Biar Emak Dibaca Kisahnya

“Beliau tak pernah mengeluh kepada suaminya dan -barangkali- siapapun yang ada di sekelilingnya. Hanya diam, memikirkan, dan mencoba memperbaiki tatkala banyak permasalahan yang datang silih berganti. Di balik wajah teduh dan senyum sumingrahnya, ia dengan mudah menyembunyikan tumpukan pikiran dalam benaknya. Iya, beliau pendiam dan pandai menyembunyikan permasalahan.”

Aku memanggilnya ’emak’. Si Emak yang telah melahirkanku dan mengasuhku hingga menjadi pribadi yang seperti ini. Aku hanya ingin menuliskannya, agar ia juga dibaca, seperti layaknya Gol A Gong menulis dirinya karena ingin dibaca.

Aku tak tahu harus menuliskan kisah emak mulai darimana, karena terlalu banyak kisah heroik, mencekam, dan berbagai kisah lain yang terekam rapi dalam ingatanku. Barangkali kumulai dari paragraf pertama tadi, semoga menggambarkan pribadi emak, yang tertutup dan banyak pikiran sepert

Sebesar dan seberat apapun tubuhmu tak akan melebih besar dan berat cinta ibu kepadamu, Nak!
Sebesar dan seberat apapun tubuhmu tak akan melebih besar dan berat cinta ibu kepadamu, Nak!

iku.
Sebenarnya, aku tak begitu mengenal emak. Hal itu sebuah kemakluman, sejak kecil aku lebih banyak menghabiskan waktu dengan simbah putri dan mbah kakung. Mulai dari bermain, minta dibelikan jajan, hingga tempat pelarian ketika bapak marah dan memukuliku dengan kayu.

Meski begitu, aku merasakan getaran kasih sayang emak. Secara tersurat, memang beliau tak pernah mengatakan ‘Aku sayang padamu, Cung’, namun aku bisa merasakan dari balik tingkah laku dan sikapnya tatkala menghadapiku.

Aku tahu, ketika lebih sering dengan simbah, emak pasti cemburu, pasti. Beliau pasti ingin selalu mendekapku di setiap waktu. Aku yakin beliau tak puas hanya bisa bertatap muka ketika waktu belajar datang. Aih, emak aku merindukanmu.

“Emak, aku mengerti kenapa tubuhmu sepertiku, kurus kering tak berdaging, iya karena kau selalu memikirkanku sejak aku kau lempar di pesantren satu ke pesantren lain, bahkan pikiranmu semakin menjadi tatkala aku berada di bumi perantauan ini, Jakarta. Iya kan, Mak? Tapi tenang Mak, tak usah kau terlalu memikirkanku. Biarkan aku tumbuh menjadi anak kehidupan,seperti yang dikatakan Khalil Gibran.Biarkan aku menentukan jalanku sendiri. Aku tak akan berbuat macam-macam di sini.

Emak pasti ingat kan, ketika aku dirawat di rumah sakit kabupaten beberapa tahun yang lalu? Iya, ketika aku sering skit-sakitan dan puncaknya terkenan Demam Berdarah (DB) hingga terpaksa harus dirawat di rumah sakit. Aku tahu dari raut wajahmu yang menyiratkan kekhawatiran dan kasih sayang yang sangat. Meski aq tergeletak tak berdaya di atas kasur, dan infus masih menancap di tangan kiriku aku selalu memerhatikanmu, ketika aku sakit ternyata engkau berpuasa, tirakat untuk mendoakanku. Aku salut padamu,Mak.”

Emak rajin puasa. Ketika apapun yang menimpaku, baik musibah atau anugerah, dia rajin puasa. Kalau tidak

Tak masalah ibu terkubur di dalam bumi, asal engkau terbang menembus langit, Nak!
Tak masalah ibu terkubur di dalam bumi, asal engkau terbang menembus langit, Nak!

salah,emak pernah berpuasa sebulan penuh lantaran aku lulus ujian ‘munaqasah’, ujian yang sangat berat karena orang tua menunggu di belakangku ketika para penguji menguji beberapa bidang keilmuan hingga hafalan.

