Mereka Membincang Cinta

Bila cinta adalah raja, maka rindu adalah panglima perangnya. Bila masa depan adalah penyemangat, maka kenangan adalah pembunuh terdahsyatnya.

 

Seorang Bijak bertutur kepadaku…

Cinta itu luasnya tak bisa dibandingkan dengan samudera, tingginya tak bisa dibandingkan dengan langit di atas sana. Begitu luasnya, begitu tingginya cinta, sehingga hanya Tuhan yang benar-benar dapat memperbudaknya.

Seorang Kiai dhawuh kepadaku…

Cinta adalah agama. Agama adalah cinta. Tiada cinta yang menistakan agama. Tiada agama yang menistakan cinta. Tiada cinta yang berseberangan dengan agama. Tiada agama yang berseberangan dengan cinta. Tiada cinta yang tak memiliki agama. Tiada agama yang tak memiliki cinta. Cinta memang agama. Agama memang cinta.

Seorang Pemabuk menyusun kalimat di hadapanku…

Bangsat. Cinta itu bangsat. Cinta bangsat karena membawaku terbang menyelami dunia antikesadaran.

Aku pernah berhitung, ternyata cinta yang datang kepadaku tak lebih banyak dari yang meninggalkanku. Semakin banyak ia meninggalkanku sendiri, semakin banyak pula bir yang melewati tenggorokanku, dan sebanyak itu juga aku menjauhi kesadaran. Karena Engkau tahu, esensi cinta itu memabukkan. Maka, jika cinta tak lagi dapat membuatku mabuk, bir inilah jawabnya.

Seorang Penggembala bercerita kepadaku….

Sangat sering orang-orang di jalan, khususnya para pemuda, membincang soal cinta. Dari sekian banyak suara yang ditangkap telingaku, satu hal yang dapat disimpulakan oleh otakku. Bahwa cinta selalu identik dengan sepasang manusia, entah berkelamin sama atau beda, yang memadu kasih. Mereka mengibaratkan cinta laksana hubungan Adam dan Ibu Hawa. Sehingga tiada hal yang mengherankan jika kawula-kawula itu berlomba-lomba mencari lawan jenisnya. Untuk mencoba, menjajal dan menghasilkan cinta.

Namun tidak bagiku. Mana mungkin ada seorang gadis kekinian yang mau berbagi cinta dengan penggembala sepertiku ini. Mana mungkin ada seorang gadis kekinian yang mau kuajak pacaran dengan aroma prengus kambing yang membikin mual. Mana mungkin ada seorang gadis kekinian memadu kasih dengan penggembala yang setiap hari melihat daging tetapi tak pernah merasakan kelezatannya. Tentu tidak ada. Sudah pasti tidak ada. Dan kalaupun ada, hanya sebatas dicerita.

Dengarlah, Lur, cinta itu sangat sederhana. Bila Lur menjaga apa yang sudah engkau miliki, berarti disitulah Lur sudah sangat dekat, bahkan menyatu dengan cinta yang dipakai bualan oleh orang-orang. Dan, Lur, cinta itu angon. Angon itu menjaga yang Lur angoni agar tidak ke mana-mana, tidak makan rumput tetangga, tidak neracak lung sawah orang. Sesederhana itu, Lur.

Alifa berbisik kepadaku, dengan suara halus yang menggetarkan hari, dengan nada dayu yang menggidikkan ujung jemari….

Mas. Tak usah Engkau dipusingkan dengan persoalan cinta. Karena cinta hanyalah sebuah kata untuk menamakan sebuah rasa yang sejatinya memiliki muara kebaikan. Bila Engkau terus disibukkan untuk mendefinisikan cinta, maka yang engkau dapatkan hanyalah sebuah kehampaan dan kehambaan. Cinta itu hamba, Mas, jangan sampai Engkau dihambakan olehnya.

Saya menasehati aku…

Jangan percaya Alifa karena ia telah mengkhianatimu. Jangan percaya Penggembala, karena diam-diam ia membiarkan kambing-kambingnya merusak tanaman tetangga. Jangan percaya Pemabuk, karena orang sadar saja susah berkata benar. Jangan percaya Kiai, karena jaman sekarang banyak dari mereka yang menjual diri. Jangan percaya Seorang Bijak, karena mereka hanya memahami teori. Juga, jangan percaya hati nurani, karena ia telah terkotori.

Iklan

Bijaklah dalam Berkomentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.