BAB I

TOA

Waktu kecil, hampir setiap hari, tak peduli pagi, siang, atau malam, aku selalu senang bersandar pada tembok dan menatap kubah putih dari balik jendela kamarku.  Di atas kubah tersebut terdapat tulisan Arab yang aku sendiri tidak bisa membaca dan mengerti artinya. Kata ayah, itu namanya kaligrafi yang dibuat oleh orang-orang yang memiliki tangan lentur dan kreatif.

Sebenarnya kalau boleh jujur, yang menarik perhatianku bukanlah kubah berkaligrafi itu, melainkan pengeras suara yang terpasang kokoh di atas kubah. Aku sudah hafal betul kapan TOA itu memekikkan suara, saat sebelum matahari terbit, matahari di atas kepala, matahari hampir terbenam, pukul 18.00, dan pukul 19.00. Setiap TOA itu berbunyi, tak pernah sekalipun aku tak memandang dan mendengarkan suara merdunya.

TOA itu begitu menawan, ia bisa mengeluarkan nyanyian berbahasa Arab. Kata ayahku, “Suara itu namanya adzan, seruan untuk beribadah umat Islam.” Namun yang keluar dari TOA itu berbeda, tidak seperti nada-nada yang sering kudengar di televisi. Saking indahnya, aku tak mampu melukiskannya dengan kata-kata.

Aku selalu merasa tenang  saat TOA itu mengeluarkan suara, namun selalu merana ketika ia tiba-tiba menghilang. Hanya adzan yang menemaniku di kamar ini. Kadang-kadang terbersit ide gila meloncat dari kamarku guna melihat dari dekat kubah berkaligrafi. Tidak. Tidak melihat kaligrafi sebenarnya, namun hanya ingin menemui seorang –kata ayah—muazin pemilik suara merdu itu.

Tapi hal itu tak mungkin terjadi. Kamarku berada di lantai tiga, jika aku memaksa meloncat, sama saja bunuh diri. Tidak mungkin juga aku mengendap-endap ke luar kamar. Jika kepergok berani ke luar kamar oleh ayah, mungkin aku akan digantung. Pada posisi seperti ini aku sering berandai-andai,  jika saja ibu masih hidup, mungkin hidupku tak semenderita ini.

———————————————- ψψ ————————————————

Umurku sudah genap 25 tahun pada April bulan lalu. Selama itu tak pernah sekalipun ayah mengajakku ke luar rumah untuk sekadar menikmati udara pagi. Oh, aku terlalu mendambakan yang tidak-tidak. Mewujudkan keinginanku belajar di sekolah umum saja, ayah tidak pernah, apalagi mengijinkan ke luar rumah hanya untuk bermain-main. “Pergaluan di luar rumah terlalu berbahaya untuk gadis sepertimu,” begitu kata ayah ketika kusampaikan keinginan belajar di sekolah formal.

Mungkin saking banyaknya uang ayah, ia menyewa guru untuk mengajariku di rumah. Ternyata sangat membosankan belajar tanpa teman. Guru-gurunya pun tak menarik, mereka tak bersahabat sama sekali. Jika tidak ada adzan, mungkin aku sudah bunuh diri di kamar karena jenuh dengan kehidupanku yang semakin memuakkan. Adzan bak MP3 yang selalu menyenandungkan kesepianku.

Setiap Minggu, sepulang kerja, ayah selalu membelikan novel atau buku-buku yang –menurutnya—harus kulumat habis. Niat ayah mungkin baik, memberikan hiburan kepadaku, tapi alih-alih menghiburku, buku itu semakin menyiksa batinku dan menumbuhkan benih-benih kebencian terhadap ayah. Semenjak remaja, ayah mulai melarangku menonton televisi, baginya televisi merusak moral remaja. Aku pun selalu menuruti apa maunya.

Novel-novel yang kubaca menceritakan betapa nikmatnya hidup di luar rumah, bercengkerama bersama teman-teman seumuran, dan menggambarkan menakjubkannya masa-masa sekolah. Hal itu membuatku semakin gila, semakin ingin memrotes dan melawan ayah. Apalagi saat sang penulis menceritakan kebahagian mempunyai pasangan, membangun sebuah rumah tangga, dan memiliki keturunan, cukup untuk melengkapi penderitaanku.

Saat hasrat ingin dicintai seorang lelaki tiba-tiba muncul, maka segera mungkin kulihat diriku, kenal lelaki saja tak pernah, bagaimana aku mendambakan dicintai lelaki. Coba saja bayangkan, lelaki yang kukenal hanya ayah dan tukang kebun yang bekerja di rumah kami. Ada satu hal yang ingin kuutatrakan kepada ayah. Namun setiap kali di depannya, tiba-tiba lidahku terasa kelu untuk mengungkapkan apa yang sedang bergemuruh di dalam dada.

Hingga pada suatu malam, saat ayah pulang dari kantornya dan memberikan buku yang baru saja ia beli, aku memberanikan diri untuk mengutarakan segala sesuatu yang telah kupendam sejak dulu.

“Ayah,” sapaku dengan suara lirih.

“Iya, Nduk. Ada apa?” jawabnya sembari mengelus kepalaku.

“Apakah kakek dulu memperlakukan Ayah seperti Ayah memperlakukanku?”

“Tentu saja, Nduk. Kakek dan nenek sangat menyayangi ayah. Persisi seperti ayah menyayangimu saat ini.”

“Bukan seperti itu maksudku, Yah!”

“Lantas?”

“Apakah Ayah juga tidak disekolahkan di sekolah umum dan selalu berdiam di rumah?”

Ayah tampak kaget mendengar pertanyaanku. Ia termenung beberapa saat dan kemudian berdiri dari duduknya meninggalkanku dengan tanpa meninggalkan jawaban atas pertanyaanku. Aku pun hanya diam tak berani memaksa ayah agar tetap duduk di sampingku. “Mungkin ayah lelah,” gumamku mencoba menghibur diri.

