Cong Culi Din

Segalanya menjadi sepi saat matahari sempurna ditelan lautan dan pegunungan di seberang barat sana. Semua pintu ditutup rapat, tak ada satu pun masyarakat yang keluar rumah untuk sekadar menumpang wudu di masjid. Mereka hanya diam di balik gebyok-gebyok rumah dan terus saja dihantui ketakutan kedatangan tamu bersalam Cong Culi Din.

Seberapa takutnya masyarakat umum, tentu tak pernah layak jika disandingkan dengan  ketakutan Mbah Modin atu Lebai (pegawai masjid atau seseorang yang mengurus segala sesuatu yang bertalian dengan agama Islam di sebuah dusun) Sepuh satu ini. Malam dihantui Cong Culi Din yang berarti poCOngku uCuli moDin (lepaskan tali pocongku Modin) dan siang dihantui masyarakat agar ia bertanggungjawab untuk membongkar kuburan Kencik, karena semua masyarakat sepakat bahwa pocong yang berkeliaran seminggu ini adalah pocongannya Kencik yang mati digilas roda tamiya, dan Mbah Modin adalah orang yang paling bertanggungjawab atas munculnya kembali Kencik dengan seperangkat baju pentasnya.

Seperti malam ini. Entah kenapa rumah Mbah Modin mendadak dingin, berbau amis. “Jangan-jangan pocongane Kencik moro iki, Pak’e!” Istri Mbah Modin berbisik, tangannya gemetaran pertanda ia tak tenang.

pocong_cover
Cong Culi Din

“Uwislah Mbok’ne, ndak usah khawatir, aku yakin 1000% kalo tali pocong Kencik sudah tak uculi ([lepas] tak: penekanan| uculi: lepas). Jadi berita itu tak benar. Ora bener!Wah wah, entah lambene Mbah Modin ini abis kemasukan apa, kok enteng begitu menenangkan istrinya. Biar terlihat gagah saja barangkali. Padahal jantungnya dag dig dug mau copot, keberaniannya menciut, keringat mrembes dari pori-pori dan benar-benar khawatir kalau yang dikatakan istrinya menjadi kenyataan.

“Tok… Tok… tok… Din…. Din….”

“Ojo mlayu, Pak’e……..”

******

Cong Culi Din~~~,” Marno mengangkat kedua tangannya, memelototkan mata dan bergoyang-goyang sembari terus mengatakan singkatan tiga kata itu. Tak ada maksud lain hal itu Marno kerjakan, kecuali untuk menakut-nakuti Marijos yang memang mendapat nominasi anggota paling jereh (penakut) se-Komunitas Pengglandang.

Marijos duduk, berdiri, duduk, berdiri, mau buka pintu tidak jadi. Tentu gara-gara Marno terus memelototkan matanya sambil mengucap mantra Cong Culi Din, mantra yang terbukti ampuh untuk menakuti Marijos dan hampir seluruh masyarakat.  Padahal Marijos sudah necis dengan sarung gajah ngadek, baju koko dan kethu hitam yang kemerah-merahan seperti rambut disemir.

lN1SJBQ5mT

“Asu Kowe, No. Aku mau ngadani mejid! Ojo meden-medeni. Raimu wae guyu medeni bocah! Opo meneh melilik-melilik kaya mengkono! Wis ora ono bedono karo blarutan!” Marijos naik pitam. Adzan maghrib seharusnya sudah setengah jam lalu terdengar dari toa masjid. Tapi tampaknya semua orang sudah gantung mikrofon, sudah tak ada minat bekerja ikhlas sebagai tukang tarik suara.

Bukannya Marno menyudahi tingkah edannya, ia malah makin menjadi-jadi. Dan anehnya, semakin Marno bertingkah kekanak-kanakan, semakin bertambah pula ketakutan Marijos. “Jancuk, jancuk!” Marijos semakin tak terkontrol mulutnya. Ia mendekati Marno kemudian menempeleng kepalanya hingga Marno tersungkur di atas lantai. “Modar kowe, Cuk Jancuk!

“Kowe kanapa to, Jos?” Marno susah payah berdiri. “Aku ini kan cuma bercanda. Biar tidak sepaneng!”

“Kowe medeni! Mangkel aku.”

Lahdalah, benar-benar seperti anak SD yang masih doyan bantah.

Marno tertawa terpingkal-pingkal, sementara Marijos heran dengan tingkah temannya itu. “Heh, Jos, apa Kowe itu Mbah Modin?”

“Ora!” Jawab Marijos singkat.

“Lha kenapa Kowe harus takut. Yang dicari pocong itu Mbah Samingun, modin desa ini. Wong ujung-ujung (pocong) kalau hidup itu cuma bisa ngomong Cong Culi Din, ora iso ngomong Cong Culi Jos!” Marno semakin terpingkal-pingkal.

“Karepmulah,” seperti biasa, Marijos yang harus mengalah.

Marno tak melepaskan Marijos begitu saja. Orang-orang penakut seperti Marijos ini harus diberi pelajaran dan kalau perlu penataran agar tidak terus-terusan jereh.  Marno mengajak duduk Marijos untuk mendiskusikan serius masalah Cong Culi Din ini. Mereka sepertinya lupa kalau salat terbatas ruang dan waktu, apalagi salat maghrib yang baru saja akan ditegakkan Marijos.

