Cinta Negeri, Dari Hati Terpasung dalam Hati

Hidup, bagi Paimin (bukan nama asli), adalah tentang bagaimana ia bekerja profesional menjaga stabilitas keamanan, menjaga kendaraan yang berjajar rapi di parkiran dan memberikan pelayanan terbaik bagi segenap tamu hotel yang berdatangan. Selebihnya, seperti urusan-urusan ‘kenegaraan’, cukup disimpan dalam hati dan kadang-kadang diucapkan sebagai bahan gurauan bersama teman-teman.

Paimin barangkali satu dari sekian orang yang memiliki prinsip tak mau ikut maido dalam ‘drama gila kekuasan’ negeri yang loh jinawe ini. Bukan karena ia tak tahu apa-apa perihal lelucon pemimin-pemimpin di negeri ini, melainkan ia hanya memilih diam dan menikmati ‘drama’ tanpa henti itu. “Manusia belajar bicara cukup 2 tahun, tapi untuk diam ia butuh puluhan tahun,” candanya sembari memberi senyum ke setiap tamu hotel yang melintas.

Saya mengenal Mas Paimin ini tanpa sengaja (setidak sengajanya jomblo menemukan pasangan mereka). Berawal dari birahi pengen ngudud yang semakin tak tertahankan, saya memutuskan keluar hotel untuk mencari ruang terbuka (sering bergaul dengan Mas Aditia Purnomo seorang Bung Besar Komunitas Kretek, dan membaca serta menulis di laman webnya, maka haram hukumnya apabila saya merokok di dalam ruangan yang ber AC). Setelah menelusuri puluhan anak tangga (karena saya sempat bingung mencari lift), sampailah saya di pos jaga Mas Paimin. Setelah nyepak-nyepik menawarkan rokok, akhirnya saya dipersilahkan duduk dan merokok di depan pos.

Entah apa yang membuat kami tiba-tiba ngobrol hangat, mulai dari Mas Paimin menceritakan kampung halamannya sampai menghujani saya puluhan pertanyaan basa-basi yang memancing jawaban basa-basi juga.

Di tengah-tengah gurauan, saya kembali menyulut rokok, pun begitu dengan Mas Paimin. Tiga kali ia mengehempaskan asap ke udara dengan isyarat bahwa asap-asap ini adalah anuegerah Tuhan yang harus selalu disyukuri.

Klepas-klepus Mas Paimin memainkan asap, sedang saya merasa kegirangan melihat Mas Paimin yang begitu lihai dan menikmati isapan demi isapan rokoknya. Kami sama-sama diam, bergulat dengan pikiran masing-masing. Tiba-tiba Mas Paimin berkata serius, “Saya heran dengan petinggi negeri ini….”

Wah, ini suara nuarani. Batin saya kala itu. Maka saya menunggu kalimat apa yang selanjutnya akan keluar dari mulut Mas Paimin. Barangkali, selain banyak basa-basi, Mas Paimin ini termasuk lelaki TPK (Tak Peka Keadaan). Buktinya, lama saya menunggu, Mas Paimin tak kunjung melanjutkan ucapannya. Akhirnya, saya bertanya, “Heran kenapa, Mas?”

Benar, Mas Paimin memanglah seorang petugas keamanan hotel yang saban hari berkutat di situ-situ saja. Tetapi kadar cinta negara Mas Paimin tetap tak kalah dengan kadar cinta para aktivis yang sering demo meneriakkan rasa nasionalisme dan pemerintah: yang mengumbar cinta negaranya bila tersorot kamera. Cinta Mas Paimin ada di dalam hati, bukan cinta cap lambe lames ala politisi.

Syukurlah Mas Paimin masih memiliki kegelisahan, artinya Mas Paimin masih peduli dengan kondisi negaranya, meski kegelisahan itu selalu ia simpan dalam lubuk hati. Kegelisahan untuk konsumsi pribadi.

Free Indonesia Merdeka Wallpaper HD 1024x678

Setelah mendengar penuturan Mas Paimin, kedua pipi saya seperti ditampar keras, tentu lebih keras ketimbang tamparan hati seorang wanita. Mulai beragam kasus di Indonesia, kasus-kasus yang pernah ramai dan belum selesai, yang sejatinya sudah hampir hilang di ingatan saya masih diingat hangat oleh Mas Paimin. Dengan runtut ia mengungkapkan rasa prihatinnya terhadap para korban tambang, pejabat-pejabat ‘baik’ yang dilengserkan, kekanak-kanakannya Ahok hingga resuffle yang baru saja dilakukan Pak Jokowi.

“Apa yang ada di otak orang-orang pinter itu? Saya nggak tau, jangan-jangan otaknya diciptakan Tuhan dengan onderdil yang unlimited. Sehingga mereka punya aturan sendiri, yang buruk direkrut yang baik dicekik. Gimana nggak hancur negara ini?”

Saya hanya nyengir-nyengir sendiri mendengar Mas Paimin melenguh panjang. Mau saya tanggapi apalagi kegelisan orang-orang seperti ini? Lebih baik saya diam dan memprovokasinya dengan pertanyaan-pertanyaan yang ingin saya tanyakan.

“Lalu, pemimpin seperti apa yang Mas Paimin harapkan?” Pertanyaan ini saya kira terlalu mengarahkan. Tapi tenanglah, saya bukan agen survei para pendekar yang akan maju di Pilgub DKI mendatang.

“Seperti Ahok,” jawabnya, “meski sekarang saya sedikit kecewa dengan Ahok. Ia mengkhianati Teman Ahok dan para pemilik sejuta KTP yang telah rela berdesak-desakan demi Ahok maju tanpa embel-embel partai. Saya sangat kecewa dengan itu! Ahok itu tak tahu diri. Apa dia nggak pernah dikhianati wanita ya, sehingga tanpa dosa seperti itu mengkhianati Teman Ahok. Atau jangan-jangan Teman Ahok itu ya cuma bagian dari sekenario permainan politik Ahok? Atau jangan-jangan kita ini yang terlalu bodoh?” walah mboh, Mas, aing no komen pokokmen.

Mas Paimin kembali terdiam, sementara itu waktu terus bergerak. Tak terasa enam puntung rokok telah tercecer di bawah kami. Selama itu, saya tak sedikit pun menanggapi Mas Paimin. Hanya bertanya, bertanya dan bertanya. Kapan lagi saya bisa mendengarkan mereka mengeluh, jika media hari ini hanya mengutip “orang-orang” elit, menyuguhkan berita yang diframing sedemikian rupa dan terkontaminasi oleh kepentingan para elit negara.

Singkat kata, Mas Paimin menyimpan kembali kegelisahannya di dalam lubuk hati yang paling dalam. Ia berjanji tak akan bicara kesengsaraan di depan para elit negara. “Saya tak akan ikut demo-demo, meneriakkan harapan, karena belum siap suara saya dicuekin begitu saja. Orang ibu-ibu Rembang yang begitu tersiksa saja masih dibiarkan, bagaimana dengan saya yang subur begini? Mendingan saya mengabdi kepada negara ini dengan bekerja keras dan amanah sesuai pekerjaan saya, meski gaji juga kadang tak kunjung dinaikkan. Urusan lain-lain, biar urusan pemerintah, orang yang punya Indonesia itu kan pemerintah, bukan rakyat!” Pungkas Mas Paimin

 

Melawai, 2 Agustus 2016

Iklan

Bijaklah dalam Berkomentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.