Bagian I

Pati, Maret 2011

Sore hari ini, Guyangan layaknya ruangan kecil yang setiap pojoknya dipasang mesin kipas. Angin bertiup dari berbagai arah, tak teratur. Hembusannya ramah dan pelan namun mampu membuat rambut ikalku menari mengikuti racikan iramanya. Inilah kegiatanku saban senja menjelang. Merasakan kenikmatan belaian angin dan memandang mentari terbenam sembari komat-kamit mengeja bait demi bait kitab kecil bertuliskan qowaidul fiqhiah di covernya.

Angin masih berhembus sepoi. Menerobos setiap lubang dan sela-sela bangunan yang hampir semua catnya dominan warna hijau. Angin yang merangsang dan membangunkan saraf-saraf yang sempat tertidur sejenak. Sesekali tiupannya kencang dari utara. Angin kiriman dari pantai itu menerbangkan debu-debu yang tak bisa diliat jelas oleh mata dan melambai-lambaikan baju jemuran para santri.

Kupejamkan mata, mencoba mereka puing-puing ingatan menjadi sebuah kisah yang beralur dan utuh. Dalam bayangan, aku seakan tengah duduk di depan laptop, menonton kisahku ketika pertama kali menginjakkan kaki sampai di ujung tanduk menimba ilmu di pesantren ini.

Suara gelak canda tawa, komat-kamit santri melantunkan hafalannya, menjemur pakaian, sampai menonton santriwati yang pulang seklolah selalu kutemui setiap sore di lantai empat asrama putra. Kadang pun aku demikian jika sedang suntuk,  lantai empat inilah ladang untuk saling berbagi keluh kesah dengan teman yang lain, ladang untuk melepas benih-benih kebosanan.

Aku tak mengacuhkan pemandangan sore ini. Kufokuskan pikiranku untuk mereka peristiwa yang telah menjadi sejarah itu. Namun tiba-tiba, kurasakan sebuah tepukan di pundak kiriku. Sentak, lamunanku membuyar dan mataku mencari siapa pemilik tangan yang menepuk pundakku. Ketika kudapati pemilik tangan, aku hanya diam dan memamerkan gigiku yang tak begitu rata kepadanya.

Pringas-pringis,”[1]  katanya menanggapi senyumanku.

Hehehehe,,, tumben sore-sore begini naik, Mas?” tanyaku.

“Iya, lagi abis nyuci, mau jemur baju. Busyet, pegangannya kitab terus,” sindirnya.

“Lha mau gimana lagi, Mas. Aku ngeri membayangkan munaqosah[2].”

“Makanya jangan dibayangkan! Kenapa mesti ngeri kalau belum tahu sendiri bagaimana rasanya munaqosah? Yang membuat hidup ini nikmat untuk dijalani karena kita belum tahu apa yang terjadi besok atau bahkan satu detik setelah ini. Yang membuat hidup ini indah adalah misteri itu!”

Begitulah kawan satu ini menyadarkanku. Kata yang keluar dari mulutnya memang selalu bijak. Hal itu maklum, karena dia adalah orang nomor satu di pesantren putra. Namun, kesadaran itu tak bisa membersihkan serpihan-serpihan ketakutan akan munaqosah, ujian madrasah yang katanya mengerikan itu.

Pernah ketika liburan datang, sepupuku yang telah menjadi alumni bercerita kepadaku. “Sungguh-sungguh kalau belajar. Biar munaqosahnya lulus. Tak hanya kamu yang menanggung malu jika tidak lulus, tapi orang tuamu juga. Karena ketika tes munaqosah semua wali santri hadir, termasuk orang tuamu!”

Pesan itu selalu terngiang dalam ingatan dan memperkokoh pondasi-pondasi kegelisahan. Jika aku mau lulus, aku harus sungguh-sungguh menghafal juz amma, mempelajari ilmu alat[3] agar bisa membaca tulisan Arab gundul, dan melancarkan hiwar dan conversation. Empat syarat itu harga mati untuk dikuasai, jika menginginkan predikat lulus dan tak ingin memermalukan orang tua di depan wali santri yang lain.

Yah, malah melamun!”

Oh eh,,,” jawabku salah tingkah.

“Gimana perkembangan anak-anak yang masuk pengawasanmu? Hafalan mereka?”

