Ini Beberapa Alasan Kenapa Saya Suka Nonton Kekerasan

Saya sempat heran, apakah menonton video tawuran, orang disembelih, perang, maling digebukin, dangdut tawuran, street fighter dan adu senjata, adalah tindakan tidak wajar? Pertanyaan tersebut  muncul lantaran kawan-kawanku yang suka mencemooh bahkan menampakkan wajah sinis tatkala mendapati kawannya (sebenernya sih aku) menonton video-video yang mengiris hati nurani itu. Hingga, mereka menyebutku ekstrimis, radikal dan beribu sebutan untuk menggambarkan mereka yang suka kekerasan.

Saya tak pernah sekalipun merasa tak enak hati tatkala dicemooh, atau meminjam bahasa anak sekarang diceng-cengin. Karena saya termasuk orang yang meyakini, bahwa gojlokan adalah salah satu alat untuk semakin merekatkan persaudaraan, terlebih saya memang tak terlalu memedulikan apa kata orang, asalkan yang saya lakukan tidak merugikan orang lain, kenapa saya harus mengekang keinginan?

Memang, kata kawan-kawan, saya ini terbilang orang yang punya tontonan di luar keumuman manusia seumuran saya. Padahal, ketika mereka suka menonton pertarungan manga, sebenarnya saya juga punya selera sama, menonton video tawuran di jalan. Ketika mereka suka mendengarkan lagu-lagu yang ngehits dan kekinian, saya juga sama, namun versinya harus koplo. Ketika mereka suka menonton film luar negeri, saya juga demikian mencintai Drama Korea (sejak menonton Love Story in Harvard). Lalu bedanya di mana coba? Ah sudahlah.

Saya akan berkata jujur. Sejak mengenal internet dan tahu Youtube, ratusan video kekerasan telah saya lumat dan pelajari hingga sedetail mungkin. Dari tawuran tingkat duel, antar keluarga, antar agama, suku, antar negara, hingga perang dunia. Yang masing-masing dari kualitas 3gp hingga HD.

Namun, asal kalian tahu, tidak setiap hari saya menonton video yang demikian, karena masih banyak hal lain yang menuntut untuk segera diselesaikan. Begini aja, mumpung ada waktu buat nulis selo kayak begini, saya akan menjelaskan kenapa saya begitu hobi, bahkan sampai menjadi maniak menonton video kekerasan. Bukan maniak menonton ketoprak Cina. Hehehehe

Bayang-bayang Masa Kecil

Saya anak pertama dan terakhir. Meski demikian, orangtua saya dan tentunya perangkat keluarga yang lain tidak pernah memanjakan saya. Salah: pukul. Dapat nilai jelek: pukul. Kalah berantem: pukul. Dan asal kalian tau, hidup seperti itu sangatlah memuakkan, meski pada akhirnya diam-diam kusyukuri juga punya cerita hidup yang sedemikian indah.

Dari situ saya benar-benar muak, saya harus selalu benar, harus selalu dapat ranking 1, dan kalau berantem harus dapat membuat terkapar lawan. Motivasinya sederhana, agar tidak dipukul bapak. Tapi apa? Semua hal itu telah terpenuhi, tetapi tetap saja masih dipukul. Hingga, Ibil kecil berpikir, bahwa kekerasanlah yang akan menyelesaikan masalah. Tiada hal lain selainnya (Sesat pikir).

Maka jangan heran, waktu masih menimba ilmu di pesantren saya demen berantem. Adu jotos. Adu cakar. Bahkan sampai berdarah-darah pun akan saya lakukan jika harga diri diinjak-injak. Sampai-sampai, saking pengen kondangnya, berbagai wirid saya baca, berbagai hizib saya lumat dan berbagai ritus tirakatan dengan susah payah saya lakoni. Biar apa? Biar tak takut lawan siapapun.

Lagi-lagi Tuhan memang selalu mengajak main petak umpet. Ngajak bermain detektif-detektifan. Alih-alih tambah kejadukan semakin dekat dengan-Nya lantaran mengamalkan hal itu, saya malah menjadi orang lemah dan tak peduli lagi dengan keberadaan Allah. Bersyukurlah saya ketika sowan di ndalem (Alm) Kiai Basyir, Jekulo, Kudus (Semoga Allah menempatkan Beliau di tempat yang paling nyaman). Beliau memukul kepala saya sewaktu menghadap sambil dhawuh, “Nek pengen jaduk, sinau ngelmu sabar lan ikhlas. Orak usah neko-neko sinau kanuragan!” Sentak saya menyadari kegoblokan saya dan sendiko dhawuh atas apa yang dipesan Kiai Basyir. Saya buang semua ijazah kejadukan itu dan memelajari kedua disiplin keilmuan sabar dan ikhlas yang hingga hari ini belum bisa saya amalkan.

Belajar dari Kekerasan untuk Membentuk Pribadi yang Bernurani

Ini sedikit membual memang. Namun perlulah kita ingat pesan Gol A Gong, “Dunia ini hadir untuk dibaca” atau pesan Mahaguru (yang tak pernah bertemu) saya, Gus Miek, “Dunia adalah sekolah tanpa bangku. Belajarlah darinya sebanyak mungkin.” Begitu gamblang bukan, bahwa semua yang ada di dekat kita -yang bisa kita dengar, lihat dan rasakan- adalah ruang untuk belajar. Sekalipun dari rumput yang bergoyang atau Youtub sekali pun.

Dengan menonton kekerasan di Youtube, bukan berarti saya akan menjadi agen kekerasan seperti itu. Sama halnya ketika Bung Adit ngefans Nabila JKT48, tapi belum tentu Si Nabila menjadi teman di pelaminannya kelak, bukan? Saya menonton hanya ingin belajar pola kekerasan dan hobi doyan tawurannya Bangsa ini. Sama seperti Bung Adit belajar mencintai kekasihnya kelak dengan sepenuh hati melalui belajar mencintai Dek Nabila sepenuh hati, bahkan ia tak menuntut balas. Warbyasa memang.

Jadi seperti itulah alasan saya. Ini hanya sekadar alasan. Seperti yang dikatakan Muchtar Lubis, Bangsa ini adalah Bangsa Hipokrit. Karena saya masyarakat Bangsa ini, maka saya wajib menjadi orang yang munafik. Terimakasih

Iklan

Bijaklah dalam Berkomentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.