Marno dan Marijos Bahtsul Masail Jumatan di Jalan

“Salat Jumat di jalan itu sah. Ora popo. Ora bid’ah. Hallaaaaal. Apalagi, selain niat nyembah Gusti Alloh, Jumatan di jalan pada 2 Desember besok juga diniatkan sebagai protes kepada pemerintah yang ora tegas terhadap penista agama dan tentu, untuk membela Alquran yang sudah dilecehkan oleh kapir!

Setelah mempertahankan argumennya sedari pagi tadi, Marno berdiri sambil menduding gambar pimpinan aksi Bela Islam Jilid III besok, Sang Habib yang diemper-emperkan Sayyidina Umar karena ketegasan dan keberaniannya. “Pokoe, aku gugon-tuhon sama Bib ini! Aku rak peduli kowe lan Sopo sepakat atau tidak!”

Sedangkan Marijos menundukkan dan mengelus kepalanya berulang kali. Kemudian mendongakkan kepalanya dan diarahkan kepada Sopo dengan harapan Sopo mengeluarkan fatwa yang mencerahkan. Tapi sirnahlah harapan Marijos. Sopo tampaknya sedang fokus ndekemi laptop hasil meminjam dari Wak Kades, dan tentu tidak boleh ada yang mengganggunya.

Piye, Jos? Ente sepakat sama kata ana ora?” Entah sejak kapan Marno kearab-araban seperti ini. Biasanya bedes satu itu paling getol memperjuangkan budaya kekayaan Indonesia, sampai-sampai terlihat antiarabisasi. Tapi kok ini sepertinya ia terlalu jauh terbawa arus.

Ora. Aku ora sepakat dengan argumenmu!” Marijos merebahkan diri sambil matanya mecicil mentelengi Marno.

“Argumen Ente kepiye? Sejak tadi, Ente itu cuma ngomong “ora sepakat”, “ngawur”, dan bilang pendapatku orak ngilmiyah. Padahal sudah tak datangkan pendapat dari 4 Imam Madzhab yang masyhur di kalangan masyarakat ahlussunnah.

Ini, lanjut Marno, permasalahan khilafiyah. Jaremu, ihtilaful ulama rahmatun.

Tiba-tiba, “gedebuk”, suara tangan sopo meninju gebyok Basecamp Pengglandang. Sentak mata Marno dan Marijos tertuju kepadanya. “Asu tenan!” Gumam Sopo kemudian berlalu masuk kamar mandi begitu saja.

Marno dan Marijos hanya terdiam. Mereka tidak berani, bahkan untuk sekadar bertanya “ada apa?”. Karena semua warga Basecamp Pengglandang sudah tau watak Sopo yang emosian.

Marno kembali mengintimidasi Marijos dengan pendapat yang menurutnya sangat ilmiah. “Piye, sudah keluar tah pendapatmu?”

“Telek tenan bocah iki,” batin Marijos saat mendengar ucapan demi ucapan Marno. Mau tak mau, suka tak suka, Marijos harus meladeni semangat berdebat Marno yang menggebu-gebu.

“Begini, No,” Marijos kembali duduk, “hidup itu melawan arus. Hanya sampah dan batang (bangkai) yang hanyut terbawa arus!”

“Maksudmu?” Marno naik pitam. “Matamu. Kowe menganggap aku ini mengikuti arus seperti sampah dan batang? Iki aku melawan arusnya pendukung kafir atau muslim yang diam saja melihat agama dan kitabnya diinjak-injak kapir!”

“Sik tah, Kowe kok jadi emosian ngene. Maksudku, Kowe itu hanyut oleh arus yang beredar. Argumenmu kui hanya memamah kulit dan sama sekali tak menelaah substansinya.”

Ngomong langsung pada intine! Aja bertele-tele!” Muka Marno memerah. Ia marah.

Mendengar teman sekasurnya ngamuk-ngamuk kesetanan, Marijos hanya geleng-geleng kepala sembari memikirkan jawaban yang aman agar tidak menimbulkan gencatan senjata.

Kowe bilang tadi Jumatan di jalan juga pernah dilakukan oleh Sahabat Nabi, to? Siapa itu jenenge, sing jaremu Sultan Turki Ustmani itu lho?” Tanya Marno sedikit menggoda.

“Dasar utek urang, baru saja tak ucapkan sudah leyap dari ingatan,” gumam Marno. “Namanya Muhammad al Fatih, seorang yang cerdas dan berhasil menaklukkan Konstantinopel.”

