Ini Cerita Fiktif

Keputusanku untuk berhenti sekolah dan memilih untuk keluar rumah cukup membuat prihatin dan menyita perhatian orangtuaku. Segala cara diupayakan tidak hanya oleh bapak ibuku, tapi juga semua keluarga besar ikut ngalor-ngidul mencari wong pinter untuk memembelokkan dan menyadarkan kelakuanku yang dianggap khilaf tersebut.

Aku dikunci di dalam kamar sudah sekitar seminggu. Hanya boleh keluar oleh orang tua jika ingin mandi dan buang air. Sedangkan orang tua dan beberapa kerabatku sibuk mengetuk pintu rumah wong-wong pinter yang direkomendasikan oleh para tetangga. Ada yang ke kiai, ada yang ke paranormal, dan ada yang datang ke dukun. Setiap kembali ke rumah, orang tuaku selalu membawa gembolan. Gembolannya beragam, tergantung wong pinter mana yang didatanginya.

Kadang sepulang dari rumah wong pinter tersebut, bapak dan ibuku membawa berbagai macam obat dan azimat. Kadang membawa air untuk diminumkan kepadaku, kadang jimat yang dibungkus kain untuk ditanam di depan rumah, kadang kalung untuk dipakaikan di leherku, kadang juga bunga-bungaan dan minyak-minyakan yang dibawa orang tuaku. Namun apa daya, sudah sekitar puluhan wong pinter yang disowani orang tua dan kerabatnya selama seminggu ini namun tidak membawakan hasil. Sopo masih keukeh dengan pilihannya, tak mau sekolah dan ingin pergi dari rumah.

Meski demikian, orang tuaku tak pernah menyerah menyarikan obat untuk anak satu-satunya. Pilihan mencarikan obat ke wong pinter lantaran Pak Lekku yang dianggap ngerti masalah alam ghoib mengatakan bawa aku kerasukan. “Aku kudu guyu kemekelen mendengar ucapan Pak Lekku.”

Pernah sekali Pak Lek mencoba mengobatiku sendiri. Bukannya aku teriak-teriak kesakitan seperti di film-film, eh malah Pak Lekku yang sebaliknya minta maaf kepadaku “Yang merasuki iki bocah dudu sembarangan dedemit,” begitu ujar Pak Lekku ketika keluar kamar. Lagi-lagi aku tertawa terpingkal-pingkal di dalam kamar.

Hampir setiap hari orang tuaku menghubungi teman-temanya yang berada di luar kota. Bertanya ke sana ke mari barangkali ada wong pinter sakti lainnya yang bisa mengusir dedemit dari tubuh anaknya.

Setelah mendapat rekomendasi dari teman pesantrennya dulu, akhirnya orang tuaku sowan ke salah satu habib di Surabaya. Habib ini terkenal jandab dan suka sak karepe dewe dalam berbicara. Tapi semua ucapannya selalu mandi.

“Wah anakmu ini tidak mempan diobati apapun. Hanya satu obatnya, turuti saja permintaannya. Maka hal itu akan menyembuhkannya,” kata Sang Habib tersebut.

Bapakku yang dasarnya sedikit pekok tak puas mendengar jawaban habib tersebut dan kemudian bertanya. “nyuwun sewu, Bib. Apa meminta tak sekolah dan berkeliaran di luar itu baik, Bib?”

“Lho sampeyan iki kepiye. Sekolah kui kanggo opo? Sekolah kanggo golek ngelmu orak ijasah. Sekolah kui ojo didadekke ajang golek urip seng kepenak. Kalau niat sekolah mung seperti itu ya orak usah sekolah!” Jawab Sang Habib sembari mengepulkan asap rokoknya.

“Sampeyan ngerti? Seng melu anake sampean itu Ibnu Batuta. Si petualang muslim. Wis, aku orak iso ngewei awakmu dongo lan sembarang kaler e. Aku mung pesen siji kui mau, turuti opo kepengene anakmu, mugo besok anakmu dadi wong ‘gede’,” pungkas habib.

Bapakku pulang dengan beribu kegelisan yang mengendap dalam pikirannya. Bertubi-tubi pertanyaan tanpa jawaban pasti menghujaminya. “Apa benar yang dikatakan habib? Kalau benar bagaimana? Dan kalau salah bagaimana?” pertanyaan demi pertanyaan muncul tanpa jawaban yang pasti.