Beberapa hari berikutnya, pertanyaan malam itu seakan tak pernah terlontar dari mulutku. Ayah tak pernah sekali-kali menyinggung pertanyaan tersebut. Sedangkan aku masih saja terus berharap ayah menjawab pertanyaanku. Saat makan malam, kucoba bertanya kembali kepada ayah. Alih-alih mendapatkan jawaban, ayah malah menyeretku dan mengunciku di dalam kamar. “Jangan berisik, sebentar lagi tamu ayah akan datang!” Aku hanya diam bersandar pada daun pintu. Mataku terus meneteskan air. Aku semakin membenci ayah.

Sayup-sayup kudengar, lawan bicara ayah adalah seorang wanita. Suara ayah tak seperti orang yang habis marah. Suara dan tawa ayah masih renyah menanggapi setiap kata yang ke luar dari mulut lawan bicaranya. “Malam ini tidur sini saja, suamimu tidak pulang ke rumah kan?” Ayah menawari wanita tersebut menginap.

“Tidak usah repot-repot, nanti kalau ketahuan anakmu malah repot,” wanita tersebut menanggapi tawaran ayah.

“Ibu, maafkan ayah. Jangan kau bersedih karena ayah mengkhianatimu dan memerlakukan anak semata wayangmu seperti ini,” aku membantin sambil melihat bintang dari balik jendela kamarku. Aku berharap TOA di masjid berbunyi, setidaknya suara muazin meredakan sakit yang tengah mendera jiwa ragaku. Aku terus menunggu sambil bersandar di daun pintu. Adzan tak kunjung terdengar hingga kokok ayam jago bersahut-sahutan.

——————————————————– ψψ ———————————————-

Ayah semakin menggila dengan wanita yang tak pernah sekalipun kulihat wajahnya. Tidak seperti biasanya, kini ia selalu pulang  larut malam dengan bau minuman keras yang begitu menyengat. Tak jarang ia menginap di rumah wanitanya. Ayah semakin menggila dan aku semakin tersiksa karenanya.

Saat pulang ke rumah, ayah tak pernah lagi membawakan buku-buku seperti Minggu-minggu sebelumnya. Perhatiannya kepadaku pun semakin memudar. Ayah kembali muda, ia seakan pura-pura lupa kalau putrinya sudah genap berumur 25 tahun dan melupakan uban yang hampir menjajah rambut hitamnya.

Rumah yang awalnya kuanggap sebuah penjara, perlahan-lahan berubah menjadi neraka. Panas dan sangat menyiksa. Aku memberanikan diri untuk melangkahkan kaki meninggalkan rumah saat muazin mengumandangkan adzan.  Buat apa aku harus takut kepada ayah, jika ia saja berakhlak bejad seperti itu. Lebih mencintai gendakannya dari pada darah dagingnya sendiri.

Aku telah sampai di depan gerbang Masjid Baitur Rahman. Iya, nama tempat di mana aku sering melihat dan mendengar TOA dari balik jendela kamarku. Ternyata tak hanya kubahnya yang dihiasi tulisan kaligrafi. Di tembok-tembok masjid dipenuhi dengan tulisan Arab yang sangat indah dipandang mata.

Aku tak berani mendekat ke teras lantaran busana yang kukenakan tidak sama dengan wanita-wanita yang  masuk ke masjid.  Wanita-wanita itu memakai serba putih, yang terlihat hanya mukanya saja, sedangkan aku mengenakan rok di atas lutut dan jaket kulit yang menutupi tubuhku. Sungguh sangat kontras jika aku ikut menyelinap di antara barisan mereka.

Meskipun dihalangi kaca yang buram, mataku masih dapat melihat jelas orang-orang di dalam masjid tengah berbaris rapi, persis seperti barisan tentara. Mungkin ini adalah gaya mereka beribadah, tidak seperti aku dan ayahku saat menyembah Tuhan. Entahlah.

Saat orang-orang di dalam masjid membubarkan diri, aku masih saja berdiri di depan gerbang. Setiap orang yang melewatiku memasang pandangan sinis, hanya satu lelaki yang menyuguhkan senyum dan menundukkan kepalanya kepadaku. Aku membalasnya, tersenyum dan menundukkan setengah badan.

Entah kenapa hatiku merasa sejuk saat melihat bibirnya merekah. Senyum yang begitu tulus. Baru kali ini aku mendapatkan senyuman dari lelaki di luar rumahku. Sungguh hal yang kuimpikan selama ini saat membaca novel yang dibelikan ayah.

Masjid terlihat sepi, hanya ada satu orang tua yang tengah menggulung karpet masjid. Aku memberanikan diri memasuki area masjid. Sambil melangkah gontai aku terus memerhatikan kegiatan kakek tua tersebut. Tangan renta kakek itu sepertinya masih menyimpan ribuan volt tenaga. Sesampainya tepat di depan teras, aku memilih menghentikan langkahku dan tetap memerhatikan kakek menggulung karpet.

Tampaknya kekek renta itu menyadari ada seseorang yang memerhatikannya. Ia mendongakkan kepala dan memandang ke arahku. Aku sedikit kikuk, –mungkin—inilah pertama kalinya aku akan berbicara dengan orang-orang di luar rumahku. Kakek tua tersebut menghentikan pekerjaannya, ia berdiri dan berjalan ke arahku. Ia terdiam cukup lama memandangku. Pandangannya seperti orang yang tengah keheranan. Aku terdiam hingga kakek tersebut terlebih dahulu menyapa.

Assalamualaikum, maaf, Nduk, Anda mencari siapa?” tanya kakek tersebut sambil merekatkan kedua tangannya dan mengangkat setinggi dada.

emmmmm…. Saya mau tanya, Kek. Siapa pemilik suara merdu yang biasanya adzan di masjid ini, Kek?” tanyaku langsung pada intinya.

“Maksudmu si Syamsul?”

“Iya, Kek,” aku sebenarnya tidak tahu siapa Syamsul. Ku-iyakan agar nantinya tak membuat bingung kakek.

