Aku Kiai, Aku Pembunuh

Hewan-hewan berhenti berdialektika. Angin berhenti bercengkrama dengan ilalang liar yang menjulang tak tentu arah. Daun jati yang biasanya gugur, hari ini pun kokoh bertengger pada dahan-dahan. Hari ini sepi, serasa seluruh makhluk berhenti beraktifitas. Hanya suara burung camar yang sesekali memecah kebekuan alam.

Di sebuah gubung kecil di tengah pematang sawah, seorang lelaki paruh baya duduk termenung dengan ditemani secangkir kopi. Matanya sayu kemerah-merahan, bibirnya komat-kamit mengucap sesuatu yang tak bisa di dengar oleh telinga. Sesekali tangannya mengusap kening yang sudah terlihat berkerut itu. Hari itu memang semua diam, kecuali burung camar yang semakin bersik mengajak bercinta alam.

Lelaki paruh baya itu bangkit dari duduknya. Tangannya menenteng gelas kopi yang hanya tinggal ampasnya, kemudian meletakkannya di bawah padasan bersama piring-piring kotor bekas tempat ia makan.

Ia biarkan piring dan juga gelas-gelas kotor itu berintim ria, ia buka keran padasan yang sudah berlumut itu, sentak air jernih mengucur indah laksana grojokan sewu di Solo. Ia selesaikan syarat dan rukun wudu, kemudian melangkahkan kakinya ke dalam gubung tua. Setelah sampai, tangannya merengkuh sajadah usang yang sedikit berdebu. ia bercinta dengan Tuhan, dan kebekuan alam ini masih melihat beban besar yang terkunci kokoh dalam dadanya.

????????????????????????????????????

Seusai salat, ia tetap duduk di atas sajadah usangnya. Ia tatap langit-langit gubuk reotnya, tak ada yang terlihat selain sarang laba-laba yang telah beranak pinak. Kemudian ia memejamkan matanya dan kegelapan pun dengan sigap mengambil alih. Ia menerawang jauh dalam kegelapan, hingga menemui memoar yang pernah terjadi beberapa hari silam, bercanda, mengajar, bercengkerama dengan keluarga, dan… “Ini semua salahku, ini semua salahku,” teriaknya menggaung menembus batas atmosfer kebekuan dan ia menangis sesenggukan.

Di tengah tangisnya yang semakin menjadi, tiba-tiba telinganya menangkap suara seseorang yang mengtuk pintunya, beberapa saat kemudian suara salam menyusul, “Assalamualikum,” suara dari seberang pintu. Ia tak kuasa menjawab, suaranya tenggelam dengan tangis yang membuatnya semakin sesenggukan.

Lama tak ada jawaban mendorong sesorang itu untuk membuka pintu. Setelah pintu terbuka, terlihat jelas bahwa pemilik pengucap salam itu adalah seorang wanita yang seumuran dengan lelaki paruh baya tersebut. Ia terdiam tatkala melihat lelaki paruh baya itu tengah menagis sesenggukan, ia letakkan rantang yang di bawanya tepat di depan lelaki paruh baya.

“Monggo Bah, dahar dulu!” ucap wanita itu sambil membuka rantang bawaannya.

Lagi-lagi lelaki paruh baya itu tak membalas ucapan wanita tersebut.

“Bah, ayo makan Bah. Ini Umi masak semur mujair kesukaan Abah. Ada sambelnya lho, Bah. Umi sendiri yang masak ini, bukan abdi dalem,” buju wanita itu yang ternyata adalah isterinya.

Umi terus berbicara sendiri membujuk suaminya. Tangannya dengan cekatan menyiapkan makanan di atas satu piring. Namun suaminya yang dipanggil abah itu tak ada reaksi selain diam menunduk dan mengucurkan air mata.

“Bah, ayo makan. Ini sudah siap,” ajak umi.

Abah hanya diam, seakan tak menganggap istrinya tengah berada di dekatnya. Masalah-masalah yang mengendap dalam dadanya seketika membuatnya buta, tuli, bisu, dan mati rasa terhadap segala sesuatu. Melihat respon yang diberikan abah hanya sebatas itu, umi pun meletakkan piring makanan yang telah ia siapkan untuk suaminya.

“Bah, sudahlah Bah. Semua sudah digariskan oleh Yang Kuasa. Abah jangan selalu menyalahkan diri Abah sendiri. Jika Abah seperti ini terus, Allah akan murka kepadamu, Bah” umi mencoba menenagkan abah.

Mendengar perkataan terakhir umi, Abah mengangkat kepalanya.

“Biarkan Allah murka kepadaku, karena memang aku pantas untuk dimurkai-Nya!”