“Alhamdulillah, meskipun mereka sering mengeluh, mereka masih menyetorkan hafalannya kepadaku. Kuwajibkan untuk menghafal dan harus setoran kepadaku minimal lima bait sehari, Mas. Biar mereka benar-benar siap menghadapi semesteran dan bisa naik kelas.”

“Baguslah kalau begitu. Semoga kepengurusan kita meninggalkan jejak yang bagus.”

“Amin!”

Walah,,, podo nang kene to jebule,”[4] suara dari belakang memaksa kami menoleh ke belakang.

“Iya, Deng! Nggak operasi hari ini?” candaku mengiringi tubuhnya yang mendekat kepada kami. Dialah Fuadi, pengurus divisi humas yang biasanya disapa Puadeng oleh teman-teman dekatnya.

“Eh, melancong yuk. Sebentar lagi kan kita lulus, nih.” Ajak Fuadi.

“Mau melancong ke mana, Deng?” Masluchi menimpali.

“Ke mana, ya, enaknya?” tanya Fuadi sambil membetulkan kacamatanya.

“Santai sajalah, nanti kita obrolkan lagi. Mendingan kita fokus untuk menyelesaikan tugas akhir dulu,” usulku.

“Iya sih, yaudahlah. Tapi melancong ini harus jadi!” Kata Fuadi bersemangat.

“Oke, siappppppppp!” jawabku dan Masluchi bersama.

Tet…. tet… tet….” bunyi bel terdengar nyaring sekali. Beberapa detik kemudian, santriwati yang kesemuanya berseragam sama berhamburan ke luar kelas. Begitupun di lantai empat, beberapa santri menghentikan kegiatannya untuk fokus memerhatikan lalu lalang kaum hawa menuju rumah dan peraduan masing-masing.

@@@

Kami bertiga masih diam dan berkonsentrasi menikmati pemandangan. Memerhatikan setiap langkah kaum hawa yang berseliweran. Mereka seperti kumpulan para semut yang berbaris memasuki lubang. Ngetem[5] santriwati pulang sekolah adalah pemandangan yang hampir setiap hari bisa ditemui di sini.

Lama kelamaan para hawa tersebut menghilang. Hanya gedung-gedung kosong yang terus berdiam, pohon-pohon yang melambai-lambai, dan mentari berpamitan yang bisa kupandang. Beberapa menit kemudian, toa pesantren yang terpasang kokoh di pohon depan kantor pengurus berteriak-teriak mengingatkan para santri untuk bersiap-siap mengikuti jamaah salat magrib.

“Ayo semuanya turun! Ambil wudu! Jangan lupa bawa kitab untuk pengajian malam ini!” teriak Masluchi. Mendengar mandat dari ketua pondok, satu-persatu santri beranjak meninggalkan lantai empat, begitupun dengan kami bertiga.

Selepas jamaah salat magrib, aku maju ke depan. Membuka acara dan memanggil santri yang bertugas memimpin barzanjiBeberapa santri beranjak dari duduknya, sebagian ada yang menuju arahku dan sebagian menuju kantor pengurus untuk mengambil rebana.

Beberapa menit kemudian, lantunan shalawat nabi dengan iringan tabuhan rebana ala Habib Syekh bergema menggetarkan hati. Merobek kesunyian malam Desa Guyangan. Hewan-hewan diam dan angin juga tak bertiup, semuanya khidmat mendengarkan puji-pujian dan penggalan kisah nabi yang dibacakan oleh para santri. Semua yang berada di Aula Pesantren pun begitu, menyatukan suara, melafalkan syair-syair yang sama.

Malam Jum’at mungkin adalah surga bagi para santri. Tak ada belajar wajib, mereka libur di malam itu. Televisi selalu menyala ketika jamaah salat isya telah usai. Satu persatu memenuhi aula, menata kasur untuk bersama menonton kotak 20 inci yang bisa mengeluarkan gambar dan suara.

Ada juga yang mayoran[6]bermain bulu tangkis, berbondong-bondong menenteng ember berisi baju kotor, hilir-mudik menenteng makanan, ngopi, ngobrol santai, diskusi, dan berbagai kegiatan lain. Malam Jum’at layaknya malam Minggu bagi mereka yang mempunyai libur pada hari Minggu.

