Karena Tuhan Tidak Ngelindur Saat Menciptakan Tembakau

Terimakasih tembakau, teruslah hidup, karena Tuhan tidak ngelindur saat menciptakanmu.

Tulisan ini  saya tulis tidak dalam rangka melawan Hari Tanpa Tembakau Sedunia, atau ikut-ikutan kawan media sosial  yang meramaikan jagad maya dengan tagar #TerimakasihTembakau. Tulisan ini saya tulis murni karena saya memiliki beban berat jika tidak mengucapkan terimakasih kepada tembakau (eh kepada Allah yang telah menciptakan tembakau, maksudnya) karena telah membantu dapur emak dan emak kawan-kawan sedesa saya terus mengepul.

Bila kemudian tulisan ini dibaca aktivis antitembakau, kemudian mereka ‘ngoceh’ atau bahkan menolol-tololkan saya, saya terima dengan ikhlas dan lapang dada. Asal mereka tak merampas rokok saya dan menginjak-injaknya di depan saya. Karena saya sadar, saya mah apa, cuma anak petani tembakau yang sedang berjuang lulus kuliah.

Seperti yang saya katakan di atas, saya tidak ingin menyinggung teman-teman aktivis anti tembakau –yang mungkin saat ini sedang getol melakukan aksi kampanye bahwa “rokok adalah Izrael yang terlihat, rokok membunuhmu atau meminta para perokok untuk berpuasa merokok pada tanggal ini. Karena saya sudah sering memaki, mengejek, bahkan nulis ngelantur untuk menanggapi logika –yang juga ngawur– mereka (karena saya belajar: kewarasan hanya untuk melawan orang waras) di beberapa laman web.

Baca Juga:

Jangan Jadi Pembunuh Buya // Rokok Adalah Alat Berdzikir Kekinian // Jangan Mati sebelum Merokok // Muktamar NU dan Rokok // Merkok Ingin Mati, Sudah Merokok tak Mati-mati.

Meski saya anak seorang petani tembakau yang suka ngelinting dan ngisep, tidak kemudian harus ngetwit ratusan kali untuk menggeser tagar WorldNoTobaccoDay di twitter. Karena ada atau tidaknya tagar itu, tetap saja tembakau akan terus ada dan berlipat ganda.

Biarkan orang-orang gede di atas sana saling adu abab, mahasiswa gemes ikut aksi menolak, dosen-dosen perokok merampas rokok mahasiswanya demi mencari muka dihadapan rektornya. Biarkan saja! Toh semua itu tak berpengaruh terhadap nasib petani (karena aksi saat ini seperti kewajiban yang harus terlaksana saja, maaf bila Hamba salah!).

Ingatlah orang-orang pintar, bagi petani, asal besok ada makanan yang bisa dimakan, selesai sudah urusan. Tapi kalau cari makan yang halal saja dipersusah, tembaku dipermainkan pabrik dan tengkulak dengan monopoli harga, di tambah aktivis anti tembakau suka berulah, maka hanya ada satu kata: idak ndase lan unter gulune. KESUWEN!

Tidak. Saya tidak akan memaki kali ini. Saya tidak akan memengaruhi siapapun. Tulisan ini lahir tidak melalui perenungan dan penelitian panjang sepanjang perenungan dan penelitian penulis Kitab Fath Qarib dan kitab-kitab kuning lainnya. 

Saya hanya ingin mengungkapkan rasa syukur karena Tuhan memberikan kesempatan kepada Bapak dan warga desa bercengkerama dengan tembakau. Karena tembakau yang Tuhan ciptakan dan ditolak-tolak beberapa manusia itu, tenggang rasa, gotong royong dan saling percaya di desa saya dawam terjaga. Nyatanya, setiap pagi, tepat mesin rajang menyala, masih banyak tetangga dan sanak saudara datang berhamburan untuk membantu. Bantuan mereka tidak dengan harapan ditukar uang, karena mereka tau bila setelah membantu pasti akan dibantu, bahkan tak dibantu pun tetangga akan membantu.

Tak hanya itu, berkat tembakau, orang-orang desa yang dicap bodoh dan sering dibodoh-bodohi menjadi paham bagaimana gaya seorang tengkulak bermain. Mengendus-endus tembakau seperti anjing lalu mematok harga miring.

Juga berkat tembakau, saya bisa bertahan di tengah gegap gempitanya Ibukota. Melawan waktu menyelesaikan beragam pekerjaan dan permainan. Dan tembakau adalah teman bisu yang setia menemani di saat tak satu orang pun mau menemani.

Maka dengan tegas saya keheranan, kenapa tembakau selalu saja menjadi bahan ‘perbacotan’ antara kelompok A dan B. Padahal kenapa Tuhan menciptakan tembakau tidak lain karena agar dirawat manusia, dimanfaatkan entah menjadi udud atau barang lainnya.

Terimakasih tembakau, teruslah hidup, karena Tuhan tidak sedang ngelindur saat menciptakanmu.

Utuh tidak utuh bukan sebuah tujuan. Iya tulisan ini tak utuh layaknya tiada otak utuh yang dipakai di negeri ini. Pembaca, apa otakmu sudah utuh? Atau otakku saja yang tidak utuh? *Tak usah pedulikan, nyalakan rokokmu dan MERDEKALAH! Rokoklah rokokmu, sebelum diembat temanmu!

Bijaklah dalam Berkomentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.