Kencuk

“Ini Jakarte, kite harus gaye! Ini Jakarte, kite harus gaye!” Di depan cermin Marijos berkali-kali menyanyikan kalimat yang sama. Entah nada apa yang ia gunakan. Sing penting bersuara dan hatinya bahagia!

Tak biasanya Marijos dan Marno pagi-pagi begini sudah terlihat necis dengan baju batik Lasem dan celana bahan yang sudah klawu. Rambut keduanya juga terlihat klimis kinclong-kinclong seperti pleg motor yang baru saja disemprot kit berkali-kali. Entah mau ke mana mereka ini, yang pasti bukan mau ngapeli perawan-perawan, yang musim hujan seperti ini terlihat lebih ranum dan memikat hati.

Tak usah diberitahu pun, kita sudah sama-sama tahu kalau pemandangan mandi pagi anak-anak Komunitas Pengglandang  adalah barang langka. Bahkan lebih langka ketimbang nenek moyang manusia yang katanya berasal dari munyuk itu. Lha kok jauh-jauh Marijos dan Marno yang dasarnya memang paling kemproh setelah Sopo, Markasim yang paling rajin se-Basecamp Pengglandang saja  tidak pernah terlihat  necis sepagi itu, lebih-lebih rambut diolesi pomade dan disisir klimis seperti rambunya Don Corleone. Lha wong mau kena air wudlu saja sudah untung-untungan.

sopo

“Lho, Jos. Ini ada yang kurang ini!” Marno tampaknya menyadari ada sesuatu yang ganjil.

Opo yang kurang, No? Lho wong kita udah mbarik begini kok dibilang ada yang salah.” Dengan tetap menyisir rambutnya di depan cermin, Marijos terlihat lebih keren menjawab kegelisahan temannya tersebut.

“Sopo di mana?” Marno berdiri dari kursi menuju kamar tempat Sopo mematikan diri semalam.

Halah jam segini ya masih modar paling. Dia itu kalau urusan tidur kan ora pandang tempat, ora pandang arep ana acara opo!” Marijos menggerutu mengikuti langkah kaki Marno. Marijos sudah paham betul bagaimana tabiat Sopo yang seenaknya sendiri itu. Kalau Sopo sedang tidur, mending biarkan saja. Jangan diaru-aru jika tidak ingin dipisuhi dan barang-barang di sekitarmu hancur berkeping-keping.

Benar saja apa yang diyakini Marijos, jangankan Marno bisa membuat Sopo melepaskan kepala dari bantalnya, baru mau disentuh saja Sopo sudah misuh-misuh mengerikan. “Arep ngopo kowe, No? Aku nembe mau tidur, jangan diganggu! Hush hush hush”

Lahdalah. Piye to iki, Po? Sing ngajak kita nekat pergi ke Jakarta ini kan Sampean to, lha iki wis wektune kok malah sampean ndablek kayak begini! Ayo tangi!” Meskipun sedikit ngeri, Marno tak mau kalah dengan gertakan Sopo. Ia terus mencoba mengusik Sopo dengan omongan-omongan yang sedikit nyelutak. Karena Marno sadar, sentuhan sehalus apapun dapat membahayakan keselamatan jiwanya.

Piceeee**** kowe iki, No. Kono Marijos ndang diajak berangkat. Aku ngajak kalian ke sini ini ya biar kalian yang ikut acara, bukan aku yang pengen ikut acara. Ini buat kepentingan kalian. Biar pengalaman. Biar tau Jakarta. Biar kalau punya cucu kelak bisa cerita kalau mbahnya pernah ikut acara sastra terbesar di Indonesia! Aku wis bosen ikut acara seperti ini. Pengalamanku sudah mluber-mluber!”

Apa boleh buat, daripada terus membujuk dan hanya mendapat makian serta ceramah ngelindurnya Sopo, Marno memilih mundur teratur. “Piye No? Kepenak dipisuhi?”  Seperti biasa,  kekalahan Marno adalah kemenangan yang sangat gemilang bagi Marijos, dan harus dirayakan dengan cara mengejek Marno sepuas-puasnya.

Mbuh, emang wong kui aneh banget. Kemarin masih inget to Jos, yang ngebet kepengen datang ke acara ini, sampai dibela-belain ke Jakarta modal nekat, kan ya Sopo! Kok bisa-bisanya sampai sini teros liat bantal, malah lupa sama keinginannya. Jane sopo iki sing edan?”