Aku sendiri tengah menikmati sebungkus nasi di depan kantor pengurus bersama Masluchi dan Fuadi. Betapa nikmatnya makanan yang tengah kami lahap, meskipun hanya tempe dan sambal yang menemani nasi kami.

“Bagaimana rencana melancongnya,” tanyaku membuka obrolan.

Sambil kepedasan dan masih mengunyah nasi, Fuadi menanggapi pertanyaanku, “Ayolah, harus kita rencanakan yang matang. Ke mana kita pergi? Siapa saja yang kita ajak? Dan butuh anggaran berapa?”

“Ditelen dulu nasinya, baru ngomong!” kata Masluchi.

Hahahaha,,, keselek mati kamu, Deng!” timpalku bercanda.

Fuadi meneguk es teh, kemudian melanjutkan pembicaraan. “Santailah. Gimana jadinya? Kalau yang punya ide langsung sebutkan. Ojo suwe-suwe![7]

“Eh, Mas, masih ingat sama cerita Yi[8] Abrori?” tanyaku.

“Yang mana, Dot?”

“Cerita beliau waktu kita sowan liburan kemarin. Beliau kan cerita, kalau pernah melakukan perjalanan ke Wali Songo bersama teman-temannya dengan berjalan kaki. Bagaimana kalau kita meniru beliau?”

Wah, kelihatannya menantang. Tapi apa kita kuat kayak beliau?” tanya Fuadi.

“Boleh tuh sebenarnya, tapi apa kita bisa?” sahut Masluchi.

Ihh,,, kamu gaimana sih, MasBaru tadi sore menasehati, katamu yang membuat indah hidup ini kan misteri. Kita coba aja, sih. Kalau emang di tengah jalan tidak kuat, kita balik. Gitu aja kok repot!” kataku menirukan Gus Dur.

Aelah,,,, bercanda, Cuk. Oke, aku setuju sama usulmu. Aku juga usul, berarti kita mau ziarah ke Wali Songo. Nah, kalo bisa kita benar-benar meniru guru-guru kita, tapi kalo misalkan tidak bisa meniru, ya sudah, yang penting judulnya ziarah Wali Songo!” ucap Masluchi menggebu-gebu.

Fuadi tak tinggal diam, “Sip, kalo bisa kita berangkat sembilan orang. Kan kita ziarah Wali Songo, biar sama jumlah angkanya. Bagaimana?”

“Boleh juga usulnya. Siapa saja kira-kira, nih?” tanyaku.

“Ini udah ada tiga orang, tambah Edi, Aji, Rosyid, Firdaus, Ulin, sama Hanif, gimana?” tawaran Fuadi sambil menghitung dengan jarinya.

“Oke, sip. Langsung dipanggil aja bocahnya, ya.” Sahut Masluchi. Kemudian ia beranjak dari tempat duduknya memasuki kantor pengurus. Beberapa saat kemudian suaranya dipancarkan oleh toa. “grekk grek,,,, tess…. Assalamualaikum,,, bagi santri yang nama saya sebut harap kedatangannya ke kantor sekarang juga, Edi Suprihanto, Muhammad Ulin Nuha, Abdul Rosyid, Ahmad Firdaus, dan Hanif Mustofa.”

Tak butuh waktu lama untuk menunggu mereka merapat ke forum kecil kami. Beberapa menit setelah Masluchi memanggil, satu persatu dari mereka datang. Selalu pertanyaan “Ada apa?” yang mereka ucapkan ketika sampai. Kemudian kami menjelaskan detail rencana yang telah disusun mendadak tersebut.

Mereka mendukung penuh rencana ini. Hanya saja, Ulin dan Hanif yang masih bimbang dan perlu memikirkan kembali ajakan kami. “Insyaallah kalau misalkan saya rasa mampu dan mendapatkan izin dari oarang tua, saya akan ikut melancong kalian,” kata Ulin.

Malam semakin larut, arah obrolan kami berbelok dan melebar ke mana-mana. Malam Jumat, bintang di langit, pohon, dan lampu-lampu adalah saksi bahwa kami mempunyai rencana menjajal kekuatan dan ketabahan hati.

