Pohon, Koran dan Palu Arit

Pohon itu kecil tapi menyejukkan. Pohon itu kecil dan menjadi tempat berteduh tervaforit orang-orang yang juga kecil. Pohon itu kecil tapi membuka pikiran dan menghangatkan nasib yang dipaksa menggigil.

Lelaki berkupluk ala pasukan Rusia itu duduk di trotoar jalanan Ibu Kota. Tangan kirinya meletakkan setumpuk koran dari beragam media yang telah keriput dioven Sang Surya. Cukup lama ia memandangi koran-koran itu, tiba-tiba kesedihan menguasai wajahnya. “Tak turun ke jalan, tak makan,” gumamnya sambil menggelengkan kepala.

Ia ingin bangkit, menenteng kertas sumber isi perut, dan menawarkan ke setiap pengendara yang dipaksa berhenti oleh lampu merah, tapi melihat fatamorgana yang semakin jelas membuatnya enggan. Dicopot topi sakralnya dan mengibas-ibaskan di depan muka dengan harapan bisa menghentikan keringat yang mengucur deras dari pori-porinya.

“Gusti, hilangkan sematpon dari jagad ciptaan-Mu ini, biar koranku diburu. Biar laku. Biar ada uang yang masuk saku!” Lelaki itu terus saja bergumam. 

Sedari pagi hanya air putih yang melewati kerongkongan, usus dan bersemayam dalam perutnya. Itu pun ia ambil dari keran masjid dekat rumah kardusnya. Krucak-krucuk bunyi dalam perutnya semakin terdengar nyaring. Tapi apa daya, belum ada satu pun koran yang tertukar dengan uang.

Untungnya ia telah bertahun-tahun terbiasa dengan kondisi yang demikian. Ia selalu menghibur diri dengan berpikir, masih banyak orang yang lebih sengsara ketimbang dirinya. Masih banyak orang yang kelaparan di negaranya. Maka ia rengkuh satu koran dan membuka halaman demi halaman agar ia lupa akan rasa lapar, dan barangkali kalau beruntung menemukan berita orang-orang yang lebih bernasib sial daripada dirinya.

Malang benar nasib lelaki ini. Jamput, ia menghardik gambar yang terpampang di depan matanya. Berita bergambar kartun seorang bocah tertawa sambil memegang bendera merah berlambang palu dan arit tersebut membuat panas di ubun-ubunnya berpindah ke dalam dada. Ia tidak bisa mengeja apa hubungan gambar dan beritanya, karena mengurutkan A sampai Z saja ia tak pernah pecus.  Yang pasti, yang masih hangat dalam ingatannya, kakekknya pernah bercerita bahwa lambang palu arit adalah lambang yang wajib dibenci, dicaci dan halal darah orang-orang yang memujanya.

“Lambang iki ngepruk dengan palunya dan mencabik-cabik kegagahan Garuda dengan aritnya. Ini lambang keturunan saiiitan. Lambang yang harus dimusnahkan dari bumi Endonesa. Termasuk orang-orang yang mengibarkannya dan koran-koran yang memuat gambarnya. Pantesan hari ini tidak ada orang yang mau beli koranku. Bajing!

Lelaki itu memilah seluruh korannya. Bila ada koran yang memuat gambar berlambang palu arit ia buang begitu saja ke sebelah kirinya, sedangkan yang “aman” ia tenteng untuk kembali ditawarkan kepada para pengguna jalan. Ia berdiri mantap kali ini, tersenyum dan menginjak-injak koran berisi lambang palu arit yang terserak. “Kali ini pasti koranku laku,” batin lelaki itu sambil turun ke jalan menembus fatamorgana.

****

Ibukota adalah tempat di mana puncak kegetiran hidup benar-benar diuji. Tapi tidak bagi orang desa, tempat dengan tumbuhan gedung-gedung subur itu adalah sumber uang yang menggiurkan. Uang yang menjadi magnet penarik ribuan orang desa bertulang besi karat. Mereka datang dan tak sedikit  terkurung dalam kesengsaraan, tidur serta makan di kolong jembatan dan sesekali memungut rontokan gedung yang tak ramah terhadap desa beserta orangnya.

Salah satu orang desa yang sukses mencumbu getirnya hidup di Ibu Kota adalah Mbah Paimo. Lelaki sepuh ini nekat meninggalkan desa dan sanak keluarganya karena membaca koran yang memuat informasi lowongan pekerjaan. Saking semangatnya Mbah Paimo waktu itu, menjadikannya lupa jika modal nekat dan semangat membaranya tak berarti apa-apa bagi pembuka lowongan. Walhasil nasib Mbah Paimo, pulang malu, tak pulang pusing menjaga isi saku.

Menyesal dan terpaksa adalah alasan kenapa Mbah Paimo memilih menjadi penjaja senjata ibu rumah tangga dan tukang bangunan. Setiap hari, dari jalan ke jalan, kampung ke kampung, panas ke hujan Mbah Paimo rela mengangkat keranjang berisi besi-besian. Tentu ia sama saja dengan berjudi. Ibu rumah tangga dan tukang bangunan mana yang akan membeli pisau atau palu dari penjual bermuka tak menyakinan seperti Mbah Paimo. Kebetulan saja kalau memang sedang mepet dan malas pergi ke mall dan pasar moderen, Mbah Paimo mungkin punya lebih banyak keberuntungan.