“Dia baru saja pulang. Rumahnya di sana, tepat di seberang jalan,” jawabnya sambil menunjuk, “kalau mau bertemu Syamsul, besok datang saja ke sini ba’da salat isya, kebetulan ia pengisi pengajian rutin masjid ini.”

“Maaf, Kek. Jam berapa besok acaranya?” aku bertanya seperti itu dengan maksud menyembunyikan ketidaktahuanku jam berapa selepas isya itu.

“Jam 8 malam, Nduk,” kakek tua tersebut mendekatkan mukanya dan melanjutkan “jangan sampai lewatkan kepandaian Syamsul dan kegantengannya. Pokoknya kalau kamu suka Syamsul itu tidak salah, Syamsul ganteng dan kamu sangat cantik.”

Aku tersenyum mendengar ucapannya. “Kakek bisa saja,” kataku kemudian memohon pamit. Nama Syamsul dan lelaki yang memberiku senyum di depan masjid tadi menjadi teman perjalananku menuju ke rumah. Hatiku semakin berdebar menunggu esok segera tiba.

———————————————- ψψ ————————————————

Langkah kakiku tiba-tiba terhenti ketika mendapati pintu rumah terbuka lebar. Tak ada yang kupikirkan selain kemurkaan ayah. Aku sangat yakin, yang membuka pintu tersebut adalah ayah. Tidak mungkin Mbok Narti, pembantuku, berani membuka rumah pada malam seperti ini.

Mukaku berubah menjadi pucat pasi. Langkah kakiku terasa semakin berat menopang tubuh yang tiba-tiba lemas dan gemetaran. Semakin banyak langkahku mendekati daun pintu rumah, berarti semakin dekat dengan sebuah masalah dan pelampiasan amarah yang menggebu. Saat memasuki rumah, aku berjalan jinjit dengan harapan ayah tak mengetahui kepulanganku. Kunaiki tangga dan akhirnya langkah kakiku terhenti oleh teriakan ayah.

“Dari mana saja kamu?” Suara ayah seperti petir yang menggelegar dengan kilatan-kilatan yang menyambar, mengerikan. Baru kali ini aku mendengar suara ayah yang sepertinya sangat murka. Sentak jantungku berdegup seperti pelari maraton yang telah mengarungi jalanan berkilo-kilo meter.

“Kamu dari mana? Jawab!” Ayah berteriak semakin kencang. Ia berdiri di depanku sambil berkacak pinggang. Aku sendiri diam dan menundukkan kepala, tanpa terasa dan bisa ditahan, aku menangis. “Kamu ditanya orang tua diam saja. Kamu dari mana?” Kini ayah tidak hanya bertanya, tangan kirinya memegang daguku dan memaksa wajahku mendongak.

“Aku,,, aku dar…..” “plak…plak…” belum selesai menjawab, tangan ayah bergantian menghantam kedua pipiku. Mukaku merah padam akibat tamparannya dan rasa takut yang semakin menjadi-jadi. Ayah menarik bajuku hingga badanku terjatuh di atas lantai. Kemudian ia menyeretku menuju kamar, dan seperti biasa aku dikunci di dalam hingga Mbok Narti yang akan membukakan pintu mengantarkan makanan tanpa sepengetahuan ayah.

Aku menangis sesenggukan di dalam kamar. Buku-buku yang tersusun rapi di rak seperti tak mau peduli dengan keadaanku saat ini. TOA tak mungkin menghiburku karena jam menunjukkan pukul 20.00 WIB. Aku tak akan berhenti menangis malam ini, akan kuhabiskan semua air mataku, agar besok terlihat lebih kuat ketika ayah sedang murka kepadaku.

Herannya, kemarahan ayah tak membuatku gentar untuk datang di acara pengajian besok. Bagiku, kemarahan ayah seperti bensin yang menyiram bara api benih cintaku kepada pelantun adzan di masjid dekat rumah. Meskipun aku belum melihat perawakan Syamsul, hatiku begitu yakin dan mantap jika ia adalah orang baik.

TOA mengeluarkan bunyi bersamaan dengan kokok pertama ayam jago. Mataka sedikit demi sedikit terbuka, rasanya sakit lantaran semalam tanpa henti mengucurkan air mata. Aku bangkit dari kasur dan langsung menuju jendela yang sering kugunakan untuk mendengar adzan dan melihat kubah berkaligrafi.

Dari tempatku duduk, aku bisa melihat jelas rumah-rumah di sekitar masjid bergantian menyalakan lampu. Persis seperti kawanan kunang-kunang yang baru saja bangun dari tidur. Mungkin orang-orang itu sama denganku, tak mau melewatkan suara merdu Syamsul. Aku semakin tak sabar menanti Isya’ datang.

Jika aku ingin mengikuti acara di masjid, berarti harus mengenakan pakaian yang sama dengan wanita-wanita berseragam putih yang kulihat kemarin. Entah apa namanya, aku tak begitu tahu. Selama hidup, aku tak pernah mengetahui orang-orang di rumahku mengenakan pakaian tersebut. Tapi, tiba-tiba aku teringat Mbok Narti, kalau tidak salah ia pernah kupergoki melakukan gerakan seperti orang-orang yang tengah sembahyang di masjid kemarin, lengkap dengan seragamnya.

Matahari sudah terlihat sempurna, namun Mbok Narti tak kunjung membuka pintu untuk mengantarkan sarapanku. Selain perutku sudah terasa lapar, ada satu hal yang ingin kutanyakan kepada Mbok Narti.

Sepertinya ayah belum berangkat ke kantornya. Makanya, Mbok Narti tak kunjung membuka pintu kamarku dan menenteng makanan. Beberapa saat setelah suara mobil ayah tak terdengar lagi dari dalam kamarku, dengan jelas kudengar seseorang mengetuk pintu.

“Masuk saja, Mbok!” teriakku menyambut pengetuk pintu itu. “ceklek…ceklek….” dan pintu kamarku terbuka disusul wanita setengah baya bertubuh gempal menenteng nampan berisi sepiring nasi goreng dan segelas susu putih.

