Untuk Alifa, Kekasihku

Alifa, bila telingamu masih berfungsi, dengarkan detak jantung ini…….

Detak jantung yang tak beraturan menyiratkan kegelisahan sejak mulutmu mengucap kata ‘selamat tinggal’. Detak jantung yang memaksa hati agar mengharapkanmu kembali datang. Detak jantung yang membuat badanku nyeri saat mengingat suaramu ditelan debur ombak dan wujudmu hilang ditelan senja yang menawan.

Apa yang kuingat itu adalah pisau yang kapan saja bisa membelek tubuhku dan mengeluarkan segala isinya lengkap dengan segala kenangannya. Senja, bebatuan berlumut, pasir putih, angin, bangau, langit kuning kemerah-merahan, perahu-perahu yang terlihat sangat kecil dan tentu senyum gulamu, yang ternyata tak semanis ending yang engkau pentaskan di depan mataku.

Tapi ketahuilah, Alifa, hinggi kini aku tak pernah membenci senja dan seperangkatnya, karena di dalamnya ada kenangan akan dirimu. Meski pahit, tapi hanya kenangan itu yang bisa mengingatkanku kepadamu.

Alifa. Bila detik ini engkau sedang bahagia, maka itu adalah nikmat Tuhan yang tidak hanya milikmu, tapi juga milikku. Karena engkau harus tau, Alifa, sejak aku mengenalmu, sejak itu pula aku pasrahkan semua kebahagiaanku kepada Tuhan agar diberikan kepadamu. Semuanya, tanpa ada sedikit sisa yang bisa kusimpan dalam saku celana.

“Selain agar berpikir, Tuhan menciptakan manusia supaya ia pandai mengingat dan menghafal.” Ah, awalnya kata-katamu itu tak ubahnya obrolan penyamun yang sedang mabuk. Tapi, ternyata aku baru menyadari, Alifa, bila Mario Teguh masih kalah super olehmu. Bagaimana aku dengan enteng menyepelekan dan menafikan hasil pikirmu itu, jika aku menjadi profesional dalam mengingat kenangan-kenangan yang dulu pernah kita ciptakan. Menjadi santri paling encer dalam menghafal syair-syair cinta yang penah kita tulis bersama dulu. Iya dulu. Karena sekarang engkau hanya ada, tidak nyata.

Alifa, tak kuasa lagi jari-jari ini menarasikan isi hati, mengenang setiap detail kebersamaan yang tak pernah usang oleh kenangan-kenangan yang lebih segar dan sedikit membahagiakan hati. Alifa, apa yang harus kuperbuat jika narasiku hanya sampai di sini?

Mana mungkin bisa terus kupencet kotak-kotak keyboard ini, jika tiba-tiba mereka berubah menjadi senyum-senyum terbaikmu?

Tidak. Aku harus terus memencetmu. Karena aku tau, engkau akan terus muncul dan menjadi bayanganku, bahkan saat keyboard  atau laptop ini kubanting hingga pecah berkeping-keping.  Alifa, mungkin engkau saat ini sedang berdiri di sampingku, melihat kesengsaraanku yang entah kapan akan sirna. Mungkin engkau sedang meneteskan air mata melihatku yang masih teguh mengharapkanku.

Tidak. Tidak mungkin engkau sedang mengawasiku, Alifa. Ini bukan episode Drama Korea Master Sun. Ini bukan soal Tae Gong Sil yang membantu para arwah untuk menyampaikan pesan kepada manusia.

Tapi, dilubuk hatiku, di alam bawah sadarku, aku berharapDrama 17 episode itu menjadi nyata, dan Tae Gong Sil menyampaikan pesanmu kepadaku.

Akankan jika Tae Gong Sil datang akan menyampaikan pesanmu yang ingin didengarkan kedua telingaku?

Alifa, meski aku kacau tetapi aku terus merindukanmu…

 

Iklan

Bijaklah dalam Berkomentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.