April 2011

Sudah sekitar sebulan lebih kami tak pernah lagi membincangkan masalah rencana yang pernah dibahas pada malam Jumat dulu. Kami sibuk mempersiapkan diri untuk menghadapi tes munaqosah, tes yang dikenal mengerikan tersebut. Selain itu, kami harus menyelesaikan karya tulis dan ujian nasional sebagai syarat lulus. Ditambah tanggung jawab sebagai pengurus yang belum usai cukup menyita waktu untuk sekadar mengingat dan membahas rencana kami.

Munaqosah tinggal hitungan hari lagi. Aku sendiri memfokuskan diri untuk mengusai materi-materi yang diujikan secara lisan dalam munaqosah tersebut. Aku begitu khawatir dengan Bahasa Inggris, karena memang pada dasarnya aku sangat tak menyukai satu disiplin ilmu ini, sehingga aku malas untuk mempelajarinya. Namun aku yakin, ketika aku sungguh-sungguh mempelajarinya, pasti ada keajaiban tak terduga dari Tuhan.

Hampir setiap hari, di manapun dan kapanpun juz amma selalu bersarang di sakuku. Hal itu selalu kulakukan,  agar ketika lupa, aku bisa dengan mudah membuka kitabnya.

Hampir di setiap waktu senggangku, mulutku komat-kamit melafalkan hafalan. Kuusahakan untuk hafal di luar kepala. Agar aku semakin percaya diri mnghadapi penguji di depan orang tuaku, wali santri yang lain, dan beberapa temanku yang kebetulan mendapat hari ujian yang sama.

Teringat tatkala bapak menjengukku, beliau selalu berpesan untuk selalu sungguh-sungguh dalam hal apapun. Menurut beliau, hidup itu seperti orang bercocok tanam. Apabila seorang petani pandai, paham musim, dan sungguh-sungguh merawat tanamannya, maka akan mendapatkan hasil yang melimpah. Sama halnya dengan seorang pencari ilmu, siapa yang bersungguh-sungguh maka akan mendapatkan hasil yang membanggakan. Man jadda wajadda.

Aku menyadari bahwa omongan bapakku bukanlah omong kosong. Hal itu terbukti ketika hari di mana tes munaqosah  digelar. Aku merasa santai dan percaya diri untuk menghadapi dan mejawab pertanyaan para penguji. Mulai dari membaca kitab kuning, hafalan, dan hiwar kuhadapi tanpa deg-degan. Hanya saja, ketika duduk tepat di depan penguji conversation hatiku dag-dig-dug tak karuan.

Tapi lagi-lagi, Tuhan berbaik hati hari itu. Ada sebuah anekdot ‘orang pintar kalah dengan orang bejo’, buktinya aku ini, aku tak pandai sama sekali berbahasa Inggris, tapi entah kenapa saat aku duduk di depan penguji, setelah ditanyai namaku, aku kemudian dengan sigap berganti bertanya “What your opinion about Timnas?”, entah kalimat yang keluar dari mulutku tersebut benar atau tidak, yang pasti aku mencoba mengalihkan perhatian penguji. Kumintai pendapat tentang Tim Nasional (Timnas) yang saat itu sedang menunjukkan taringnya di piala AFF.

Mungkin, dengan pertanyaanku tersebut, penguji menganggapku sudah bisa berbahasa Inggris dan pantas diluluskan. Dan akhirnya, aku lulus seluruh materi yang diujikan dalam munaqosah. Bukan karena aku pintar dan pantas untuk mendapat predikat lulus, mungkin Tuhan hanya ingin menunjukkan bahwa sebenarnya aku termasuk salah satu orang bejo.

Ujian demi ujian telah kulalui bersama santriwan dan santriwati kelas XII lainnya. Yang kurasakan kini layaknya seorang kuli panggul yang tengah beristirahat menikmati segelas es, setelah seharian mengangkat beban berat di pundaknya. Setidaknya yang bergelanyutan di pikiran sudah berkurang, meski kadang kegelisahan sering muncul ketika mengingat pengumuman UN.

Kegiatanku tak sepadat sebelumnya. Hanya tinggal menyelesaikan tanggung jawab sebagai pengurus pondok, menghatamkan buku-buku bacaan yang sudah sekitar 3 bulan terabaikan, dan tentunya persiapan untuk acara wisuda. Terbersit pikiran untuk kembali mengumpulkan teman-teman guna membahas tindak lanjut rencana yang kita sepakati malam Jumat dulu.