“Sarapan dulu, Non.”

“Iya, Mbok, terimakasih banyak.”

“Mata Nona kok bengkak seperti itu?” Mbok Narti tampaknya khawatir dan iba melihat kondisiku saat ini. Mbok Nartilah yang paling sering memerhatikanku setelah ayah mulai menggila. Sosok keibuannya terkadang membuatku tenang dan nyaman.

“Iya, Mbok.” Mbok Narti duduk di kasurku. Tampaknya ia ingin mengetahui kejadian semalam.

“Semalam Nona ke luar rumah untuk pergi ke masjid?” Mbok Narti terlihat sangat kaget ketika kuceritakan sebab kemurkaan ayah.

“Tapi sepertinya ayah tidak tahu kalau aku pergi ke masjid, Mbok,” sambungku.

Mbok Narti berkaca-kaca. Barangkali ia kasihan melihat kehidupanku. Sudah 15 tahun Mbok Narti bekreja di rumah. Ia mengetahui betul tabiat ayah dan kondisiku. “Mbok,,, Mbok,,, Mbok!” ujarku memanggil Mbok Narti.

“Oh dalem[1], Non. Maaf, Mbok malah melamun. Ada apa, Non? Mau diambilkan air putih lagi?”

“Tidak, Mbok. Apa Mbok punya seragam yang biasa dipakai wanita di masjid?”

“Maksudnya, Non, rukuh?”

“Saya kurang tahu, Mbok. Apa Mbok punya rukuh itu? Saya pernah melihat Mbok mengenakannya di kamar.”

“Punya sih, Non. Tapi rukuhnya mbok sudah sangat lusuh dan dekil. Memang mau dipakai apa, Non?”

“Aku mau ikut pengajian di masjid, Mbok!”

“Apa, Non?” Mulut Mbok Narti menganga mendengar jawabanku. “Jangan, Non. Kasihan Nona kalau ketahuan bapak.”

“Sudah tidak apa-apa, Mbok. Mbok bisa membelikan saya mukena baru? Nanti uangnya saya kasih.”

“Bisa, Non, tapi….” Aku memeluk Mbok Narti dengan erat. Selama 15 tahun baru kali ini akau memeluknya. Kuberikan Mbok Narti dua uang bergambar Soekarno. “Yasudah cepetan dimakan sarapannya, Non”

Beberapa jam kemudian Mbok Narti kembali dengan menenteng tas kertas besar. Aku semakin tak sabar melihat mukena baruku. Di dalam tas yang ditenteng Mbok Narti tersebut, ternyata tak hanya berisi mukena saja, ada selembar kain dan sebuah baju gamis, keduanya memunyai warna yang serasi. Setelah bertanya kepada Mbok Narti, aku baru mengerti bahwa selembar kain itu adalah hijab untuk menutup kepala. “Aku harus memakai ini juga, Mbok?” tanyaku polos.

Mbok Narti malah tertawa mendengar pertanyaanku. “Iyalah, Non. Rambut cantik non harus ditutup kalau berada di dalam Masjid.” Mbok Narti menyuruhku mencoba gamis yang baru saja ia beli.

Subhanallah, Nonan cantik sekali.”

Aku tersenyum melihat mimik wajah Mbok Narti. “Eh, Non, kenapa tiba-tiba ingin ikut pengajian di masjid?” Tanya Mbok Narti sambil memasangkan hijab di kepalaku.

“Tidak ada apa-apa, Mbok. Aku hanya ingin mencari angin saja.” Aku mengerti apa yang tengah dipikirkan Mbok Narti. Meskipun berbeda keyakinan, tak sekalipun Mbok Narti menyinggung dan membenciku terkait masalah itu. “Mbok tidak usah khawatir, aku akan baik-baik saja.”

Mbok Narti hanya terdiam sambari terus merias diriku. Aku sendiri terdiam melihat dari kaca kelincahan tangan Mbok Narti menancapkan jarum pentul. Setelah selesai kupandangi lekat-lekat wajahku. Jujur aku sendiri takjub melihat perubahanku. Aku terlihat lebih anggun dan wajahku terlihat manis. Sekarang aku sudah mirip dengan wanita-wanita kemarin.

“Mbok takut, Non. Mbok tidak membayangkan bagaimana jika bapak memergoki, Non.”

“Sudahlah, Mbok!” Kupegang tangan Mbok Narti yang sudah mulai keriput. “Dukunglah saya dalam proses menikmati hidup ini, Mbok. Sudah saatnya aku mencari jalan hidupku sendiri. Aku tak mau dikengkang lagi, Mbok. Aku sudah dewasa, sudah saatnya memkirkan masa depanku sendiri. Sudah cukup ayah mengurungku dan menjajah kebebasan hidupku, hakku belajar di sekolah formal, dan menikmari masa mudaku bersama teman. Aku akan menuruti semua keinginanku dan mencari keyakinanku. Lihat, Mbok, apakah 25 tahun itu waktu yang sebentar?”

Mbok Narti memelukku dan berbisik , “Sabar, Non”. Kami berpelukan dan menangis bersama-sama. Aku bukan lagi gadis dewasa yang tengah terpenjara. Ragaku sudah terbang dan terbebas dari tembok rumah yang membuat dekil pengetahuanku akan hidup ini. Aku akan terus berjalan sampai kakiku tak lagi bisa dipergunakan.

———————————————- ψψ ———————————————-

Matahari sudah terbenam sejak sejam yang lalu. Aku sendiri masih mondar-mandir di dalam kamar. Mbok Narti sepertinya sudah tidur di dalam kamarnya karena kelelahan membersihkan rumah dan meriasku seharian. Sesekali aku mengaca, memastikan apakah dandananku sudah bagus. Tak lupa kusemprotkan minyak wangi keseluruh tubuhku. Baru kali ini aku merasa begitu gelisah.

