Rektorat dan Mahasiswa

“Jika ada konflik di antara kita itu wajar karena kita dibesarkan di lingkungan yang berbeda, memuyai kepribadian yang berbeda, usia yang berbeda dan juga sudut pandang yang berbeda [Drama Korea: I Do, I Do].

Hidup tanpa konflik seperti nikah tapi tidak “nganu-nganu”, hambar dan membosankan. Kapanpun dan dimanapun, tak peduli sedang musim paceklik atau panen berlimpah. Tak peduli pada tingkat nasional atau kampus UIN Jakarta –yang katanya sedang asyik menggenjot pembangunan demi cita-cita luhur mewujudkan universitas berstandar internasiona, konflik akan selalu ada dan berlipat ganda.

Tengok saja Portal Berita Mahasiswa UIN Jakarta, www.lpminstitut.com, yang akhir-akhir ini banyak memberitakan aksi mahasiswa menolak keputusan birokrat kampus memercayai Gerbang Berkah (GB) Parking untuk mengurai atau melibas semrawutnya parkiran kampus Islam terakreditasi A ini, UKM wolk out dari hajat akbar OPAK, kemegahan gedung baru Perpustakaan Utama (PU), dan masih banyak berita-berita lain yang tentunya sarat pro-kontra hingga menimbulkan sebuah konflik yang menarik untuk dipelajari.

perpustakaan

Di banyak tongkrongan para aktivis, warung kopi (sayangnya di kampus sudah minim warung kopi), atau lorong-lorong fakultas, persoalan parkir baru ini ternyata menjadi topik bahasan yang selalu menggiurkan untuk ditelanjangi. Nahasnya, presentase mereka yang membincangkan tak sebanyak mahasiswa yang memilih ‘bodo amat’ terhadap apa yang terjadi di kampusnya. Tentu tindakan mahasiswa bertipikal ‘bodo amat’ ini tak masalah dan perlu diapresiasi, karena mau peduli atau tidak adalah hak dan lulus kuliah secepat kilat adalah sebuah keniscayaan!

Dalam tulisan ini, rasanya tak perlu lagi membahas panjang lebar menganai Gerbang Barokah atau rektorat yang lupa janji terkait ruang terbuka hijau yang mereka pinjam untuk dijadikan parkir sementara. Tidak. Di sini saya ingin mengajak pembaca berjamaah membaca (berkhusnuddhon) niat baik rektorat dalam mengeluarkan kebijakan.

Sebagai orang tua di kampus, jajaran rektorat sebenarnya ingin mendidik mahasiswa tidak hanya di dalam kelas. Entah kenapa saya begitu yakin, bahwa rektorat juga berpikir bahwa belajar tidak kenal ruang dan waktu. Makanya dengan sengaja mereka membuat kebijakan –yang setidaknya— memancing pro-kontra anak-anaknya, supaya mahasiswa juga belajar dari kehidupan. Karena rektorat membaca bahwa anak-anaknya sekarang sudah malas berdiskusi, kalaupun menggelar tongkrongan, ya, hanya untuk menghabiskan kopi, tanpa ada muatan-muatan pembahasan yang berisi.

Selain itu, jika pembaca sekalian mau mencermati, kebanyakan jajaran rektorat adalah mantan-mantan aktivis ulung yang dulunya juga doyan diskusi dan aksi, tentu diskusi dan aksi mereka lebih “sadis” ketimbang mahasiswa kini. Rektorat cukup prihatin melihat aksi yang isinya cuma mahasiswa atau kelompok ‘itu-itu saja’. Entah menyikapi kebijakan dengan melawan arus ala Tan Malaka atau mengikuti kemudian membelokkan ala Soekarno, selama hanya segelintir, tentu akan sia-sia belaka.

Rektorat benar-benar ingin mengukur inovasi aksi mahasiswa yang mereka anggap seperti sifat Alquran, sorih li kulli zaman wa makan. Makanya jangan heran jika mereka terus menerapkan kebijakan-kebijakan yang sepihak untuk memantik kembali gelora para agen perubahan. Sampai nanti, sampai mahasiswa benar-benar kembali menemukan orientasinya. Entah kapan itu.

Kalau tak mau disebut anak, baiklah. Mahasiswa adalah rakyat. Sebagai rakyat sebaiknya harus berserikat. Maka, penulis teringat dhawuh Cak Nun yang begitu hebat, “Rakyat berasal dari kata ro’iyah artinya kepemimpinan, maka rakyat hakekatnya pemimpin tertinggi di atas presiden, gubernur dan lain sebagainya. Umat dari kata umm artinya ibu yaitu serumpun, sekelompok, segolongan, dan masyarakat dari kata syirkah artinya berserikat yaitu beberapa kelompok yang memunyai tujuan yang sama”.

Dhawuh Cak Nun tersebut mempertegas bahwa kelompok-kelompok mahasiswa  harus bersatu menjadi satu kesatuan, tidak bergerak masing-masing dan tidak gengsi berjabat tangan dengan kelompok yang tak sepaham. Ingatlah, tak sepaham bukan berarti tak satu tujuan. Dalam konteks ini mahasiswa punya satu tujuan, membuat UIN Jakarta lebih baik dan melawan kesewenang-wenangan. Mahasiswa itu rakyat lho, punya hak untuk berpendapat, asal jangan anarkis.

Tak hanya itu, iktikad rektorat untuk menyadarkan mahasiswa ternyata merembet sampai pada pembangunan infrastruktur. Lihatlah geduh baru PU yang megah tinggi menjulang itu. Tiada lain maksud rektorat memeras keringat membangun perpustakaan untuk membangkitkan kembali budaya literasi mahasiswa, bukan untuk dijadikan spot berselfie. Jika mahasiswa memegang buku saja sudah ogah, lalu siapa nanti yang memegang cangkul atau microfon masjid?

Pak Pejabat Rektorat, teruslah mendidik kami dan mohon dengarkan serta pertimbangkan keluh kesah mahasiswa, jangan sakiti mereka ketika mengungkap kegelisahannya. Kawan-kawan mahasiswa, teruslah peka dan kritisi mereka yang semena-mena. Jangan gampang mengucapkan maaf, aminilah salah satu pelajaran dari film Korea Boys Before Flower , “Jika segala sesuatu dapat diselesaikan dengan kata maaf, lalu untuk apa ada hukum dan polisi?” Agar kehidupan ini seimbang, tak timpang, semua hidup dengan fungsi masing-masing.

“Generasi kempong tidak punya waktu dan tidak memiliki tradisi untuk tahu beda antara kalimat sindiran dengan bukan sindiran. Tak tahu apa itu ironi, sarkasme, sanepan (peribahasa yang berisi makna kiasan sebagai sarana mempermudah penggambaran suatu keadaan), istidraj. Generasi kempong sangat rentan terhadap apa saja, termasuk informasi. Tidak ada etos kerja. Tidak ada ideologi dharma, atau falya’mal ‘amalan shalihan. Yang dipunyai hanya obsesi hasil, khayal kepemilikan dan kenikmatan,” Cak Nun.

 

 

Pernah dimuat di Tabloid INSTITUT Edisi 41

 

Iklan

Bijaklah dalam Berkomentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.