Tak tahu tepatnya, pada suatu malam kami berkumpul kembali membahas tindak lanjut rencana melancong. Fuadi membuka pertanyaan siapa saja yang bisa ikut perjalanan. Satu persatu mengacungkan jari. Hanya Ulin dan Hanif saja yang hanya diam dan meminta maaf karena tak bisa ikut serta dalam perjalanan ini. “Saya minta maaf kawan, sesudah acara wisuda saya harus kembali ke Lampung,” kata Hanif.

Kami memaklumi, tiga tahun ia tak pernah pulang dan bersua dengan keluarga. Tentunya inilah momen terbaik untuk kembali ke kampung halaman, sebelum nantinya ia kembali ke bumi perantauan lagi.

Ulin sendiri mengaku tak bisa lantaran tak mendapatkan izin dari kedua orang tuanya. “Saya sebenarnya ingin ikut dalam perjalanan ini, tapi apa daya, ucapan orang tua adalah segalanya bagiku.”

“Okelah tidak apa-apa kawan, semoga suatu saat nanti kita bisa melancong bersama-sama. Meskipun jasad kalian tak bersama, kalian selalu ada di hati. Oh iya, ngomong-ngomong kalau kelompok kita ini punya nama sepertinya akan lebih menarik,” usul Firdaus sambil menepuk-nepukan telapak tangannya.

“Usul bagus, Ndus,” Sahut Masluchi, “Bagaimana kalau kita namakan Ashabul Ghuroba?”

“Artinya apa, Mas?” tanya Rosyid penasaran.

“Artinya kita harus menyaingi sejarah Ashabul Kahfi, yang terjebak dalam gua ribuan tahun itu.”

Semuanya tertawa mendengar seloroh Aji. “Kok ndak sekalian dinamakan Ashabul sempet?” Lagi-lagi suara Edi mengundang tawa.

“Sudah-sudah! bercanda mulu dari tadi. Tapi bagus juga ya, namanya Ashabul Sempet!” sentak seluruh tangan memukul kepala  Fuadi.

Canda tawa menemani kami pada obrolan malam itu. Ashabul Ghuroba, bersama-sama disepakati untuk menjadi nama kelompok kecil kami.

Mei 2011

Tak terasa waktu tiga tahun begitu cepat. Kini statusku telah menjadi alumni di pesantren ini. Bahagia dan haru bercampur seperti adonan material bangunan yang diputar-putar dalam truk molen. Bahagia bisa membuktikan kepada orang tua bahwa aku bisa menyelesaikan pendidikan di pesantren ini, dan sedih lantaran harus berpisah dengan teman-teman satu perjuangan. Namun beginilah hidup, ada pertemuan maka ada perpisahan.

Sudah tiga hari aku bersama teman-teman Ashabul Ghuroba meninggalkan pesantren. Kami belum pulang ke rumah masing-masing, karena masih ada rencana yang harus direalisasikan. Selama tiga hari itu, kami bermukim di pesantren saudara kiai kami. Letaknya sekitar 200 meter dari pesantren yang kutempati dulu. Pesantren sederhana dengan santri yang bisa dihitung jari.

Keluar dari pesantren yang menjunjung tinggi supermasi aturan, kami layaknya burung yang terlepas dari sarang. Bingung melangkahkan kaki ke mana. Setiap hari hanya diisi dengan bermain playstation, ngopi, dan bercanda. Hingga pada suatu  malam, kami mulai membuka percakapan tentang rencan yang sempat dibahas pada malam Jumat dulu. Malam itu pula kami menyepakati rute yang akan kami tempuh. Ternyata cukup panjang, berziarah ke lima wali di Jawa Timur dan makam gurunya para guru, Syekh Kholil di Bangkalan, Madura.

“Sepertinya kita harus meminta doa restu asatidz[9],” usulku.

“Itu harus dan wajib!” Masluchi menimpali.

“Oke berarti besok kita harus sowan ke beberapa ustadz. Bagaimana kalau Yi Abrori, Yi Ali, dan Yi Makhruzi?” tawarku.

Kesemuanya menyetujui usulku. Kami memutuskan untuk istirahat lebih awal malam itu. Dengan harapan, ketika mentari menyingsing, kami sudah bergerak untuk sowan ke rumah asatidz guna menimba pengalaman dan meminta doa restu kepada mereka.

