Negara tidak di Tangan Tuhan

Sudah seminggu kliwat saat Sopo uring-uringan dan muter-muter desa menyuarakan aksi penolakan pabrik semen yang dibangun di Rembang. Paca itu, Sopo kembali menjadi sosok yang sak penak udele dewe, menghidupkan kajian di komunitas Pengglandang, dan mengumpulkan sesepuh desa untuk urun rembuk persiapan pesta rakyat.

Sopo memang gendeng. Hanya dia yang berani menggelar pesta rakyat di tengah paceklik yang tengah mendera rakyat.

“Pesta itu ndak melulu senang-senang dan harus ada hal yang menyenangkan. Lihatlah anak-anak muda sekarang yang suka mengadakan pesta ulang tahun, padahal kalau mau jeli, ulang tahun itu pertanda umur semakin berkurang. Seharusnya kan sedih, tapi mereka tetap mengadakan pesta, hura-hura, dan tak ada yang menangis. Wajar dong kalo gue ngajak warga di sini mengadakan pesta rakyat. Ndak peduli ada kenikmatan atau hal-hal yang menyenangkan, intinya aku pengen warga desa berpesta.”

Sopo manusia aneh yang banyak tingkah, petakilan, dan kadang-kadang membuat orang-orang di sekitarnya gregetan. Hanya gara-gara wibawanya yang –kata dirinya sendiri— melebihi wibawa Sunan Kalijogo, banyak orang yang –tidak tahu kenapa—selalu mengamini setiap tindak tanduk Sopo. “Umbarke wae, wong edan kadang-kadang ucap lan lakune kui dituntun Pengeran!” Ujar Wak Kades (Kepala Desa) saat ada warga desa yang sinis melihat tingkah Sopo.

Luih becik koyo Sopo, apa adanya, imbo-imbo gemblung padahal waras, dan sosialnya tinggi. Sifatnya Sopo itu, ya, kebalikannya aparatur yang lali urip teratur. Pemerintah kita punya sifat yang “harus ada apanya”, yang kadang-kadang sifat itu menjerumuskan “mewaraskan” diri padahal lagi gemblung, dan sok sosial padahal ingin membuat rakyat menyesal.” Wak Kades tampaknya sudah kepelet dengan sifat gendengnya Sopo.

“Bagaimana, Wak Kades? Apakah Bapak setuju dengan usul saya?” Sopo bertanya sambil jigrang menyeruput kopinya. Sopo memang selalu seperti itu, ia tak mau seperti orang-orang yang selalu menundukkan diri dan bertingkah sopan di depan orang-orang penting. Hanya Tuhan, kata Sopo, yang paling pantas diperlakukan seperti itu.

“Sopo pancen gendeng, ora ndue sopan santun, urip sak kepenak udele, orak ndue aturan babar pisan,” Marijos protes melihat kelakuan pimpinannya di komunitas Pengglandang.

Husssh… jangan dipaido. Kui kepercayaannya Sopo. Ia tidak akan pernah tunduk di depan Wak Kades, bahkan Presiden pun bakal diublingi sak umpomo berkunjung ke sini. Eling dhawuhe Sopo, kalau dirimu belum bisa maksimal menghormati Tuhan, ojo sekali-kali gampang nunduk di depan pemerintah yang terkadang melupakan rakyatnya,” tumben-tumbennya Marno membela Sopo.

Biar terlihat pro rakyat, Wak Kades sepik-sepik bertanya kepada Sopo. “Memangnya pesta kita merayakan opo, Po?”

Sopo membetulkan duduknya, memakai sendal, dan berdiri berjalan mondar-mandir di depan audien. Telinganya tampak panas mendengar pertanyaan Wak Kades. Mulut Sopo tak henti-hentinya mengeluarkan asap bau kemenyan.

“Bapak-bapak yang terhormat dan semoga selalu amanah dalam melayani masyarakat,” kali ini Sopo menjelma menjadi sosok yang santun dan sok jadi kiai. “Negara kita saat ini sedang dilanda berbagaimacam musibah. Musibah yang dibuat oleh saudara-saudara serumpun kita sendiri. Mereka menggali tanah, menebang pohon sak kepenak udele mengeruk gunung, dan meracuni lautan untuk mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya. Kata mereka, “Ini untuk anak cucu”. Tapi mereka orak tau mikir, bagaimana besok anak cucu kita menghirup udara segar, meminum air jernih, dan memakan ikan yang sehat-sehat. Sekabehane diitung nganggo duit, soyo akeh duit berarti sukses.

“Terus maksudmu opo, Po?” Wak Jiman (Kamituo) semakin tak mengerti dengan segala keinginan dan ucapan Sopo.

Sopo tak mendengarkan perkataan Wak Jiman. Ia kembali melanjutkan kalimatnya.

“Kekayaan alam untuk anak cucu kita sudah dihabiskan. Tak ada harapan bagi mereka apabila kita tak segera menyadari dan menyelematkannya. Indonesia ada di tangan kita, bukan ‘di tangan’ Tuhan kita.”

Sopo paham betul dan berani memertanggungjawabkan ucapannya. Baginya segala sesuatu tak bisa begitu saja dipasrahkan kepada Yang Maha Kuasa, meskipun hasil akhir segala sesuatu Tuhan yang meng-ACCnya. Tuhan menciptakan manusia dengan kuasa dan kebebasan melakukan apa saja. Tapi manusia tak boleh kemlinthi, kuasa dan kebebasan manusia adalah kekurangan yang jarang disadari.

Mendengar perkataan Sopo, Wak Jiman semakin bingung. Ia berbisik ke telinga Wak Kades. Beberapa saat kemudian Wak Kades angkat bicara, “Yasudah, demi ketertiban dan kedaulatan rakyat kita, sebaiknya kita tidak merayakan party-party seperti yang diusulkan Sopo. Mendingan kita diam bedo’a di rumah, memohon kepada Yang Maha Kuasa semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan rejeki yang melimpah. Jangan sok kritis dan mengkritisi pemerintah, yang penting besok masih bisa makan sudah cukup.”

Sopo tak lagi berbicara, ia melangkah mendekati Wak Kades, bersalaman, dan berbisik di telinga Wak Kades. “Besok saya akan berdoa, berdoa, berdoa, berdoa, dan hanya berdoa menunggu Yang Maha Kuasa merubah nasibku, nasibmu, dan nasib bangsa ini. Kita uji Yang Maha Kuasa, akankah ia segera merubah nasib kita. Suwun Wak Kades, saya pamit pulang dulu, saya ingin segera berdoa seperti yang dititahkan Wak Kades.”

Iklan

Bijaklah dalam Berkomentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.