“Oh iya, Muhammad al Fatih,” tanggap Marijos sambil menggaruk-garuk kepalanya. “tapi Sopo kok lama ora keluar dari kamar mandi, ya, No? Opo de’e semaput?”

“Hemmm…. Kowe iku pancen njancuki. Wis ora usah mencoba membelokkan pembahasan!”

“Gini, sebelum aku menanggapi argumenmu yang badai dan ngilmiyah itu, aku pengen tanya satu hal karo awakmu.”

“Opo?”

Umpomo aku ngomong ‘Gusti Alloh punya tangan’, aku salah, doso lan layak diganjar neroko ora?” Tanya Marijos.

“Iku layak kanggo awakmu! Bahkan kowe termasuk kafir!” Jawab Marno singkat.

“Kok bisa?”

“Kowe iku uwis madakke Gusti Allah dengan makhluk, padahal salah sawijine sifat Allah itu mukhalafatul lil hawadisi, tidak sama dengan makhluk!”

Mengko ndisik! Coba ingat-ingat Surah Al Fath ayat 10 , di situ ada lafadz ‘yadullaha fauqa aidihim’. Yadun maknanya apa?”

“Tangan,” jawab Marno singkat.

“Lalu kenapa, aku kok ora oleh ngomong Allah punya tangan?” Marijos mengangkat kedua bahunya sambil tersenyum sinis.

Utekmu itu pancen utek urang. Baru kemarin pengajian Yai Sanusi, Imam masjid sebelah lulusan Al-Azhar mbahas masalah iki. Bahwa ayat-ayat mutsyabihat harus dita’wil, agar tidak syubhah. Dan, ileng-ileng, ayat sing mbuk sebutkan tadi adalah mutasyabihat. Kowe itu ojo tura-turu wae, harus sering ikut pengajian, biar tau kalau memaknai segala sesuatu tidak hanya pada teks, tapi juga konteks, juga harus paham asbabul nuzul atau asbab wurud. Ngerti Kowe?”

Ini adalah kabar gembira. Bedes seperti Marno sudah bisa runtut berargumen dan mencoba menyadarkan temannya. Sudah menjadi hal maklum bahwa anggota terdedel di antara semua orang dedel di Basecamp Pengglandang adalah Marno.

“Nah itu maksudku, Cuuuuuuk. Argumenmu mengenai salat Jumat di jalan itu tidak mencerminkan bahwa Kowe menelaah konteks secara mendalam. Cuma mbadog hasil akhirnya saja. Bila di situ tertulis salat Jumat di jalan pernah dilakukan, berarti sekarang pun ora popo dilakukan. Tak pikar piker, utekmu kok sengklek. Wis utek urang, sengkelek sisan!” Marijos tertawa terpingkal-pingkal.

“Ohhhhhh, ndak bisoooo. Itu sudah paten. Itu sudah sepakati juga sama MUI. Siapa lagi patokan fatwa di negara ini kalau tidak MUI?”

Pekok tenan raimu ki. Coba bandingkan konteks Jumatan di jalan yang dulu dan di jalan yang sekarang? Pasti beda. Tur lah, mencegah kemadlorotan itu lebih utama, seperti salah satu pesan dalam kitab qawaidul fiqkiyyah. Ileng ora?”

“Aksi ini juga mencegah kemadlaratan! Amar ma’ruf, nahi munkar!” Marno sewot.

Wis karepmu wae, Su! Coba bayangke, saumpamane umahmu di dekat jalan yang mau dipakai salat Jumat besok, terus bojomu tiba-tiba mau melahirkan, sedangkan menuju rumah sakit atawa dukun beranak cuma lewat jalan itu? Yok opo? Kudu mbuk pisuhi ora sing Jumatan? Opo bojomu mbuk paksa ngeden sak kuat-kuate, ben anakmu pecetet lair?

“Alah. Omonganmu itu seperti yang diomongkan ulama-ulama yang ora sepakat sama aksi Bela Islam ini. Wis-wis. Aku mau sowan ke rumah Pak Kaji Jamiran. Mau minjam jubbah dan surban buat ikut salat Jumat di jalan!” Marno berlalu meninggalkan Marijos.

Beberapa saat kemudian Sopo keluar dari kamar mandi. “Biarkan, Jos. Sekarang itu harus trendi dan gaul. Masa dari dulu Jumatan di masjid aja. Kolot, ga punya inovasi. Jare arek-arek gaul, karena salat Jumat di masjid sudah terlalu mainstream!”

Marijos pun tersenyum dan kembali menyesap kopi hitamnya.

Baca Tokoh Sopo lainnya: di sini 

Iklan

Bijaklah dalam Berkomentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.