@@@

Plak…. plak… plak,” kaki Rosyid menendang pantatku. Seketika mataku terbuka meski kesadaran belum sempurna. “Bangun-bangun, subuhan!” Rosyid berusaha membangunkan kami yang masih terlelap. Ada yang langsung bangun, ada pula yang masih memejamkan mata seakan tak ada gangguan. Kadang-kadang Rosyid mengulur sajadahnya  yang bertengger di pundak. Seakan cemeti, sajadah itu menyabet tubuh sehingga membuat orang yang disabetnya menggeliat dan meronta-ronta. “Ayo bangun, podo subuhan!

Merasa tak mendapat respon yang baik, mantan pengurus peribadatan ini sepertinya tak kehabisan akal untuk membangunkan beberapa orang di antara kami yang masih terlelap. Ia keluar dan beberapa saat kemudian masuk membawa gayung berisikan air. Diciprat-cipratkan air itu ke muka mereka yang masih terlelap. “Byur…. byur… byur…,” dan seketika, mereka terbangun seperti taoge yang sedang bersemi di kala pagi.

Jam menunjukkan pukul 05.00 WIB, sebentar lagi mentari akan menampakkan wujudnya. Kami bergegas berwudu dan salat berjama’ah. Di ruangan berukuran lima meter persegi itu, kami membuat barisan lurus di belakang Rosyid. Sungguh merdu suara Rosyid menirukan bacaan Alquran ala Syekh Sudais, mendayu-dayu dan membius kami para makmumnya.

Waktu yang kami tunggu-tunggu telah tiba. Semua sudah berpakaian rapi. Baju batik coklat seragam pengurus, sarung, dan peci yang membalut tubuh kami. Kami membuat lingkaran kecil. Menengadahkan tangan dan berdoa khidmat meminta semua urusan dimudahkan oleh Yang Kuasa. Kemudian kami mulai menggerakkan kaki menuju rumah Yi Abrori.

Rumahnya berada di seberang Desa Guyangan. Kami berjalan gontai, menikmati matahari pagi dan merasakan desir angin yang sejuk. Di sepanjang jalan, kami membicarakan apa yang bakal terjadi di perjalanan mengemban misi ziarah nanti. Ada juga yang membahas santriwati mantan surat-suratannya ketika masih di pesantren. Pagi itu, apa yang ingin kita bahas akan kita bahas.

“Nanti kamu aja yang ngmong duluan, Dot! Kamu kan yang Bahasa Jawanya lebih baik dibandingkan kita-kita.” Kata Fuadi menoleh ke arahku.

“Iya, gampang,” jawabku.

Kami terus melangkahkan kaki menapaki jalan yang aspalnya sudah mengelupas di sana-sini. Rumah Yi Abrori sudah tampak di mata. Beberapa saat kemudian, kami sampai di pelataran rumahnya. Sepertinya Yi Abrori tengah sibuk menjemur sesuatu yang tak kuketaui namanya.

”Assalamualaikum,” sapaku dari belakang Yi Abrori.

“Waalaikumsalam,” beliau menengok ke arah kami, “ehhhhh….. para alumni baru,” sapanya menyambut kedatangan kami. Kami pun segera menyambar dan mencium tangannya penuh ta’dzim.

“Kebetulan sekali ini, ayo bantuin saya jemur ini! Ke sini mau bantuin saya jemur ini kan?” Candanya kepada kami. Kami pun sendiko dhawuh, ikut membantu menjemur adonan berwarna putih dan dibentuk bulat ketika tangan kami meletakkan di atas papan jemuran.

Tak butuh waktu lama untuk menyelesaikan pekerjaan itu. Setelah pekerjaan selesai, Yi Abrori mempersilahkan kami untuk masuk ke dalam rumah. “Tapi sepertinya kita di teras musala aja, ya. Biar ada angin-anginnya,” kata Yi Abrori.

Yi Abrori memasuki rumah dan kami bergegas menuju musala di depan rumah beliau. Sepertinya musala mungil ini baru saja selesai dibangun. Kramiknya indah dan mengkilat, catnya masih segar, dan tembok dalamnya dipenuhi kaligrafi. Musala kecil yang menawan.

