Manusia Berakal, Saya yang tidak Berakal!

Manusia berbeda, ia dicipta dengan akal.

Mungkin semua yang berakal adalah manusia, yang tak berakal bisa disebut hewan, tumbuhan atau makhluk lainnya.  Tapi Ilmu Balaghoh mendefinisikan manusia dengan ‘al insanu khayawanuan natiq’ manusia adalah hewan yang berpikir. Lalu?

Kepalang bingung dan membingunkan sebuah definisi itu. Hakikatnya manusia tak terbatas; otaknya, pikirannya, angannya. Namun, semenjak manusia mengenal definisi, segalanya menjadi sempit, menjadi absurd, menjadi samar dan memuakkan. Memang, saya kira tak terbatas bukan berarti tak bisa dibatasi.

Maka berhentilah mencari definisi manusia. Identitas diri tak penting, kalau kata Cak Nun. Buat apa lelah-lelah mencari sebuah identitas, jika  munculnya identitas dengan definisi yang memasung itu malah membuat manusia berkubu, saling meludahi, saling gencet, saling memojokkan, saling menyalahkan dan berlomba-lomba menjadi yang paling benar?

human-skinSeperti ini nyatanya. Karena kita manusia yang memiliki keistimewaan, maka bolehlah anjing, babi, burung, munyuk (kera), buaya, dan selain manusia kita perlakukan semaunya. Bolehlah manusia yang lebih memiliki akal (baca; manusia kota, pemerintah, aristokrat, birokrat, pengusaha dan sejenisnya) merampas hak-hak (tanah, harta, udara, kebahagian, air, dll) manusia yang sedikit akalnya (baca: wong ndeso, buruh, kelas bawah dan sejenisnya).

Hidup hanya tentang bagaimana kita membingkainya. Bila ingin dinilai baik maka perbanyaklah diam, rajin ke masjid, tersenyum kepada siapapun, perbanyak baca Alquran dan menghindari segala hal yang dinilai buruk oleh masyarakat. Tentu masyarakat akan menilai ‘Si A’ TOP, umpanyanya. Jika ingin dinilai buruk, tentu lebih mudah bukan? [Yang demikian itu belum tentu bisa jadi patokan. Karena manusia itu hobi mencari-cari kesalahan dan besar rasa curiganya. Selalu menilai dari standarnya sendiri].

Membingkai berarti merangkai. Maka berbahagialah manusia yang  menguasai ilmu otak atik matuk (otak atik: pas). Saya tidak ingin membual. Hal apa yang tidak diotak-atik di dunia ini? Semuanya diotak-atik, bahkan Alquran — yang sangat disakralkan oleh umat Islam– pun telah diotak-atik (baca: ditafsirkan). Ditelanjangi. Dan mereka yang menelanjangi selalu dengan  percaya diri merasa paling benar mengerti maksud Tuhan, dan jangan heran jika kemudia benar atau salah merekalah hakimnya. Dosa atau pahala merekalah yang berhak memberikannya. Masuk neraka atau tidaknya adalah otoritas para pendakwah.baby

Yang demikian bukan sebuah isyarat jika saya meragukan Alquran. Saya bukan mufassir atau ahli ilmu agama, dan saya begitu percaya bila Alquran memiliki kebenaran yang mutlak. Tapi, jika ditafsirkan, tentu kadar kebenarannya berkurang bukan? Sekali lagi saya tekankan, mungkin maksud Tuhan bukan seperti yang dikatakan oleh para mufassir, mungkin juga apa yang diucapkan mufassir adalah yang dimaksud Tuhan. Tiada yang tau, sekalipun itu Ki Joko Pinter.

Tapi carilah sebuah definisi lalu disepakati. fsjhfnoiwhr23u9deu348984y5748thueskjfdkjbbvjbvcjvjvbjkf MEMBINGUNGKAN!

Kemudian jangan terlalu berpikir tentang ‘apa maksud Tuhan menciptakanku?’ [Tentu tidak hanya untuk menghabiskan hari di dalam masjid. (illa lya’budun) Ibadah memiliki arti luas; tak terbatas ruang masjid dan waktu salat 5]. Karena hal yang demikian semakin membuat kepalamu berputar. Kebingungan. Seperti saya, yang tengah kebingungan memelajari manusia; untuk niat yang sederhana, menghormati, mengerti dan menuruti segala kemauan mereka. Mbabu, sesederhana itu.

*Sesungguhnya tulisan ini saya tulis setelah meminum sebotol bir. Astaghfirullah. Semoga Tuhan mengampuni.

 

8 pemikiran pada “Manusia Berakal, Saya yang tidak Berakal!

  1. Mempelajari manusia akan lebih terang saat kita mengenal diri sendiri. “Siapa aku?” itu yang seharusnya terjawab. Dan jika berbicara melalui agama. Ada sebuah pertanyaan konyol saya. “Apa perbedaan Agama dengan UUD yang kita miliki dinegara tercinta ini?”. Keduanya bertitik berat pada peraturan. Apa agama itu? “Suatu aturan disuatu kelompok yang mempercayainya agar hidup mereka sejalan dan benar sesuai dengan isi dari aturan tersebut”. Siapa yang menyebarkan agama? “Manusia itu sendiri”. Benar apa tidak aturan itu? “Sesungguhnya manusia dewasa yang berakal pada dasarnya mengetahui benar dan salah”

    Suka

    1. Benar. Benar sekali.
      Rupanya, mempelajari diri, kita perlu menengok Filsafat Jawanya Ki Ageng Suryo Mentaram. Di situ kita diajarkan, bagaimana mengenal dan membedakan diriku, aku dan saya. Dan barangkali kita juga tidak boleh menafikan konsepsi kebenaran versi jurnalisme, bahwa kebenaran disandarkan pada hati nurani dan kebenaran selalu subjektif, maka muncullah istilah kebenaran ‘fungsional’. Contohnya polisi menangkap penjahat. Dokter mengobati orang sakit. Imam memimpin makmum. dst.

      Salam kenal Mas Vicky9an

      Disukai oleh 1 orang

  2. Ping-balik: Manusia Berakal, Saya yang tidak Berakal! – Muhammad Ridwan Zein

Bijaklah dalam Berkomentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.