Bejat

Sebejat bejatnya manusia bejat, tetap saja ia memiliki cahaya baik dalam dirinya dan tak elok jadi bahan hujat. Sebejat bejatnya manusia bejat, tetap saja lebih bejat orang-orang yang mengatai mereka bejat. Sebejat bejatnya manusia bejat dan orang-orang yang suka mengatai orang lain bejat, tetap saja belum tentu bejat menurut Allah Sang Maha Asyik dan Bersahabat.

Allah tak pernah mencipta kesalahan. Allah tak pernah pilih kasih, mau yang dicipta manut pada-Nya atu tidak, mbalelo kepada-Nya atau tidak, bahkan percaya kepada-Nya atau tidak, Allah tetap saja menyanyangi, merawat dan meruwat tanpa memilah-milah. Juga Allah tak pernah menciptakan suatu hal yang tak berguna, tak satu hal pun.

Pelacur. Ini bukan perkara seberapa kilo dan rapatnya daging yang ia tawarkan kepada para lelaki belang-belang hidungnya. Bukan pula persoalan seminim apa rok dan celana yang membalut paha alusnya. Bukan pula persoalan bagaimana mereka bersolek sedemikian seksi sehingga memancing naluri “menunggangi” para lelaki. Cukup sederhana, ini hanya perkara kesalahan kita yang gagal membaca tanda. Tanda-tanda yang diberikan Sang Hyang Widi.

Bila kita beralibi bahwa kita bukanlah Gol A Gong yang doyan membaca alam atau para dukun yang mampu membaca serta menafsiri gerak alam, barangkali kita sudah cukup akut membercandai kehidupan.

Entah siapa yang telah mendidik dan mencuci otak kita, otak-otak yang sejatinya sudah bebal dan dikonstruksi agar dawam bebal. Entah siapa yang mengoar-koarkan bahwa kejahatan kelamin, muntahnya cairan lelaki tidak pada tempatnya adalah salah para pelacur? Bahwa segala perusak rumah tangga orang adalah pelacur, begenggek atau para lonte? Sehingga dengan sak karepe dewek kita boleh merendahkan dan menginjak derajatnya, derajat para begenggek.

Entah siapa juga yang telah menanamkan kepercayaan kepada kita bahwa yang berkerudung, berhijab dan berpakaian ala ala muslimah adalah wanita-wanita yang tinggi derajatnya. Paling top dipilih untuk pasangan hidup atau sekadar teman datang ke kondangan. Dan absah diagung-agungkan serta dilabeli sebagai wanita souuuuliha. Siapa?

Preman. Preman sampah masyarakat. Preman adalah pengangguran yang meresahkan rakyat. Preman hanya bisa mabuk-mabukan, malak, memperkosa, mencopet, sumber keributan. Preman tak layak dijadikan teman.

Siapa lagi yang telah menanamkan pola pikir yang demikian. Mata kita memang bisa melihat jelas, tapi sejatinya telah picek (buta). Picek karena tak pernah mampu melihat preman-preman yang penolong, sopan dan humanis. Picek karena hanya tau jalan baik tapi tak mau mengarahkan para preman itu jogging di jalan yang kita tapaki. Lalu siapa yang sebenarnya tersesat? Orang yang tau tapi tak mau tau atau orang-orang yang benar-benar tak tau?

Aku. Bukan Au, tapi aku. Inilah aku yang mungkin sama denganmu. Tau tapi tak mau tau. Tau tapi pura-pura tak mampu. Tau tapi selalu egois mementingkan diriku. Tau tapi hanya sekadar tau. Tau tau tak tau.

Aku. Bukan Au, tapi aku. Penghujat ulung yang sedang dihinggapi kebingungan mengenai kehidupan. Pemalas yang sedang hancur ditusuk-tusuk ribuan pola pikir edan. Pengalay ulung yang otaknya tak terstruktur, tak karuan.

Aku. Bukan Au, tapi aku. Bagaimana bisa aku menasehatimu, sedang aku tak mau mendapat nasehatmu.

Kamu. Bukan Au, tapi kamu. Bukan pelacur, bukan preman. Hujatlah aku. Bencilah aku. Seperti aku dan kamu yang doyan menghujat dan membenci apa-apa yang tidak klik dengan apa yang diyakini pikirku dan pikirmu.

 

Basecamp Ikamaru Jakarta, 11 Juni 2016; 23:19

Iklan

Bijaklah dalam Berkomentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.