Syarif Hidayatullah Tak Lagi Ada di UIN Jakarta

“Apalah arti sebuah nama?,’’ kata sastrawan Inggris, William Shakespeare. ‘‘Meskipun kita menyebut mawar dengan nama lain, wanginya akan tetap harum.”

Bagi sebagian orang, nama tak selalu mencerminkan sikap serta perilaku seseorang. Banyak orang-orang keren di negeri ini yang memiliki nama dengan arti apik dan dinisbahkan dari tokoh terkenal. Semisal Surya Dharma Ali, Nazaruddin, Anas Urbaningrum, tetapi kelakuan mereka tak mencerminkan namanya. Mereka tetap saja doyan korupsi. Tetap saja sukangapusi.

Tapi nama tetaplah penting bagi kehidupan manusia, karena nama adalah identitas diri seseorang. Jika tak penting kenapa banyak orang yang ngamuk jika dipanggil “anjing”, “babi” atau hewan sebangsanya yang dianggap najis bagi kebanyakan orang. Dan tentu tidak hanya manusia yang membutuhkan nama, semua yang terlihat dan kasat mata membutuhkan nama.

Saat memberikan nama kepada anaknya, tentu para orang tua memiliki harapan, agar sikap,tindak-tanduk serta rejeki anak-anaknya meniru pemilik nama aslinya. Diberi nama Muhammad dengan harapan punya sifat seperti Nabi Muhammad. Diberi nama Said, agar memiliki sifat seperti Sunan Kali Jaga (Raden Said). Namun, bagaimana jika lembaga pendidikan menyematkan nama para tokoh sebagai identitasnya? Tentu jawabnya sama dengan di atas.

Barangkali itulah awal Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Himpunan Qari dan Qariah Mahasiswa (HIQMA) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta menggelar dialog nasional kebudayaan bertemaMenguak Raja Cirebon: Sejarah Syekh Syarif Hidayatullah dan Kontribusinya untuk Nusantara, beberapa hari lalu. Dialog yang bertujuan mengenal dan menggali sosok Syarif Hidayatullah. Sekaligus menjadi nama yang dipakai UIN Jakarta sebagai identitasnya, bahkan sejak masih berstatus intitut.

Seperti yang diungkapkan Ketua HIQMA, Mohamad Ali Husain, selama ini UIN Jakarta dinilai tidak memiliki jati diri. Nama Syarif Hidayatullah hanyalah sekadar nama. Di dalam kampus tak terasa nuansa kewalian Syekh Syarif, baik dalam simbol maupun keilmuannya. Bandingkan dengan Universitas Diponegoro yang di dalamnya dengan bangga berdiri patung pahlawan itu mengangkat badik sambil mengendarai kuda yang standing. Meski hanya sekadar patung, setidaknya sivitas akademika Undip sadar bahwa mereka punya beban berat karena menggunakan nama Diponegoro.

Lha, di UIN Jakarta? Semoga saja begitu, minimal semangat Syarif Hidayatullah tertanam dalam hati dan pikiran.

Ada momentum menarik yang patut sivitas akademika UIN Jakarta renungkan saat Oman Fathrurrahman, salah satu pembicara dalam dialog itu, melempar pertanyaan kepada parasami’in. “Apa maksud UIN Jakarta diberi nama Syarif Hidayatullah?” Sontak suasana hening, entah para mahasiswa berpikir atau masa bodo dengan pertanyaan ahli filologi itu. Andai Pak Rektor, Dede Rosyada, saat itu hadir. Pasti beliau yang akan menjawab pertanyaan tersebut.

Atau mungkin beliau sengaja tidak hadir karena takut tak bisa menjelaskan kalau pertanyaan tersebut ditanyakan kepadanya.

Apakah maksud disematkan nama Syarif Hidayatullah agar kampus ini memiliki sifat seperti Sunan Gunung Jati? Atau meniru keilmuannya? Perjuangannya? Tabarukan kepadanya? Atau karena secara geografis UIN Jakarta berdekatan dengan Jawa Barat, tempat berdakwahnya Syekh Syarif? Entahlah. Tak ada yang tahu dan mau tahu. Daripada pusing mikirin Syarif Hidayatullah, mending nongkrong di Sevel, ngobrolin cewek dan meramaikan Alfamartkeliling yang mulai menggusur lahan parkir mahasiswa yang kian semrawut. Benar bukan?

Mari kita renungkan dhawuh William Shakespeare di atas. ‘‘Meskipun kita menyebut mawar dengan nama lain, wanginya akan tetap harum.’’ Saya curiga, William ini mendalami ilmuma’rifat yang syarat dengan kebatinan. Mau disebut apapun mawar, baunya tetap harum. Artinya, mawar hanyalah sebuah nama untuk bunga yang pohonnya berduri itu. Baunya tetap harum, memiliki warna dan bau yang khas.

Lantas, bagaimana jika UIN Jakarta bebas mau disebut apapun? Akankah dia akan tetap memiliki warna dan bau yang khas seperti mawar tadi? Tetap harum dan selalu dipergunakan sebagi simbol untuk mencintai seseorang?

Tentu akan tetap berwarna, warna khas mahasiswa yang grudak-gruduk masuk kampus dan keluar hanya membonceng cewek tanpa menyerap ilmu di otaknya. Warna khas rektorat yang doyan mengebiri kreatifitas mahasiswanya. Warna khas para dosen yang seenak udelnya memerlakukan mahasiswanya. Dan warna khas lainnya yang membuat kampus semakin berwarna-warni seperti pelangi yang menyumbu hujan.

Tanpa nama Syarif Hidayatullah pun UIN masih memiliki bau khas layaknya mawar tadi. Bau khas anggaran yang dipermainkan. Bau khas mahasiswanya yang cerdik membuat proposal kegiatan. Bau khas saling cuci tangan saat terjadi permasalahan. Bau khas kegaduhan saat Pemilu Raya (Pemira) disuguhkan. Dan bau khas kentut birokrat yang memuakkan.

Kondisi kampus yang sedemikian pelik tentu menyiderai nama agung Syekh Syarif penyebar Islam di tanah Nusantara. Bukannya akan lebih cocok jika kampus ini dinamakan UIN DKI (Dono, Kasino, Indro) karena lebih banyak canda tawanya? UIN Vicky Prasetyo yang hanya doyan dialektika? Atau nama apalah yang sekiranya gampang dipelajari dan membuat kita tak terlalu masalah menelitinya.

Man ‘arafa nafsahu, arafa rabbahu (siapa yang mengenal dirinya, maka akan mengenal Tuhannya). Di kampus Islam ini, mahasiswa diajarkan keilmuan agar mengenal Tuhannya. Tapi kampusnya saja tak kenal, bagaimana mau mengenal Tuhannya?

 

Artikel ini dimuat di MahasiswaBicara.com

Iklan

Bijaklah dalam Berkomentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.