Tiada Kata yang tak Pantas Dikatakan

Tiada kata yang tak pantas dikatakan. Bila memang ada yang berpendapat tak demikian, sudah barang tentu ia gagal paham atau tongkrongannya sejauh mata memandang dan balik sebelum pagi menjelang. Pantas tak pantas bukan pada katanya, bukan salah pada katanya, melainkan ketidaktepatan waktu, pendengar dan suasana saat kata itu dikatakan.

Sederhananya begini, jancuk, asu, celeng, bukanlah sebuah kata kotor yang tak patut diungkapkan. Karena kata itu hanya sekadar untuk menamai binatang, tak lebih.

Ini persolan penting yang harus Engkau pahami, Alifa. Cobalah di sela waktu luangmu membaca Markesot Bertutur buah pikiran Maha Guruku, Cak Nun, agar engkau dapat memahami saat seperti apa kata itu menjadi keliru ketika diucapkan.

Alifa, tidakkah engkau mengingat saat masih sering duduk di meja angkringan dulu? Saat Paimo misuh-misuh, berkata jorok dan menghujat rekan sejawatnya di depan umum? Apakah Alifa melihat teman-teman Paimo marah, misuhi balik, atau bahkan nempeleng cocot Paimo? Tidak. Yang Engkau lihat malah canda tawa lepas atas apa yang dikatakan Paimo. Mereka seakan tak terhina dengan puluhan kata yang dilabeli ‘haram’ diucapkan oleh kebanyakan masyarakat kita.

Kemudian, apakah Alifa mengingat saat kita menyusuri jalanan becek Keramat Tunggak? Saat seorang pegiat dakwah mengeluarkan dalil (yang sejatinya terdiri dari kata-kata Tuhan yang tak bisa dibantah) di depan para wanita pekerja ‘enakin’ dan lelaki pencari ‘kenikmatan’? Tentu Engkau ingat, Kekasihku. Tentu masih hangat dalam ingatanmu, pegiat dakwah itu babak belur dihantam puluhan kali bogem mentah. Siapa yang salah? Entah siapa yang salah, Kekasihku.

Semoga dua contoh itu cukup untuk menguatkan argumenku.

Kata memang begitu sakral, sayang, begitu bahaya jika diucapkan tidak tepat pada waktu, tempat dan suasana hati lawan bicaramu, Alifa. Yang demikian itu bukan berarti aku melarangmu untuk berkata semaumu, hanya saja hati-hati saat mengeluarkan kata. Engkau perlu peduli waktu, ruang dan lawan bicaramu. Jangan sampai niat mulia bercandamu malah menjadi bumerang perpecahan, apalagi menyayat hati. Mbubrah.

Alifa, sejatinya kata adalah benar. Benar atau tidaknya ia tergantung kita yang mengucapkan. Namun satu yang pasti, Alifa, bahwa rindu beserta kataku adalah kebenaran yang tak perlu engkau verifikasi, meski semuanya keluar dari mulut dan jari munafikku.

Alifa, betapa aku merindukanmu beserta senja di matamu yang sudah lama tak pernah kujumpai.

2 pemikiran pada “Tiada Kata yang tak Pantas Dikatakan

  1. sesuatu_Apa

    setiap membaca tulisan2mu, setidaknya sedikit saja, ada penyesalanku untuk masa lalu. bukan untuk sebuah dosa, atau kesalahan2 sepele yg slalu terulang. hanya berandai2, “seharusnya aku menulis. karna setelah itu, mungkin, aku akan meninggalkan penyesalan dan kesedihan2ku di sana. meskipun itu masih tetap luka yg sama, tetapi paling tidak hanya sebatas bekas luka karna ujung pena.”
    Selamat untuk Alifa. dia datang tanpa ruang dan waktu. sampaikan salamku padanya, agar selalu menjaga dan bersamamu. meskipun aku tau itu pasti.
    “bravo”. just for you.

    Suka

    1. Aku menulis apa yang ingin kutulis dan tak peduli apakah ada orang yang mau melungkan waktunya untuk membaca setiap jahitan kataku ini.

      Kusampaikan salammu pada Alifa dan sesuatu_Apa siapa gerangan engkau?

      Suka

Bijaklah dalam Berkomentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.