Tidak Makan Semen

Juaaaaancuuuuuuuuukkkkkkk” Sopo berteriak kencang dari kamarnya. Pisuhan bermubalaghohnya berbumbu lebay itu membuat Marijos dan Marno menghentikan kegiatan bermain caturnya. “Juancuk, juancuk, juancuk, juancuk, aparat asu!” Sopo berteriak-teriak persis seperti orang kesetanan.

Tanpa pikir panjang, Marijos dan Marno menendang pintu kamar Sopo. “Bruakkkkk”, pintu terbuka. Marno dan Marijos keheranan melihat Sopo tak tampak kaget mendengar suara debam pintunya yang roboh, ia sepaneng memelototi laptop tuanya, tidak seperti orang kesetanan yang mendelik-mendelik. “Ono opo, Po?” Tanya Marijos.

Marijos dan Marno paham betul tingkah polah Sopo. Saat Sopo misuh-misuh seperti itu pasti ada sesuatu yang mengganggu hati nuraninya. Dasare Sopo, kata-kata kotor yang keluar dari mulutnya ibarat dalil yang mempunyai kedalaman arti. Dan tak ada satu orang pun yang mampu menafsirkannya. Hanya Sopo dan Tuhan yang mengerti.

“Apa gerangan yang membuat Presiden Sopo ndalil koyo mengkono?” Marno mencoba mengajak bercanda Sopo.

Sopo seperti tak mendengar perkataan kawan-kawannya. Ia fokus memandang layar laptopnya. Inilah yang sering dikatakan Sopo, penyatuan jiwa dengan apa yang kita dengar, rasakan, dan lihat. “Kowe-kowe podo jangan gaptek. Ojo mung moco buku, baca juga alam ini!” Sopo nerocos, mata dan mukanya merah, dan tangannya menggebrak-gebrak meja.

Marijos dan Marno masih belum mengerti apa yang dikatakan Sopo. Saking penasarannya apa yang dilihat Sopo, Marijos dan Marno nekat mendekati Sopo yang baunya badek uleng-ulengan karena seminggu tak mandi sama sekali. Ia hanya wudlu dan cewok saja.

Tak biasanya Sopo membuka Youtube. Kalaupun membuka, yang ditonton paling-paling video dangdutan yang biduannya suka pamer udel dan paha. Lha kali ini Sopo kok, ya, aneh, tumben-tumben nonton video warga dikepruki polisi.

“Nyoh, deleng aparatmu yang ora punya hati nurani. Kok tega-teganya ibu-ibu yang melindungi tanah mereka, memerjuangkan harta mereka, dan mengungkapkan keresahan mereka kok digebuki. Polisi edan. Pada ndak eling mbiyen sopo sing ngelahrike awak e! Polisi edan.” Kalau jiwa sosialnya kumat, Sopo wis koyo pulisi, edan. Seakan-akan ia yang paling benar dan tak pernah menolelir setiap masukan.

“Itu di mana, Po?” Marijos mencoba menyatukan frekuensi pembicaraan. Marijos dan Marno harus pura-pura aktif, agar umpatan Sopo tak nyasar ke diri mereka. “Kok aku tak pernah tahu berita ini di tv atau koran-koran?”

Iki di Rembang. Wis sangang sasi ibu-ibu turu, mangan, lan dongo di tenda.  Lha kui yang menembah jengkel ati lan pikiranku. Media-media bungkam. Saben dino seng diberitake wong gede. Rakyat koyo aku, kowe, dan ibu-ibu iku kan wong cilik, anggepane wong media— tidak ilok dimasukkan koran, soale membuat koran tak laku. Isune kurang mengglegar. Opo jangan-jangan, hati nuranine wis disemen, makanya ora iso nangis ndeleng rakyat dikepruki! Sesuk kita demo muter-muter desa!”

Lahdalah. Sopo mulai tampak tak bisa menahan emosi yang bergemuruh di dalam dadanya. Sebaliknya, Marijos dan Marno masih belum mengerti dan –sebelumnya—tak mau mengerti ada geliat apa di bumi Kartini ini. “Lho, lho, lho, jangan angger dema-demo wae kowe, Po. Dicari dulu kebenarannya seperti apa. Kowe kan mantan calon wartawan, nek deleng sesuatu kudu seimbang, kudu “coperbodside”. Ojo abot sebelah!” Marno mecela keinginan Sopo.

Mendengar yang demikian, Sopo tambah gusar. “Kowe yang belum jelas apanya? Represif aparat itu tak bisa ditolelir. Bung Karno dulu berjuang untuk tanah air Indonesia, lha ibu-ibu ini berjuang untuk mempertahankan haknya dan melawan kpitalis bengis kok malah dikepruki. Jane seng ora ndue jiwa nasionalis kui sopo?”

“Sekarang itu jaman moderen, Po. Mbiyen, nenek moyang kita, mbangun omah gentengnya pakai daun dan gebyoknya pakai anyaman bambu. Soyo mrene ono genteng lemah, gedek e nganggo kayu jati diukir apik. Lha iki wis wayahe nemboki rumah pakai semen.   Kalau pabrik-pabirk semen orak dibangun seng okeh kui iso bahaya.” Marno mencoba mengungkapkan isi otaknya dengan terbata-bata. Persis seperti dugaannya, mendengar segala sesuatu yang bertentangan dengan apa yang diyakini Sopo, maka bisa dipastikan Sopo makin meledak-ledak seperti kuping gajah kemasukan semut.

“Siapa yang bilang, kalau tidak membangun pabrik semen, Indonesia akan kehabisan persediaan semen? Sopo? Sopo, No?” Sopo berdiri dan berteriak di depan muka Marno dan Marijos. “Seharusnya dirimu kui moco-moco berita, sampai sekarang Indonesia masih mampu mengekspor semen, itu artinya banyak persedian semen di negara yang pemerintahnya sak penak udele dewe iki. Ini akal-akalannya pebisnis, piye carane dapat untung sebanyak-banyaknya. Penderitaan rakyat nomer 2, sing penting dapat untung sebanyak-banyaknya. Ijeh kurang jelas awakmu?”

Marijos dan Marno terdiam. Tak sepatah katapun keluar dari mulutnya. “Saiki terserah awakmu podo, arep ikut aku mbantu nyuarake kegelisahan ibu-ibu di Rembang atau diam imbo-imbo micek, mbudek, lan orak reti opo-opo?”

“Kalau tidak kasihan pada dirimu sendiri, setidaknya berpikirlah untuk kasihan pada anak cucumu kelak. Mereka akan makan apa kalau alam kita hancur? Mereka butuh air untuk menanam, bukan semen untuk membekukan hati nurani!”

Sopo keluar dari kamarnya diikuti Marijos dan Marno. Ia mengambil kardus dan memotongnya menjadi beberapa bagian. Potongan-potongan kardus itu ia tulisi “Rakyat Minum Air, Bukan Semen”, “Mari Tolak Pabrik Semen di Rembang”, “Selamatkan Rembang, Selamatkan Indonesia”.  “Kita lawan sampai ubanan, Kawan!” Sopo berbisik kepada Marijos dan Marno.

Iklan

3 pemikiran pada “Tidak Makan Semen

  1. Ping-balik: Gugur Gunung – Ibil Ar Rambany

  2. Ping-balik: Abuya Syaifullah dan Gus Para Pelacur – Ibil Ar Rambany

  3. Ping-balik: Abuya Syaifullah dan Gus Para Pelacur

Bijaklah dalam Berkomentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.