Menangislah Sayang, Apapun yang Terjadi bukan Sebab Dia, Mereka, atau Tuhan

 “Tuhan tidak adil. Tuhan pilih kasih!” Dua kalimat darimu yang selalu kuingat.  Saat itu, kubiarkan kau memaki, menyalahkan, dan menghujat segala sesuatu yang kau anggap sebagai sebab di balik semua permasalahanmu.

Di bawah pohon parkir kampusmu, aku hanya terdiam menemani dedaunan yang tampak heran memandang dan ketakutan mendengar pekik mulutmu. Lampu temaram  membuat mataku remang menyaksikan air mata yang menetes dari balik kacamata minusmu.  Aku sengaja mengunci mulutku, karena aku sadar, hatimu sedang tersayat-sayat oleh pahitnya kenyataan hidup yang mampu melemahkan kekuatanmu.

“Teruslah menangis. Menangis hingga semua masalah yang membebani pikiran sirna bersama keringnya air matamu.” Mungkin kau tidak tahu, saat kau bersimpuh dan sibuk menyeka air mata, aku ingin memakimu, seperti kau memaki Tuhan yang telah menciptakanmu.

Kau terlalu dermawan! Kau berikan semua masalah yang menderamu ke setiap orang, tanpa berpikir orang-orang yang tengah mendengar keluh kesahmu juga memiliki masalah dan berhak mengungkapkannya. Tapi apa? Kedermawan membuatmu angkuh dan tak menerima pemberian orang lain. Aku mengerti, kau memang selalu ingin memberi dan benci ketika diberi.

Tak apalah, bagiku seperti bagimu, persahabatan tak mengenal kata diberi. Berani bersahabat harus berani memberi, tapi memberi versiku jelas berbeda dengan versimu. Entah kenapa, akhir-akhir ini hatiku selalu bergejolak dan merasa tak nyaman mendengar segala keluh kesahmu! Keikhlasanku sepertinya sudah mulai mengering, tak lagi becek atau basah bergelimang air seperti bertahun-tahun lalu.

Sadarlah, kau tak lagi anak-anak. Dirimu bertahun-tahun ditempa di pesantren yang kau sebut penjara suci. Katamu sendiri, hidup harus bijaksana dan tak boleh mengkambinghitamkan segala sesuatu. Apapun yang terjadi, bukan sebab dia, mereka, atau Tuhan -yang sudah berani kau salahkan-, melainkan sebab diri kita sendiri. Tidak orang lain.

Betapa tangguhnya dirimu. Hanya karena dimarahi bapak dan ibumu, kau berani membenci mereka dan memaki Tuhan yang telah memberikan nikmat tanpa itung-itungan. Kau seharusnya menyadari dan belajar tentang arti sebuah mata dan hati. Mata membuatmu melihat dan hati membuatmu mengerti. Kau hanya melihat orang tuamu tegas dan sesekali tak segan berbuat kasar. Namun, kau tampaknya belum mengerti, jika ekspresi kasih sayang mereka terhadapmu memang seperti itu.

Semenjak mengenalmu, aku berkesimpulan, kau adalah pribadi yang taguh pendirian, cerdas, dan dapat diandalkan dalam beberapa bidang. Namun sayang, hanya karena merasa memiliki keluarga yang tidak seperti yang kau inginkan, hidupmu menjadi lenjeh dan terkesan tak berani menghadapi persoalan yang ada. Kau merasa, hidupmulah yang paling menderita di dunia ini.

Coba dongakkan kepalamu, lihatlah dan perhatikan orang-orang di sekitar yang mungkin tak seberuntung hidupmu. Tidakkah kau tahu, orang-orang Rohingya yang terusir dari tanahnya sendiri, Myanmar. Kaum minoritas tersebut kelaparan di atas kapal kayu reot dan betapa pusingnya diombang-ambing ombak. Tidakkah kau melihat, kaum-kaum minoritas di negeri ini yang dimarjinalkan? Tidakkah kau melihat orang-orang yang kebingungan memikirkan esok makan apa?

Apa yang kurang darimu? Tidakkah kau ingat sebuah kalimat yang selalu kau katakan? Undzur ilaa man asfala minkum, wala tandzuru ilaa fauqaqum. Lihatlah orang-orang yang tak seberuntung dirimu, karena hal itu akan membuatmu lebih bersyukur. Jangan sekali-kali melihat orang yang lebih beruntung darimu, karena hal itu memaksamu untuk kufur.

Jika kebetulan kau membaca rentetan kata ini, kuharap tak ada sedikitpun benih kebencian di ladang hatimu yang –kutahu- sangat lapang. Aku juga tidak ingin, saat tak sengaja papasan nanti, dirimu tak lagi memberikan senyummu yang menawan. Parahnya, jika kau hanya diam dan pura-pura tak mengenalku. Maafkan aku, wanita berkerudung kemunafikan, karena kau menjadi tokoh imajinasiku dalam kepalsuan tulisan ini.

Iklan

Bijaklah dalam Berkomentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.