“Sudah-sudah ayo berangkat! Ojo gunem Sopo yang pemahamannya mengenai hidup melebihi bromocorah seperti kita ini. Kalau Sopo lebih memilih tidur ketimbang datang ke acara yang ia impi-impikan sejak lama, berarti de’e benar-benar orang yang patut kita tiru dan ikuti, No!” Analisa Marijos cukup membuat bingung Marno.

Maksudmu opo? Ngomong kok mbingungi! Orang suka mblenjani janji begitu kok layak jadi panutan!”

“Lho, kowe itu harus berlatih melihat sisi lain dari seseorang, bahkan sisi lain dari segala sesuatu. Jangan melihat seseorang atau sesuatu seperti gaya kebanyakan orang melihat. Beruntunglah mereka yang pengelihatannya berbeda dengan pengelihatan orang pada umumnya. Karena,,,,” Belum sempat Marijos menyelesaikan perkataannya, Marno melemparkan kertas ke mukanya. “Jamput…”

“Langsung pada intinya!” Sepertinya Marno benar-benar terlihat marah.

“No, No, wis gerang kok iseh purikan! Gini lho maksudku itu,  kalau orang biasa akan merasa bahagia bila keinginannya tercapai. Lha, kalau manusia yang luar biasa itu, akan bahagia jika bisa mengalahkan rasa inginnya. Contohnya ya Sopo itu. Dia itu manusia sing luar biasa, makane polahe selalu aneh katon ora biasa! Wislah ayo mangkat, umbarke Sopo kawin sama kasur.” Marijos menarik tangan Marno. Keduanya melangkah meninggalkan Sopo yang sedang menikmati tirakat memasrahkan seluruh jiwa raganya kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.

***

“Suangar tenan, No, acarane! Sumpah sangar temenan, tidak rugi aku diajak ke Jakarta! Sweneng aku, No!”

Entah kesambet jin apa, Marno hanya diam tak menanggapi kegembiraan kawannya, Marijos. Tampaknya ia benar-benar masih kesal dengan sikap Sopo. Padahal biasanya Marno selalu mengerti dan memaklumi segala sesuatu yang melekat pada lelaki gendeng tersebut. Tapi kali ini, pemakluman tampaknya tak bisa mengendalikan hati Marno. Pokoknya Sopo Asu banget hari ini. Nggak asyik.

Sesampainya di kos-kosan, Marno merebahkan diri di atas lantai begitu saja. Sedangkan Marijos masih larut dalam kegembiraannya dan beromantisme dengan puisi-puisi yang dibacakan para sastrawan beberapa jam lalu. “Ibu, anakmu bukanlah anakmu,,,” begitu ia menyitir puisi Khalil Gibran lengkap dengan gerakan tangan yang semakin membuat jijik Marno.

“Kapan balik ke kampung, Jos?”  Tanya Marno.

Ngopo? Orak betah kowe?”

Marno diam saja. Sepertinya sebab bad moodnya hari tidak hanya Sopo, tapi juga panas dan kemacetan Jakarta. Tiba-tiba saja ia merindukan kampung di mana Basecamp Pengglandang berada. Kampung yang sejuk dengan pepohonan yang riang bermain bersama angin. Kampung yang dihuni oleh orang-orang yang apa adanya dan tak pernah angkuh untuk sekadar menyapa satu dengan lainnya.

Di tengah-tengah lamunan Marno akan kampung halaman dan syair-syair sumbang yang dinyanyikan Marijos, tiba-tiba Sopo muncul dengan lelaki kurus berambut gondrong yang tidak begitu asing di mata Marno dan Marijos. Tapi tidak hanya lelaki kurus gondrong yang membuat keduanya kaget, tapi pacakan Sopo yang ala-ala Sujiwo Tedjo itu yang njancuki.

“Ngopo kok ndelengi aku koyo weruh Lee Min Hoo?” Hardik Sopo.

“Ora lho, tadi pagi sepertinya masih kumel, sekarang kok gantengan, sedikit!” Marijos mencoba mengajak bercanda, tapi Sopo tersenyum pun tidak.

“Ini kenalkan Mas teman-teman saya dari Komunitas Pengglandang. Yang welik ini namanya Marijos. Yang ireng kayak Gareng itu namanya Marno,” kata Sopo memperkenalkan teman-temannya. Belum sempat lelaki itu memperkenalkan dirinya, Marijos nyeletuk, “Ini tadi yang baca puisi keren itu ya, Mas?”

