Ngelmu Khianat

Pengkhianatan paling kejam dan menyakitkan adalah ketika seorang wanita terlihat ikhlas bersedekah senyum, tetapi hatinya ingin meludah. Ini tak ada bedanya dengan orang Jawa, pringas-pringis di depan musuh, namun bisa saja ia menghunus keris ketika melihat lawannya lengah.

Pengkhianatan paling bangsat dan wajib diganjar panas dasar neraka adalah manusia yang meninggalkanmu ketika ia sejahtera dan merengek kepadamu ketika ia sengsara. Ini sama halnya hubungan antar manusia dan Penciptanya.

Bisa jadi, semua orang pernah berlaku seperti itu. Bisa jadi juga, semua orang pernah dikhianati oleh para pengkhianat yang sebenarnya sangat mereka sayangi. Mau mengamini atau mengafiri, khianat itu seperti mati, seberapa berusahanya manusia menghindarinya, ia akan datang menghampiri. Bahkan puncak kesetiaan pacarmu hari ini, tak akan bisa melebihi kesetian setan alas bernama khianat ini.

Sampai kiamat nanti tiba, khianat akan terus ada. Kita tunggu saja.

***

Wajah Marijos memerah. Matanya merem melek. Rambutnya yang awul-awulan terbang bergoyang disapu angin ketigo. Mulutnya tak henti-henti beristighfar, meski di dalam dadanya berteriak ribuan pisuhan (hujatan). Mulut astaghfirullah, hatinya picek. Mulut innalillah, hatinya modar kowe. Mulut turut prihatin saya, hatinya rasakke. Mungkin laku demikian juga bisa disebut pengkhianatan.

Sedang orang di depan Marijos hanya menunduk lesu. Kaki dan tangannya bergetar begitu kencang. Jika gelas kopi ia pegang, mungking kopi hitam mengepul itu akan muncrat-muncrat ke udara. Tampaknya lelaki di depan Marijos ini bukan bagian dari anggota Komunitas Pengglandang. Mana mungkin dan tentu tidak akan mungkin, anggota Komunitas sak karepe dewe ini berpakaian bersih, wangi, rambut klimis berpomade, sepatu kulit kinclong, tas ransel apik dan jas yang  hitamnya melebihi hitam tainya kebo. Tidak mungkin.

Lelaki itu terus bercerita dan memelas minta sesuatu kepada Marijos. Bukannya Marijos menjamu tamunya dengan senyum sumringah, ia malah mendongakkan kepala melihat atap Basecamp Komunitas Pengglandang yang dipenuhi sawang. Marijos terlihat ogah dan marah. Entah karena marah kedatangan tamu sepagi ini dan iri melihat Sopo, Marno dan kawan-kawan lainnya masih ngorok mencumbu mimpi. Atau memang Marijos punya kenangan pahit bersama lelaki di depannya itu? Mbuh-mbuh.

“Aku sudah pernah bilang, jangan dekat-dekat dengan wong-wong par-tai, apalagi ikut nyemplung menjadi bagian mereka. Sekarang kalau sudah begini, mau apa kowe?” Marijos kembali mendongakkan kepala. Kedua jarinya juga tak henti-henti mengelus pegangan kursi.

“Ini bukan salahku, Jos, ini murni kesalahan orang-orang partai! Aku dikhianati, Jos. Tulung aku!” Lelaki itu kembali memelas.

“Ham, Faham,” panggil Marijos, lantas lelaki itu mendongakkan wajahnya. “Kowe bilang dikhinati? Kowe tidak ileng sepuluh taun lalu, saat Kowe mengkhianati aku dan teman-teman lainnya?”

“Waktu aku ngluruk lungo Jakarta, masuk partai, lalu jadi Ketua DPR RI?” Faham mencoba menerka-terka maksud Marijos.

Iyo. Betul. Kowe berkhinat! Sekarang kalau Kowe merasa dikhianati, aku ora kaget. Aku orak mesakke! Aku nyukurke!”

Marijos memang sedang marah. Tak biasanya ia sesensitif ini. Tak terlihat penuturan bijak sedari ia menerima tamu –yang ternyata teman semasa ia belum bertemu dengan Sopo dan kawan-kawannya. Dialah Faham, teman Marijos ngamen sampai mbalangi mangga tetangga. Dialah Faham, teman Marijos yang muak dengan kemiskinan. Dialah Faham, teman Marijos yang memilih ngluruk ke Jakarta mengadu nasibnya. Dialah Faham, yang nasibnya lebih baik ketimbang Marijos, masuk partai dan bla-bla-bla bisa punya ijazah perguruan tinggi. Dialah Faham, yang diciptakan orang partai menjadi orang yang –seakan-akan— berpendidikan dan siap menjadi pelayan masyarakat. Dialah Faham, yang sekarang menjadi Ketua DPR dan dipecat oleh pemegang kuasa partainya. Dialah Faham, teman Marijos.

“Jossssss……” Faham memelas lagi. Kali ini diikuti air mata yang deras membasahi pipi.

Mau ditega-tegakan, mau dicuek-cuekkan, mau ditidakpeduli-pedulikan, tetap saja Marijos hatinya teriris, empatinya meluap-luap dan ingin sekali memeluk kawan lamanya itu. Kehalusan hati ini akibat Sopo setiap hari mengajarkan olah peka dan rasa. Sehingga mau tidak peduli, rasanya seperti orang mules pas ngising gegelen (sembelit), menyakitkan. Akhirnya Marijos melunak.

