Bola itu Bundar, Kamerad!

“Bola itu bundar. Tapi tak semua yang bundar adalah bola. Sama seperti hidup, manusia hidup pasti bernafas. Namun, tak semua yang bernafas adalah manusia.”

Kata-kata di atas tak ada maknanya jika tak dimaknai. Tak ada artinya jika tak diartikan. Ya, kata-kata yang kutulis tanpa memikirkan kenapa aku harus menuliskannya. Kata-kata yang sebenarnya hanya sekadar mengalir dipikiran, tanpa tahu kemana ia harus bermuara.

Adzan duhur sudah sekitar satu jam tadi berkumandang, kini digantikan suara bola yang ditendang, ‘cit-cit’ bunyi sepatu, suara komentator, dan sesekali tepuk riuh penonton ketika bola menyentuh jaring gawang. Di tengah gemuruh hujan yang baru saja turun, telingaku mendengar jelas bunyi-bunyi itu. Tak ada keinginan hati untuk menyaksikan dan ikut dalam bagian keriuhan itu. Aku memilih berbaring dan bercinta dengan tuts keyboard HPku.

Aku terus menggerakkan tanganku, mencoba mengetikkan beberapa huruf menjadi kata, dari kata menjadi kalimat, dari kalimat menjadi paragraf, dan dari paragaraf menjadi sebuah tulisan yang tak tahu kapan menemui endingnya. Papan tulis hanya terdiam menonton polahku, koran-koran lama maupun baru berserakan lunglai dilantai menemaniku, beberapa laptop dan komputer menyala tak bertuan, semuanya diam memperhatikanku, kecuali kipas angin di atasku yang terus berputar sedari tadi.

Sesekali kulihat langit-langit sekret. Kipas angin tampak bergembiran dan gagah berputar. Kipas terus berputar, seperti pikiranku yang sedang pusing menyaksikan panggung politik negaraku. Di luar mendung dan hujan, seperti hatiku tatkala membaca berita kebakaran hutan di Riau. Andaikan Tuhan menggiring hujan ini sampai di atas titik api kebakaran, mungkin saudara-saudaraku di sana tak begitu menderita diselimuti asap.

Kompas hari ini mengabarkan, beberapa partai sudah mulai menggelar kampanye, itu tandanya perang strategi dibuka secara terang-terangan. Inilah mungkin jawaban Tuhan atas doaku. Kampanye itulah mendung yang diterpa angin pencitraan sehingga menurunkan ‘hujan janji Capres’. Janji-janji para Capres yang maju dan ikut meramaikan Pemilu 2014. Tapi sungguh malasnya hati ini membincang politik, apalagi mendengarkan ‘bacot’ para Capres. “Aih, paleng-paleng ngapusi.” Tak apa aku diganjar dosa oleh Tuhan karena suudhonku.

‘Tiap hari menjadi pengangguran’ jika menganut pengertian mainstream kebanyakan mahasiswa. Jika kebanyakan mahasiswa mengatakan tugas seorang mahasiswa adalah belajar di kelas, maka jangan heran jika aku mengecap diriku sendiri sebagai pengangguran.

Sebulan ini aku tak pernah sekalipun mengikuti pelajaran dosen, lantaran aku belum bisa mengisi KRS (maklum mahasiswa beasiswa adalah kaum yang terdiskriminasi). Dan aku malas seperti kawan-kawan beasiswa lain yang rela nebeng mengikuti perkuliahan.

Setiap hari aku bangun pagi layaknya mahasiswa yang telah mendapatkan kartu studi. Setiap hari pergi ke kampus bukan untuk mengikuti perkulihan, melainkan mengerjakan apa yang harus kukerjakan, apapun itu. Kelasku adalah alam ini, guruku adalah alam ini, dan aku adalah anak kehidupan seperti yang digemborkan Om Khalil Gibran.

Hatiku bergejolak setiap mataku memandang keadaan kampusku. Irama pemerintahan birokrat kampus untuk ‘mengengkang kebebasan mahasiswa’ semakin menyengat di sini. Muncul bebagai kebijakan yang sepihak tanpa meminta persetujuan dari mahasiswa. BEM tak berdaya, mahasiswa pasrah diperkosa, dan para birokrat bersorak dalam balutan diam merayakan kemenangan.

Benar jika presiden pertma ‘SG’ yang kini menjadi salah satu anggota DPR RI, TB Ace Hasan Syadzili berkata, kampusku kini kembali ke era Soeharto. Ah, lagi-lagi malas membincang lebih panjang hal ini. Aku hanyalah mahasiswa pinggiran. Menulis apapun mungkin hanya menjadi angin sepoi biasa, yang bisa dirasakan tanpa menghasilkan sebuah perubahan. Tapi alangkah nikmatnya yang terkena angin itu adalah kaum yang gerah akan panasnya roda kekuasaan, mungkin tulisan-tulisan dan gemboran-gemboran para kaum penolak kebijakan bisa sedikit menghilangkan kegerahannya.

Tak terasa, hujan diluar telah reda, namun lagit masih terlihat muram. Pohon-pohon diam tanpa kata dan tanpa gerak memandang hiruk pikuk mereka yang katanya berstatus mahasiswa. Aspal menggigil karena basah dan kaum tertindas hanya bisa diam berbalut kegelisahannya. Tulisan ini belum menemui endingnya, ia akan terus mengalir mengikuti detak waktu, ia akan terus merekam setiap peristiwa yang dilaluinya, dan terus hidup meski empunya telah kembali kepada-Nya.

“Bola memang bundar”

Ciputat, 17 maret 2014

Iklan

Bijaklah dalam Berkomentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.