Sopo dan Komunitas Pengglandang

Namanya Sopo. Sosok yang tak bisa dibaca kepribadiannya. Biasanya ia bijaksana, namun seringkali juga keras kepala. Meski begitu ia tetap dicintai rekan di komunitas Pengglandang yang ia bentuk tanpa sengaja.

Sopo selalu menjadi pionir di setiap kegiatan komunitas kecilnya tersebut. Secara aklamasi, Sopo dianggap sebagai pemimpinnya. Sejauh Sopo membentuk komunitas itu, tak pernah sekalipun ada istilah pemilihan ketua atau pengangkatan menteri-mentri. Tidak seperti yang terjadi di negaranya. Selalu ribut-ribut, menghamburkan uang, dan pura-pura baik untuk mencari dukungan sebelum pemilihan digelar. Komunitas ini dibentuk tanpa tujuan, tanpa kepentingan, dan tanpa AD/ART yang dipersidangkan setiap pergantian pengurus, dan tanpa peraturan di dalamnya. Komunitas sak kepenake udele.

Umur Sopo tidak pantas lagi disebut muda, namun memikirkan istri sepertinya tak pernah. Setiap hari gaweannya nongkrong ngopi dan ngobrol ngalor-ngidul bersama kawan-kawannya di komunitas pengglandang. Jika ada waktu liburan, kadang-kadang ia mengajak awak komunitasnya berjalan menyusuri aspal yang tak pernah ada ujungnya. Menyinggahi makam wali satu ke makam wali yang lain. Begitulah Sopo yang suka belajar dari jalanan. Baginya, pelajaran paling penting adalah jalanan yang tak berujung tersebut.

Pernah suatu ketika Sopo ditanya tetangganya perihal komunitas yang ia bentuk tersebut. Dengan enteng ia menjawab, “Saya cuma iseng membentuk komunitas ini. Jangan tanya alasan, karena saya memang membentuk komunitas ini tanpa alasan.”

Apa daya, tidak ada yang bisa dan berani memaksa Sopo. Hidupnya semaunya. Prinsipnya sederhana, apa yang ia lakukan yang penting baik bagi semua orang. Kadang-kadang juga, tanpa diminta, Sopo nggremeng sendiri. Komunitas ini berdiri lantaran dirinya merasa prihatin melihat mental masyarakat yang selalu menilai jelek pemuda yang belum mempunyai pekerjaan.

“Telinga saya kadang kok nggak nyaman denger pemuda diremehkan dan dijelek-jelekkan. Kan sifat dan kepribadian seseorang itu tak bisa dinilai dari pakaian dan kegiatannya sehari-hari. Pemuda itu aset bangsa. Apa nongkrong itu perbuatan hina? Sehingga dengan mudah warga desa membenci pemuda yang seperti itu. Lha namanya pemuda itu kudu dicaroh, kudu diarahke ke hal-hal seng positif, nggak malah dibenci dan dijauhi seperti itu.”

Sopo kadang-kadang juga bercerita perihal nama komunitasnya. Katanya, nama pengglandang untuk komunitasnya bukan tanpa arti. Pengglandang itu ada dua arti. Pengglandang diambil dari kata gelandang yang berarti berjalan ke sana sini tak tentu arah. Anggota komunitas ini memang kebanyakan suka jalan-jalan, tidur di mana-mana, dan tak punya tempat tidur tetap meskipun mereka mempunyai rumah masing-masing.

Yang kedua, pengglandang diambil dari bahasa Jawa gelandang yang berarti menarik. Artinya, semua anggota di komunitas ini diharapkan bisa menarik dan mengajak masyarakat untuk berbuat baik dan bermanfaat bagi orang lain. Inilah gelandang umat, tidak memaksa umat.

Tidak ada jadwal kegitan tetap di komunitas ini. Semua jadwal ada dikeinginan Sopo. Semua anggota juga sudah memahami, acaranya hanya nongkrong dan ngopi. Dari dua kegiatan anging-angin terebut, biasanya diskusi membahas segala permasalahan mengalir tanpa rencana. Mulai dari persolan politik, ekonomi, agama, cinta, dan semuanya dibahas. Begitu Sopo mengajari kritis terhadap para anggotanya yang kebanyakan pemuda tersebut.

Sengaja saya ceritakan terlebih dahulu komunitas yang dibentuk Sopo. Sopo adalah sosok imajinasi yang diciptakan oleh khayalan saya. Sopo sendiri tidak pernah pernah sekolah formal. Pernah sekali ikut-ikutan sekolah karena dipaksa orang tuanya, tapi entah kenapa saat kelas tiga SD Sopo berhenti sekolah dan memilih hidup di jalan.

Sudah puluhan tahun ia mengglandang di jalan. Tepatnya sejak ia berhenti sekolah dan orang tuanya murka terhadap pilihan Sopo. Untung ketika sedang tidur di masjid, ada orang tua yang menolong dan ngemongnya seperti anak sendiri.

Orangtua angkatnya sengaja tidak menyekolahkannya lantaran tak ada biaya. Sekolah mahal. Tapi betapa beruntungnya si Sopo, orangtua angkatnya tersebut selalu mengajarinya perihal hidup dan selalu mengajaknya ke toko buku untuk membaca gratis.

Dari kecil, Sopo tumbuh bersama tumpukan buku di toko yang dijaga orang tua angkatnya. Ia pintar dari situ. Kebiasaan dan kegemarannya membaca sosok ulama, filsafat, dan buku-buku berbau kiri berpengaruh sangat besar dalam hidupnya. Sedikit demi sedikit, kepribadinnya terbentuk dari apa yang ia bacanya. Orangtua angkatnya juga tidak pernah memaksa Sopo menjalani dan menjadi apa yang ia inginkan, namun sesekali menegur kebiasaan Sopo yang sak karepe dewe.

Menginjak umur 20 tahun, Sopo pamit berkelana kepada orang tua angkatnya. Hanya bermodal beberapa buku dan pakaian secukupnya, Sopo pergi melintasi panasnya aspal di kala siang, dan dinginnya dunia di kala malam. Sopo berkelana mencari guru dan menyinggahi makam-makam para sosok yang ia kenal dari buku.

Kadang-kadang Sopo teringat orang tua kandungnya, namun ia tak boleh balik terlebih dahulu untuk meminta maaf. Karena ia telah berjanji pantang balik sebelum membuktikan ucapannya. Asal mula Sopo tida yang tahu. Ia tak pernah mau cerita perihal asal usulnya tersebut. Kalau ditanya kadang ia menjawab, saya berasal lahir dan dibesarkan oleh buku, dan besok saya akan kembali kepadanya.

Ada cerita panjang sebelum Sopo membentuk komunitas pengglandang. Sebenarnya tak hanya dua alasan seperti yang telah diungkapkannya waktu nglindur tersebut. Ada banyak landasan dan kegelisahan Sopo, sehingga seperti dan seakan-akan komunitas itu berdiri seenaknya dan tanpa tujuan. Mari kita coba ulas kisah Sopo menyusuri aspal tersebut.

Iklan

Satu pemikiran pada “Sopo dan Komunitas Pengglandang

  1. Ping-balik: Ilmu dan Zikir | Ibil Ar Rambany

Bijaklah dalam Berkomentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.