Sebenarnya kerudung yang  kukenakan membuat gerah, tapi apa boleh buat, aku harus memakainya jika ingin melihat muazin yang telah kukagumi bertahun-tahun lamanya. Aku melangkahkan kaki tanpa ragu, dan  tak terbersit sedikitpun ketika ayah akan menamparku saat pulang nanti. Toh Mbok Narti sudah kuajak bekerja sama. Bilang saja “tidak tahu” kalau ayah menanyakan keberadaanku. Aku berharap ayah tidak pulang ke rumah malam ini. Biarkan saja ia kelayaban bersama para gendakannya.

Adzan berkumandang saat aku menyusuri jalan paving yang menghubungkan rumahku dengan masjid. Jaraknya tak terlalu jauh,  hanya membutuhkan waktu 5 menit berjalan kaki. Sesampainya di gerbang masjid, lelaki yang memberiku senyuman kemarin kulihat bercakap-cakap dengan beberapa orang di dalam masjid. Ia memakai baju berwarna hijau dan sarung kotak-kotak hitam, senyumnya begitu enak dilihat, meskipun dari kejauhan.

Aku menguntit di belakang wanita seumuranku yang memasuki masjid, sampai aku tak menyadari saat ini berada di tempat kran berjajar rapi. Aku berdiri tanpa mengerti lebih jelas apa yang sedang dilakukan orang-orang ini. Mereka mengusap-usap wajah, tangan, kepala, telinga, hingga kaki. Dari semua orang yang masuk di sini, mereka mengerjakan hal yang sama. Aku sendiri masih diam melihat pemandangan aneh yang baru kali ini kulihat.

“Nduk tidak wudu?” lamunanku terbuyarkan oleh pertanyaan seorang nenek. “Sebentar lagi iqomah, lho.”

“Iya, Nek. Silahkan nenek dulu,” jawabku sembari memberikan senyum terbaik. Wudu dan iqomah, dua kata yang baru saja masuk dalam perbendaharaan bahasaku. Apakah kegiatan mencuci muka sampai kaki itu disebut wudu? Kalau begitu, iqomah itu yang seperti apa? Apa airnya habis, atau bagaimana? Entahlah.

Kuletakkan mukena yang sedari tadi kutenteng di meja dekat pintu. Meskipun kikuk, aku mencoba meniru kegiatan yang dilakukan para wanita tadi. Fatal, sehabis membasahi tangan, anggota tubuh mana lagi yang harus kubasahi. Kuyakinkan diriku untuk membasahi telinga, kemudian kepala dan kaki.

Ketika selesai mencuci beberapa anggota tubuh tersebut, aku segera membalikkan badan dan membetulkan kerudungku. “Glekk…” aku menelan ludah saat mengetahui nenek yang menyapaku tadi berdiri dan memerhatikanku. Ia tersenyum dan kemudian berujar, “Ayo, Nduk, kita masuk masjid, sudah iqomah.” Nah, terimakasih, Nek. Sekarang aku tahu apa itu iqomah, kata-katanya seperti adzan tapi hanya diucapkan satu kali. Iya, pasti itu yang dinamakan iqomah.

Aku dan nenek tadi bersebelahan. Masjid ini terlihat lebih sesak dibandingkan kemarin. Mungkin karena hari ini ada pengajian, jadi masyarakat menyempatkan diri untuk datang ke masjid atau kemarin aku hanya melihat dari luar masjid saja.

Allahuakbar,,,” suara lelaki di depan terdengar jelas. Setelah itu, semua orang di dalam masjid, kecuali aku, mengangkat tangan dan bersedekap. Sedangkan aku menoleh ke kanan dan ke kiri, aku bingung dengan keadaan ini. Akhirnya aku mengikuti apa yang dilakukan semua orang.

Sudah beberapa gerakan kuikuti, aku semakin memahami, saat pemimpin mengucap “Allahuakbar”, artinya kami harus merubah posisi, mulai dari berdiri sampai duduk. Dan ketika menengok ke kanan kemudian ke kiri, berarti ritual ini telah selesai.

Sepertinya pemilik suara yang mengomandoi ritual ini tak terlalu asing di telingaku. Suaranya merdu, tak jauh beda dengan suara muazin yang adzannya sudah kusimpan rapi dalam hati. “Jangan-jangan pemilik suara itu adalah pemilik suara adzan,” batinku dalam hati.

Semua orang khusyu’ mendengarkan pengajian yang disampaikan Ustadz Syamsul. Suaranya khas, renyah sekali didengarkan telinga. Namun sayang, keinginanku untuk melihat sosok sang muazin tersebut belum terwujud. Satir yang memisahkan jama’ah laki-laki dan perempuan terlalu tinggi dan menutupi pandangan. Rasa kecewa dan sedih perlahan-lahan mulai menjalar dalam diriku.

“Seburuk apapun orang tua kita, jangan sekali-kali melawannya, bahkan berpikir untuk melawannya pun jangan…..” begitu yang diutarakan Ustadz Syamsul. Entah kenapa, aku tak bisa menerima kata-kata itu. Kenapa mesti menghormati orang tua yang tak lagi memunyai kasih sayang? Kenapa? Aku terus membatin. Hingga nenek di sampingku menepuk pundakku.

“Nduk, kamu orang mana?” tanyanya.

Jawaban apa yang kiranya pas untuk menjawab pertanyaan tersebut. Jika aku berkata apa adanya, mungkin nenek itu akan bereaksi tak selembut ini lagi. Jika aku berbohong?

“Apa kamu orang desa sini, Nduk? Tapi seumur hidup, nenek tidak pernah melihat muslimah secantik kamu,” nenek tersebut melanjutkan omongannya.

Emmmm,” aku tersenyum. “Saya baru saja pindah, Nek. Saya warga baru di desa ini.”

“Oh begitu. Tinggalnya di mana?”

“Saya ngekos di sebelah,” jawabku asal. Untung saja nenek tersebut tidak mengintrogasi lebih lanjut tentang tempat tinggalku.

