Beda, Bertengkar, dan Minggat

(Bagian IV)

“Yaa muqol libal qulub”. Hati manusia tak ubahnya seperti air mendidih. Sekarang baik, bijak, dan ramah, namun tak ada yang menjamin beberapa saat kemudian segala sifat baik yang melekat kepadanya akan bertahan.

Bapak sampai di rumah saat ayam berkokok dan muadzin mengumandangkan adzan. Ia dijemput oleh adik ibuku, Lek Jam, begitu aku sering menyapanya. Bapak menenteng dua tas besar, masing-masing brisi pakain dan oleh-oleh. Bapak tak membawa ibu baru untukku, seperti yang sering dikatakan teman-teman dan tetanggaku. Namun sangat terasa ada yang berbeda dari bapak, ia seperti tak merindukanku.

Seakan-akan menjadi adat, orang yang pulang dari luar kota harus membagi oleh-oleh yang ia bawa kepada tetangganya. Selepasa salat subuh, ibu dengan cekatan membagi oleh-oleh yang dibawa bapak menjadi beberapa bungkus untuk dibagikan ke tonggo teparo.

Aku sendiri tak terlalu memperhatikan ibu. Aku asyik lendotan pada punggung bapak dan bermain mobil-mobilan yang baru saja dibelikan bapak. Sudah sebulan hal seperti ini tak pernah kulakukan.

Saat serpihan cahaya matahari mencemari birunya langit, berbondong-bondong saudara dan tetanggaku berdatangan ke rumah. Mereka menanyakan kabar dan apakah masih banyak pekerjaan di Malang. Bapak menjawab setiap pertanyaan yang kebanyakan dilontarkan oleh kaum adam. Sedangkan ibu sibuk mempersiapkan kopi dan minuman untuk tetangga.

Tampaknya banyak tetangga yang kepincut bekerja di luar kota. Namun, para istri masih ragu untuk melepas lelakinya pergi keluar rumah dalam waktu lama.

Saat orang-orang tak lagi berada di rumahku. Bapak mengutarakan niatnya untuk kembali ke Malang, tapi ibu tak mengizinkannya. Ibu tak ingin dicemooh dan dijadikan bahan gunjingan tetangganya. “Kasihan anakmu yang hampir setiap hari diejek teman-temannya,” ibu memberitahu bapak kondisi di desa.

“Biarkan saja orang-orang desa berpikir semaunya, yang penting apa yang mereka katakan belum tentu benar,” jawab bapak.

“Kalau yang dikatakan orang-orang desa benar, bagaimana?” ibu menukas.

Bapak hanya diam. Sepertinya ada yang disembunyikan di balik diamnya. Tak biasanya bapak kalah berargumen. Terkecuali ia benar-benar salah dan ada hal yang disembunyikannya.

“Kenapa tak menjawab? Apa benar yang dikatakan tetangga?” ibu terus menginterogasi bapak.

“Kamu percaya suamimu atau tetangga?” bapak meninggikan suaranya setelah menggebrak meja.

Aku hanya diam melihat ibu dan bapak bertengkar seperti itu. Rasa takut memaksa kakiku berlari menuju rumah buyut yang hanya berjarak 10 meter dari rumah yang kutinggali. Buyut kuajak ke rumah untuk melerai pertengkaran bapak dan ibu. Karena hanya buyut yang bisa mempersatukan perpecahan dan paling ditakuti semua orang di keluarga besarku.

Saat aku dan buyut sampai di rumah, bapak dan ibu masih beradu mulut. Suara mereka semakin tinggi, sehingga memaksa tetangga dekat rumah yang masih saudara berdatangan ke rumahku untuk melerai. Namun, tak ada satupun dari mereka yang bisa menghentikan bapak dan ibu. Kakek masuk ke rumah, berbicara beberapa kata, dan pertengkaran di antara keduanya berhenti seketika.

“Kalian ini kok seperti anak kecil saja. Apa kalau ada masalah ndak bisa diselesaikan dengan musyawarah? Apakah harus dengan adu mulut, biar terlihat seperti ketoprak?” Buyut menasehati bapak dan ibu saat mereka berhenti bertengkar, sedangkan keduanya hanya diam dan menedengarkan.

Selepas pertengkaran itu, bapak dan ibu tak lantas berdamai, mereka malah terus-terusan bertengkar. Sampai-sampai bapak mencuci pakainannya sendiri dan tak pernah makan di rumah. Mereka serumah, namun seperti tak mempunyai ikatan apapun. Hidupmu; hidupmu, hidupku; hidupku. Dalam posisi ini, aku benar-benar tertekan.

Kehidupan bapak juga berubah drastis. Ia lebih sering ikut cangkruk para pemuda daripada berdiam di rumah bercengkerama dengan keluarga. Dari aktivitas cangkruknya tersebut, bapak seakan-akan lupa kalau mempunyai anak kelas 3 SD. Bapak pulang selalu larut malam, ibu murka dan tak mau membukakan pintu rumah.

