Pahlawan Payung

Ketika kumembuka mata, jelas terlihat kipas kecil yang tergantung di langit-langit rumah masih berputar pelan. Badanku lunglai, lelah, dan lesu akibat mengerjakan transkip semalaman. Rasanya ingin kembali memejamkan mata, memuaskan dahaga tidur yang akhir-akhir ini memang tak pernah kuperhatikan.

Di tengah kesadaran yang semakin hilang, aku terpaksa kembali membuka lebar-lebar mataku, mencoba merangsang syaraf-syaraf telinga agar fokus mendengarkan suara dari luar. “Servis payung, servis payung, servis payung”, suara yang beraturan dengan nada monoton itulah yang mengusik proses peniduran diri kembali.

Suaranya sendu dan mengundang simpati. Aku penasaran, seketika itu juga kupaksakan kelelahan badanku mengalah, untuk sekadar membiarkan kaki ini membawa tubuhku menuju jendela rumah dan membiarkan mata melihat empu suara sendu tersebut.

‘Astagfirullah’, batinku tatkala melihat lelaki tua dengan beban berat dipundaknya. Iya, dialah pemilik suara ‘servis payung’ tersebut. Ia berdiam di depan rumah yang kutempati, mulutnya terus berteriak mengundang pelanggan, wajahnya tampak kelelahan, dan matanya sayu seperti orang yang jarang tidur.

Simpati, aku merasa simpati melihatnya. Kutengok kanan kiri, berharap ada payug rusak yang bisa kuberikan kepada orang tua itu untuk dibetulkan. “Iya, di dapur ada payung!” Tanpa pikir panjang, payung yang sebenarnya masih baik-baik saja itu kuambil. Kubuka pintu rumah dan kudekati lelaki tua itu.

“Pak, saya mau payung saya dibenerin.” Sapaku ketika sampai di depannya.

“Oh iya, Dek. Apanya yang rusak?” ia menimpali sembil meletakkan beban dipundaknya.

“Tidak tahu, Pak. Coba periksa saja, kemarin sepertinya ada yang rusak,” kataku bohong.

Ia tak menimpali ucapanku, dengan cekatan ia memeriksa payung yang kuberikan. “Oh, ini sepertinya tidak ada yang rusak!” katanya.

“Sudahlah, Pak. Saya mau diservis saja, biar payungnya awet,” aku sedikit memaksa.

“Ya sudah kalau begitu,” jawabnya sambil jongkok dan membuka kotak yang dipikulnya tadi.

“Pak, bagaimana kalau bapak servisnya di dalam rumah saya saja?” Tawarku. Alhamdulillah ia mau dan akhirnya lelaki ini mengangkat barang-barangnya.

Aku kagum dengan lelaki tua ini, tangannya begitu cekatan memainkan alat-alat yang tak aku kenali (yang kekenali hanya gunting saja). Ditengah-tengah aksinya tersbut, iseng-iseng kutawarkan segelas air putih kepada lelaki tua tersebut. “Silahkan diminum dulu, Pak!” Pintaku.

“Makasih ya, Dek!” Air segelas besar itu ditenggak habis sekali angkat. Aku kaget sekaligus memaklumi, mungkin lelaki ini terlalu haus karena berjalan menyuri gang ke gang menawarkan keahliannya menyervis payung.

Hening suasana, di antara kita hanya diam, yang terdengar hanyalah desiran kipas angin yang sudah usang. “Bapak namanya siapa?” Kubuka percakapan meski terasa canggung.

“Saya Sucipto, adek sendiri siapa namanya?”

“Saya Ibil, Pak.”

Dalam hati, aku sedikit membatin. ‘Sucipto’, orang ini pasti satu klan denganku, Jawa. Iya, bagiku yang berakhiran ‘O’ kebanyakan adalah orang Jawa. Seperti namaku kecilku, Selamet Widodo’.

“Bapak dari Jawa?” Tanyaku sok tahu.

Mendengar pertanyaanku, lelaki tua ini malah terkekeh, “Kenapa? Karena nama saya berkhiran ‘O’? Hehehehe, saya asli Sumatera, lahir dan besar di sana. Hanya saja, ibu dan bapakku asli dari Jawa Tengah. Kamu sendiri orang Jawa?”

“Iya, Pak. Saya dari Rembang, Jawa Tengah juga.”

Dengan melihat lelaki tua in, aku teringat kakekku di rumah. Secara jasad, ia hampir sama dengan kakekku, kurus berkulit keriput. Hanya beda profesi saja, kakekku seorang petani dan lelaki tua di depanku ini adalah tukang servis payung.

Kuamati betul setiap geraknya, ia memang seorang yang cekatakan, matanya menyiratkan ada sesuatu yang menjadi beban, dan ototnya yang terlihat dari balik kulit keripunya menandakan bahwa ia adalah pekerja keras.

“Bapak umurnya berapa, Pak?”

“Saya 85 tahun.”