“Oh iya, namamu siapa, Nduk?” lagi-lagi nenek ini menanyaiku dengan pertanyaan yang sangat susah dijawab.

Aku benar-benar bingung harus mengaku siapa, tak mungkin aku menggunakan nama asliku. “Nama saya Fatimah, Nek. Nenek namanya siapa?” aku terpaksa menggunakan nama almarhum ibuku.

Nenek itu terkejut mendengar jawabanku. “Pantas, sangat pantas nama itu untukmu, Nduk. Jujur, Nduk, pertama kali aku melihatmu, aku teringat dengan teman anakku. Sungguh wajah dan namamu mirip dengannya. Nama nenek adalah Mar’ah.”

Kami bercakap-cakap hingga melupakan niat awal masing-masing, aku ingin melihat Syamsul dan nenek ingin mengikuti pengajian. Karena penasaran dengan ucapanan nenek Mar’ah, aku pun bertanya, “Memangnya temannya anak nenek tersebut sangat mirip denganku?”

“Iya.”

“Dia tinggal di mana, Nek?” aku sangat penasaran, jangan-jangan yang dimaksud nenek ini adalah ibuku.

“Dia tinggal tak jauh dari sini. Sayang sekali ia sudah tidak ada. Hidup dengan suaminya yang berbeda kepercayaan masalah agama terlalu berat. Apalagi saat ia dipukuli suaminya lantaran ingin mengIslamkan anaknya, pasti hal itu semakin membuatnya seperti hidup di neraka. Sampai sekarang, tak ada orang desa yang pernah melihat anaknya tersebut. Menurut rumor yang beredar, bapaknya selalu mengurungnya. Tapi entahlah,” ujar nenek tersebut.

Mataku berkaca-kaca mendengar penuturan Nek Mar’ah. Benar sekali dugaanku, wanita yang ia maksud mirip denganku adalah ibuku sendiri. Aku menahan sekuat tenaga agar air mataku tidak jatuh. Meskipun baru kutahu hanya nenek ini yang menilai keluargaku, rasanya cukup untuk menambah beban di pikiranku. Warga desa lain mungkin juga tak jauh beda dengan penilaian Nek Mar’ah.

Nek Mar’ah melanjutkan ceritanya, “Aku termotivasi olehnya. Termotivasi oleh ketaatannya dan keberaniannya untuk melakukan apa yang ia  yakini kebenarannya. Meskipun kadang-kadang, keberaniannya membuahkan tamparan dan siksaan dari suaminya, tapi tak sekalipun Fatimah berhenti memperjuangkan keyakinannya.”

Aku tak tahan lagi. Aku menangis sesenggukan di depan Nek Mar’ah. Nek Mar’ah mungkin heran melihatku menangis seperti itu. “Kamu kenapa, Nduk?” tanyanya. Aku segera menyeka air mata. “Tidak apa-apa, Nek. Aku cuma terharu mendengar cerita nenek.”

Tak terasa pengajian telah usai. Jama’ah yang lain berbondong-bondong meninggalkan masjid. Sedangkan aku dan Nek Mar’ah masih duduk dan bercengkerama, hingga terdengar suara ketukan pada kaca. Kami bedua menoleh ke belakang. Betapa terkejutnya diriku mendapati siapa yang mengetuk kaca. Iya, lelaki yang memberiku senyuman tempo hari. Sama halnya denganku, lelaki tersebut tampak terkejut melihatku. Kami berpandangan cukup lama.

“Nduk, nenek pulang dulu, ya. Itu cucu nenek sudah menjemput. Kapan-kapan kita lanjutkan lagi percakapannya, atau Nduk Fatimah ingin berkunjung ke rumah nenek?”

“Iya, Nek. Kapan-kapan saya akan berkunjung ke rumah nenek.”

Nek Mar’ah bangkit dari duduknya, setelah sampai di depan cucunya, terjadi sedikit percakapan. Entah apa yang mereka bicarakan. Aku masih memperhatikan mereka berdua. Lelaki pemberi senyum itu kembali menoleh ke arahku, tersenyum, menundukkan kepala dan pergi begitu saja.

Aku ikut bangkit dan meninggalkan masjid. Kutengok tempat jama’ah laki-laki dengan harapan masih ada kesempatan melihat muka pemilik suara merdu. Namun, di dalam masjid hanya ada kakek yang tempo hari berbicara kepadaku. “Mungkin belum jodohku” aku memutar badan dan melangkahkan kaki menuju rumah.

Di jalan aku terus terpikirkan cerita Nek Mar’ah. Jangan-jangan dulu ibu juga mengendap-endap seperti diriku saat ini. Selalu berkecamuk rasa gelisah saat menuju rumah. Selalu berani tapi juga ngeri mendapatkan kepalan tangan ayah. Aku begitu yakin yang diceritakan Nek Mar’ah adalah keluargaku, juga ibuku yang selalu memasang muka ceria dan kuat di depanku meskipun hatinya hancur berkeping-keping. Setidaknya aku mempunyai motivasi baru dalam menjalani kehidupan yang menyesakkan dada ini.

Pintu rumah masih tertutup rapat. Sepertinya malam ini memang ayah tak pulang ke rumah. Aku berjalan dengan tenang, tak ada lagi yang perlu kutakutkan. Kubuka pintu, sentak kakiku terhenti, jantungku berdegub kencang, nafasku berubah menjadi ngos-ngosan, dan kebencianku semakin memuncak ketika melihat ayah tengah tidur di sofa bersama gendakannya. Botol-botol minuman keras berantakan di atas meja. Ayah mabuk.

Ingin rasanya kujambak rambut pelacur yang merebut kasih sayang ayah dariku. Namun aku menyadari, tak seharusnya hanya pelacur itu yang kubenci, jika ayah orang yang baik tak mungkin pulang membawa anjing yang doyan menjilat kemaluan majikannya. Kucoba meredam amarah yang semakin bergemuruh di dalam dada. Aku segera beringsut menaiki tangga menuju kamarku dengan berlinang air mata.

