Merantau

(Bagian III)

“Bapak pamit mencari nafkah dulu, Le. Sekolah yang pintar biar menjadi dokter.”

Nggih, Pak. Kalau bapak pulang, tolong bawakan aku mainan!”

Bapak merantau ke Malang saat aku duduk di kelas 3 sekolah dasar. Di sana ia bekerja sebagai pengerajin meja antik. Kalau tak salah ingat, gaji perbulannya 3 juta, jumlah yang cukup besar di kala itu.

Kulepas bapak dengan linangan air mata. Begitupun bapak, mata merahnya saat berpamitan denganku bukan karena debu yang diterbangkan angin kemudian mengusik kelopaknya, melainkan menahan air mata kesedihannya keluar. Bapak memang seperti itu, selalu berusaha agar terlihat kuat di depan keluarganya.

Kutengok mata ibu, ia juga tampak ingin menangis. Ibu selalu diam, ada masalah apapun ia akan diam. Tak pernah berkomentar, meminta sesuatu pun tidak, apalagi mengeluh. Ibarat magnet, ibu adalah kutub yang berbeda dibanding bapak. 

Bapak sendiri memilih merantau bukan tanpa alasan. Saat itu, keuangan keluarga yang semakin menipis dan utang bertumpuk karena perusahaan bapak bangkrut, menjadi alasan terkuat untuk meninggalkan desa.

Sudah dua Minggu bapak berada di Malang. Aku dan ibu tak tahu bagaimana kabarnya. Apakah menyenangkan hidup di Malang? Atau sebaliknya? Kami tak pernah tahu.

Bapak meninggalkan nomer telepon. Ingin sekali aku menelfonnya, namun di rumah –bahkan semua orang di desaku—tak satu pun yang memiliki alat komunikasi canggih tersebut. Wartel pun sangat jauh dari desaku, kira-kira 12 KM jaraknya.

Merasa kasihan, ibu meminta tolong Pak Lek untuk mengantarku ke Wartel. Di situlah pertama kali aku memegang telepon. Aku menangis saat mendengar suara bapak. “Kapan pulang, Pak?” kuulangi hingga sepuluh kali saat menelfon. Gara-gara kepolosanku tersebut, membuat bapak tak tega meninggalkanku. Ia bekerja di Malang hanya sebulan kemudia kembali ke rumah dengan menenteng oleh-oleh dan mainan yang kupesan.

&&&

 

Sebenarnya, aku sakit saat bapak di Malang bukan sepenuhnya karena rasa rinduku kepada bapak. Kerinduan itu hanya beberapa persen saja, selebihnya karena ulah teman-teman dan tetanggaku.

Sewaktu jam istirahat sekolah, teman-temanku sering bertanya ke mana bapakku pergi. Lantas aku menjawab ke Malang. Mereka malah menghasutku dengan cerita-cerita yang membuatku sedikit terpengaruh. Kata mereka, kalau orang tua bekerja di luar kota biasanya bukan sepenuhnya bekerja, melainkan mencari istri baru. Mereka menyebutnya ibu baru untukku.

Meski terpengaruh hasutan teman-temanku, aku tak kemudian percaya begitu saja. Hampir setiap hari mereka mengejekku dan menyindirku dengan kata-kata yang sangat menyayat hatiku. Pernah suatu ketika kesabaranku habis, kupukuli teman yang mengejekku hingga hidungnya berdarah dan giginya copot dua. Akibatnya, kami dijemur di lapangan sekolah hingga lonceng tanda pulang berbunyi.

Tak hanya teman-temanku. Tetangga-tetangga juga berkata demikian saat bertemu denganku. Perkataan tetangga tersbut bak penguat atas segala yang diucapkan teman-temanku. Hal itulah yang membuatku terus memikirkan bapakku. Tak terkecuali ibu, diam-diam aku sering melihat ia menangis di kamarnya, mungkin dengan alasan yang sama denganku.

“Ibu kenapa?” tanyaku saat memergokinya menangis di kamar.

Ibu mengusap air matanya dan kemudian memamerkan senyumnya.

“Ibu kangen bapak?” tanyaku lagi.

Ibu tak menjawab. Aku pun mencoba mengerti, ibu memang selalu seperti itu. Tak mau membagi sakit yang tengah dideritanya. Aku yakin, yang menyebabkan ibu menangis seperti itu bukan karena ia merindukan ayah, melainkan hasutan dan cemoohan tetangga.

Saat itu, aku tak pernah tahu apa motivasi para tetanggaku sehingga bersemangat mengganggu keluargaku. Hingga pada akhirnya aku mengerti, mereka tidak membenci keluargaku, melainkan pernah mendapat trauma dari kasus yang sama. Ibarat tinda setetes merusak susu segelas.

Dua tahun sebelum keberangkatan bapak ke Malang. Kijo, pemuda dari desa sebelah yang menikahi Surtini gadis dari desaku, pulang merantau membawa perepuan yang telah buncit perutnya. Hal itu membuat orang tua Surtini naik pitam.  Sesampainya Kijo di rumah istrinya, hampir saja ia dan gendakannya dibacok bapak mertuanya, untungnya banyak tetangga yang melerai dan menenangkan kedua belah pihak. Sejak saat itulah, tak ada istri yang mengizinkan suaminya bekerja di luar kota.

Ibu memang wanita yang luar biasa. Di tengah atmosfer traumatik yang begitu memukul psikologis masyarakat, ibu malah mengizinkan bapak merantau ke luar kota.

“Semua orang berbeda, Le. Ibu yakin bapakmu tidak akan seperti Kijo. Bapakmu lelaki setia,” begitulah yang selalu dikatakan ibu. Aku sendiri lebih percaya apa yang dikatakan ibu daripada tetanggaku. Namun, sebenarnya aku tahu, ada sedikit keraguan di matanya.

Iklan

Bijaklah dalam Berkomentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.