Gadis Belia itu Bernama Rani

“Rumahku Pasar Rebo, Kak. Aku setiap selesai sekolah berangkat sama adikku, Rohim, ke sini untuk ngamen. Hasil ngamennya bukan untuk jajan, tapi untuk beli baju baru lebaran.”

Tutur gadis kecil kepadaku. Tangannya masih memainkan rumput yang ia cabut tadi. Rambutnya yang dikuncir diterpa angin, melambai-lambai. “Namaku Rani, Kak. Itu adikku, Rohim,” katanya sambil menunjuk adiknya yang tengah lari-larian bermain layangan di kerumunan motor yang diam ditinggal tuannya.

Di pojok parkiran Studen Center (SC) UIN Jakarta, gadis kecil yang mengaku namanya Rani tersebut bercerita panjang kepadaku. Mendung di langit, suara deburan knalpot, dan angin yang berhembus kencang sore tadi seakan menjadi backsound suasana obrolan kami.

Rani, gadis belia kelas dua sekolah dasar tersebut adalah anak seorang pemulung. “Saya sepuluh bersaudara, Kak. Ibu dan bapak saya setiap pagi hingga petang mencari sampah. Sehari, ibu bisa dapat 20.000 dan bapak biasanya mendapat 30.000,” katanya sambil memainkan rumput di tangannya.

Rani memang tak seberuntung teman-teman sebangku sekolahnya. Rani tak mempunyai banyak waktu untuk bermain. Sepulang sekolah ia mesti menyusuri aspal dan melawan panasnya sinar mentari. Kadang di jalanan, kadang di kampus-kampus, kadang di terminal, dan kadang di pasar-pasar. Hanya bermodal botol berisi beras dan beberapa puluh amplop kecil dalm tas hitam yang ‘dicangklong’ adiknya, kedua bocah itu mengais rupiah dari orang-orang yang ditemuinya.

“Sehari saya bisa dapat 20 ribu. Sepuluh ribu untuk ngojek dari Pasar Rebo ke rumah saya waktu pulang, dan sisanya saya tabung untuk membeli baju baru lebaran nanti, Kak. Saya tak ingin merepotkan ibu dan bapak,” senyum sumringahnya mengiringi kata-kata itu.

Rani mengaku kasihan kepada kedua orang tuanya. Maka ia mempunyai inisiatif untuk ngamen guna meringankan beban ibu-bapaknya. Dan Rani tak iri melihat teman-temannya yang mempunyai begitu banyak waktu untuk bermain, tentunya dengan tanpa beban memikirkan kedua orang tuanya yang kecukupan. Rani rela mengamen, karena baginya, selain membantu orang tua, mengamen adalah hiburan dan permainan yang asyik bagi Rani.

Kala di rumah, Rani memilih belajar daripada bermain. Sehabis maghrib ia mengaji di mushola dekat rumahnya. Ia memerkan hafalannya kepadaku, diejanya huruf hijaiyah dari ‘alif’ hingga ‘ya’. Lancar dan fasih mulutnya membuat hatiku kagum. “Subhanallah,” ucapku dalam hati.

“Saya ingin belajar lebih keras lagi. Saya ingin menjadi dokter, agar bisa mengobati orang sakit. Saya pengen menjadi orang sukses, biar kelak anak saya tak ngamen seperti saya. Saya pengen kaya, biar saya bisa membelikan HP kepada ibu, karena keinginan ibu memiliki HP,” kata Rani sambil menundukkan kepala.

Aku hanya terdiam pilu mendengar kata-kata Rani. Dalam hati aku menyalahkan pemerintah yang masih saja menelantarkan rakyat kecil, dalam hati pula aku mengeluh kepada Tuhan, kenapa tak melaknat pemerintah yang lalim seperti itu. Dan aku menyalahkan diriku sendiri yang tak bisa memberikan sepeser rupiah kepadanya.

Rani dan adiknya adalah bagian kecil kaum bocah yang tak bisa menikmati masa kecilnya. Masih banyak di luar sana anak-anak seperti mereka berdua, bahkan –mungkin– ada banyak yang tak seberuntung Rani. Rani, adiknya, dan bocah-bocah yang bernasib sama dengan Rani butuh uluran tangan kita, mereka mempunyai hak untuk mendapatkan pendidikan yang layak, mereka mempunyai hak untuk menikmati masa kecil seperti layaknya masa kecil anak-anak pada umumnya.

Angin bertiup semakin kencang, mendung semakin gelap, dan butir-butir air berjatuhan dari atas, Rani bertanya, “Sekarang pukul berapa, Kak?”

“Pukul 14.00, Dek,” jawabku.

“Sudah saatnya saya pulang, Kak. Sampai berjumpa lagi ya,” ucap Rani. Ia memanggil adiknya yang masih bergembira memainkan layangan. Aku sendiri tak beranjak dari tempat dudukku. Mataku mengikuti gerak kaki Rani, hingga gadis belia dan adiknya tersebut tak lagi bisa terekam oleh mataku. “Rani dan Rohim, semoga Tuhan selalu bersama kalian dan mengabulkan apa yang kalian inginkan. Aminn”

Ciputat, 11 April 2014

Iklan

3 pemikiran pada “Gadis Belia itu Bernama Rani

  1. hati-hati mas, jaman sekarang banyak orang yang berkedok pengemis. anak-anak sering jadi korban orang tuanya sendiri. disuruh mengemis sedangkan orang tuanya di rumah menunggu hasil. Kasihan sekali kepolosan mereka….

    Suka

    1. wah,,, kok pengalaman kita sama mb. saya pernah melihat dengan mata kepala saya sendiri. ada pengemis yang sangat memprihatinkan, tapi saya sangat bersedih dan kecewa saat ada orang lebih muda (sepertinya anaknya) datang menjemput dengan motor gede. ngelus dada pokoknya dech. mending kalau mau nyumbang dikasihkan ke lembaga yang berwenang. i

      Suka

Bijaklah dalam Berkomentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.