Elit

Jika para elit masih menganggap masyarakat yang menggaji mereka sebagai objek yang selalu dapat dicocok hidungnya dan dipaksa mengarah pada jalan yang mereka buat, tanpa ada sedikitpun ruang kemerdekaan untuk berpikir kritis dan melakukan inovasi-inovasi yang membangun, ya maklumi jika akan terus terjadi ketimpangan, baik ketimpangan kemakmuran dan geguyonan.

Yang sudah bungklon tiga akan mengupayakan dengan berbagai cara menjadi bungklon satu, yang sudah menjabat ini itu masih rakus menguasai bagian ini dan itu. Sementara para petani, para buruh, tukang becak, penjual asongan, tukang ojek, tukang cukur, bakul jamu dan wong cilik lainnya –Kecuali bakul agomo– yang dipikirkan hanyalah bagaimana mempertahankan sumber-sumber kehidupan mereka di tengah-tengah desakan pengusaha rakus yang telah berzinah dengan begundal begundal pemerintahan. Membiasakan diri dengan peraturan rumit dan layanan publik yang tebang pilih. Dan menanggung dosa dan karma para bajigur bajingek bajingan yang duduk di kursi kekuasaan.

Jadi apa yang bisa kita lakukan?

Merevolusi diri masing-masing dan mengkhilafkan diri pada sesuatu diluar khilaf-khilaf pemerintah yang kadang mereka tuangkan dalam bentuk perturan perundang-undangan.

Iklan

Bijaklah dalam Berkomentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.