Sak Karepmu, Neraka atau Surga Ora Penting!

Suatu ketika Rabiah al-Adawiyah berlari ke pasar sembari menggenggam sebilah obor menyala-nyala di tangan kanannya dan seember air di tangan kirinya. Orang-orang keheranan. “Hai Rabiah, apa yang akan kaulakukan?” Rabiah menjawab, “Dengan api ini, ingin kubakar surga, dan dengan air ini, ingin kupadamkan neraka, supaya orang tidak lagi menyembah Tuhan karena takut akan neraka atau karena mendambakan surga. Aku ingin setelah ini hamba-hamba Tuhan akan menyembah-Nya hanya karena cinta.”

“Cukup sudah, jangan nambah file di kepalamu tentang surga dan neraka, fokuskan dirimu pada Tuhan. Karena sebenarnya orang yang berada di surga adalah orang yang mencari Tuhan. Dzat yang sangat layak dicintai di atas segala makhluk dan alam semesta…” kata Cak Nun.

*****

Surga dan neraka sangat istimewa. Saking istimewanya kedua tempat tersebut, seringkali dijadikan barang dagangan dan meden-medeni orang lain. Banyak orang-orang yang menakut-nakuti wong mbeler dengan ancaman diobong di neraka, dan mengiming-imingi mereka yang berbuat baik dengan surga, yang katanya, memiliki keindahan berjuta-juta lipat ganda dari keindahan paling indah yang pernah dilihat manusia.

Surga dan neraka kemudian meleburkan kesadaran manusia, bahwa segala bentuk peribadatan yang seharusnya teruntuk Sang Pencipta, malah ditargetkan pada surga neraka –yang sejatinya produk ciptaan Tuhan. Tapi sebagai sesama muslim, kita tak elok menyalahkan metode berdakwa yang demikian, yang terpenting buah dakwah tersebut mampu menciptakan damai, cinta dan stabilitas sosial. Urusan benar atau salah, surga atau nereka, biarkan Tuhan yang menjadi Pimpinan persidangan kelak.

Saya teringat salah satu artikel yang ditulis Cak Nun mengenai rasa herannya atas pola pikir sebuah lembaga dakwah yang memfatwakan alat musik haram. Semua kadernya diharamkan dekat-dekat dengan segala bentuk alat musik. Pokoknya nutuk bedug, nyebul seruling, metik gitar haram hukumnya. Tanpa memandang untuk keperluan apa alat-alat seni itu dipergunakan.

Apa yang dialami Cak Nun, ternyata penah saya alami juga. Beberapa hari yang lalu, saat nongkrong di warung kopi, datanglah seorang kawan lama yang dulu pernah aktif di lembaga dakwah sebuah kampus. Lama kami membincang masa lalu, tak sengaja saya nyeletuk, saya pengen pulang, tapi kok sebentar lagi liburan Ramadhan.

“Ada apa memang?” Tanyanya agak penasaran. Ia selalu menganggap setiap kepulangan saya ke kampung halaman selalu disebabkan hal yang sangat penting. Padahal mah kalau pulang juga tak ada kegiatan lain selain nglepus di atas kasur.

“Ada kadeso. Sedekah bumi,” jawabku singkat.

“Masih ada yang seperti itu di desa Ente?” Ia benar-benar bermimik heran saat berkata demikian.

“Lha kenapa memang?” Aku balik bertanya.

“Ente ini bagaimana. Sebagai orang yang berpendidikan, mondoknya bertahun-tahun, masa masih tidak mengerti apa yang ane maksud?”

“Mondok cuma numpang laibun wa lahwun kok bisa mahamin yang Sampean maksud. Maqom saya kan cuma gentho!” Jawab saya sambil bercanda.

“Itu bid’ah. Segala bid’ah adalah sesat. Orang sesat ganjarannya api neraka!” Awalnya saya kira kawan satu ini sudah mendapatkan hidayah karena sering nongkrong, tapi tampaknya dugaan saya meleset. Ia masih saklek dalam berpendapat.

“Benar. Sudah benar pendapatnya Sampean itu. Segala yang ndak ada di jaman nabi pokoke bid’ah. Seperti yang Sampean lakukan saat ini. Zaman Kanjeng Nabi mana ada orang nongkrong di warung kopi seperti ini?” Mau ngomong pakai dalil apalagi, orang-orang seperti kawan yang lurus ini tak akan menerima dalil yang saya ucapkan, apalagi ia tahu dalil yang saya nukil dari kitab-kitab ngaji warga Nahdliyin.

“Ya tidak begitu maksud ane. Kan ini dalam rangka berdiskusi, warung kan sebagai tempatnya,” ujarnya.

Nah, dia masuk jebakan babi saya. “Berarti Sampean mengingkari pendapat Sampean sendiri. Segala yang tidak ada di jaman nabi adalah bid’ah?”

“Na’am!”

“Segala bid’ah, dolalah?”

“Tentu!”

“Orang yang melakukan bid’ah dolalah dibakar api neraka?”

“Betul!”

“Berarti Sampean nanti juga dibakar sama saya dan warga desa tempat saya lahir di neraka!”

“Ente ini. Pahami konteksnyalah. Ngapain warga Ente bersyukur dengan pesta pora, bikin sesajen dan dengan gelaran pertunjukan. Jelas ini menyalahi ajaran Islam!”

Ini yang namanya orang peka oke (baca: pekok). Saya sebenarnya tak mau lagi berdebat mempersoalkan bid’ah atau vonis benar salah dalam urusan yang beginian. Tapi, sepertinya yang sudah dimulai harus diselesaikan.

“Begini lho, orang-orang yang menggelar kadeso itu tak ubahnya alasan Sampean ngopi di sini. Mereka menggunakan istilah Kadeso untuk menyukuri nikmat Tuhan, menyukri panen yang diberikan Tuhan. Mereka bikin sesajen itu tak lain untuk mengingat bahwa yang ghaib itu ada, meski tidak nyata. Semuanya ada bukan dalam ajaran Islam. Bila kemudian Sampean hubungkan dengan kafir, ekstrimnya, saya ingin tanya siapa yang tahu niat seseorang, kecuali Pencipta kita? Sudahlah jangan ribet-ribet, orang-orang desa saya itu hebat-hebat kok, mereka siap hidup, berarti mereka juga siap digoconi di neraka. Jadi selow aja!”

“Ah Ente ini memang selalu begitu. Yasudah, saya pamit mau diskusi dulu. Assalamualaikum.” Katanya sambil meminta bersalaman.

“Alaika salam. Hati-hati bid’ah! Hahahahahahaha,” kataku. Ia tersenyum sambil berjalan mendekati rekan diskusinya yang sudah berkumpul.

 

Iklan

Bijaklah dalam Berkomentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.