Masyaallah, orang setua ini masih berjuang mencari nafkah untuk menghidupi keluarganya. Ia bercerita kepadaku, sejak sepuluh tahun yang lalu di desanya (enatah apa namanya, terlalu sulit untuk kuingat) terjadi konejadian yang mengerikan (ia tak mau menceritakan), sehingga ia memutuskan untuk membawa beberapa keluarganya ke Jakarta. Karena menurut penuturannya, saat itu ia mengenal Jakarta adalah pusat segala-galanya. “Pasti saya bisa sukses di Jakarta,” harapnya sebelum berangkat ke Jakarta.

Tapi apa daya, impian hanyalah sekadar impian. Di Jakarta bukannya menjadi orang sukses seperti yang diharapkan sebelumnya, lelaki tua inoi malah kelimpungan untuk sekedar menghidupi keluarganya. “Waktu itu saya dan istri saya mempunyai dua anak, saya ajak semuanya ke sini,” katanya.

Bahagialah mereka yang hidup dengan keringat sendiri, makan dari jerih payah sendiri dan bernafas dengan hidung mereka sendiri.
Bahagialah mereka yang hidup dengan keringat sendiri, makan dari jerih payah sendiri dan bernafas dengan hidung mereka sendiri.

Meminjam kata-kata pasaran untuk sekadar beranalogi, sudah jatuh ketiban tangga pula, begitulah kondisi lelaki tua ini. Ia menghentikan servis payungnya dan bercerita serius kepadaku. Ia menuturkan, hidupnya serasa hancur, sudah susah mencari makan, dua anaknya pergi entah ke mana. “Mungkin dia malu menjadi orang miskin!”

“Saya memang orang bodoh, Dek. Saya tidak punya keahlian apa-apa nekat ke Jakarta. Saya menjual kampung dan keyakinan saja pergi ke Jakarta ini. Saya salah memilih Jakarta. Tapi sudahlah, jika terlalu dipirkan, aku juga pasti akan lebih menuntut Tuhan. Aku bersyukur hidup seperti ini, ini suah Alhamdulillah jika dibandingkan dengan mereka yang bekerja meminta-minta dipinggir jalan. Ngemis itu halal tapi tak selayaknya memilih pekerjaan untuk mengemis, Tuhan memberikan anugerah berupa badan seisinya ini untuk dipergunakan sebaik mungkin, bukan malah mengatungkan tangan dari orang satu ke orang yang lain.”

“Bapak kos atau bagaimana di sini?”

“Saya ngontrak di daerah pasar Ciputat!”

Aku tak mau larut dengan cerita lelaki tua ini, aku sadar setaiap manusia mempunyai cerita dan jalan hidup masing-masing. Namun ada yang hebat di diri Pak Sucipto ini, ia selalu yakin untuk melangkah, meski tak tahu ke depannya seperi apa. Ia juga sosok yang gigih yang masih menjaga wibawanya meski kesulitan selalu melilit kehidupannya.

Iseng-iseng kuingin menajak bercanda orang Sumatera ini. Aku bertanya sambil senyum mengajak akrab, “Wah, bapak uangnya banyak dong kalau musim hujan seperti ini? Kan pasti banyak orang yang menyerviskan payungnya!”

“Alhamdulillah baru adek pelanggan saya hari ini. Saya sudah berkeliling sejak subuh tadi, tapi tidak ada satu yang punya payung rusak sepertinya,”

Aku malah semakin simpati mendengar jawabannya. “Maaf ya, Pak. Saya lancang ingin bertanaya sesuatu, sehari biasanya ada berpa pelanggan yang menyerviskan payungnya, Pak?”

“Alhamdulillah, kadang 2 orang, kadang 1, kadang ya sama sekali.”

Masyaallah, aku tak membayangkan jika ia tak dapat satu pelanggan pun, ia akan makan apa? Ya Allah, aku percaya kepada-Mu, pasti rezekimu selalu tercurah untuk hamba-hamba-Mu.

“Aku tak pernah khawatir, besok akan makan apa, aq percaya yang berusaha pasti akan mendapat buah usahanya. Alhamdulillah, istriku masih setia menemani, ia sedikit-sedikit membantuku mencari nafkah dengan berjualan gorengan di sekloah-sekolah,oh iya, ini rumah segede ini ditempati berap orang?”

“10 orang, Pak. Anak-anak dari pesntren dulu.”

Aku ingin menangis, mengetahui kisah lelaki tua ini. Aku harus bisa membahagiakan orang tuaku dan tak memfoya-foyakan uang. Aku janji.

“Ini payungnya sudah jadi!”

“Iya, Pak. Berapa ongkosnya, Pak?”

“15 ribu, Dek!”

Aku merogoh saku, tapi tak menemukan saku, karena aku memakai sarung. Kuambil dompet dan membayar biaya servis payung tersebut. Lelaki tua itu pamit undur diri, melanjutkan pengembaraannya menawarkan jasa servis payung.

Kuantar ia sampai ke pintu, mataku nanar mengamati derap langkahnya. Setiap langkah ia berteriak, “Servis payung, servis payung, servis payung,” di depan belokan ia sudah tak tertangkap mata, namun suaranya masih terekam hangat di dalam relung jiwaku. Terimakasih Tuhan telah mempertemukanku dengannya.

Ciputat, 30 Des 2013.

Iklan

Bijaklah dalam Berkomentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.