Jalan(an) Rakyat!

Tarawih sudah sejam berlalu. Pada jam-jam ini, biasanya, Basecamp Pengglandang  dipenuhi orang-orang yang melaksanakan tadarus bersama, atau sekadar njagong dengan para tetangga. Namun hari ini, tempat yang menjadi sandaran dan lumbung inspirasi Sopo beserta kawan-kawannya itu terlihat sepi dan peteng ndedet, tidak ada satupun lampu yang menyala.

Beberapa kali, orang-orang yang bermaksud menuju Basecamp Pengglandang terpaksa harus putar haluan tatkala sampai di depan gubuk yang semakin reot tersebut. Aduh, saya yakin, kemarin Sopo tidak memberi pengumuman kalau hari ini dia bertandang ke kota sebelah. Jan jan. Sopo gendeng sak geleme dewe!

Di waktu yang sama dan tempat berbeda, tepatnya di perempatan Glodak, Sopo, Marijos, Marno, dan Marbot, sedang gerah-gerahan di atas kuda besinya. Sudah berapa kali, lampu merah, hijau, dan kuning gantian menampakkan diri. Namun, mereka tak menarik pedal gasnya, hanya diam dan nggrundel dalam hati menunggu Pak Pulisi mempersilahkan genjot motornya.

Sopo diam sedari tadi. Tidak ada sepatah makian pun yang keluar dari mulutnya. Ini aneh. Tidak seperti biasanya ia menjadi penyabar dan pendiam seperti ini. Jangan-jangan Sopo kesemsem sama cewek yang baru ia temui tadi. Edan.

“Woy, pulisi Juancuk! Ini sudah lampu hijau ke 10, kenapa kami tidak boleh jalan juga? Kalian tahu tidak? Mertuaku sedang sekarat! Kakekane.” Teriak seseorang lelaki bertubuh mungil dari atas motornya. Marno, Marijos, dan Marbot memperhatikan orang tersebut.

“Sabar, sabar, sabar, Pak,”ujar Sopo sambil menyedekapkan tangan. Ia terlihat sedikit lebih cool dengan pose seperti itu.

“Sabar-sabar bagaimana? Sampean ngomongnya asal jeplak! Apa dari tadi namanya tidak sabar? Lampu hijau sudah 10 kali menyala, seharusnya ada 10 rombongan yang mendapatkan hak untuk menarik pedal gas kendaraannya,” lelaki mungil itu semakin geram. Marno, Marijos, dan Marbot hanya plonga-plongo belum berkeinginan ikut mencampuri percakapan mereka berdua.

Sementara itu, kemacetan semakin parah, jika dihitung dengan meteran sepanjang 100 meter, mungkin akan membutuhkan 10 alat pengukur untuk mengetahui panjang kemacetannya. Lajur yang sedang dilalui Sopo dan lajur yang berlawanan diblock oleh polisi. Dua lajur lainnya, menjadi sirkuit para pengendara untuk menggeber kendaraannya.

Berada pada posisi, kondisi, dan suasana yang sedemikian membuat darah umub (mendidih), apalagi disuguhi nada bicara lelaki mungil yang sarat emosi tersebut, namun Sopo masih terlihat tenang. Belum ada kata “jancuk”, “kakekane”, “asu”, atau bahasa sejenisnya yang keluar dari mulut ndomblenya.

“Sabar itu tidak mengenal tempat dan waktu. Ia hadir dengan tanpa diikat dua hal tersbut. Dan lagi, sabar tak mengenal tapi, Bro!” Sopo menanggapi lelaki mungil itu dengan sedikit nada yang tinggi.

“Sepertinya, emosi sudah mau mulai terpancing,” Bisik Marijos kepada Marno.

“Tunggu saja, Jos. Mengko juga gelutan sendiri,” sahut Marno. “Lihat!!!” Marno menunjuk ekspresi lelaki mungil lawan bicaranya Sopo. Lelaki itu terlihat mencireng (melotot) ke arah Sopo. Kata-kata Sopo sekan bensin yang disiramkan ke dalam api, mbulat-mbulat. Sopo memang kakekane, mengetahui lawan bicaranya sedang kemropok (terbakar) emosi, dia malah menyuguhkan muka cuek dan bersiul-siul seperti menyiuli perawan bergincu yang bokongnya sengaja digeal-geolkan saat berjalan, semolohai; semok, montok, dan aduhai. Sopo kakekane.

“Asu sampean. Iki bukan persolan sabar. Iki permasalahan mempertahankan dan menuntut hak. Kewajiban kita berhenti saat lampu merah, dan seharusnya mendapatkan hak untuk berjalan tatkala lampu berganti hijau. Terhitung sudah hampir satu jam kita di-PHP-in seperti ini. Iki seng jan-jane asu, aku opo pulisine?” Hardik lelaki mungil tersebut sambil mengeluarkan kretek dari dalam sakunya. Sedangkan Sopo hanya diam fokus memerhatikan gerak-gerik polisi yang sedang mengayomi masyarakat dengan menjajah hak para pengguna jalan. Ada apa sebenarnya? Batin Sopo.

“Sabar, Pak. Teman saya memang sedikit….,” bisik Marijos sambil memiring-miringkan jarinya di depan jidat.  “Bapak ini sebenarnya dari mana dan mau ke mana?” Lanjutnya.

Lelaki mungil tersebut menyalakan rokoknya. “Kalian mau?” Katanya.

Marijos mengamati bungkus rokok terebut. Merek “Ora Ono Mereke”, membuat Marijos mengurungkan niat untuk ikut memainkan asap.  “Matur suwun. Kami sedang tidak merokok,” jawaban Marijos.