Rumor yang beredar di desa mengenai perpecahan keluarga semakin meluas. Banyak tetangga yang bilang kalau bapak suka berjudi dan bermain perempuan. “Lek Mad kembali muda lagi,” aku tak sengaja mendengar tetangga berbicara seperti itu saat pulang sekolah.

“Mad itu lagi gendeng. Ora kasihan anaknya. Anaknya sekolah selalu mendapat juara 1, lha kok  dia malah mbento.” Bapakku dikupas di manapun. Bahkan ada tetangga yang menggosipkan bapak ketempelan jin dari Malang. Aku semakin sedih dan tak tahu harus berbuat apa.

Pada saat itu, aku berandai-andai, jika aku dewasa mungkin orang-orang yang membicarakan bapak akan kutanya kekuatan datanya dan apabila benar yang dikatakan tetangga, maka aku tak akan segan menegur bapak. Namun, apalah aku, hanya anak kecil yang selalu dianggap tak mempunyai perasaan dan kekuatan.

Bapak membawa beberapa pakainnya saat keluar rumah, hingga semua pakaian di dalam almarinya habis dan bapak tak kunjung pulang. Bapak minggat di rumah ibunya tanpa berpamitan kepadaku dan ibu.

Aku tak begitu mengerti, kenapa orang tua suka bertengkar dan mutung. Anak kecil saja tak sampai seperti itu kalau sedang bertengkar. Adu mulut secukupnya, pukul, dan berdamai. Tidak sampai berlarut-larut seperti bapak dan ibuku.

Ibuku juga demikian, badannya semakin kurus. Tulangnya seperti hanya dibalut kulit. Aku mengerti, kepala ibu sedang banyak ditumbuhi dan digrogoti berbagai macam persoalan.

Ibu Tulang Punggungku, Guruku, dan Pahlawanku

Bapak minggat di rumah nenek. Aku sering melihatnya wira-wiri di jalanan. Tak ada yang lebih menyakitkat, bahkan dikuliti sekalipun, dibandingkan tak mendapat sapaan saat berpapasan dengan bapak kandungnya. Seperti yang sering kualami semasa kecil.

Bapak benar-benar lupa keluarganya. Saban jam istirahat, kulihat bapak bermain biliar di pasar, kebetulan sekolah dan pasar berdampingan. Kulihat bapak tertawa lepas di depan meja biliarnya, sedangkan aku dan ibu menanggung semua beban moral atas segala tingkah bapakku.

Ibu sendiri makin bersikap tegas dan berusaha tegar di depanku. Aku tahu, di balik semua kekuatannya, hati ibu –mungkin- hancur berkeping-keping dan serasa disayat puluhan kali dengan silet.

Ibu semakin tegas dan terlihat galak. Apalagi menyangkut pendidikanku. Ia tak mau kompromi masalah pendidikan. Pagi aku harus belajar di sekolah formal, selepas duhur belajar ngaji di madrasah, maghrib harus berjamaah dan mengaji di musala, dan selebihnya belajar bersamanya. Sampai-sampai aku tak beranii pulang kalau mendapat peringkat 2 di sekolah.

“Harus menjadi yang terdepan. Harus juara 1. Kamu harus pintar, jangan seperti bapak dan ibumu!” Kalimat itulah yang selalu dikatakan ibu saat menemaniku belajar.

Kalimat itu selalu membayangi dan membuat diriku tertekan. Namun aku bersyukur, karena kalimat luar biasa dari ibu itulah, aku selalu mendapat juara 1 di kelas, hanya dua kali saja tak menimang juara tersebut. Selain itu, aku juga selalu dipilih menjadi perwakilan sekolah untuk mengikuti bergam perlombaan.

Ibu beralih profesi menjadi tulang punggung keluarga saat bapak memutuskan minggat dari rumah. Setiap pagi hingga sore ia berjibaku dengan panas di ladang. Uang yang didapat dari ladang tak banyak. Hanya cukup untuk makan sehari-hari saja. Untungnya sekolahku gratis karena mendapat beasiswa dan saudara-saudara ibu kadang-kadang memberikan uang untuk uang jajanku. Bapak, sama sekali tak pernah memberikan uang.

Terkadang aku mersa iba melihat ibu. Ingin sekali membantunya mencarikan rumput untuk makan sapi di rumah. Namun apa boleh buat, ibu selalu marah saat aku berniat membantunya. Ia selalu berujar, “Kamu belum waktunya bekerja. Belajarlah yang rajin, biar kelak hidupmu enak.”

Meski ibu disakiti, tak pernah sekalipun aku mendengarnya menjelek-jelekkan bapak. Malah ia selalu berpesan untuk menghormati bapak dimanapun dan kapanpun. Inilah jiwa kasatria yang selalu kuingat dari sosok ibu hingga kini.

“Semua manusia akan menunjukkan sifat jeleknya, Le. Tak hanya bapakmu, semua orang mempunyai peluang yang sama selama ia bisa menujukkan sifat baiknya. Mungkin jalan keluarga kita seperti ini. Le, jangan sampai punya rasa iri dan dengki melihat teman-temanmu yang memiliki keluarga utuh. Selalu ingat pesan ini, ya, Le.”

Nggih, Bu.”

Iklan

Bijaklah dalam Berkomentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.