“Maafkan aku, Ham!” Marijos menepuk pundak Faham, “lalu aku bisa bantu apa?”

“Bantu aku ngademke ati, Jos. Itu sudah lebih dari cukup.”

“Wah kalau urusan mengademkan atau memanaskan, Sopo yang tepat. Tapi dia lagi ngorok, bahaya kalau dibangunkan.”

“Kamu saja, Jos!”

Yowis,” jawab Marijos, “aku sebenernya gweting Kowe karena masuk partai, apalagi partainya doyan daging sapi dan  kaku dalam berislam. Tapi yasudahlah, semoga saja Kowe tidak ikut-ikutan kaku.”

“Sudahlah, Jos, sekarang aku butuh analisamu mengenai kasusku iki.”

Entah Faham ini dedel atau sejenisnya, lha wong Marijos nggak pernah sekolah kok diminta menganalisa kasus politik kelas langit. Paling-paling kalau jawabannya masuk akal itu tidak lain karena Marijos sedang ngelindur atau gremeng seperti orang mabuk. Sekelas Ketua DPR-RI, seharusnya Faham berani menyewa konsultan-konsultan politik kelas elit juga. Yang satu kata dibandrol puluhan lembar uang bergambar Soekarno. Tapi ya apa boleh buat, omongan ngawur itu ternyata lebih baik ketimbang cong cing cong cing kebanyakan referensi.

Marijos berdiam sebentar. Lalu angkat bicara, “Begini, Ham, tadi Brawijawa, Raja Majapahit yang digulingkan Raden Patah, datang memberi ilham. Kasusmu ini begitu pelik. Hemmm…..” sambil bersandakap memegangi dagunya, Marijos sok iye memberi wejangan. “Ada kemungkinan-kemungkinan, ini sekadar sekanario. Kowe diajukan partai jadi Ketua DPR RI artinya Kowe ini salah satu aktor kisah yang dirancang mereka. Mereka itu melebihi Tuhan lho, bisa menentukan. Jadi, masa tampilmu sekarang sudah habis. Barangkali nasibmu seperti Haji Sulam dalam sineteron Tukang Bubur Naik Haji. Haji Sulam sekan-akan ada, tapi tidak pernah muncul lagi.”

“Tidak mungkin, saya orang baik dan tidak pernah punya masalah dengan orang-orang di partaiku. Jadi tidak mungkin!” Faham membela dirinya sendiri.

wayang_kulit_1890

“Hemmm,,,,” Marijos menggeleng, “Yang kedua, Kowe ini tidak manut sama partai. Aku curiga, jangan-jangan Kowe ini pengkhianat partai, tidak patuh sama kebijakan partai. Pati Kowe ini lebih memihak ke rakyat, benar-benar mikir rakyat daripada memikirkan kondisi par-tai-mu. Makanya Kowe ini dianggap berbahaya dan wajib hukumnya segera dibuang dari partai. Jadi Ketua DPR itukan posisi yang luar biasa. Bisa bikin kaya. Iya to?”

“Nah, kalau ini mungkin!” Faham tampak sumringah.

“Hemmm,,,,” Marijos menggeleng, “selanjutnya, orang partaimu sengaja ngoyak Kowe biar ndunyo ini ramai. Biar Partaimu diberitakan oleh media di sana-sini. Ini kan termasuk ngiklan ora bayar to, alias geraaatis tis. Apalagi momentum pilkada begitu hangat-hangat abab naga.”

“Kalau ini bisa jadi. Tapi aku kok tidak pernah diundang untuk berbicara masalah ini?” Faham menerawang.

“Ham, Ham, mbok yo Kowe ini sadar diri. Kowe ini siapa? Bisa jadi Ketua DPR saja seharusnya Kowe bersyukur. Seperti tadi yang aku omongke, Kowe ini ya boneka, bedanya bisa ngomong, ngising, nguyuh dan yang terpenting disetir sedemikian rupa. Ham, sadar!”

“Tidak mungkin. Tidak mungkin. Kita ini orang desa, Jos. Kita sepakat tidak berani sama kiai. Tapi semenjak jadi pejabat, kiai saja tidak bisa nyetir aku, apalagi orang-orang kunyuk partai itu?”

Kan saya cuma mencoba menganalisa. Sebenarnya masih ada satu, Ham,”

“Apa itu, Jos?”

“Jangan-jangan kamu main sendiri.” Kata Marijos singkat.

“Maksudem?”

Kowe korupsi-korupsi dewe, garap proyek dewe, keuntungane mbuk ontal dewe, tidaka bagi-bagi sama orang partai. Atau, karena partaimu ini Islam banget, gerah melihat kelakuan yang begitu busuk dan melanggar ajaran Alquran dan Hadis. Makanya, Kowe dipejat, karena orang partaimu menganggap Kowe BEJAD!”

“Halah, yang ini terlalu mengada-ada. Orak mungkin!” Faham menundukkan kepala. Seperti yang Maijos ingat semasa kecilnya, Faham memang bungklon dan pintar menutupi segala sesuatu. Tak lama bercengkerama, mereka menghabiskan kopi yang sudah tak hitam.

Iklan

4 pemikiran pada “Ngelmu Khianat

Bijaklah dalam Berkomentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.