Guruku Bukan Tuhanku, Muridku Bukan Kerbauku!

Sekolah-sekolah mengukur kesuksesan para guru dalam mengajar jika murid-muridnya mampu mendapatkan nilai tinggi dalam segala bidang ilmu pengetahuan. Akhlak dan rangsangan dari seorang guru untuk menghidupkan nalar ‘memanusiakan manusia’ terkadang menjadi sesuatu yang tidak lagi penting untuk diajarkan.

Fungsi pendidikan hanya terbatas pada bagaimana seorang murid mampu mengerjakan soal-soal pelajaran yang telah diramu dalam kurikulum, kurikulum yang berubah-ubah setiap saat. Murid-murid hanya diajari menghafal teks dari buku-buku tebal supaya mampu mengisi soal-soal ujian.

Setiap hari, setiap duduk di bangku sekolah, anak-anak tak dapat mengeksplore imajinasinya, menjadi ini dan itu sesuai keinginannya. Tidak ada lagi penerus Gol A Gong yang doyan berimajinasi sedemikian liarnya. Otak mereka dibatasi dan dipaksa memahami pelajaran kurikulum yang kadang-kadang hanya membuat pusing dan bingung bukan kepalang.

Semua murid, yang lahir dari rahim dan budaya yang berbeda, dipaksa untuk paham dan lihai pada bidang-bidang pelajaran yang sama. Yang terjadi adalah, mereka yang bisa hafal teks pelajaran semakin lihai menjawab pertanyaan, yang susah maka nol-lah nilai ujian. Pokoknya tujuan sekolah hanya satu: mendapat nilai tinggi. Lain-lainnya nanti dulu. Gampang. Mudah Diatur. Murid sekarang, jangankan persoalan nalar manusianya hidup, wong, misalnya, bermain kelereng, betengan, gangsingan, mengejar layang-layang sampai berantem dengan kawan saja sudah hilang dari kepala.

Kemerdekaan murid untuk menentukan kehidupannya sendiri telah dijajah. Dijajah oleh para guru yang selalu memaksakan kehendak. Dijajah oleh orang tua yang juga suka memaksan kehendak, demi sebuah gengsi dengan para tetangganya. Dijajah oleh ijazah. Dijajah oleh nilai rapor. Diajajah oleh sekolah yang menjadikan mereka tak ubahnya para buruh.

Barangkali, sekolah-sekolah hanya memiliki tujuan; muridnya mendapat nilai paling tinggi, se-kabupaten misalnya, saat ujian sekolah, selalu memenangkan perlombaan ini dan itu pada tingkat ini dan itu, mengadakan penerimaan siswa baru, perpisahan sekolah, mengadakan upacara tiap Senin, mewajibkan siswanya untuk berseragam ini dan itu pada hari ini dan itu, dan mampu mengantarkan murid-muridnya melanjutkan jenjang pendidikan ke sekolah-sekolah atau kampus-kampus yang top markotop.

Sehingga jangan heran, jika tujuan dan fungsi pendidikan yang ditawarkan Kiai Hadjar Dewantara, seorang Bapak Pendidikan Bangsa, tereduksi menjadi hal yang njilehi. Sekolahan formal, yang menjadi standar tempat orang dikatakan terdidik, seharusnya mampu membentuk  generasi bangsa untuk memanusiakan manusia, malah menjadi semacam pabrik pencetak robot dengan spesialisasi dapat mengerjakan soal-soal ujian.

Bagaimana tidak dikatakan robot, nalar sosial para murid dibunuh secara tidak langsung oleh guru-guru dan sistem pendidikan yang otoriter. Jangankan perasaan untuk mencintai satu sama lain, wong mencintai diri sendiri saja sudah lupa caranya, bahkan tak pernah ada pelajarannya.

Lalu  jangan teriak bangsat koruptor, gantung sundal-sundal negara atau pemerintah bajingan. Wong mereka itu, ya, hasil didikan sekolah-sekolah bangsa. Sikapnya ketika menjadi pemerintah, sama persis seperti sikap taktis dan leterlek sewaktu masih duduk di bangku sekolah. Untuk menjadi besar di nergeri ini perlu modal, setelah menjadi besar waktunyalah mengembalikan modal, syukur-syukur ada jalan mengantongi surplusnya.

Saya sendiri, semenjak lulus dari pesantren dan intens membaca buku-buku kiri, merasa begitu gelisah akan banyak persoalan bangsa, salah satunya sistem pendidikan itu. Nahasnya, selain hanya dapat berdoa siang dan malam (itupun kalau ada makan gratis dan amplopnya), saya cuma res-resan rempeyek bekas sahur tadi fajar, yang tidak dapat berbuat banyak untuk melakukan perubahan. Wong ngejar satu wanita saja tak pecus, kuliah juga tak lulus-lulus, kok beraninya ngemeng perubahan!

