Gandamayu

Saya bukan pembaca novel yang baik, karena memang saya tidak begitu hobi membaca novel. Saya lebih tertarik untuk membaca buku-buku biografi, sejarah dan semua tulisan yang ditulis oleh Mbah Nun, apapun itu. Tetapi pada novel-novel yang ditulis oleh beberapa penulis seperti Mbah Mus, Oki Madasari, Mas Phutut Ea dan Ratih Kumala selalu membuat saya tidak memiliki alasan untuk melewatkan buku-buku para guru besar tersebut.

Beberapa hari lalu, selepas  meninabobokan jiwa dan raga, saya mengamati isi rak buku Basecamp Ikamaru Jakarta. Di antara tumpukan buku yang amat banyak dan berdebu tipis itu, saya mendapati satu buku yang menarik perhatian. Gandamayu judulnya. Sebuah novel yang berkisah lakon pewayangan Sudamala dan romantisme penulisnya sendiri, Putu Fajar Arcana, bersama bapaknya yang menekuni pertanian dan sastra tradisi.

Setiapkali saya akan mulai membaca buku, saya berusaha untuk mengirimkan fatiha kepada para penulisnya dengan harapan jika penulisnya masih sidup semoga selalu diberi kesehatan, kegembiraan, kebahagian dan kekuatan untuk terus menulis dan berbagi kegelisahan yang diramu menjadi sebuah semangat hidup yang patut untuk disebarluaskan. Dan semoga diluaskan kuburnya serta saat Munkar dan Nakir ketika iseng menyambangi kuburnya membawakan segelas kopi dan sebatang rokok, bukan pertanyaan dan siksa kubur yang sekarang suka diobral dan dijadikan bahan untuk urusan yang sifatnya politis.

Saya amat terbius dengan cerita yang dibawakan oleh Putu Fajar Arcana tersebut. Gaya penulisan yang amat sederhana dan mudah dimengerti membuat saya tak sadar dalam beberapa jam saja telah melumat habis rentetan kata dalam novel Gandamayu.

Dari semua isinya yang menarik, mengalir dan mengingatkan saya pada beberapa hal yang saya pelajari dari pondok pesantren soal disiplin ilmu agama serta kearifan hidup, ada satu kisah yang membuat saya tersadar akan satu hal penting; tentang arti kesetiaan dan tanggungjawab.

Kesadaran ini saya dapat saat Putu Fajar Arcana mengisahkan Dewa Siwa yang iseng terhadap Dewi Uma. Dewi Uma, menurut buku itu, memiliki kecantikan tiada tara (saya tidak bisa membayangkan secantik apa Dewi Uma ini, apakah secantik Ibunda Airin atau Park  Shin Hye, pemain film Korea yang sangat saya gandrungi).

Dewa Siwa, dalam novel Gandamayu, adalah seorang dewa yang menurut saya agak iseng lantaran suka menguji kesetiaan istirnya sendiri, tak lain adalah Dewi Uma. Pada suatu waktu, Dewa Siwa pura-pura sakit dan mengutus Dewi Uma untuk mencari susu dari sapi berwarna putih. Berbekal sifat sam’atan wa thaatan dan khawatir terjadi hal yang tidak diinginkan kepada suaminya, Dewi Uma melesat dari kahyangan menuju  bumi menyusuri hutan belantara untuk mencari obat berupa susu dari sapi putih, (fatalnya Dewi Uma lupa membawa ponsel dan uang dari kahyangan, sehingga ia tidak bisa searching lokasi peternakan sapi perah dan dipastikan kalau dapat Dewi Uma bakal utang susu dulu). Di saat yang sama, Dewa Siwa melesat menyusul ke bumi dan nyamar menjadi penggembala sapi putih.

Dewi Uma tentu riang gembira bisa keluar dari kahyangan. Baginya turun ke bumi adalah rekreasi yang Dewi Uma idam-idamkan dari hati kecilnya. Ia muak sebenarnya dengan sistem kehiduapn kahyangan yang mengutamkan sendiko dhawuh dan tidak dapat kebebasan sama sekali untuk mengutarakan kritik dan kegelisahannya.

