Bapak

(Bagian I)

“Bapak yang baik selalu ada untuk keluarganya, bekerja keras demi pendidikan anaknya, dan tak hanya mendambakan, melainkan mendorong dan mengusahakan anaknya agar melebihi dirinya,” jawab bapak ketika kutanya.

Begitulah bapak, ia selalu bijaksana meskipun tak memunyai ijazah apapun. Bapak berperawakan besar, namun tak terlalu tinggi. Rambutnya tak jauh berbeda denganku dan keempat saudaranya, ikal. Ia anak ke tiga dari lima bersaudara. Semuanya laki-laki. Kalau orang desa sering menyebut, bapakku dan saudaranya adalah punokawan yang terlahir kembali.

Bapak dibesarkan oleh kakekku –yang katanya—abangan dan nenek yang selalu bijak dalam berkata-kata. Benar saja kalau kelima anaknya selalu bijak dalam berbicara, hanya nenek yang selalu intens mendidik dan mendekap mereka.

Semasa kecilnya, cerita bapakku, kakek mempunyai hobi klayaban ke mana-mana. Ketika nenek bertanya, kakek selalu menjawab mencari uang untuk bekal kehidupan keluarga. Padahal di balik alasan itu, kakek memunyai dua simpanan yang masih disembunyikan dalam sarungnya.

Tak pernah sekalipun kakek memberikan nafkah kepada istri dan anaknya. Uang yang kakek dapatkan hanya untuk kedua gendakannya yang lebih muda dari nenek. Bapak, nenek, dan saudara-saudaranya harus berhenti sekolah. Saban pagi hingga malam menjelang, keluarga nenek memeras peluh untuk menyambung kehidupan.

Kakek kadang-kadang pulang. Kebetulan sekali, saat kakek pulang, nenek sedang memersiapkan khajatan ulang tahun Pak Lekku. Kakek tiba, marah, dan membuang semua makanan yang dipersiapkan untuk para tamu nanti. “Buat apa acara seperti ini. Membuat kaya, tidak. Menghabiskan uang saja.”

Selepas kemarahan itulah, ada yang berbeda dari kebiasaan kakek. Ia tak pernah kelayaban lagi, semakin mencintai keluarganya, selalu di baris depan saat jamaa’ah di masjid, dan dekat dengan para kiai. Kakekku bertaubat hingga kini.

Mendengar penuturan bapak tentang masa kecilnya, sentak aku membayangkan masa kecilnya bapak. Betapa keras dan menderitanya nenek, bapak dan keempat saudaranya.

Saat kutanya perasaaan bapak, ia malah mengaku bersyukur atas apa yang telah dan sedang terjadi padanya. Kalau kakek tidak seperti itu, mungkin bapak dan keempat saudaranya akan selalu bergantung kepada orang tuanya.

“Aku tak ingin menjadi bapak seperti itu, Le. Cukup bapak saja yang merasakan penderitaan itu. Kamu, jangan sampai merasakan apa yang bapak telah rasakan dan alami. Syukurlah, kini kakekmu sudah menjadi orang yang patut dibanggakan,” kata bapak sambil mengelus-elus kepalaku. Aku ingat betul, waktu itu gerimis mengguyur desaku.

Dulu, di desaku, ijazah memang tak terlalu penting. Mayoritas mayarakat hanya berpikir, buat apa sekolah tinggi-tinggi kalau ujung-ujungnya hanya ke sawah. Sampai saat ini pun, anak-anak di desa lebih memilih bekerja untuk mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya daripada sekolah yang menghabiskan biaya.

“Bapak tak punya keahlian bertani,” begitulah pengakuan bapakku saat kutanya perihal kegiatannya yang sepertinya anti dengan sawah. Memang benar, semasa kecilku, jarang sekali melihat bapak pergi ke sawah. Padahal sawah yang dimiliki keluargaku berhektar-hektar luasnya. Hanya kakek, nenek, dan ibu yang mengurusi sawah-sawah tersebut.

Bapak memang tak memunyai keahlian bertani, namun karena tangan kreatif yang dianugerahkan Tuhanlah, bapak mampu membuka lapangan kerja untuk warga desa. Karena tangannya yang cekatan mengolah gelondongan kayu menjadi mebel yang bernilai tinggi, bapak membuka pabrik sendiri.

“Besok kalau kamu bisa sekolah tinggi, jangan berpikir harus bekerja di mana, ya, Le. Tapi berpikirlah, pekerjaan apa yang bisa kau buka untuk membantu orang-orang yang kesusahan mencari kerjaan. Ingat pesan bapak, Le!”

Bapak selalu ada. Ia selalu mendekapku saat katup mata hampir tertutup rapat. Namun, hal itu tak mengalahkan saat hujan datang, saat ayah memayungiku dari serangan rintik air yang kadang menyakitkan.

 

Iklan

Bijaklah dalam Berkomentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.