Saya sering berpikir, di belahan bumi Indonesia lain, mungkin masih ada sekolah-sekolah yang setidaknya memanusiakan murid-muridnya. Memberikan kebebasan kepada murid untuk menjadi dan melakukan apapun yang mereka senangi, asal tak melanggar peraturan negara atau sosial yang telah turun temurun disepakati.

Syukurlah, Senin kemarin, sewaktu pulang dari tempat kerja, saya bertemu Mas Ahmad Yunus, wartawan senior dari Bandung dan penulis buku Meraba Indonesia (Ekspedisi Nekat Keliling Nusantara)  di kedai CoffeeLife, Pondok Labu, Jakarta Selatan. (Kedai kopi ini enak banget. Cocok buat para perenung dan penulis, apalagi penikmat kopi. Tempatnya hening syahdu dan harga sajiannya cukup bersahabat dengan kantong-kantong jomblo macam saya ini. Silahkan ke Pondok Labu, tepatnya di Jalan Marga Satwa, nomernya lupa. Searching deweklah. Malah promosi 😀 ).

Saya  lupa persisnya sekolah mana yang diceritakan Mas Yunus malam itu. Pokoknya salah satu sekolah di Bandung, yang kebetulan anaknya juga disekolahkan di sana.

Entah bagaimana awalnya, tiba-tiba Mas Yunus bercerita mengenai sekolah yang asyik dan memberikan kebebasan penuh pada muridnya. Guru, di sana, berfungsi hanya sebagai teman belajar, penemu potensi dan pengarah potensi ataupun kompetensi muridnya.

Bahkan tak tanggung-tanggung, seorang murid yang gandrung seni dan budaya akan dikirimkan ke para seniman atau budayawan, misalnya, hingga berbulan-bulan agar ia dapat belajar langsung dari para pelaku sendi dan pegiat budaya. Selama pendidikan di luar itu, murid diwajibkan membuat catatan yang nantinya –selesapas kembali ke sekolah– dipresentasikan kepada murid lain dan dibukukan.

Sekolah ini juga melibatkan orang tua dalam sistem pendidikannya. Orang-orang tua yang memiliki pengalaman inspiratif, misalnya Mas Yunus yang telah melakukan perjalanan nekat keliling Nusantara, diberi waktu dan kesempatakn untuk berbagai kepada seluruh siswa mengenai Indonesia yang berhasil ia rakam dan rangkum dalam memori otaknya.

Mendengar cerita-cerita Mas Yunus, saya cukup terhenyak dan tergugah. Terhenyak masih ada masyarakat optimis yang menginginkan Indonesia lebih baik dengan cara memperbaiki sistem pendidikan, meski masih banyak wong-wong cilik yang menginginkan bangsa ini menjadi lebih baik melalui cara masing-masing, yang petani dengan pertaniannya, yang pelajar dengan pendidikannya, yang buruh dengan kerja keras dan upah layaknya, yang pemerintah dengan amanah serta kejujurannya.

Saya juga tergugah untuk melakukan tindakan-tindakan nekat, melawan budaya bangsa  menghanyutkan dan membebalkan.

Ada pepatah Jawa yang suka sekali dikutip oleh para guru, “Guru itu digugu lan ditiru” (Guru itu dipercaya dan dihormati), sehingga jumawalah para guru, seakan ia Tuhan yang selalu benar dan murid adalah kerbau yang harus manut dibawa ke mana saja.

Setidak-tidaknya, apapun kondisinya, kita harus senantiasa menjaga kewarasan dan mempuk siapapun atau kelompok apapun yang memancarkan optimisme perubahan menuju lebih baik. Setidak-tidaknya.

Akhlak yang utama. Hormati guru, sayangi gebetan, eh kawan. Soal hidupku, hidupmu dan hidupnya, biarkan masing-masing yang menentukan.

 

Iklan

3 pemikiran pada “Guruku Bukan Tuhanku, Muridku Bukan Kerbauku!

    1. Betul sekali, Bang Ical. Pun zaman sudah bergeser dan serba instan, seharusnya yang baik tetap wajib dipertahankan, meski dengan gaya yang lebih baru dan kekinian. Barangkali asah, asih lan asuh perlu ditransformasikan sesuai gerak zaman. Generasi sekarang kan ga doyan kearifan… heuehu

      Suka

Bijaklah dalam Berkomentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.