Astagfirullah, istighfar Bah.”

“Istighfar saja tak cukup untuk membayar semua kesalahanku yang telah membunuh anak semata wayang dan santri kepercayaanku sendiri. Mi, kamu tahu kan waktu kejadian itu?”

cccc

“Iya tahu, Bah. Waktu itu Abah mengajak Sayyid ke pengajian di kabupaten seberang yang dilaksanakan hampir seminggu lamanya. Tiba-tiba di hari kedua Abah dan Sayyid di sana, tiba-tiba Sayyid pulang ke rumah untuk mengambil isi kotak yang telah Abah titipkan kepada salah satu santri kepercayaan Abah, Ayub anak Nyai Ulfah dari Kasingan, Rembang. Tapi ketika anak kita ingin mengambil kotak yang Abah perintahkan, Ayub tak mau memberikan sehingga memicu pertengkaran mereka berdua hingga keduanya…..” Umi tak kuasa meneruskan ucapannya. Lidahnya terasa kelu dan matanya tak kuasa menahan air mata yang tiba-tiba mengucur deras.

“Kamu tahu kenapa hal itu bisa terjadi?” Abah kembali bertanya sambil memandang Umi yang gentian menundukkan kepalanya. Umi hanya menggeleng untuk menjawab pertanyaan suaminya.

“Itu semua gara-gara mulutku, Mi! Jika saja aku tak berpesan kepada Ayub dan Sayyid seperti itu, mungkin semua ini tak akan terjadi,” kata Abah sedikit parau.

“Apa, Bah. Apa yang Abah katakana kepada mereka berdua. Cerita Bah, biara semua jelas dan umi bisa mengikhlaskan dengan setulus hati kepergian anak semata wayang kita dan santri kepercayaan Abah!”

“Abah menitipkan kotak kepada Ayub dengan berpesan agar tak memberikan ke siapapun kotak itu kecuali aku sendiri yang mengambilnya, kemudian Abah dan Sayyid berangkat mengisi penajian di kabupaten sebelah. Setelah sampai di sana, abah bertemu dengan rekan abah sewaktu masih nyantri di Tebu Ireng dulu, yaitu Kiai Muawaan yang saat ini mengasuh pondok pesantren Miftahul Ulum, Serang, Banten. Seketika itu pula, Abah menyuruh Sayyid untuk pulang mengambil kotak yang telah abah titipkan ke Ayub, karena memang kotak itu adalah wasiat kakek untuk diberikan kepada Kiai Muawwan. Abah juga tak mengira, hal yang demikian bisa dua orang yang aku sayangi terenggut nyawanya,” papar Abah dengan penuh penyesalan.

“Sudah, Bah. Abah jangan menyalahkan diri terus,” ucap umi sambil memandang wajah suaminya. Kemudian ia melanjutkan, “Bukankah Abah tahu, Allah adalah Al Alim, Yang Maha mengetahui segalanya. Allah selalu tahu maksud Abah. Mungkin mereka berdua saat ini tengah mendapatkan tempat yang indah dari Allah, kerena mereka wafat dalam keadaan menjalankan dan mempertahankan amanah. Bukankah itu hal yang baik, Bah? Sudah Abah tak perlu sedih lagi. Jika Abah selalu menyendiri seperti ini, bagaimana nasib santri-santri ponok pesantren kita, Bah? Apa Abah mau kalah dengan Sayyid dan Ayub? Yang berani menaruhkan nyawanya demi menjaga amanah yang telah diterimanya?”

Usai umi berkata panjang lebar, semuanya terdiam. Alam hening menyimak percakapan antara abah dan umi. Mereka berdua saling berpandangan dalam diam. Abah mendekat dan memeluk umi dengan kuat. “Terimakasih Mi, benar katamu aku tak boleh larut dalam kesedihan dan terus menyalahkan diriku,” bisik Abah di telinga Umi. Umi pun secepat mungkin melepas pelukan Abah, dan gentian Umi yang memeluk. “Iya Bah, kita harus cepat pulang dan meneruskan amanah kita. Kita harus cepat pulang dan cepat membuat anak sebanyak-banyaknya, Bah!” kata Umi menggoda.

Kebekuan alam pecah, burung, jangkrik, dan belalang semuanya bernyanyi. Daun jati kembali berguguran, angina kembali bercengkerama dengan ilalang, dan camar semakin memekikkan suaranya mengiringi langkah kaki Abah dan Umi. Di atas sana, Sayyid dan Ayub barangkali sedang bermain-main di taman firdaus, menengguk arak, dan menikmati semua wahana surga.

Iklan

Satu pemikiran pada “Aku Kiai, Aku Pembunuh

Bijaklah dalam Berkomentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.