Kitab Bokep dan Survei Ramadhan

Semenjak Marijos dan Marno melawat  ke masjid-masjid perkotaan untuk survei takjil, setiap sore seperti ini Sopo terlihat terus-terusan murung. Entah karena ia baru merasa kesepian karena ditinggal dua begajulnya, atau lambene sedang garing karena puasa. Atau malah, jangan-jangan dia sedang khusyu’ mbayangke es kelapa.

Entahlah. Tidak usah terlalu memikirkan kelakuan Sopo. Orang Sopo itu sudah mlungsungi seperti ular, selalu menjadi baru. Dan ruhnya lebih hidup ketimbang jasadnya. Maka jangan juga disepelekan jika Sopo sedang meneng seperti itu, jangan-jangan ia sedang merogosukmo jasad serta ruhnya dan menelaah  yang direkomendasikannya sendiri sebagai kitab wajib pengajian Ramadhan.

***

Selama Ramadhan, kegiatan Basecamp dipadatkan. Pagi setelah subuh ngaji kitab Fathul Izar, siang kitab Haid,  sore kitab antingantuk para santri, Qurratul Uyun dan malamnya full dengan terawih serta khataman  Alquran. 

Kitab-kitab berbau selangkangan itu dipilih bukan karena arek-arek Basecamp Pengglandang suka film biru atau pengkhayal terbaik dalam urusan ‘atas perut bawah lutut’. Bukan. Kitab-kitab tersebut dipilih karena Sopo sebagai panutan di Basecamp Pengglandang sudah mengeluarkan manifesto iqro’ul kutubul forno khairum minan naum (membaca kitab-kitab bokep lebih baik ketimbang tidur), kepada seisi Basecamp.

“Puasa: kurangi tidur, perbanyak tilawah: Quran, novel, atau kitab-kitab bokep sekalipun. Yang penting jangan perbanyak puasamu dengan tidur, walaupun ia juga bagian dari ibadah!” Ujar Sopo membahasakan manifestonya dengan bahasa yang lebih kekinian dan beken.

Meski penyusun kurikulum pengajiannya adalah Sopo, bukan berarti ia juga merangkap menjadi pengajarnya. Lha wong meski sukmanya sekelas Sunan Kalijogo (ngakunya sendiri), Sopo masih sering lupa urutan huruf hijaiyah, apalagi disuruh baca kitab kuning tanpa harakat.

Ternyata, kurikulum yang disusun Sopo menuai Pro dan Kontra. Ada beberapa orang, yang pikirannya belum benar-benar tercemar ideologi Basecamp Pengglandang, bertanya kepada Sopo, “Om, apa ngaji seperti ini tidak membatalkan puasa?”

Sopo plingak-plinguk seperti ketek ketulup. Mana pernah ia mengantisipasi pertanyaan seperti ini. Ia tersenyum lebar di hadapan hadirin. Tentu dengan maksud agar ia tidak terlihat deg-degan mengulur waktu untuk berpikir.

“Maksudnya membatalkan?” Dasar Sopo tak pernah kehabisan akal. Tanya baliknya bermaksud agar ia punya waktu lebih panjang untuk membuat pernyataan.

“Setahuku, pussa itu menahan. Menahan dari apapun, termasuk hal-hal yang memancing puasa menjadi batal.”

“Jadi maksudmu yang membuat batal itu ngaji seperti ini menimbulkan pikiran kotor atau ngaji, menimbulkan pikiran kotor dan melakukan “ahem” yang membatalkan puasa?” Sentak suasana pengjian menjadi gembira. Pak Guru pun tak ketinggalan terkekeh memamerkan gigi tak ratanyanya.

Namun pemuda itu tersenyum pun tidak. Ia diam seperti mencerna pertanyaan Sopo. “Kalau ngaji kayak begini kan pasti terbayang-bayang. Nah, bukannya puasa itu tidak dimaknai hanya menahan makan dan minum saja?” Tanya pemuda itu.

“Benar. Betul itu. Puasa tidak menahan lapar dan haus saja. Lalu maksudmu opo?”

“Kulonuwun…..”

Belum sempat pemuda tersebut menimpali pernyataan bimakna pertanyaan Sopo, Marijos dan Marno mbecungul menampakkan batang hidungnya.

“Lha ini yang ditunggu-tunggu sudah kembali,” Pak Guru menyambut keduanya. Marno dan Marijos ikut duduk bergabung dengan pasukan pengajian yang sedang gregetan ingin mendengar penjelasan Sopo mengenai  kitab bokep. Tapi tampaknya pembahan bakal berbelok, pertanyaan pemuda gelisah itu akan tebawa angin begitu saja.

“Oke. Karena tim survei kita sudah sampai,mari kita simak terlebih dahulu apa yang mereka dapat!” Benar saja, Sopo membelokkan pembahasan. Sudah bisa ditebak, raut wajah pemuda tersebut menjadi abang-ireng.