Hari ini matahari memang terasa sangat berbeda. Tampaknya ia balas dendam karena hampir seminggu mendung dan hujan menggusur kehadirannya. Sinarnya terasa begitu panas, melayukan dedaunan hijau yang sejatinya sedang berjibaku memberikan stok oksigen kepada manusia. Mbah Paimo sendiri hampir-hampir tak tahan menyusuri jalanan dengan beban di pundaknya. Di pinggir jalan, tepatnya di bawah pohon kecil ia menaruh keranjang bawaannya begitu saja. Direngkuhnya botol berisi air yang telah menjadi hangat. Ahhh, desahnya melepas dahaga.

Koran yang berserak mengalihkan pandangannya. Ia rengkuh koran itu dan tertarik membaca berita bergambar kartun anak kecil mengibarkan bendera berlambang palu arit. Tuntas ia baca, tanpa ada satu kata pun yang terlewatkan.

Kata demi kata dalam berita itu memaksa Mbah Paimo kembali menjadi bocah berumur 15 tahun pada 1965. Ingatan-ingatan mengenai tentara Indonesia yang setiap hari menenteng senjata dan menangkapi orang-orang yang berafiliasi dengan partai komunis, partai berlambang sama dengan gambar dalam koran yang dipegangi Mbah Paimo, cukup membuat bulu kuduknya berdiri.

Mbah Paimo sejatinya ingin melupakan ingatan-ingatan yang membuatnya demam berbulan-bulan. Ingatan mengenai Haji Damiri yang ditendang berkali-kali karena tidak memberi tahu anaknya ada di mana, ingatan mengenai Kepala Desa yang hampir saja digorok karena menolak ikut mengeksekusi warganya yang terlibat partai berbahaya itu.

Ah, sepertinya bukan perkara ingatan itu yang membuat hati Mbah Paimo gelisah, melainkan nasib jualannya yang bisa saja terancam gulung tikar.

“Oh, aku jadi ngerti, kenapa masyarakat sekarang takut membeli palu dan arit, mereka takut ditangkap polisi atau dipukuli organisasi masyarakat seperti berita ini. Makanya mereka sekarang harus mengeluarkan uang banyak untuk merawat rumahnya dan menghidupi sapi-sapinya.” Mbah Paimo lunglai dan menutup mukanya menggunakan koran yang membuat gelisah tersebut. Keringatnya mulai mongering, maka sekaranglah waktunya Mbah Paimo kembali berjalan menjajakan barang dagangannya.

“Pisau, pisau, pisau. Saya tak jual palu dan arit,,,” teriaknya sepanjang lorong-lorong perkampungan.

****

Sebagus apapun ban buatan pabrik, tetap saja berlubang jika terkena paku. Seperti nasib mahasiswa berambut gimbal satu ini. Kata iklan dan orang-orang, ban yang ia pakai adalah ban terbaik, tak ada benda tajam yang mampu menyayatnya, tapi nyatanya gara-gara paku sebesar lidi ia harus menuntun motornya sepanjang jalan.

Setiap langkahnya, mata mahasiswa itu tak penah luput memandangi pinggir jalan. Ia tengok kanan kiri, tapi tidak ada satu pun tukang tambal ban yang ia temui. Karena panas dan rapatnya kendaraan, ia memutuskan behenti di bawah pohon kecil seberang perempatan. “Sial sekali nasib, Lu, Ger,” katanya sambil mengelus motor butut keluaran 70an itu.

Ia membuka jok motornya lalu mengambil rokok dan buku bergambar Tan Malaka pada sampulnya. Sembari klepas-klepus menikmati rokok, mahasiswa gimbal itu terbius dengan cerita Tan Malaka yang berkali-kali keluar masuk bui, tapi masih bisa menelurkan buku-buku yang wajib dibaca oleh anak negeri.

Entah kenapa, di tengah penghayatannya, angin tiba-tiba bertiup agak kencang. Koran-koran berserak terbang menghantam tubuh mahasiswa gimbal. Ia mengucek matanya lantaran debu salah bersarang. Beberapa saat kemudian, ia memungut koran yang terserak.

Mulut mahasiswa gimbal tersungging setelah membaca berita dalam koran tersebut. “Zaman seperti rodaku, terus berputar. Setumbang-tumbangnya Orba, tetap masih ada, tentu dengan gaya dan pola yang inovatif. Begitupun dengan palu arit, banyaknya buku kiri yang disita, banyaknya lambang palu arit dibakar ia akan tetap ada dan berlipat ganda. Ideologi adalah ide, dan ide tak akan pernah mati,” batinnya sambil terus tersenyum.

“Bila simbol terus menjadi pergolakan di negeri ini, sampai keterunanku kelak, negeri ini akan terus seperti ini”tulis mahasiswa gimbal tersebut pada laman facebooknya. Setelah itu ia berlalu.

***

Tak berselang lama, seorang bocah memanggul karung datang dengan muka murung. Ia mengorek tong sampah di dekat pohon kecil dan menjumputi koran-koran yang berserak. Sampai pada koran bergambar kartun anak mengibarkan bendera berlambang palu arit, anak itu terdiam. Dihunusnya kedua besi dari dalam karungnya, menyilangkan keduanya seperti palu dan arit di gambar itu yang saling bertumpuk. Ia memicingkan mata, menggeleng ke kanan dan kekiri. “Ah, tidak sama,”ujarnya dan memasukkan kertas koran tersebut ke dalam karungnya.

Satu pemikiran pada “Pohon, Koran dan Palu Arit

Bijaklah dalam Berkomentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.