Bagaimana bisa ayah setega itu kepadaku. Apa tak pernah terpikirkan memiliki anak berumur 25 tahun yang masih gadis dan sudah pantas mendapatkan seorang pasangan? Lha ini kok malah tega-teganya membawa gendakan  ke rumah.

Kuhempaskan tubuhku di atas kasur. Kerudung yang seharian ini menutupi kepalaku kubuka dan kulemparkan hingga menabrak jendela kamar. Tak terkecuali semua barang yang masih bisa kurengkuh, tak ada yang selamat. Foto-foto ayah yang kupajang di tembok-tembok juga menjadi sasaran kemarahanku.

Malam cumbu aku dengan segenap bintang dan rembulanmu. Jangan biarkan aku menghabiskan air mata ini sendirian. Hilangkan ingatanku tentang malam ini. Bantulah aku memejamkan mata dan segeralah kau curi kenangan pahit dalam hidupku, agar saat bangun nanti aku menjadi pribadi yang sempurna, sesempurna pekatmu tanpa sinar mentari.

———————————————- ψψ ————————————————

Meski sakit di dalam dadaku terus menusuk, kejadian yang terkam oleh mataku semalam perlahan-lahan mulai kuhapuskan. Meskipun sulit, aku tak ingin mengingat kelakuan biadab ayah. Sejelek apapun kelakuannya, ia tetaplah orang tua yang telah membesarkanku.

Menyesali tindakan ayah tak sebesar rasa penasaranku terhadap muadzin yang suaranya mampu melayukan kesadaranku. Aku bertekad untuk terus mengikuti semua kegiatan di masjid. Apapun risikonya, tak terlalu kupedulikan. Aku akan terus melawan ayah untuk memerdekakan diriku. 25 tahun untuk mngabdikan diri kepadanya bukanlah waktu yang singkat. Meski aku juga sadar, bahwa pengabdian tidak seharusnya terbatas waktu.

Pagi ini aku ikut Mbok Narti berbelanja ke pasar. Bukan untuk ikut memilah sayuran, melainkan membeli buku tata cara salat.  Setelah mencari-cari dan memutari hampir seluruh sudut pasar, akhirnya aku menemukan toko buku yang di depannya terpampang tulisan besar “Menjual Buku Bekas”. Buku-buku lusuh yang kertasnya telah menguning tertumpuk rapi di rak-rak yang sedikit berdebu. Meskipun toko ini besar, tampaknya tak dibarengi dengan pembeli yang banyak pula. Hanya orang-orang yang membutuhkan buku-buku yang tak lagi dijual di toko penerbitlah yang mengungjungi toko ini.

Di dalam toko bapak setengah baya, mengenakan peci, baju koko, dan sarung tampak duduk membaca buku berwarna kuning. “Selamat pagi, Pak,” sapaku.

Sambil tersenyum dan menutup bukunya, bapak tersebut juga menyapaku. “Ada yang bisa saya bantu, Dek?”

“Emmmm…. saya mau beli buku-buku tentang Islam, Pak. Apakah bapak bisa membantu saya mencari?” Meski tak terlihat jelas, aku menangkap ekspresi matanya dari balik kacama mata yang ia kenakan, bapak ini seperti orang heran melihat penampilanku yang memakai celana pendek di atas lutut dan kaus oblong.

“Ada, Dek. Tunggu sebentar, ya, bapak carikan.” Bapak yang ternyata sang empu toko tersebut mengambil beberapa buku dari rak. “Ini buku-bukunya.”

Kubuka satu persatu buku-buku tersebut di atas meja, tak ada satupun dari buku tersebut yang kumengerti bahasa dan maksudnya. Kertasny berwarna kuning dengan tulisan Arab tanpa harokat yang berjajar rapi, membuat pusing mata. “Bapak, mohon maaf, adakah buku untuk belajarnya anak-anak TK?”  Aku bertanya dengan kalimat demikian agar tak terlalu malu.

“Oh, kalau itu pasti ada. Ini buku untuk belajar salat dan ini untuk belajar membaca Alquran,” Bapak penjual tersebut meletakkan satu persatu buku yang dipegangnya. “Memangnya Adek ini membelikan buku untuk siapa?”

“Untuk keponakan saya di rumah, Pak. Mumpung dia terlihat semangat. Oh iya, ini semua harganya berapa, Pak?”

“20 ribu, Dek.”

Setelah membayar, bapak yang mengaku namanya Syamsuddin itu membungkus buku-buku yang kubeli. “Terimakasih, Pak. Kapan-kapan saya akan mampir ke sini lagi.” Aku memohon pamit dan tak sabar ingin segera memelajari isi buku yang baru saja kubeli.

Sesampainya di rumah, kupelajari terlebih dahulu buku-buku yang di dalamnya terdapat gambar gerakan orang salat. Aku meniru gambar-gambar tersebut berulangkali hingga hafal di luar kepala, tanpa mengetahui bacaan apa yang harus kubaca. Intinya aku harus menguasai terlebih dalu gerakannya, agar tidak memalukan ketika ikut berjama’ah di masjid.

Malam yang kunantikan telah tiba. Kali ini tanpa ragu kulangkahkan kaki menuju masjid. Jika dilihat dari luar, gaya berpakaianku juga telah memenuhi standar orang-orang yang beribadah di masjid, mengenakan pakaian yang hanya memerlihatkan muka dan telapak tanganku. Hanya saja –barangkali—niatku dan orang muslim tersebut yang berbeda. Mereka berbondong-bondong ke masjid untuk mencari ridla Tuhan, sedangkan aku hanya dengan misi bertemu muadzin yang suaranya masih mengendap dalam otakku.

“Fatimah, apa kabarmu, Nduk?” Sapa nenek yang tempo hari memergokiku salah mengambil air wudlu. Pelan namun pasti ia berjalan mendekatiku. Meskipun sudah sangat berumur, nenek satu ini masih terlihat segar dan bersemangat.

