Berperang dengan Pena

Free Indonesia Merdeka Wallpaper HD 1024x678

Mbah Ihsan Jampes, pengarang kitab Siraj at Thalibin, suatu ketika, saat sedang ngopi, dikritik seseorang. “Kiai kok gaweannya cuma ngopi dan udud saja,” begitulah kurang lebih bahasa kekiniannya.

Mbah Ihsan tak marah. Ia diam mendengarkan sembari menyelesaikan hajat ngopinya. Lalu ia pulang, bersemedi beberapa saat dan menelurkan karya fenomenal Irsyad al-Ikhwan fi Bayan Hukmi Syurb al-Qahwah wa ad-Dukhan, (adaptasi puitik plus syarah dari kitab Tadzkirah al-Ikhwan fi Bayani al-Qahwah wa ad-Dukhan karya KH. Ahmad Dahlan Semarang) yang kemudian diterjemahkan menjadi buku ‘Kitab Kopi dan Rokok’. 

Mbah Ihsan, patut kita contoh. Ketidaksepemahaman atau beda pilihan, layaknya memilih calon pemimpin DKI, tidak seharusnya membuahkan adu ‘okol’ (fisik). Cukuplah yang diadu akalnya seperti yang dilakukan dua senior ini, sebut saja Om Denny Siregar dan Om Muhammad Husnil. Mereka tak perlu jotos-jotosan untuk membela pemimpin yang mereka jagokan.

Om Denny Siregar, dengan artikel berbahasa satir yang “mengombak-ombak” mencoba mengkritik Pak Anies, yang menurutnya lebih gila ketimbang Ahok, Si Petahana yang Om Denny Jagokan. (Sila baca: Suruat Terbuka Denny Siregar). Kemudian, dengan artikel mendayu, dalam dan cukup panjang, Om Husnil menanggapi kekocakan Om Denny (sila baca: Anies Baswedan Memang Kurang Gila, Bung Denny Siregar ).

Perdebatan di atas perlu diacungi lima jempol sekaligus. Gaya perang yang menurut saya lebih tajam ketimbang saling beradu pedang. Perang yang membunuh tapi tidak sampai menghilangkan nyawa. Hal yang demikian juga dilakukan orang-orang Majapahit dan Mataram tempo dulu. Mereka mulai merambah perang tulisan untuk mematikan satu sama lainnya.

Lantas, bila sekarang makin banyak organ-organ yang doyan ‘menggayang saudara sendiri’ (menggunakan kekerasan untuk mengajak kebaikan atau menjotosi mereka karena tak sepaham), sebenarnya mereka ittiba’ kepada siapa? Jangang-jangan sejarah yang mereka baca hanya sejarah peperangan? Atau darah campuran mereka terlalu melebihi kadar darah orang-orang Nusantara? 

Iklan

2 pemikiran pada “Berperang dengan Pena

Bijaklah dalam Berkomentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s