Bangkrut

(Bagian II)

Apa yang telah didapat kemarin dan hari ini harus terus disyukuri. Tak peduli mendapat hal baik atau buruk sekalipun. Terkadang manusia lalai, hal buruk dianggap tak bermanfaat, sehingga membuat mata buta untuk melihat celah manfaat yang ada. Sebaliknya, tatakala mendapat hal baik, seketika itu ia melupakan celah buruk di dalamnya.

Seperti bapakku yang tak begitu memedulikan hal-hal buruk yang akan menimpa perusahaannya. Bisnis mebel yang telah ditekuninya bertahun-tahun dan memberikan sumbangan terbanyak untuk kebutuhan sehari-hari keluarga berada diujung tanduk.

Pegawai-pegawai bapak juga sudah diberhentikan. Perusahaan yang saban pagi selalu berisik dengan bunyi gergaji dan mesin-mesin, kini hanya sepi yang tersisa.

Aku melihat dari celah pintu sambil memejamkan satu mata, persis seperti orang yang tengah mengintip. Di dalam perusahaan yang dipagari seng itu, bapak tampak berbincang serius dengan empat mantan karyawannya. Mereka mempertanyakan alasan bapak memberhentikan mereka secara tiba-tiba.

“Sebenarnya alasannya apa sih, Kang Mad, kok tiba-tiba kami diberhentikan?” tanya lelaki yang paling kurus di antara mereka.

“Sebelumnya aku minta maaf, Kang. Tidak ada lagi yang memasok bahan di perusahaan kita. Polisi hutan memeperketat penjagaan. Masyarakat tak berani lagi mengambil pohon milik negara. Jadi kita terpaksa harus gulung tikar,” sayup-sayup kudengar bapak sedang mencoba menjelaskan. Sedangkan aku masih terus menguping dari balik pagar.

Sebelum membuka mebel, kakek –dari ibu—telah memeringatkan bapak, bahwa bisnis mebel tak selamanya berjaya. Kakek berpikir sederhana, kayu jati akan semakin habis ditebang. Namun bapak tetap ngotot membuka perusahaan mebel karena waktu itu memang sangat menjanjikan.

Di desaku, Melatirejo, selain bekerja sebagai petani, masyarakatnya mempunyai pekerjaan sampingan mencuri kayu di hutan. Biasanya kayu jati yang sebesar badan remaja yang mereka cari. Banyak atau sedikitnya rupiah yang masuk dalam kantong tergantung seberapa besar dan lurusnya kayu yang didapatkan.

Waktu bapak bangkrut, pepohonan sudah hampir habis ditebang. Yang tersisa hanya pohon-pohon kecil yang baru ditanam oleh Perhutani dan tunggak. Karena penjagaan polisi hutan diperketat, warga beralih memanfaatkan tunggak-tunggak tersebut menjadi balok-balok kayu yang dapat ditukar dengan rupiah.

Demam mencari tunggak semakin menyebar di desaku. Para lelaki bahkan membentuk tim untuk membongkar tunggak besar yang tak mungkin bisa ditangani sendiri. Dalam hal ini, bapakku terpaksa harus beralih profesi. Bukan ikut-ikutan mencari tunggak, melainkan menjadi pengepulnya.

Bersama dua rekannya, beberapa tahun bapak menekuni bisnis jual beli tersebut. Keuntungan yang diperoleh dalam sebulan cukup untuk membeli motor baru. Bapak sangat senang dengan bisnis barunya itu, namun ia melupakan satu hal lagi, kebangkrutan yang selalu menguntit di belakang keuntungan.

Belum genap setengah tahun menekuni bisnis baru, bapak dipaksa harus gulung tikar. Warga berhenti mencari tunggak lantaran polisi semakin beringas menindak warga yang kedapatan mengambil kayu apapun dari hutan.

Seperti yang dialami tetanggaku, Lek Dasir, begitulah orang-orang sering memanggilnya. Saat tengah menggali tunggak, tiba-tiba polisi menangkap dan memukulinya di tempat. Lek Dasi dibawa ke kantor polisi dan dipenjarakan dengan tuduhan mencuri aset negara. Tak berhenti sampai di situ, polisi juga mulai masuk pedesaan, merazia para pengepul. Pernah suatu siang, saat mendapat bocoran bahwa polisi akan menggelar razia di desaku, bapak terpaksa menguburkan tunggak-tunggak di pekarangan rumah untuk mengelabui polisi.

Daripada tidur tak nyaman dan selalu gelisah, bapak gulung tikar setelah menjual semua tunggaknya. Saat itu memang kondisi tak berpihak kepadanya. Keuangan keluarga semakin menipis, sedangkan kebutuhan terus bertambah. Sejak saat itu, aku tak lagi melihat bapak yang selama ini kukagumi dan selalu kurindukan.

Iklan

Bijaklah dalam Berkomentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.