Kami duduk melingkar. Menyisakan jarak agar Yi Abrori bisa duduk di situ dan menyempurnakan lingkarannya. Kami hanya diam dan saling pandang satu sama lain menunggu Yi Abrori keluar rumah. Beberapa saat kemudian, Yi Abrori keluar dengan mengenakan kaos oblong dan sarung, layaknya pakaian santri pada umumnya. Beliau duduk melingkar bersama kami.

“Bagaimana perasaannya menjadi alumni?” Tanyanya membuka percakapan.

Kami saling pandang, menunggu siapa yang mau menjawab terlebih dahulu. Tatapan mata kami seakan seakan menyimpan bisikan, “Kamu dululah yang jawab!”. Akhirnya Masluchi dahulu yang angkat bicara. “Alhamdulillah, Yi. Senang bercampur sedih! Hehehe.“

Kok tumben tidak pulang ke rumah? Kok masih berkeliaran di sini? Tidak kangen sama orang tua?”

“Iya, Yi. Kami masih di sini. Kebetulan kami ada rencana untuk berziarah ke makam para wali. Maksud kami sowan ke sini meminta doa restu dari Yi Abrori. Begitu, Yi,” kataku.

“Kalian bertujuh ini akan berangkat?”

Nggeh, Yi,” gantian Rosyid menjawab.

“Naik apa?”

“Jalan kaki, Yi!” Kata Rosyid.

Wah,,, tenanan[10]? Kok seperti jaman saya waktu masih seumuran kalian dulu, ya. Masih senang berjalan-jalan, kalau bahasanya anak saekarang berpetualang.”

“Insyaallah kami akan berjalan kaki, Yi. Semoga saja Allah mempermudah dan memberi kekuatan lebih kepada kami. Mohon doanya saja, Yi!” Firdaus angkat bicara.

“Amin. Kalau kalian sudah bulat tekadnya, pasti akan sampai pada tujuan. Jaman saya dulu, ketika masih nyantri di Krapayak, Jogjakarta, juga pernah iseng-iseng mlaku-mlaku[11] seperti kalian. Dulu bersama tiga rekan saya bertekad untuk berziarah ke Wali Songo dengan jalan kaki dan tak membawa uang sepeserpun.”

Kami khidmat mendengarkan cerita Yi Abrori, “Tapi sayang ketika sampai di pertengahan jalan, satu teman saya memutuskan untuk berhenti. Ternyata dia membawa uang seratus ribu yang di selipkan di songkoknya. Meskipun demikian, kami yang masih tersisa bertekad untuk menyelesaikan perjalanan ini. Alhamdulillah, akhirnya kita memang bisa berziarah ke sembilan wali.”

“Waktu itu benar tak membawa uang sepeserpun, Yi?” tanya Edi penasaran.

“Iya,,,”

Oh,,, lha untuk makan bagaimana, Yi? Minta-minta atau bagaimana?”

Wah, kalau soal makan berarti berkaitan dengan rezeki. Allah sendiri kan pernah berfirman warzuqhum min khaitsu la yahtasib, rezeki datang tak terduga-duga. Saya berkeyakinan, ketika manusia masih hidup pasti mempunyai rezeki. Kadang kala saja manusia seringkali tak bisa membaca rezeki yang diberikan Tuhannya.”

Kami hening mendengarkan kata demi kata yang di ucapkan Yi Abrori. Kemudian ia melanjutkan, “tidak tahu kenapa, setiap kami beristirahat, baik di masjid ataupun musala, selalu saja ada orang yang baik, memberi uanglah, makananlah. Yang penting pada prinsipnya, jangan sampai meminta-minta. Kalau diberi kita terima.”

“Itu berapa bulan perjalanannya, Yi?” tanyaku.

“Cuma sebentar kok. Tidak sampai sebulan penuh. Panas dan hujan kami terjang. Sandal saya saja sampai kayak krupuk yang digoreng kering, padahal sandal ban yang tebel itu,” ungkap Yi Abrori sambil mengusap peluh di dahinya.

“Mi,,, Umi. Mana makanan dan kopinya?” teriak Yi Abrori. “Iya, Bah. Ini sudah jadi,” jawab istrinya sambil berjalan menenteng nampan berukuran besar berisi delapan gelas kopi dan beberapa toples berisi makanan ringan.

Monggo[12] disambi!” istri Yi Abrori mempersilahkan.

Nggeh,”[13] jawab kami bebarengan.