(Karena tidak berbekal GPS) Dewi Uma kebingungan mencari susu sapi putih. Matanya membelalak mengamati setiap celah pepohonan rimbun, barangkali tak sengaja mendapati seorang penggembala yang sedang klepas-klepus angon sapi putih. Terbang memutari rerimbunan hutan, Dewi Uma hinggap pada satu pohon besar. Dewi Uma menghela nafas sejenak di atas dahan pohon rimbun itu, tapi ia tidak menyadari ada sepasang kaki dan nini yang terbelalak mengamatinya. Ketika Dewi Uma menyadari ada manusia yang mengamatinya, ia memingahkan pandangannya kepada sepesang kekasih yang sudah menua dan bersimpuh tersebut.

“Siapa gerangan Dewi nan cantik ini?” Tanya kaki.

“Aku Dewi Uma.”

Sentak sepasang kekasih itu bergetar mendengar siapa sejatinya orang yang sedang selo-selo pada dahan pohon tersebut. Dewi Uma sendiri amat mafhum, upaya hormat manusia adalah kepura-puraan. Manusia suka pura-pura, begitu yang selalu ia pikirkan ketika sedang menjalani hidup di kahyangan.

“Ada apa gerangan kekasih Dewa Siwa turun ke Bumi?”

“Aku mencari susu dari sapi putih. Bisakah kalian membantuku?”

“Maafkan hamba, Dewi, di mana ada penggembala yang berternak di hutan rimba seperti ini. Kami bertahun-tahun di sini berdua, tidak pernah bertemu dengan siapapun,”

Dewi Uma berdiam mendengar penuturan keduanya. Lantas kaki nini itu mempersilahkan Dewi Uma untuk beristirahat di gubuk reotnya. Dewi Uma sempat tertarik, kapan lagi ia dapat merasakan hidup dan berdekatan dengan manusia. Namun Dewi Uma mengurungkan niatnya, ia memiliki amanah besar untuk mencarikan obat suaminya. Dewi Uma juga kagum dengan kaki dan nini itu yang bersetia bertahan untuk menunggu puluhan tahun cucunya yang pernah menginggalkan janji akan kembali setelah berkelana mencari kesejatian diri. Sembari berpamitan untuk meneruskan pencarian, Dewi Uma berjanji akan meminta Dewa Siwa mengembalikan cucunya pada pelukan kaki dan nini tersebut.

Dewi Uma kembali mengepakkan sayapnya. Setelah melakukan penyisiran agak lama dan mengamati detail, akhirnya ia melihat penggembala menuntun sapi putih yang sedang hamil. Segera Dewi Uma landing dan berhenti tepat di depan penggembala tersebut, yang tak lain sebenarnya adalah suaminya sendiri.

Dewi Uma menawarkan untuk mengganti susu sapi dengan mustika, tetapi penggembala tersebut menolak dengan alasan buat apa mustika di  hutan belantara seperti ini. Tak kehabisan akal, Dewi Uma menawarkan membelinya dengan uang, tapi fatalnya Dewi Uma lupa mengantongi uang dari kahyangan.

Setelah melakukan lobi politik yang agak alot, penggembala yang agak gapleki dan mesum ini menawarkan tawaran yang membuat Dewi Uma kebingungan. Penggemballa gapleki nan mesum itu menawarkan susu sapi putihnya dengan ngencuk (berhubungan badan). Jelas ini membuat marah Dewi Uma. Berani sekali penggembala dekil dan bau mengajak ngencuk Dewi Uma. Inilah yang paling dibenci Dewi Uma dari manusia. Manusia suka sekali memanfaatkan kesusahan orang lain dengan hal-hal yang menguntungkan dirinya  sendiri.