Sepulangnya dari Surabaya, bapakku langsung mendatangi sesepuh desa. Ia menceritakan perihal yang telah dikatakan dan disarankan oleh habib yang terkenal mandi ucapannya tersebut.

“Aku iki wong Jowo. Wong Jowo itu punya adat ngehormati kiai. Meskipun kadang-kadang tradisi kita tak selaras dengan tradisi poro priyayi. Tapi untuk masalah ini, turuti saja habib kui. Habib kui keturunane kanjeng nabi mukammad, wis manut wae, mugo barokah,” pesan sesepuh desa.

Meskipun orang Jawa sendiko dhawuh dengan apa yang dikatakan orang tua, untuk hal ini bapakku masih merasa belum yakin untuk melepas dan menuruti keinginan anaknya.

“Ya Allah, paringaken petunjuk,”

Bapak dan ibuku berdoa siang malam. Salat setiap malam untuk meminta petunjuk. Sekali, duakali, tiga kali, tak ada petunjuk. Hal itu tak pernah memengaruhi usaha bapak dan ibu untuk menyembuhkanku yang sebenarnya sehat wal afiat. Mereka berdua terus memohon sampai Tuhan benar-benar memberikan petunjuk.

Man jadda wa jad, barang saiap yang bersungguh-sungguh maka ia akan mencapainya. Usaha ke sana-kemari orang tua Sopo terjawab. Bapakku bermimpi beberapa kali didatangi habib yang pernah ia sowani. Pesannya sama seperti ketika ia sowan ke rumah habib tersebut.

Akhirnya, orang tuaku memantapkan hatinya untuk melepas anak satu-satunya. “Semoga Allah meridloi semua ini. Ya Allah, saya titipkan anakku. Tolong jaga dia, ajari dia banyak hal agar selalu bersyukur atas segala nikmat-Mu dan selalu tunduk kepada kekuasaan-Mu.”

Aku pergi meninggalkan rumah. Orang tuanya memandang dengan penuh kekhawatiran dan terngiang kata-kataku yang kubisikkan di telinganya. “Bapak, Ibu, kulo tidak akan balik ke rumah sebelum aku menjadi aku dan telapakku menginjak seluruh tanah nusantara!”

****

“Ah itu pasti cerita ngarang, dibuat-buat, dan sedikit lebay. Iya to, Po? Ayo wislah ngaku wae!” Sergah salah satu awak Pengglandang, Mamen, setelah mendengar cerita khayalan Sopo. Sopo memang lihai mengarang cerita, apalagi yang berhubungan dengan hal-hal baik yang menyangkut dirinya. Mungkin cerita dua Minggu pun bisa lancer dan belum selesai.

Sudah ketahuan bohong seperti itu Sopo masih saja belum mengakuinya. “Lho saya belum selesai ceritanya lho, Men. Kenopo awakmu kok tiba-tiba motong,” Sopo mencoba memancing kembali perhatian rekan-rekannya. Sementara Mamen gremeng, Sopo melanjutkan ceritanya.

“Ini mau saya lanjutkan tidak ceritanya tidak? Kalau tidak ya sudah kita bubar saja!” Memang seperti itu kelakuan Sopo. Seenak udelnya mengancam dan memutuskan segala sesuatu. Selalu beranggapan paling penting di banding teman-temannya. Sebenarnya bukan karena apa-apa, hanya kebetulan Sopo umurnya paling banyak dan dianggap paling banyak pengalaman hidupnya.

“Lanjutin dong, Po! Nanggung nih.”

Sambil berdiri memakai sandalnya, Sopo melanjutkan ceritanya, “Maaf cerita yang Anda dengarkan tadi hanya fiktif. Apabila ada kesamaan nama atau alur sejerah kehidupan mohon maaf yang sebesar-besarnya,” ujarnya sambil lari terbirit-birit dikejar anggota komunitas pengglandangnya.

Tua-tua tak menunjukkan tuanya. Begitulah orang-orang di komunitas Pengglandang ini. Yang ada hanya bercanda, bercanda, dan bercanda. “Semua masalah akan selesai dengan bercand,” begitu kata Sopo.

Iklan

Bijaklah dalam Berkomentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.