Membelokkan Arus

“Dor… dorr.. dorr..” Tangan gempal berwarna gelap  memukul-mukul pintu. Sentak beberapa anggota di dalam basecamp Pengglandang gelagapan bangun dari tidur siangnya. Pintu dibuka. Sopo nyosor masuk sambil membanting gulungan koran yang ditentengnya.

Marijos, Marno, dan Marbot hanya riep-riep menyaksikan wajah Sopo yang sedikit kusut dan menyimpan amarah. Marijos mendekatkan mulutnya ke telinga Marno, “Kayaknya Sopo ora entuk jatah tadi malam.” “Lambemu, Jos! Meleko ndisik, Sopo kui belum kawin. Iseh Jomblo stadium orak laku!” Marno menanggapi sambil memukul kepala Marijos.

Negoro iki soyo edan. Aku nyesel milih presiden iki. Nyesel, nyesel, nyesel…” Sopo gremeng sambil memukul-mukul kepalanya.

“Ada apa to, Po? Udah ganggu tidur siang, datang ngamuk-ngamuk. Tingkahmu udah kayak orang-orang intelek, kemana-mana pegangan koran. Koyo paham aja!” Marbot tampak tak terima dengan kelakuan Sopo.

Dasar Sopo, orang yang paling tak mau mengalah dan tak mau dikalahkan. Satu kata dibalas satu kalimat, satu kalimat dibalas satu paragraf, dan –mungkin—satu paragraf akan dibalas dengan satu buku. Sopo memaki tiga penghuni basecamp tanpa ampun. “Kalian itu meskipun cuma lulusan SMP mbok ya senang baca. Minimal baca koran biar tahu sekarang ada kabar apa di negara kita!” Kata Sopo sambil melemparkan koran yang digenggamnya ke arah tiga orang rekannya.

Mata Marijos dan Marno mengikuti ritme tangan Marbot membolak-balik lembar demi lembar koran tersebut. Lantaran belum sepenuhnya sadar karena baru saja bangun tidur, mereka bertiga tak menemukan apa yang dimaksud Sopo.

“Sudahlah, Po. Kamu ini ada apa? Ayo cerita! Ada masalah apa sehingga membuatmu seperti anjing kelaparan?” Marno mencoba menenangkan Sopo.

Sopo menghela napas panjang. Lidahnya kelu untuk mengungkapkan secara detail isi hatinya. Rasa kecewa, marah, dan menyesal campur aduk menjadi satu. Sudah hampir empat hari ia mengikuti perkembangan situasi politik yang mudah bergonta-ganti musim. Pemerintah musiman, begitu kesimpulan Sopo.

Awalnya Sopo tak begitu peduli dengan perebutan kekuasaan — yang jika difilmkan mungkin bisa sampai 20 episode seperti film roman Korea. Sopo tak peduli dengan itu semua. Hal itu dianggap wajar olehnya, memang selalu seperti itu setiap Pemilu datang, ada gontokan di sana-sini masih bisa dikatakan wajar. “Didiamkan saja, nanti juga pasti lenyap sendiri!”
Musim terima-tidak terima usai dengan ditandai datangnya penggugat ke acara pelantikan rivalnya. Apakah Indonesia akan adem dengan peristiwa seperti itu? Tidak. Indonesia harus rame. Indonesia tidak boleh adem. Maka muncullah musim tandingan. Mulai dari DPR tandingan sampai – salah satu gubernur di negara ini akan membuat FPI tandingan bila pemerintahannya diusik. Hal ini juga tak begitu menyita perhatian Sopo. Baginya tandingan itu hal yang masih wajar. “Kalau tidak terima kekalahan, apapun akan dilakukan buat obat malu,” kata Sopo.

Waktu terus berlalu. Sedikit demi sedikit isu tandingan usang dan bapuk ditelan waktu. Rakyat menunggu apalagi yang akan dipertontonkan elit negara ini. Pokoknya harus ada hal baru yang bisa membuat negara ini kembali rame. Harus ada pertunjukan yang bisa memantik teriakan-teriakan rakyat. Harus ada yang bisa memancing toa-toa mahasiswa begemuruh. Harus ada yang memancing pertempuran sepatu aparat dengan para penonton.

Tak menunggu lama, sang presiden membuat ontran-ontran menaikkan harga BBM. Ini membuat Indonesia gonjang-ganjing. Hampir semua mahasiswa berdemo, membakar ban, memajang spanduk tuntutan dan kutukan, buruh-buruh berhenti bekerja untuk demo, termasuk Komunitas Pengglandang yang ikut-ikutan demo keliling kampung menolak kenaikan BBM.

Ini prestasi pemerintah karena bisa membuat Sopo yang urip sak enak udele dewe berubah menjadi pembangkang. Tiba-tiba setiap nongkrong di basecamp omongannya ngaktivis. Bahasannya kapitalis. Dan tiba-tiba ndalil sok islamis.

“Aku heran sama penguasa itu. Lha kok seneng nonton rakyat keprukan sama aparat kepolisian. Kok iyo koyo aku, gawe kebijakan sak kepenake udele. Harga BBM munggah, mlorot, munggah, mlorot, seperti pengantin baru mau ngencuk saja,”

Kemarahan Sopo memuncak pagi ini ketika membaca headline salah satu koran nasional. “Kok jagoanku itu pinter tapi ga keliatan pintere. Wong goblok ya pasti tau, kalau namanya maling itu ya dihukum, bukan malah dikasih jabatan tinggi!” Sopo memulai membuka omongan. Marijos, Marno, dan Marbot ndomblong menyimak kata demi kata yang dikeluarkan Sopo.

“Sebelum membentuk kabinetnya, jagoanku yang jadi presiden itu sudah tahu kalo yang kemarin ia ajukan jadi Kapolri itu sudah ditandai KPK. Lha iki kok ujuk-ujuk malah diusulke.”

“Mungkin dia lelah,” celetuk Marijos.

“Betul, mungkin jagoku lelah didesak orang-orang partainya. Seharusnya, jagoanku itu berani mengambil sikap. Tidak ngetan kalau disuruh ngetan, tidak ngulon kalau disuruh ngulon oleh partainya. Seharusnya jagoanku itu mikir, siap dimusuhi orang separti atau dimusuhi orang se Indonesia! Duh, jagoanku, rugi aku milih sampean!”

Lho, sampeyan ini bagaimana, Po. Bukannya anak itu harus menurut orang tuanya. Jagoanmu itu anak di partai, yo memang sudah seharusnya manut dhawuh sesepuhe,” Marno menanggapi.

“Manut memang wajib, tapi manut dhawuh sek apik-apik. Tidak mengikuti dhawuh yang madlarati banyak orang. Aku tahu, jagoanku itu orang baik, jujur, dermawan, memikirkan rakyat, tapi tetap belum berani melawan arus. Jagoanku tak berani melawan arus seperti Tan Malaka. Semoga saja dia punya ilmu membelokkan arusnya Bung Karno. Semoga,” Sopo mengakhiri kata-katanya. Ia keluar dengan wajah penuh kemarahan. “Lanjutkan tidur kalian! Semoga mimpi Indonesia jadi baldatun thayyibatun warabbun ghafur. Saya mau membelokkan arus sungai Kapuas!

Marijos, Marno, dan Marbot hanya diam dan mencoba memahami tingkah laku Sopo hari ini.

Iklan

Bijaklah dalam Berkomentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.