“Walah, keren apa sih, Mas? Berpuisi itu ya seperti orang ngising, jujur tak malu-malu, makin ngeden makin enak,” kelakarnya. Semuanya tertawata, tak ketinggalan Marno yang sedari tadi tampak malas ikut serta cekikikan, meski sedikit ditahan-tahan.

“Wah, Mas Kencuk ini bisa aja kalo bicara. Silahkan duduk, Mas, apa ndak capek dari tadi berdiri?” Sopo mringas-mringis menawari Kencuk, sastrawan asal Cirebon yang suka hidup menyusuri aspal itu.

Kedatangan Sopo dengan membawa teman ini begitu aneh. Ya maklum kalau aneh, wong Sopo itu memang orang aneh je! Pagi tadi ngamuk-ngamuk menyuruh Marno segera berangkat karena mengganggu tirakat bantalnya, lha ternyata Sopo, tanpa diketahui dua temannya, ikut nangkring dan hadir dalam acara itu. Ini mungkin yang sering Sopo katakan sebagai ilmu konspirasi intelijen. Mbuh mbuh!

Kencuk ini teman seperjuangannya Sopo sewaktu masih hobi nurut-nurut mencari ujungnya aspal. Kencuk sudah mencintai dunia sastra sejak ia berkenalan dengan Komunitas Sastra Sapu Jagad. Di situ ia belajar banyak, bahwa sastra bukan hanya bagaimana membungkus sesuatu menjadi hal yang mendayu, melainkan bagaimana sastra itu mampu menyatukan diri dengan segala sesuatu untuk menuju muara penyatuan dengan Yang Maha Kuasa. Urusan mendayu, nanti dulu!

Kencuk ini juga tidak pernah sekolah tinggi, tapi urusan berbakti tentu tak kalah dengan mereka yang punya sederet titel di belakang namanya. Kemiskinan dan pendidikan ala kadarnya yang mendera hidup keluarganya tak membuat Kencuk lantas diam pasrah dicap sampah oleh kebanyakan masyarakat. Sebaliknya, Kencuk pergi kejalan, mencari pengalaman, menempa diri hingga menjadi pribadi yang layak untuk dipertimbangkan.

Memang benar omongane Sopo, tingginya pendidikan seseorang tak bisa menjadi patokan bagaimana ia memperlakukan dan berperilaku kepada masyarakat. Banyak sarjana-sarjana yang enggan kembali hidup di tengah masyarakat. Mau diakui atau tidak, kelas menjadi sentimen yang cukup untuk membangun jarak di antara keduanya. Coba lihat Kencuk ini. Orang sembelgedes ini, tidak pernah makan bangku sekolah, bisa membangun pendidikan gratis untuk anak-anak yang senasib dengannya.

“Aku ini tidak mau anak-anak ini merasakan sakitnya kemiskinan dan kebodohan. Biarkan cukup aku yang merasakan masa-masa itu, Po. Mereka sama-sama generasi bangsa ini, mereka memiliki hak mendapatkan hidup dan pendidikan yang layak. Aku bangun sekolah ini, tentu bukan untuk menunjukkan aku ini orang pintar, lha wong aku ini ya tidak pernah sekolah, tapi aku pengen orang-orang yang sudah sekolah duwur-duwur itu isin melihat kebodohanku. Biar mereka pada mikir, Kencuk yang tidak pernah sekolah saja punya pikiran begitu, masa aku yang sekolahnya sundul langit kok malah nyaman jadi budak korporat? Itu maksudku, Po.” Jelas Kencuk sewaktu Sopo berkunjung ke rumahnya beberapa tahun lalu.

“Mas, Sampean ini kan ora pernah sekolah, to? Kok ujuk-ujuk pinter nulis cerpen lan puisi kui sinaune dari mana?” Marno tampaknya penasaran dengan kisah-kisah yang diceritakan Sopo sewaktu mengenalkan Kencuk.

“Pertanyaannya kok mengerikan. Saya itu memang tidak pernah sekolah, tapi saya berpikir bahwa dunia ini sebenarnya adalah sekolah yang tak berkelas dan berbangku. Maka saya bisa berguru, bahkan pada ilalang yang bergoyang atau semut yang selalu rapi dalam berjalan, syukur-syukur kalau menemukan orang yang dengan suka rela mau membagi pengetahuan. Dari situ saya belajar, dari situ saya mencuri kepintaran.” ungkap Kencuk mengenang masa-masa mudanya.

“Mas Kencuk….” panggil Marijos.

“Iya…”

“Sampean keren. Tapi nyuwun sewu, rislitinge Sampean mbukak Je!”

Iklan

Bijaklah dalam Berkomentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.