Nurani(?)

Dalam hidup ini, seberapa sering Anda melihat manusia yang tidak beruntung? Seberapa sering pula Anda hanya diam sambil merasakan ketidaktahanan melihat manusia-manusia tersebut? Seberapa sering pula Anda hanya mengacuhkannya dan berujar “kasihan sekali”, tanpa dibarengi tindakan nyata yang setidaknya mampu mengurangi beban hidupnya?

Saya mungkin salah satu dari banyak orang yang hanya merasa iba terhadap manusia yang –dianggap—memprihatinakan dalam menjalani hidup. Ini tidak membual, hampir setiap hari, mata saya disuguhi pemandangan yang mampu mengiris hati. Namun, hampir setiap hari itu pula, tak ada tindakan yang saya kerjakan. Saya selalu berpikir, mungkin itu adalah jalan hidupnya.

Inilah pemandangan yang mengharukan yang sering saya lihat, dan parahnya saya hanya diam menangis di dalam hati.

Bapak Tua Penjual Abu Pawon (kompor dari tanah liat)

Hampir setiap hari saya bertemu dengan bapak tua ini. Dengan mengenakan sepatu, celana pendek, topi ala cowboy dan kacama mata besar, simbah renta itu mendorong gerobak berisi abu pawon. Entah ada yang memanggilnya atau tidak, ia terus mendorong seperti tak akan habis tenaganya.

Saya sering melihatnya melintas di depan Basecamp Ikamaru Jakarta, tempat saya bernaung saat ini. Saya yakin, di zaman yang serba canggih ini, ketika ada orang yang membeli barang dagangannya, bukan karena membutuhkan abu pawon tersebut, melainkan hanya karena iba dan tak tega melihat kakek setua itu masih memeras keringat demi memertahankan hidup. Zaman sekarang, abu pawon buat apa?

Saat melihat simbah tua ini beristirahat di ujung Jalan SD. Inpres, Cirendeu. Awalnya saya hanya biasa saja, setelah saya tahu ia berjongkok sambil makan nasi kotak berisikan lauk seadanya, saya benar-benar menangis melihatnya. Apalagi saat kakek itu memasukkan nasi ke dalam mulutnya. Mulut dengan gigi yang tinggal beberapa itu, membuat kakek tersebut tidak seperti layaknya orang makan, tetapi lebih cocok dibilang ngemut nasi.

Namun, melihat seseorang jangan dari perawakannya, begitu pesan para sesepuh. Meski sudah keriput dan malaikat –mungkin—sebentar lagi menjemput, semangat kakek ini tetap menggebu. Saya merasa hina di hadapannya. Saya yang serba kecukupan, tak punya uang tinggal minta, tidur nyaman, dan berpendidikan saja terkadang malas menjaalani hidup.

Penjual Kerupuk Buta

Tangannya memgang tongkat, bukan tongsis yang sering dipergunakan selfi remaja sekarang. Kakinya terus berjalan menyusuri aspal panas dan tak berujung. Pundaknya menyangklong tas kecil dan puluhan bungkus krupuk. Tapi matanya tak melihat, bahkan mungkin tidak tahu jika dibohongi pembeli.

Mereka mungkin tak memiliki pengelihatan layaknya manusia normal. Tetapi, mereka tetaplah manusia yang memiliki harga diri melibihi kita yang masih ogah-ogahan dalam berusaha. Mereka tak mau meminta dengan memamerkan kebutaannya. Mereka lebih memilih berusaha, entah habis atau tidak kerupuk yang mereka jajakan.

Nenek Tua Penjual Buah

Jika Anda mau berkunjung ke UIN Jakarta, pasti akan melihat nenek tua yang saya maksud. Nenek tua ini menggelar barang dagangannya di dekat Pintu Doraemon (pintu kecil yang biasa dipergunakan mahasiswa UIN Jakarta untuk keluar kampus). Buah-buahan yang ia jajakan, bagi mahasiswa UIN Jakarta yang sudah tercemari kehidupan hedon, terbilang tak layak makan. Buah-buahan itu sudah tak segar, ada hitam-hitamnya pula.

Tetapi di mata manusia normal, nenek itu tetaplah manusia yang tak bisa disepelekan. Nenek itulah cermin pemuda kekinian yang setiap hari hidup dari belas kasih orang tuanya. Lihatlah, di masa istirahatnya, nenek itu masih banting tulang mencari kehidupan. Lha saya?

Akankah kita hanya diam dan memendam rasa belas kasihan kita terhadap mereka? Akankah kita hanya bisa menceritakan mereka, tanpa memberikan apa yang dapat membahagiakan hati mereka? Apakah kita hanya bisa menghujat pemerintah agar menjamin kehidupan mereka? Tidak! Kita harus bergerak. Kita harus berpikir, tidak ada orang lain yang bisa menolong antar sesama kecuali diri kita. Ayo pemuda, jangan diam, mari bergerak!

Iklan

Bijaklah dalam Berkomentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.