“Saya mau pulang ke rumah mertua. Saya harus segera sampai sana, karena mertua saya sedang sekarat. Lha di jalan malah kayak gini. Bajingan!” kelakar lelaki itu.

“Namanya juga wong cilik, Pak. Mau bagaimanapun kita dipaksa mengikuti kemauan pulisi itu,” Marbot menunjuk-nunjuk polisi yang mengenakan rompi hijau, seperti warna sempaknya “kolor ijo”.

“Dimanapun, kapanpun, kalau ada pejabat mau lewat, pasti akan seperti ini, macet dan gawe esmosi (membuat emosi). Rakyat kecil seperti kita ini pasti disuruh ngalah. Disuruh minggir. Jalannya dipakai mobil-mobil pemerintah. Padahal, kita juga sama-sama bayar pajak dan banyar pajaknya sama. Lha kalau urusan begini, kok seenaknya mereka menendang kita.”

Macet semakin panjang. Belum ada tanda-tanda polisi akan kembali membuka jalan. Sopo semakin gelisah. Dia itu punya penyakit. Penyakit kangen kepada sarung yang dicuci pendak Suro saja. Jika lebih dari setengah hari saja tidak mencium sarung tersebut, –ngakunya, dia akan pusing, mual, dan gangguan kehamilan. Itulah Sopo, pencerita fiktif ulung yang tak tahu malu.

Ternyata dari tadi Sopo hanya ngempet emosi belaka. Semua kalimat yang dilontarkan untuk laki-laki mungil, sebenarnya dimaksudkan untuk dirinya sendiri. Sabarnya Sopo hanya ngapusi umat. Sok-sokan cool, padahal ndongkol. Sok-sokan sabar, padahal hatinya sedang gusar. Sok-sokan santai, padahal atine pengen bantai. Kali ini, sepertinya emosi Sopo sudah meluap-luap di ubun-ubun. Ia turun dari atas sepeda motor. Berjalan pelan mendekati polisi berompi hijau-hijau kolor ijo itu.

“Sugeng dalu, Pak Pol,” Sapa Sopo. Di depan –katanya—pengayom rakyat tersebut, sempat-sempatnya Sopo cengengesan, padahal hatinya berbisik “kampleng wae ndase. Kesuwen!

“Iya. Selamat malam, Pak. Ada yang bisa saya bantu?” Suaranya ramah dan menyejukkan jiwa. Namun tidak untuk Sopo, tak ada satu suara yang bisa menggetarkan hatinya, kecuali suara pelantun ayat-ayat Alquran, meski terdengar berantakan.

“Kenapa lajur situ dan sana ditutup, Pak?”

“Oh, , , saat ini mau ada pejabat yang melewati jalan ini, makanya dengan terpaksa kami menutup beberapa jalur!”

“Daripada kesuwen menunggu, apa tidak lebih baik dibuka dulu, Pak?”

“Tidak bisa. Nanti kalau sudah dibuka, dan tiba-tiba pejabatnya lewat bagaimana? Saya bisa kena semprot komandan,” kata polisi.

“Ya piyak. Tidak repot to?” Sopo semakin seenaknya.

“Sampean ini. Sudahlah, jarang-jarang kita mengabdi kepada pemerintah atau pejabat. Mumpung di bulan puasa, ini saya berikan ganjaran gratis kepada para pengguna jalan. Toh yang membangun infrastruktur kan pemerintah, to?” Dengan sabar, polisi tersebut memberi penjelasan kepada Sopo.

Heh, Pak Pol! Paribasane, rakyat mengabdi kepada pemerintah itu sampai ngapal. Tapi, pemerintahnya tidak tahu diri. Mana ada pemerintah yang mau mengabdi kepada rakyat? Kalau ada, itu hanya pura-pura. Imbo-imbo. Pecitraan. Oh iya, saya tidak butuh ganjaran!”

“Sampean itu jangan seenak-enaknya. Pemerintah itu cuma dipasrahi. Yang membangun jalan, ya, rakyat dan buruh. Pemerintah hanya ongkang-ongkang, nek ono duit luwehan malih yuyu kangkang. Seharusnya, sampean sebagai pelindung kami, sampean ngayomi. Pemerintah tak lebih dari rakyat yang punya keberuntungan lebih. Jadi, seharusnya sampean seimbang, jangan lebih mementingkan pemerintah saja. Lihatlah orang-orang yang sedang menunggu itu, mereka diburu waktu. Banyak hal yang dituju; mungkin ada yang ibunya sakit, ditunggu keluarga, atau keperluan-keperluan yang mendesak lainnya,” jelas Sopo sambil menepuk jidatnya.

“Kami tidak butuh dihormati, Pak. Kami hanya butuh; penuhi hak-hak kami setelah kewajiban kami laksanakan!”

Polisi tersebut tampak terpengaruh dengan perkataan Sopo. Ia terdiam untuk beberapa saat. Kemudian ia mendongakkan kepala, “Maaf, untuk sekali ini saja. Saya mohon keikhlasan para pengendara!”

Sopo tak menanggapi. Ia berbalik dan kembali duduk di atas motor tuanya. Lampu hijau menyala. Ditariknya gas sekuat tenaga, knalpot meraung, dan kuda besi Sopo melesat menembus kekonyolan malam itu. Orang-orang di belakangnya mengikuti Sopo. Tak lupa, “asu”, “jancuk”, “taek”, “astaghfirullah”, “masyaallah”, dan kawan-kawannya menjadi salam perpisahan dengan polisi tersebut. Jalan ini milik rakyat, Bung.

 

Iklan

Bijaklah dalam Berkomentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.