Laku Suudhon

Laku Suudhon. Bila semua orang sepakat bahwa suudhon (berperasangka buruk) adalah perbuatan tidak baik, bahkan dosa, maka dengan meminta pertolongan dan petunjuk Allah SWT. saya menolak hal tersebut! 

Penolakan saya ini bukan berarti mengingkari dhawuh para sesepuh, ulama, para guru, kawan, ibu dan bapak saya, atau bahkan ajaran Rasulullah SAW. yang telah membawa manusia dari jalan buntu sampai banyak jalan yang kembali dingeblurkan oleh umatnya sendiri. Ini murni karena “saya” menolak “aku” dan “diriku” yang telah menyakini perkara tersebut berpuluh-puluh tahun lamanya.

Saya bukan termasuk orang yang kekinian, tapi dalam segala hal –sebagai manusia yang –katanya— diciptakan untuk berpikir, bermain, tertawa dan beribadah— saya senantiasa dan berusaha mempertimbangkan konteks kekinian, lebih-lebih jika diminta menjadi pemateri atau jalan keluar atas curhatan kawan (padahal saya sering terpuk, tapi masih saja ada orang yang meminta solusi; mungkin saya dianggap dukukun :D).

Apakah perkataan orang dulu masih relevan bila diterapkan dalam kondisi yang sekarang (kekinian), atau harus ada solusi lain? 

***

Hati saya seringkali begejolak tatkala saya banyak diam dan memikirkan sesuatu yang mungkin tak terlalu dipikirkan orang lain. Tapi entah kenapa, selepas bermain dan memastikan kondisi adek-adek LPM INSTITUT masih sehat di tengah deadline, hati bergejolak semakin tak karuan (saya tegaskan bahwa ini bukan persoalan jatuh cinta atau cinta saya sedang jatuh!). Hal ini terjadi karena saya mendengar curhatan seorang reporter, sebut saja Cungkring, yang gelisah dan sedikit marah lantaran dioper seperti bola saat meminta data kepada birokrat kampus.

“Gimana ini, Bang. Saya mau minta data anggaran mengenai A tapi tak dikasih, diumpan ke sana-sini. Sampai sekarang gue tak dapat-dapat, tak dikasih datanya!” Dengan logat Medan kentalnya, Si Cungkring ini bertutur kepada saya.

Cungkring sedikit menyoal Keterbukaan Informasi Publik (KIP). Dengan tegas ia menuturkan bahwa jawaban birokrat kampus tidak sesuai dengan UU KIP. Mereka, kata Cungkring, beralasan bahwa informasi yang diminta Cungkring dapat membahayakan stabilitas kampus. Maka demi menjaga stabilitas itulah, mereka mengumpan Cungkring ke pemain lain agar mendapatkan jawaban yang sama, biar Cungkring yakin bila yang mengatakan orang banyak adalah “benar”.

Sentak saya berpikir, anak-anak sekarang, engga cewe-engga cowok, suka buka-bukaan. Mau di jalan, di kampus, dan tempat umum lainnya pokoknya serba terbuka. Lha ini birokrat, lebih tua umurnya, lebih tinggi jabatannya, kok masih saja suka tertutup. Padahal yang diminta juga informasi mengenai hak sebagai mahasiswa UIN. Edan!

Tentu rasa empati saya terpanggil, karena dulu saya sering berada di posisi Si Cungkring. Perasaan yang dirasakan Cungkring pun mungkin sama dengan yang saya rasakan waktu itu, marah dan heran atas sikap birokrat kampus. Singkat cerita, saya sarankan agar Cungkring mengkaji kembali UU KIP dan saya berikan apa yang saya tau mengenai UU tersebut.

Di tengah angin malam yang agak tak bersahabat, kekekcewaan Cungkring sepertinya kian membuncah. “Semakin rektorat berbelit, semakin curiga dan banyak pertanyaan yang bergelanyutan dalam otak saya. Semisal, sehari berapa uang yang didapat A, masuk kampus berapa, dipergunakan untuk apa? Jangan-jangan mereka korup lagi, makanya diminta data susahnya minta ampun!”

Stop. Mari kembali kepada persoalan suuddhon. Mari kita belajar dari cara Cungkring bersuudhon!  Demikianlah saya katakana, jika melihat konteks kekinian, suudhon wajib mugholadoh hukumnya dikatakan sebagai perkara baik yang harus dilestarikan.

Dulu, berperilaku khusnuddhon sangat dianjurkan, karena kita sama-sama tau sedikit sekali orang yang berperilaku tak jahat, tapi sekarang sedikit-sedikit orang berperilaku jahat. Khusnuddhon pada hari ini sama saja dengan bunuh diri yang (bunuh diri) sangat dibenci oleh Allah. Maka suudhonlah, setidaknya untuk mengamankan diri sendiri, syukur-syukur bersuudhon demi bangsa dan negara.

Saya teringat Kiai Muiz saat menjelaskan beberapa bait dalam bait Qawaidul Fiqh. Beliau dhawuh bahwa segala hal ada mustasnayatnya atau pengecualiannya. Maksudnya begini, bila Cungkring tadi hanya sekadar berkhusnuddhon “ah, mungkin anggarannya untuk membangun infrastruktur, membantu mahasiswa yang susah untuk membayar, atau untuk membiayai kreatifitas mahasiswa (meski kreatif tak perlu biaya, saya yakin biaya bisa mengubah segalanya). Birokrat kampus itu kan pengajar Islam, pasti uangnya dipergunakan yang bermanfaat untuk kepentingan umat. Pasti mereka amanah”.

Bayangkan jika Cungkring berpikir demikian, akankah ia mondar-mandir dan rela dioper sana sini hanya demi mendapatkan jawaban atas kegelisahannya? Karena Cungkring bocah cerdas maka ia selalu beranggapan orang yang mengaku beragama tak semuanya bisa dipercaya.

Setidaknya, dengan laku suudhon, manusia mau bergerak untuk mengklarifikasi, mencari tau dan membenarkan yang salah. Hidup ini memang terasa sangat lucu, suudhon tak diperbolehkan, tapi lihatlah para pelaku penegak kebenaran (pelaku bukan orang-orang yang hanya sering meneriakkan kebenaran, bukan pula orang yang hanya sering meneriakkan takbir ‘katanya Allah dekat, kok iseh seneng berok-berok!’), hampir semuanya orang yang doyan suudhon. Mana mungkin seorang polisi menyelidiki sesuatu tanpa suudhon terlebih dahulu?

Di akhir kata kegilaan saya ini, saya mengajak seluruh umat untuk meninggalkan khusnuddhon terlebih dahulu. Tanamkan pola pikir suudhon (setidaknya demi kepentingan orang banyak [bila tak mau untuk diri sendiri]) mulai sekarang. Agar kelak, anak cucu nanti leluasa mengamalkan khusnuddhon yang telah dititahkan Rasulullah. Untuk sekadar praktek, bersuudhonlah apakah penulis sedang gila dan saya bersuudhon pembaca gila karena membaca sampai akhir tulisan ini.

Wallahu a’lam

Iklan

2 pemikiran pada “Laku Suudhon

Bijaklah dalam Berkomentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.