Ruhul Gendheng

Baru saja bapak setengah baya tiba-tiba masuk ke basecamp kami. Ia mengenakan kaos oblong dan celana loreng pendek. Matanya sayu, seperti orang yang kurang tidur.

Tiada kata yang terucap dari mulutnya sesampainya di teras rumah, tempat di mana saya dan kiai Abied Muhammad melangsungkan ibadah ngopi. Tak ada salam, tiada basa basi, ia mengeluarkan sari roti dan menaruh lilin di atasnya lalu menyalakannya. Ia berdiri tegap di hadapan lilin itu, kemudian berujar “mari merayakan Natal”, kemudian menyanyikan Salom Alykum, satu lagu yang saya kenal lewat Kiai Kanjeng.

Kami jelas kaget dan otak dipenuhi puluhan pertanyaan. Siapa bapak ini? Apa maksudnya mengajak kami merayakan Natal? Untung Kiai Abied adalah orang NU tulen, meski sering mengenakan celana katung ia tidak pernah antiperbedaan, apalagi sampai mengkapir-kapirkan? 😂😂😂

Belum usai menyanyikan Salom Alykum, bapak ini menyanyikan lagu ulang taun dan meniup lilin yang tengah terombang ambing oleh angin. “terimakasih, ya”, ujarnya. Kami bengong dan makin bingung.

Terus terang saya agak pasang badan, siap tempur untuk mempertahankan seisi basecamp, kalau-kalau bapak ini adalah perampok yang menyamar orang gila (maklum ini Jakarta, dan basecamp pernah dibobol maling). Tetapi, di ruang hati saya yang lain mewanti-wanti, ‘kalau bapak ini ternyata wali dan kau usir begitu saja, apa tidak ditikam penyesalan nantinya’?

Maka saya menahan diri dan menjamu bapak ini. Saya persilahkan duduk. Kebetulan di tangan kanannya, bara rokoknya hampir menyentuh filter. “rokoknya buang saja, Pak, ini ada rokok lagi” kata saya sambil menyodorkan sampoerna mild milk Kiai Abied.

“Bapak mau ngopi?” tanyaku lagi.

“iya, boleh dibikinin.” jawabnya. Saya kemudian meminta anak-anak membuatkan kopi. Sambil meletakkan kopi di atas meja, anak-anak membisiki saya “itu orang gila, Mas, jangan diladenin!”

Saya tidak begitu memedulikan bisikan itu. Bagi saya dia tetap makhluk Gusti Allah yang sedang bertamu, maka ia harus diperlakukan sama dengan tamu-tamu lainnya.

“Bapak dari mana?” tanyaku membuka obrolan kembali.

“Dari Legoso”

“Tadi jalan ke sini?” iyalah, masak naik Ufo😂😂🙄

“iya.” Kemudian, sambil ngudud, bapak ini ngomong terus. Tak begitu jelas omongannya dan ngelantur ke mana-mana.  Dari agama, ilmu kimia, sampai perkara shodaqohmya yang katanya sampai milyaran.

“saya punya istri 22, punya rumah banyak. Di planet Pluto sana juga ada rumah. Banyak Dinosaurus di sana”

Wew. Ini nih yang saya butuhkan, imajinasi yang bebas dan merdeka.

Saya iseng-iseng bercandain bapak ini. “Pak besok kalo pulang ke Pluto, kabarin saya ya. Saya mau ikut. Pengen nyoba kopi di Pluto. Terus saya mau bawa telor dinosaurus buat diternak di sin”

Dia tertawa ngakak, “siap, nanti saya kabarin”.

Tapi saya benar-benar takjub dengan bapak ini. Ia begitu fasih menuturkan istilah bahasa Inggris. Dan istilah-istilah ilmiah dalam ilmu eksak.

Benar insting saya. Ini cara Gusti Alloh untuk mendidik dan menajari saya, juga Kiai Abied, untuk lebih tidak gampang merendahkan orang lain. Pun setiap apa yang kita rasa, lihat dan dengar selalu tersirat ilmu Tuhan yang memang membutuhkan nikmat kepekaan diri masing-masing.

Lama kami berbincang-bincang dan saya mendalami jiwa bapak ini. Akhirnya bapak ini pamit undur diri sambil ijin bawa kopi beserta gelasnya dan meminta sebungkus rokok. Karena kami tak punya, saya hunuskan 4 batang rokok dan menyerahkan kepadanya.

“assalamualaikum” pamitnya. Belum ia meninggalkan basecamp kami, ia putar badan lagi.

“Ingat. Jadi manusia itu harus punya 3 hal. Ilmu manfaat, anak solih solihah dan shodaqoh jariah. Itu aja. Kalau ada orang sakit dijenguk. Kalau sodaqoh harus istiqomah, meski sehari cuma seribu. Tidak usah minum minuman keras, mending beli pop ice, nutrisari dan sejenisnya, murah meriah. Halalal. Yasudah, saya pamit dulu. Terimakasih kopi rokoknya”.

Saya dan Kiai Abied kembali bengong dibuatnya. Tetap di depan gerbang saya berteriak kepada bapak itu. “Bapak, doakan kami menjadi manusia yang solih, suka beramal dan kelak memiliki keturunan yang solih solihah.

Bapak itu tersenyum, kemudian melenggang meninggalkan kami berdua.

Terimakasih, Gusti Allah untuk hari ini.

—-@
Ciputat, 25 Desember 2017
Ibil Ar Rambany
Ditulis di tengah curhatan Kiai Abied tentang asmaranya yang progresif dan kaffah.

Iklan

Bijaklah dalam Berkomentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.