Perkara percaya atau tidak, sebenarnya Marno, Marijos, anak-anak Komunitas Pengglandang yang lain, apalagi Sopo, tak begitu memercayai hadirnya Cong Culi Din di kampungnya. Tapi mau bagaimana lagi, katanya sudah lima sampai enam warga mendengar Cong Culi Din disertai hawa-hawa yang membuat bulu kuduk berdiri. Apalagi Lek Sasmito menyaksikan dengan kedua matanya, pernah ada putih-putih mengetuk rumah Mbah Modin pada tengah malam. Cerita meluas dan masyarakat kian malas keluar rumah. Dan mau tak mau Komunitas Pengglandang terkena dampaknya.

“Jos. Mbuhlah nyata atau tidak pocong itu, karena aku sendiri tidak pernah melihat, kenapa manusia di Indonesia harus takut kepadanya? Bukankah pocong itu cuma bisa loncat-loncat tok?” Marno bertanya kepada Marijos.

“Gundulmu. Katanya orang-orang jaman dulu, apabila manusia terkena idune (ludahnya) pocong bisa terbakar. Orang Mbahku katanya pernah diidoni pocong, untung Mbahku jadug! Ileng-ileng, No, omonganmu itu ndobol. Aku bakal percoyo kalau yang ngomong begitu si Sopo!” Marijos tampak serius mengatakan itu.

“Oh. Kowe takutnya gara-gara itu?” Marno kembali mengejek, sepertinya dia yang selalu memancing keributan. “Nek aku sebenarnya sangat percaya dengan alam ghaib. Tapi ora lantas jereh seperti awakmu begitu. Malah gara-gara isu yang sedang panas di masyarakat sekarang, aku pengen jadi presiden.”

“Heh. Ngoco ngoco. TK wae ora pernah!”

Marno sedikit tersinggug dengan apa yang baru saja dikatakan Marijos. Tapi ia sadar, bukankah di Komunitas Pengglandang, kata-kata gojlokan semacam itu adalah level paling bawah. “Gini, Jos. Indonesia ini kere terus, utangnya banyak dan hanya punya wibawa sa-upil di jagad internasional. Apa yang mau dibanggakan dari negara ini? Ekonomi? ndledek. Kekayaan alam? ndledek. Lautan? ndledek. Opo? Koruptor? Nah kui…”

“Coba lihat,” lanjut Marno, Marijos hanya ndomblong menyaksikan Marno mabuk. “Korea, India dan Thailand semakin bersinar dengan produksi film-filmnya yang ciamik, China dengan perdagangannya, Rusia, Jerman dengan teklnologinya. Lha Indonesia?”

“Ndeeeeleeeedeeeeek,” sahut Marijos.

“Nah akhirnya Kowe sepakat juga.”

“Maksudnya COCOTMU yang ndledek!”

086810200_1409798476-A4“Jamput! Makanya, besok kalau Tuhan menyuruhku menjadi presiden, aku bakal mencetak sejarah yang mengglegar dan tidak mungkin dilupakan sampai kimat. Coba peka sedikit, Jos, setiap negara memiliki hantu yang berbeda-beda, ada vampire, ada zombie dan kita sebenarnya memiliki kekayaan kehantuan yang luar biasa: pocong, kuntilanak, jalangkung, ciluk baa, gendruwo, wewe gombel. Nah, kenapa kita tidak bikin lomba-lomba tingkat internasional dedemit. Lombanya ya macam-macam, ada olahraga, cerdas cermat, mewarnai dan lomba-lomba lainnya yang sering digelar manusia!” Waduh, tampaknya Marno habis nenggak racun tikus lima botol. Ngomongnya ngalor ngidul rak karuan.

“Sudah-sudah, No. Tadi Sopo ke mana?”

“Aku belum selesai menceritakan mimpiku……”

“Sttt…. Sopo tadi di mana?”

Menyakitkan itu, tatkala engkau ingin kentut tapi ditahan-tahan. Seperti Marno ini, mulutnya masih pengen kentut tapi terpaksa harus dibungkam. “Keluar,,,” Marno berdiri dan beringsut meninggalkan Sopo.

*****

Niki Sopo yang bertamu, Pak’e,” Isri Mbah Modin berteriak memanggil suaminya yang kalang kabut karena ada yang mengetuk pintunya.

Sambil membetulkan sarungnya yang mlorot dan menyeka keringatnya, Mbah Modin menemui Sopo yang tengah duduk di kursi tamu. “Maaf ya, lagi ngresikki kandang. Ini kreminget semua, hehehe,” sapa Mbah Modin.

“Begini, Mbah. Sepindah saya pengen menyampaikan salam dari warga,,,,,” belum sempat Sopo menyelesaikan, Mbah Modin sudah nerocos duluan.

“Kalau pesannya mengenai gali kubur Kencik lagi, saya sudah dengar. Mending Kowe bilang ke warga, kalau saya, Mbah Modin, tidak pernah lupa melepaskan tali pocong.”

Sopo tersenyum lebar mendengar Modinnya begitu ketakutan. “Bukan itu maksud saya, Mbah Modin. Warga mau menanyakan, apa acara maulidannya jadi?” Akhirnya mereka berdua membicarakan masalah acara pengajian akbar yang akan dilaksanakan untuk menyambut hari lahir Muhammad SAW.

Hampir dua jam mereka membahas persiapan muludan. Saat Sopo hendak berpamitan, ia berbisik ke telinga Mbah Moding. “Mbah, ini cuma mimpi. Bangunlah…..”

“huk huk huk” batuk bersahut-sahutan. Keringat mengucur deras dari dahi Mbah Modin. Benar saja, ia baru saja terbangun dari tidur. Cong Culi Din

 

 

 

 

Iklan

Satu pemikiran pada “Cong Culi Din

Bijaklah dalam Berkomentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.