“Ayo diminum kopinya,” kata Yi Abrori sambil mengambil gelas yang bentuknya berbeda dari gelas lainnya.

Kami pun mengikuti Yi Abrori. Menyeruput kopi hitam yang rasanya sedikit kemanisan.

“Kopi memang seperti ini, kadang manis kadang pahit, persis seperti hidup,” seloroh Yi Abrori seperti ia mengetahui batin kami.

“Ini rencananya mau berangkat kapan?” tanya Yi Abrori.

“Insyaallah besok, Yi,” jawab sebagian dari kita.

Oh,,, yasudah. Semoga diperjalanan lancar dan selamat sampai tujuan.”

“Amin,,, Yi minta doanya,” pinta si Aji.

Yi Abrori mengangkat tangan membaca doa. Melafalkan doa-doa yang rasanya masih asing di telinga kami. Entah apa artinya, kami bersama-sama mengamini. Dan kami meyakini, doa beliau lebih diijabahi[14] dibanding kami.

Setelah Yi Abrori selesai membaca doa. Kami menghabiskan kopi yang telah disuguhkan dan meminta undur diri. Kemudian kami melanjutkan perjalanan untuk sowan ke rumah asatidz yang telah kami jadwalkan tempo hari.

Hampir semua yang kami sowani hari itu bercerita panjang mengenai pengalamannya, seperti Yi Abrori. Dari cerita-cerita beliaulah kami bisa menarik pelajaran bahwa yang bersungguh-sungguh akan mendapatkan apa yang diinginkan. Menata niat sebelum berangkat, dan saling percaya satu sama lainnya. Kebanyakan dari yang kita sowani memberikan doa restu, ada juga yang tak membolehkan dengan alasan lebih baik belajar daripada jalan-jalan melelahkan seperti itu.

Sinar matahari sore menyambut, ketika kami keluar dari rumah ustadz yang terakhir. Angin yang bertiup sedikit kencang sore itu menggiring langkah kami menuju peraduan. Kami beristirahat sejenak, shalat maghrib dan kemudian dilanjutkan salat isya. Malam itu, kami memutuskan untuk berziarah dan tidur di makam pendiri pesantren Raudlatul Ulum Guyangan, Pati, Jawa Tengah, Syekh Suyuthi Abdul Qadir.

Kami berwasilah kepada beliau, mengharapkan Allah mempermudah segala urusan kami. Malam itu kami tidur di samping makam Syekh Suyuthi yang berada di tengah-tengah pemakaman Desa Guyangan. Tak terlalu gelap pemakaman ini karena banyak lampu yang menyala. Suasananya pun tak menyeramkan seperti makam di desaku.

Makam para ulama selalu membuat hati damai, hal ini yang mungkin menyebabkan banyak sekali para peziarah yang suka bermukim di makam-makam para ulama ataupun wali. Bahkan ada yang sampai berbulan-bulan menetap di makam ulama atau aulia yang dianggap keramat. Tak tahu apa niat mereka.

Entahlah, malam belum begitu larut, namun kami memaksa mata untuk lekas terpejam. Mengistirahatkan saraf-saraf yang sempat menegang. Mengembalikan tenaga untuk menempuh perjalanan –dalam bayangan kami— yang sangat menyenangkan tersebut. Inilah awal kami menorehkan sejarah, sejarah yang hanya diingat oleh diri kami masing-masing. Dan mungkin -akan hanya- diketahui oleh anak cucu kami kelak, tak lebih.

[1] “Senyam-senyum”

[2] Ujian akhir madrasah.

[3] Santri menyebut disiplin ilmu Nahwu (ilmu untuk memelajari perubahan harakat) dan Sharaf (ilmu untuk memelajari kata dalam bahasa Arab) dengan sebutan ilmu alat. Alat untuk membaca kitab gundul atau kitab kuning.

[4] “Ternyata pada di sini.”

[5] Sebuah kegiatan menonton santriwati pulang sekolah atau pergi berziarah.

[6] Pesta makanan.

[7] Jangan lama-lama!

[8] Dari kata kiai.

[9] Jamak dari kata ustadz.

[10] Beneran.

[11]Jalan-jalan.

[12] Silahkan.

[13] Iya.

[14] Dikabulkan.

Iklan

Bijaklah dalam Berkomentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.