Kiai Kufar

Di antara para kiai alim dan wira’i di dusun Karang Jong, sebuah dusun di Blora Selatan, Kiai Kufar lah yang  paling menyita perhatian masyarakat. Bukan karena ia lebih jadug, lebih wira’i, dan punya label kiai  di depan namanya (lha wong memang nama aslinya Kiai Kufar je), tetapi perihal kelakuannya yang menjadi kealim-aliman dan mulutnya yang kequran-quranan.

Barangkali semua orang telah mafhum, segala yang tak biasa akan selalu mengundang perhatian. Macam Kiai Kufar yang semula anti masjid, anti ngumpul-ngumpul kondangan, anti terhadap kegiatan keagamaan orang-orang dusun, suka menyendiri dan tapa brata di hutan-hutan sepi, tiba-tiba selalu ada di setiap agenda-agenda  keagamaan, dan sok ker dengan setiap orang. Bahkan ia telah berhasil mendepak Kang Mukidi, orang yang telah berpuluh-puluh tahun mengabdikan dirinya menjadi marbot dan tukang azan tanpa bayaran.

Pokoknya saat ini lelaki gondrong pemilik nama depan Kiai tersebut punya kelakuan serta tindak tanduk antonim dari kelakuannya sebelumnya. Bagi masyarakat Karang Jong, peristiwa Kufar itu cukup spektakuler, tetapi sepertinya ada hal-hal ganjil yang mulai disadari masyarakat.

Bermula dari sangkaan kemudian menjadi  isu yang tersebar secara senyap dari mulut ke mulut, telinga ke telinga, hingga bermuara menjadi topik nggunem (ngegosip) di tongkrongan ibu-ibu yang sedang melaksanakan jemaah petan (mencari kutu rambut), menjadi hal lumrah hampir di seluruh dusun di kabupaten Blora dan sekitarnya.

Jangan heran, bila manhaj atau metodologi nggunem atau ngerasani dengan teori otak atik mathuk (otak atik cocok) ala emak-emak dusun itu, ternyata mampu menciptakan teori-teori yang seakan-akan sah bila diamalkan dan diamini oleh seluruh ibu-ibu PKK dan masyarakat luas.

Nahasnya, kelakuan Kufar ini telah sampai meja perundingan ibu-ibu petan. Dalam konferensi petan massal itu, ibu-ibu beranggapan Kufar ini gendeng. Kesurupan dedemit. Tidak kuat menyangga wirid dan amalan-amalan yang diberikan kiai spiritualnya. Dan yang terkahir, Kufar gendeng karena sudah setua itu tak kunjung kawin juga.

Meski ngawur dan asplak (asal jeplak), dalam metodologi nggunem tidak boleh keluar dari konteks dan fakta-fakta yang dapat terlihat mata. Sebelum Kufar tiba-tiba melebur ke dalam masyarakat, ia sering pergi berminggu-minggu, berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun untuk sowan kepada para kiai, baik yang masih hidup atau sudah wafat, tentu dengan maksud belajar asah rasa dan kanuragan, dua hal yang ia gandrungi semenjak nyantri di jalur spiritual.

Apalagi, baru beberapa hari yang lalu, selama kurang lebih 5 bulan, Kufar  berjalan kaki menyambangi 7 tempat pertapaan Sukarno, dari Goa Istana Banyuwangi, Pertapaan Indrokilo Prigen, Goa Selomangleng Kediri, Alas Ketonggo Ngawi, Goa Ratu Cilacap, Gedung Bentol Cipanas, hingga Gunung Munara Bogor. Sehingga wajar apabila ibu-ibu menganggap Kufar tak normal.

Barangkali dari perjalanan dan pertapaan spiritualnya di tempat yang pernah didiami Sukarno, ia mendapat bisikan mengenai ilmu melebur dan membelokkan arus. Satu ilmu yang dikuasai Sukarno dan terbukti mampu menghancurkan imperialis.

Tak ketinggalan, bapak-bapak ikut berkomentar, meski sekupnya cuma seluas ranjang dan pendengarnya hanya istrinya. Pendapat kebanyakan bapak-bapak cukup politis. Kufar sedang melakukan pencitran, karena ia sedang merencanakan agenda-agenda jahat untuk menguasai forum-forum keagamaan dusun dan diubah menjadi forum-forum tirakat, wiridan, kanuraganan dan segala hal yang berbau klenik-klenikan. Bila hal itu terjadi, maka hancurlah aqidah Islam yang telah bertahun-tahun, dari generasi ke generasi, dijaga dan dilestarikan oleh orang-orang dusun.

Secara diam-diam pula, para kiai dan beberapa masyarakat yang mencium bau busuk dari gelagat Kufar, berkumpul menyusun strategi guna menyelamatkan aqidah dari ritus-ritus agama ala Kufar yang tiada atau dho’if dalilnya.

“Kalau dia semakin mendapatkan hati para jama’ah, kita usir saja dari desa, Pak Kiai!”Usul Kang Suradi kepada Kiai Munaji.

“Kita harus lebih kencang bergerak, Pak Kiai. Niat kita masuk sini kan memurnikan ajaran Islam dan membuang budaya tradisi jahiliyah masyarakat Karang Jong ini, Pak Kiai? Lha ini sudah setengah jalan agenda kita, tiba-tiba ada Kufar, anak bromocorah yang dulu doyan mabuk-mabukkan dan berguru pada kiai sesat yang mengajarkan sihir, tiba-tiba menyita perhatian masyarakat. Gawat ini, Pak Kiai!” Sujono, yang punya nama Arab Jaizullah, ikut membakar suasana. Semua hadirin membenarnkan ucapan Jaizullah.

Kiai Munaji mengangguk-angguk sembari mengelus jenggot putihnya yang panjang. Setelah hening beberapa detik, barulah ia menggebu-gebu menjelaskan dan mencorat-coret kertas lebar yang sedari tadi tergeletak di tengah-tengan mereka dan setelah semua manggut-anggut serta saling pandang, bubarlah forum itu.

Sementara orang-orang dusun sedang sibuk menggunjing dan merencanakan sesuatu kepada Kufar, ia malah udud kelpas-klepus di serambi masjid sambil menunggu magrib tiba.

Hidup di jalan menjadikan Kufar tak pernah berpikir rumit soal benar dan salah. Soal hitam dan putih. Baginya, urusan menjadi hamba, banyak ekspresi untuk mencintai dan mengabdi kepada Tuhan, tidak hanya berekspresi dengan salat, zakat, haji atau poligami yang katanya sunah nabi itu. Tapi soal hubungan manusia dengan manusia, manusia dengan alam, maka kita punya prinsip dan cara yang sama, sama-sama tak boleh saling menyakiti satu dengan lainnya.

Tak ada yang Kufar khawatirkan, selain tak lagi bisa geguyon bebas dengan para bromocorah dan pemabuk karena sifat merasa paling benar dan sucinya. Selain tak bisa menangis melihat sedulur dijajah, ditindas dan kesuahan mencari makan. Selain tak lagi bisa menyambangi kiai-kiai yang ia cintainya. Dan selain lebur imannya karena sifat sombong atas segala asma’, wirid dan jimat-jimat yang telah ia kuasai.

Tetapi, Kufar tetaplah Kufar dengan segenap label kafir yang sepertinya akan banyak menghujam dirinya.

===
Kisah Kufar akan terus berlanjut selama bulan Ramadhan di Mahasiswabicara.id

Iklan

Bijaklah dalam Berkomentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.