Selain itu aku juga tahu, emak ikut berpuasa ketika aku masih dalam proses tirakatan puasa dalail. Sungguh, aku takjub pada emak.

“Semakin lama membacamu, aku juga semakin mengerti. Emak adalah orang yang cuek, cuek dalam arti tak mau ambil pusing dengan hasutan dan apapun dari para tetangga. Emak adalah pribadi cuek dan teguh pendirian.

Aku masih ingat emak pernah bercerita, “Wingi ono tonggo seng ngomong, ngopo anakmu mbok umbarke kuliah, ngenteke duit tok wae. Dak mending kon kerjo wae ben cepet sukses!” Lantas aku bertanya kepad emak, “Lha njenengan jawab pripon?”.

Emak senyum kemudian menjawab, “Yo ben sak karepe bocahe kono nek ijeh pengen sekolah. Emak jawab koyo ngono, Le. Sukses kui ora diitung soko akeh sitike duit, tp wong seng biso gawe perubahan positif kanggo negoro seng lagi morat marit iki seng didarani sukses. Nek biso ojo kerjo, tapi ciptake lapangan pekerjaan. Wes cukup ben Bapak karo Ibu seng bodo, awakmu kudu pinter!”-

Emak juga pribadi yang jahat dan pembohong, jahat dan selalu berbohong kepadaku. Kadang iseng-iseng aku menelfon rumah, menanyakan kabar orang-orang rumah. Beliau selalu mengatakan bahwa yang di rumah sehat dan tak kurang apapun. Padahal aku tahu, kadang ada yang sakit, namun jawabnya selalu baik-baik saja. Sampai aku marah, ketika ada saudara yang meninggal dan nenek masuk rumah sakit, ibua tak pernah mengabariku. “Aku ga pengen awakmu pikiran,” katanya ketika kuprotes.

Apa memang setiap orang tua seperti itu? Memilih menderita sendiri, yang penting anaknya bahagia! Mungkin aku akan mengerti hal ini ketika menjadi orang tua kelak.

—Tak tega rasanya, melihat kegiatanmu saban hari, pagi datang ke sawah merawat tetumbuhan yang kau tanam, sore mencari rumput untuk sapi-sapi, malam berorganisasi dan membaca kalam Ilahi. Sudahlah Mak, kau cukupkan istirahat, seperti yang kuusulkan tempo hari, ajaklah pemuda-pemuda yang menganggur untuk mengurusi sawah dan ternak. Biar emak di rumah saja dan tentunya membantu negara mengurangi angka pengangguran. Tapi lagi-lagi aku tak bisa memaksamu, karena kau sama denganku, jika mempunyai keinginan harus terlaksana.—-

Ada hal yang ingin kusampaikan kepada emak, meski hal ini tak berani kuungkapkan langsung, tapi aku yakin Tuhan akan mentrnsfer tulisan ini dalam mimpi emak. “Mak, aku menyayangimu, aku mengagumimu, dan aku merindukanmu. Emak, kaulah satu-satunya motivasiku untuk terus berjuang, membangun duniaku dengan kata-kata. Emak, di setiap doaku, selalu tak pernah ketinggalan menyebutkan namamu, semoga Tuhan memberi kesehatan dan selalu ‘ngijabahi’ semua keinginanmu. Emak aku rindu, rindu ejekanmu, rindu omelanmu, dan rindu teriakanmu tatkala membangunkanku untuk salat subuh.

Emak, jangan terlalu memikirkan dan mengkhwatirkanku. Aku sehat di sini, aku bisa beraktifitas, dan aku sudah tumbuh menjadi apa yang kau inginkan. (Oh iya, emak tak pernah menginginkanku menjadi apapun, yang diinginkan hanyalah aku tetap selalu belajar). Semua jabatan yang ada hanya hadiah dari kesungguhan belajar, kata emak.

Emak, pada suatu ketika, aku ingin menarasikanmu lebih panjang. Sepanjang kasih sayangmu yang tiada berujung. 

Terimakasih banyak, dari anakmu yang mbeling.

Ciputat, Pertengahan 2015.

Iklan

Bijaklah dalam Berkomentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.