah menyengsarakan manusia. Jika bangsa cerdas, Indonesia akan menemukan taringnya kembali.

Tulisan ini dimuat Harian KOMPAS, edisi 2 Juni 2014

Iklan

Bijaklah dalam Berkomentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.