“Baik, Nek. Nenek bagaimana kabarnya?” Kami berbicara di bawah gerbang masjid. Para jama’ah satu persatu melewati kami menuju peraduan masing-masing. Sesekali ada jama’ah yang menyapa Nek Mar’ah atau sekadar memberikan senyuman kepadanya.

“Nyai Mar’ah nunggu Syamsul?” Sapa lelaki berwajah teduh setelah bersalaman dan mencium tangan Nek Mar’ah. Tatapan lelaki tersebut menyiratkan rasa ingin bertanya tatkala memandangku.

“Tidak, Ki. Syamsulnya sedang di rumah kakeknya, di Kudus. Mungkin dia menginap di sana selama beberapa hari.”

Rasa kaget dan semakin penasaran berkecamuk di dalam hatiku ketika Nek Mar’ah menyebut nama Syamsul. Dalam hati aku bertanya, siapa gerangan pemilik nama tersebut? Ada hubungan apa Nek Mar’ah dengan Syamsul sehingga ia tahu di mana Syamsul berada. Pantas saja suara muadzin hari ini tak seperti biasanya.

“Oh, padahal besok mau saya ajak ke pesantren, Nyi. Saya minta bantu ngajar santri di sana.”

“Oh, iya. Kenalkan, Ki, ini Fatimah. Warga baru kampung kita,” Nek Mar’ah mengenalkanku dengan lelaki bernama Rizki tersebut. Rizki memberikan telapak tangannya dengan maksud mengajak bersalaman, namun Nek Mar’ah segera menangkis tangan Rizqi. “Ingat, bukan mahram.

“Bercanda, Nyi. Hehehe. Yasudah saya pamit undur diri dulu, Nyi. Saya mau nganter bapak ke rumah Kiai Hasbi, ada tahlilan katanya.” Rizki kembali menyalami Nek Mar’ah dan meninggalkan kami berdua.

Kami melanjutkan perbincangan. Aku tak berani bertanya perihal Syamsul, sedangkan Nek Mar’ah malah menceritakan Rizki. “Maafkan tingkahnya, ya, Nduk. Sebenarnya Rizki anakk yang baik dan cerdas, tapi sayang, ia terlalu banyak bercanda, persis seperti abahnya. Ya, seperti itulah cucu nenek yang satu ini.”

“Iya, Nek. Tidak apa-apa kok, Nek.”

“Nduk, kamu buru-buru pulang? Kalau tidak buru-buru pulang, bagaimana kalau Nduk Fatimah antarkan nenek ke rumah!”

“Ayo, Nek, saya antarkan pulang,” aku mengiyakan tawaran Nek Mar’ah bukan tanpa alasan. Barangkali aku bisa menemukan petunjuk dan semakin mendekatkanku pada keinginan bertemu dengan muadzin yang lama kudambakan tersebut.

Aku berjalan sambil menggandeng tangan Nek Mar’ah. Tangan yang hangat tersebut sepertinya sudah berpuluh tahun merasakan panas dinginnya iklim di Jakarta. Kami berjalan menyusuri gang-gang kecil yang temboknya dipenuhi dengan coret-coretan umpatan untuk pemerintah.

Rumah Nek Mar’ah ternyata tak terlalu jauh dari masjid. Hanya butuh 3 menit, kami telah sampai di rumah sederhana namun berhalaman luas. Pepohonan yang berjajar rapi pada halaman ini menambah kesan sejuk rumah Nek Mar’ah. Apalagi saat angin berhembus pelan menggoyang-goyangkan dahan, hati ini semakin tak mau pulang. Entah kenapa, rumah ini sangat sejuk dan menenteramkan.

Aku hanya diam memandangi halaman yang diterangi lampu temaram. Angin tak ubahnya seperti pengiring hati yang tiba-tiba gundah memikirkan sesuatu yang aku sendiri tak bisa memahaminya. Ingin sekali kuutarakan semua cerita tentang diriku kepada Nek Mar’ah, namun aku belum memunyai keberanian lebih. Saat ini, yang terus bergelanyutan dalam otakku adalah Syamsul yang sangat misterius.

“Silahkan diminum, Nduk,” Nek Mar’ah meletakkan secangkir teh di atas meja.

“Nek, bolehkah saya mengakui satu hal kepada Nenek?”

“Apa itu, Nduk?” Nek Mar’ah tampak serius menanggapi pertanyaanku. Ia duduk di sampingku sembari memeluk nampan.

“Sebenarnya, aku ini…” kuceritakan siapa sebenarnya diriku. Aku tak tahan untuk tidak meneteskan air mata.

“Jadi selama ini kamu menjalani hidup hanya di dalam rumah, Nduk? Sungguh malang sekali nasibmu. Bagaimana jika Fatimah masih hidup, mungkin ia akan sangat bersedih. Terus agamamu?”

“Aku mengikuti agama Ayah, Nek!”

“Maafkan nenek karena bertanya mengenai keyakinanmu, Nduk!”

“Tidak apa-apa, Nek. Akhir-akhir ini, hatiku merasa tenang lantaran mendengar adzan. Karena adzan itulah, aku memberanikan diri pergi ke masjid. Aku tidak takut lagi dengan segala bentuk kekerasan yang dilakukan Ayah. Aku ingin merdeka dan memilih keyakinanku sendiri, Nek!” Aku hanya mengutarakan sudut lain dari hatiku. Alasan terbesarku mendekat ke masjid untuk bertemu Syamsul tidak kubahas sama sekali.

“Kamu memang seperti ibumu, Nduk! Ibumu akan bangga melihat anaknya seperti ini,” Mata Nek Mar’ah tak kuasa menahan air mata. Tangisnya pecah di malam yang tiba-tiba sunyi. Kami terus bercengkerama. Nek Mar’ah menceritakan tentang ibu dan aku menceritakan masa kecilku. Tak sekalipun Syamsul kubahas dalam obrolan itu.

 

[1] Dalem (Bahasa Jawa): kata untuk menjawab panggilan.

Iklan

Bijaklah dalam Berkomentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.