Nyuci Otak di Seminar FCTC

Bak sebuah air dan minyak yang tak akan bisa bersatu, perdebatan mengenai ratifikasi Framework Convention on Tobacco Control (FCTC) seakan tak pernah menemui titik temu. Aktivis tembakau tentu akan menolak kebijakan itu. Sebaliknya, aktivis anti tembakau (yang kadang-kadang merokok di tempat sepi) pasti dan haqqul yakin selalu bernafsu mendorong pemerintah agar sesegera mungkin dengan waktu yang sesingkat-singkatnya meratifikasi kesepakatan tersebut.

Di negara yang senang memuja kepalsuan ini (beras palsu, suami palsu, hingga wajah palsu) terdapat banyak orang ngeyel (Jawa: pekok)  yang suka memekokkan orang lain. Berbeda pendapat tentu sangat wajar. Yang tidak wajar itu menghakimi, menghujat dan mengejek kelompok yang berbeda pemahaman dengan kata-kata yang tak pantas diucapkan di muka umum. Apalagi menghujatnya di ruangan yang dipenuhi akademisi yang (maaf) terlihat plonga-plongo mengamini setiap kata yang terlontar dari mulut pembicara. Duh nggak jentelmen banget!

Lihatlah acara yang digelar oleh Himpunan Mahasiswa Program Studi Pendidikan Dokter di Auditorium Harun Nasution, Minggu kemarin. Acara diskusi terbuka (yang ngaretnya luar biasa) bertajuk “Jalan Menuju Aksesi FCTC” tersebut tidak seperti diskusi yang dipahami kebanyakan orang. Diskusi yang seharusnya mencari jalan keluar bersama malah terkesan menjadi ajang pencucian otak. Persis seperti seoarang murabbi yang membaiat muridnya. Benar kata Cak Nun, orang Indonesia itu jarang ada yang bisa membedakan antara pengajian dan majelis ta’lim.

Dalam acara tersebut, moderator dan semua pembicara adalah orang-orang yang benci terhadap rokok dan perokok. Lebih parahnya, mereka sudah memulai berkata-kata yang menyakitkan hati para perokok, seperti diriku ini. Terlihat tanpa beban dan benar sendiri, mereka nyerocos semaunya. “Masalah BPJS, orang miskin yang merokok jangan dilayani dan yang kaya harus dimahalkan biayanya,” begitulah (kurang/lebih) yang diucapkan moderatornya.

Mendengar ucapan itu, sentak aku berfikir, apakah perokok adalah pendosa besar yang harus dibenci dan dimarjinalkan sampai seperti itu? Apakah perokok membuat Indonesia miskin lantaran banyak menghabiskan anggaran negara untuk kesehatan rakyatnya? Atau perokok adalah manusia abnormal yang diharamkan sakit? Entahlah. Mereka selalu menyerang para perokok atau aktivis anti rokok dengan isu-isu kesehatan yang masih absurd dan ambigu.

Parahnya, salah satu pembicara dengan lantang berujar, bahwa rokok di Indonesia adalah pembunuh terdahsyat. Benarkah seperti itu? Aku sendiri tidak terlalu yakin, karena kakekku merokok ingin mati, sudah merokok malah tidak mati-mati. Meski lahir saat Jepang menjajah Indonesia dan mulai merokok saat Indonesia sudah 5 tahun merdeka, kakek tetap sehat-sehat saja. Masih kuat mencangkul dan mengelus tanaman tembakaunya di ladang. (Baca juga: Merokok Ingin Mati, Sudah Merokok Tak Mati-mati)

Jika dokter saja bisa meyakini kalau orang mati di negara ini banyak disebabkan karena rokok, maka aku pun dapat meyakini kalau penyebab kematian tersebut bukan karena rokok atau tembakau, melainkan sebab dokter yang tak sigap mengobati orang-orang sakit, lebih memilih pasien yang sakunya tebal, serta takluk dengan kebijakan manajemen yang sedikit terkontaminasi mencari keuntungan sebanyak-banyaknya.

Selain itu, bagi pembicara dan penyelenggara acara, Indonesia harus segera meratifikasi FCTC. Apa sebab? Meminjam bahasanya dan anggapan salah satu pembicara, Romo Hakim Sorimunda Pohan, Indonesia masih kurcaci dalam memproduksi tembakau. “Cina saja yang notabene negara terbesar penghasil tembakau sudah meratifikasi kok, lha kita?” Ujarnya.

Lho lho lho, kalem wae Romo Hakim. Apakah kita tidak pernah meraba-raba, atau pikiran kita (eh Romo aja deh, aku ndak ikut-ikut) sudah dibutakan oleh isu kesehatan untuk menghantam daun tembakau yang tak berdosa itu? Lihatlah Amerika, negara yang katamu luar biasa, hingga saat ini belum mengaksesi, padahal negara tersebut menyeponsori FCTC. Bagaimana, tidakkah mencium ada agenda besar dari Amerika untuk merampas kenikmatan kretek nusantara?

Tak sampai di situ, Hakim menganggap, FCTC akan menguntungkan negara. FTCT, menurutnya, tidak akan membunuh petani. Karena baginya, mati atau hidupnya petani bukan disebabkan oleh Indonesia mengaksesi FCTC, melainkan karena iklim, lahan petani yang terus berkurang, dan tidak adanya regulasi perdagangan tembakau.

Ini yang aneh, padahal pemerintah sudah menyiapkan RUU Pertembakauan yang akan mengatur apa-apa yang menjadi kegelisahan Romo Hakim. Namun upaya baik pemerintah tersebut ditolak dan dipermasalahkan oleh mereka (aktivis anti tembakau), barangkali termasuk Romo Hakim.

Sudahlah, aku tak mau terlalu mengomentari setiap kalimat yang dilontarkan para pembicara, karena aku sadar, “aku mah apa atuh” jika dibandingkan para pembicara yang sudah berderet banyak titel di depan dan belakang namanya. Tapi aku mencoba tidak berpikir sempit seperti pikiran mereka. Masalah tembakau tidak bisa dilihat dari satu sudut saja, karena hidup tidak selalu tentang kesehatan.

Sedikit lagi. Teruntuk kawan-kawan yang berjuang menghilangkan kretek, rokok, dan sejenisnya dari bumi Kartini ini, mohonlah kalau mengadakan acara diusahakan yang objektif. Jangan hanya mendatangkan orang-orang yang pro, cobalah itu orang-orang yang kontra juga dihadirkan. Agar diskusi terasa lebih hidup dan para pembicara tak seenaknya menganggap pengretek seperti burung beo yang bisa ngoceh itu-itu saja.

Satu lagi, belajarlah untuk membedakakan “REKTORAT” dan “REKTOR”, juga “CENDERA MATA” dan “CIDERA MATA”, katanya cinta Indonesia dan berbahasa Indonesia? Minimal ngreteklah kalo belum bisa berbahasa Indonesia dengan baik dan benar.

Iklan

Bijaklah dalam Berkomentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.