Dewi Uma kebingungan. Ia berpikir jika dia mengiyakan ajakan ngencuk penggembala gapleki tersebuat adalah sebuah kesalahan yang amat fatal karena maen serong di belakang suaminya. Di satu sisi, jika Dewi Uma tidak lekas kembali dengan menenteng susu sapi putih, nyawa suaminya terancam. Akhirnya, Dewi Uma merelakan marwahnya sebagai seorang istri dari penguasa kahyangan untuk ngencuk dengan penggembala gapleki yang dekil dan bau, yang sejatinya adalah Dewa Siwa, suaminya sendiri.  (Tidak dikisahkan seperti apa ngencuk antara seorang dewi dan penggembala dalam novel Putu Fajar).

(Apakah dalam hukum fikih, hal seperti ini disebut zina atau tidak. Saya menelusuri beberapa literatur dalam kitab klasik, belum ada yang membahas hubungan badan antara suami-istri yang salah satunya menyamar menjadi orang lain, disebut zina atau tidak. Wallahu a’lam)

Singkat cerita, setelah melakukan pengencukan yang terpaksa tersebut, Dewi Uma kembali ke kahyangan. Di hadapa suaminya yang sedang akting kesakitan, Dewi Uma memberikan susu dari sapi putih yang dipesan suaminya (saya juga heran, kenapa Dewa Siwa tidak mesan via gofood aja). Selepas bersusah payah dan memberikan kehormatannya kepada penggembala, Dewi Uma tidak mendapat pujian, sebaliknya Dewi Uma malah dicecar dengan berbagai pertanyaan dari Dewa Siwa.

“Dirimu bisa menpatkan ini bagaimana caranya?”

Dewi Uma diam. Ia takut berbohong. Takut pula untuk berbicara jujur kepada suaminya.

“Membeli dari seorang penggembala di tengah hutan rimba,” jawab Dewi Uma.

“Bagaimana caramu membeli, sedangkan uang  saja dirimu tak bawa?”

Dewi Uma terdiam. Tubuhnya bergetar. Mulutnya kelu. Bersembunyi dimanapun, tak akan menyelamatkan dirinya.  Dewa Siwa pasti tau, karena Dewa Siwa adalah dewa terkondang di jagat kahyangan. Semua dewa hormat kepadanya. Semua manusia mengharap kasih sayangnya.

Tanpa babibu Dewa Siwa mengutuk Dewi Uma menjadi Dewi Durga. Dewi berparas seram, bertaring tajam, lidahnya menjulur sampai tanah, berambut putih dengan mahkota api di depan kepalanya. Dewi Durga jelmaan Dewi Uma yang cantik jelita ditugaskan menjadi penguasa alam kegelapan, jobdesk pastinya adalah mengatur waktu kematian manusia. Dewi Durga tinggal di pelataran kuburan dengan bau bangkai manusia yang menusuk hidung dan bangkai berceceran di mana-mana.

Betapapun Dewa Siwa memperlakukan Dewi Uma, Dewi Uma tetap menjalani kutukan dengan sebaik-baiknya, seikhlas-ikhlas. Barangkali benar, adagium yang sering dibuat bercandaan oleh kawan-kawan, “lalaki, kalau nggak brengsek, ya homo”.

Sebenarnya masih banyak pecahan cerita pada novel Gandamayu yang mencambuki saya untuk mengingat disiplin ilmu kearifan. Kisah antara Dewa Siwa dan Dewi Uma mengjarkan saya pada prinsip mendasar hidup, ya kejujuran, ya kepercayaan, ya kesetiaan dan tanggungjawab. Saya tak perlu mengurai di sini, karena setiap orang memiliki persepsi dan pengalaman masing-masing terhadap apa yang ia baca.

Namun saya perlu mengingat satu hal; bahwa sebaik-baiknya penyesalan terhadap kesalahan atas kemulian kejujuran, kepercayaan, kesetiaan dan tanggungjawab adalah berusaha memperbaikinya dan tidak mengulanginya. Bukan pergi meninggalkan dengan membawa penyeselan telah melakukan kesalahan, karena yang demikin adalah sikap yang amat menyakiti.

Saya juga perlu menyadari, bahwa secerdik apapun seorang pembohong ia tidak pernah berbohong atas kebohongannya.

Iklan

Bijaklah dalam Berkomentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.