Begini rekan-rekan yang sedang menahan lapar, dahaga beserta nafsu-nafsu liarnya. Ijinkan saya membuat pengakuan,” Marijos nerocos, “saya dan Marno selama perjalanan survei sama sekali tidak menjalankan pusa, ini bukan karena saya tidak kuat berpuasa, melainkan memanfaatkan rukhsoh yang diberikan Gusti Pengeran.”

“Wong edan, kenapa kowe ngomong masalah ini, to, Jos?” Marno berbisik  tak terima.

“Lho, ngopo kowe? isen tah? Karo Gusti Alloh bae ora ndue isin, ngopo karo menungso harus jaim?” Marijos balas berbisik.

“Wis ojo bisak bisik, cepat laporan, kita di sini pengen tau bagaimana gaya orang kita berpuasa! Tak sabar betul tampaknya Sopo ini.

“Oke, oke. Jadi ngene, banyak hal menarik yang kita dapat. Pertama, ternyata puasa itu tak ada bedanya, ini tak peduli di kota atau di desa. Bayangkan saja, masih banyak orang yang melakukan aktivitas seperti biasa!”

“Lha mosok poso kon turu wae?” Salah satu jama’ah nyeletuk.

Mengko ndisik. Dengarkan dulu. Jadi yang saya maksudkan bisa itu bukan kegiatan pedagang berjualan, penjaga loket menjual tiket, pendakwah di tv menyampaikan agama atau pemerintah melakukan hikmah. Bukan itu. Tapi kelakuan buruknya. Pedagang masih nipu-nipu pembeli, penjaga loket memanipulasi bus, katanya bus baru nyatanya cuma tulisannya saja merek “bus baru”. Pendakwah di tv masih banyak yang jualan dalil dan agama, niatnya cari lembaran rupiah yang dituhankan. Dan pemerintah, sama saja kelakuannya.” Cerita Marijos.

“Begitu itu, kemarin ada berita di  tv, mbok-mbok tukang warteg dirazial POL PP dengan alasan tak menghormati Ramadhan, lha wong secara personal saja “kita”tak mampu menghormati,” sepertinya bukan Marno yang ngomong demikian, kalau pun Marno yang ngomong, paling-paling dia mengundang khodam orang waras.

“Udah biasa! Lanjut!” Jama’ah serempak berteriak.

“Yang kedua ini sedikit menarik. Jadi, selama bulan Ramadhan ini, intensitas shadaqah dan menyambangi masjid begitu meningkat. Banyak warga yang berlomba-lomba menyumbangkan takjil ke masjid dan tiba-tiba saja, banyak orang-orang yang memenuhi masjid ketika bedug hampir ditabuh!”

“Dari hasil pengamatan kami selama beberapa hari, akhirnya kami simpulkan bahwa hal itu cuma dijadikan ajang sebgai unjuk diri. Maksudnya begini, kita sepakati menyebut investor takjil adalah mbolorot dan penikmat takjil, yang kebanyakan adalah tuna arta, kita sebut mboleong. Jadi, para mbolorot menginvestasikan takjil mereka itu tidak dalam rangka caper kepada Alloh biar dapat ridlan-Nya, melainkan caper kepada umat atau yang lebih memrihatinkan untuk memuaskan rasa gengsinya  terhadap para investor yang lain!”

“Hemmmmm…” gumam Jama’ah.

“Begitu juga para mboleong. Dari hasil wawancara beberapa sempel, kami apresiasi niat mereka meramaikan masjid dan berniat meminimalisir kemubadziran takjil. Tapi lagi-lagi yang memprihatinkan, banyak dari mereka yang hengkang begitu saja  setelah perut kenyang. Ini kan bentuk menciderai marwah masjid.” Duh, kesurupan apalagi bajingan satu ini, kok bernai ngomong menciderai marwah masjid.

“Tapi, kalian tidak boleh menelan mentah-mentah survei kita ini, karena survei ini hanya kami sandarkan pada rasa gelisah  yang membuncah sehingga menimbulkan pertanyaan dan pernyataan yang salah kaprah. Toh, siapa yang tau niat manusia bukan?” Simpul Marno.

“Hanya itu?” Sopo bertanya kepada keduanya.

Marijos dan Marno saling adu pandang. Gerak alis keduanya tampak berbeda, seperti menyiratkan kata sandi operasi. Selanjutnya mereka tersenyum simpul. “Ada yang lebih sepektakulerrrrr, cocok bila dianalisa dari kitab-kitab seksi yang telah beberapa hari kita kaji,” Marno menengo ke luar, kemudian berbisik “ini perihal dinamika intim kaum kota saat Ramadhan!”

Bersambung

Selengkapnya mengenai tokoh Sopo dan Basecamp Pengglandang

Iklan

Bijaklah dalam Berkomentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.