Politik Gaib

*Salat lebih penting ketimbang Anda membaca artikel ini……

dukun

Pernah suatu ketika saya membaca artikel di sebuah majalah ternama. Laporan yang ditulis apik dan sedikit membuat bulu begidik itu berkisah mengenai “dibalik kemenangan para penguasa negeri”. Dari Bung Karno sampai Pak Susilo, bahkan eks presiden Amerika pun dikatakan memiliki bekingan seorang dukun sakti, sehingga wajar bila mereka kemudian menjadi penguasa negeri.

Membaca laporan panjang nan berliuk itu, saya digiring ke alam bawah sadar, bahwa segala bentuk kehebohan, keramaian, kampanye, dan gesekan antar partai politik yang mengusung calon masing-masing, tak ubahnya teriakan orang gila dari atas gunung: terdengar, mengundang perhatian lalu hilang begitu saja. 

Kalah atau menangnya seorang calon tidak ditentukan oleh bagaimana timses merancang strategi kampanye, melainkan seberapa tepat timses itu memilih dukun atau kiai untuk membawa yang dijagokan bisa menguasai kursi kekuasaan.  Percaya atau tidak, di negeri ini segala yang tidak bisa dinalar itu lebih kuat ketimbang apa-apa yang dapat dilogika otak manusia.

*Diluar konteks: Bila diibaratkan mungkin seperti pesta perkawinan, bagi sepasang manten mungkin  resepsi bukanlah acara inti dari pernikahan, karena inti pernikahan terletak pada bersenang-senang membuat keturunan (yang banyak; solih; soliha; berbakti pada bangsa dan negara). 

Berbahagilah kita karena menjadi bagian dari Indonesia. Selain memiliki beragam suku dan budaya,  politik di negeri ini ternyata memiliki gaya main sendiri, tentu diluar konsepsi perpolitikan yang diajarkan di kampus-kampus ternama. Mana pernah, dosen-dosen di kampus mengajarkan “Konsep perpolitikan dunia ghaib versi Ikatan Dukun Seindonesia”, misalnya, atau “metode memilih dukun sebagai pendamping ikhtiyar pemenangan Si A”. Padahal bila mencermati kenyataan, hal klenik semacam itu telah lama dipraktekkan. Dan seharusnya para ahli politik mulai menyadari dan memasukkan kurikulum berbasis “gaib” di fakultas-fakultas politik, demi menjaga stabilitas perpolitikan gaib yang berkelas, aman, damai dan terbuka.

Gesekan politik gaib begitu kentara dan sangat terasa apabila kita mau mencermati gaya mengamalkan ilmu politik versi orang-orang desa. Meski sudah mulai mempraktekkan strategi kampanye, money politic hingga black campaign, tetap saja dunia gaib masih menjadi andalan untuk memenangkan seorang calon. Seakan-akan bila tanpa klenik, perjuangane kurang mantep ngono!

Acara sebar garam di jalan hingga berkirim santet seperti berkirim surat cinta sudah menjadi perosalan yang lumrah ketika pencalonan sekup desa digelar. Pun, jangan ditanya bagaimana suasana yang memanas begitu sangat menggerahkan: Senggol, bacok! Salah omong, bacok! Mending dibacok daripada tiba-tiba perut melembung berisi besi-besian.

Lalu, apakah gaya politik yang tak dapat diraba itu merugikan masyarakat?

Dari segi kesehatan, mungkin banyak orang yang merasa terancam, karena tak selamanya santet dan serangan ghaib itu tepat sasaran. Banyak orang yang merasa was-was saat menolak suaranya dibeli oleh sabet calon yang tidak mereka jagokan. Maka sering terjadi, masyarakat menerima uang suap (agar tak dianggap menolak) dan urusan memilih atau tidak, sepenuhnya urusan pemilih, dukun dan Tuhan di bilik suara.

Tetapi, dari segi ekonomi, praktek politik gaib ini rupanya mendongkrak omzet para dukun. Jadi, tidak hanya konveksi dan percetakan saja yang mendapat berkah pemilihan. Bakul-bakul kelontong juga mendapat imbas positifnya. Meski para dukun sudah menggunakan ATM sebagai media pembayaran, nyatanya masih banyak para klien yang berdatangan sambil menenteng gula dan kopi. Bayangkan, bila sehari ada 20-an orang yang datang berkonsultasi, berapa kilogram gula dan kopi yang dapat dijual para pedagang? Bayangkan.

Nah, mumpung pemilihan kepala daerah serentak akan digelar, segeralah ubah profesimu menjadi dukun. Jadi kiai-kiaian aja bisa dan laku di tv, masa jadi dukun-dukunan kok mikir dua kali. 

Ibil Ar Rambany, Ciputat /25/072016

Sebuah catatan tak penting

Iklan

Bijaklah dalam Berkomentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.